
Hari demi hari sudah berlalu, dan usia kandungan Giselle tentu kian bertambah, dan sekarang masih ada lima hari sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL). Di usia kehamilan yang kian bertambah Giselle sering merasakan ingin buang urine dengan lebih sering. Tak jarang wanita itu terbangun di tengah malam untuk buang urine. Dokter berkata itu adalah kondisi yang normal karwna memang ada dorongan hingga ke kandung kemih. Selebihnya, Giselle bisa beraktivitas dengan normal. Walau pinggangnya terasa sering nyeri, terlebih ketika bayinya bergerak dan menendang, membuat pinggulnya terasa nyeri.
Selain itu, Giselle juga sudah tidak bekerja. Wanita itu memilih resign dari pekerjaannya. Bukan resign begitu saja, tapi Giselle bekerja untuk perusahaan Papanya, menjadi analisa saham Jaya Corp. Ada kelonggaran yang diberikan Papanya, Giselle pun bisa bekerja dari Bandung.
Siang ini, Giselle terpikirkan untuk melakukan packing terlebih dahulu. Usia kandungannya sudah 39 minggu, Oleh karena itu, Giselle memilih untuk memasukkan perlengkapan persalinan untuk dirinya, si baby, dan suaminya dalam satu koper. Bahkan Giselle sudah membuat cek list di sana terkait apa saja yang harus dia bawa. Lebih dari itu, Giselle juga bertanya kepada ibu mertuanya terkait apa saja yang harus dia bawa ke Rumah Sakit nanti.
Pakaian bayi, diapers, kain bedong, sarung tangan dan kaki, topi bayi, dan semua personal care untuk bayi. Setelahnya, dia membawa piyama saja yang bisa dipakai saat menyusui, tidak lupa membawa gurita untuk perutnya, diapers untuk dirinya juga sudah dia siapkan. Tidak lupa membawakan baju ganti untuk suaminya.
Bahkan Giselle mengulangi lagi supaya tidak ada yang kurang. Sebab, sebisa mungkin tidak ada yang tertinggal. Jika, suatu saat dirinya merasakan kontraksi persalinan yang bisa datang kapan saja, koper yang sudah dia siapkan ini tinggal dimasukkan ke dalam mobil semuanya. Usai melakukan packing, Giselle memilih duduk di sofa yang ada di sudut kamarnya dan membaca novel online kesukaannya.
Wanita itu membaca novel sembari mengusapi perutnya. "Baby girlnya Mama kira-kira mau lahir kapan nih? Sekarang sih, kamu sudah 39 minggu, Sayang ... Mama baca sih, paru-paru kamu sudah bisa bekerja dengan baik dan kamu bisa bernafas dengan paru-paru kamu sendiri. Kalau memang mau lahir, berikan Mama sinyal ya Sayang. Sebab, Mama di rumah seorang diri. Mama perlu waktu untuk mengabari Papa kamu sewaktu-waktu," ucapnya perlahan.
Ketika Giselle mengajak bicara janinnya, rupanya bayinya itu bergerak di sana, Namun, kali ini tendangannya terasa lebih sakit sampai Giselle mendesis di sana.
"Ssshhsss, tendangan kamu makin kuat Sayang ... putrinya Mama memiliki tenaga yang kuat yah," ucapnya.
Kali ini usai merasakan tendangan babynya, Giselle merasakan desiran di tubuhnya, seperti perasaan ingin buang urine. Akan tetapi, kali ini rasanya lebih sakit, bahwa terasa cairan di sana. Giselle pun buru-buru menaruh handphonenya dan kemudian menuju ke kamar mandi untuk mengecek kenapa rasa sakit di pangkal pahanya dan terasa keluar cairan di sana.
Pelan-pelan dia membuka celananya dan melihat ada bercak darah di sana. Melihat darah, tentu saja Giselle merasa pusing, tetapi dia berusaha tenang. Walau keningnya sudah dipenuhi keringat dingin yang muncul dengan sendirinya.
Pinggangnya terasa kian sakit dan panas rasanya, dan juga pangkal pahanya yang sakit. Giselle mengganti celananya, bahkan dia memilih mengenakan pembalut untuk berjaga-jaga jika mengeluarkan darah lagi. Akhirnya, Giselle kembali duduk dan mengambil handphonenya. Kali ini, dia mencoba untuk menghubungi suaminya. Bukan mengirimkan pesan, tapi berusaha untuk menelpon suaminya.
Mas Gibran
Berdering ....
Handphone suaminya berdering, tetapi tidak dijawab. Giselle mencoba berpikiran positif, mungkin saja suaminya itu tengah rapat atau ada pekerjaan mendadak. Tidak mau menyerah, Giselle mencoba untuk menghubungi suaminya lagi. Akan tetapi, kali ini panggilannya tidak terjawab.
__ADS_1
Tidak kekurangan akal, Giselle menelpon ke nomor resmi perusahaan supaya disampaikan kepada suaminya bahwa dia tengah mencari suaminya. Kalau tidak mendesak, maka Giselle juga tidak akan menghubungi nomor perusahaan.
"Halo Sayang ... tumben kamu telepon?" tanya Gibran karena melihat istrinya itu menelponnya. Sekarang baru jam 11.00 siang, tidak biasanya juga Giselle menelponnya di saat dia bekerja.
"Iya Mas ... urusan penting. Jadi, kamu sibuk enggak Mas?" tanya Giselle kemudian.
"Lumayan itu Sayang ... kenapa?" tanya Gibran yang sudah terlihat panik.
"Bisa izin pulang enggak Mas?" tanya Giselle kemudian.
"Bisa, kenapa dulu?" tanyanya.
"Perutku sakit, Mas ... waktu aku buang urin lihat ada bercak darahnya."
Berusaha tenang, walau sebenarnya sekarang Giselle mati-matian menahan supaya tidak menangis. Mendengar ada bercak darah, Gibran kian panik rasanya. Pagi tadi, dia berpamitan dengan kondisi Giselle masih baik-baik saja, dan sekarang justru Giselle mengatakan perutnya sakit.
"Oke, tunggu Sayang ... tunggu, aku pamit dulu," balasnya dengan panik.
Dari ruangan HRD, Gibran berlari untuk menuju ke ruangannya, mengambil tas dan kunci mobil.
Dengan cepat, Gibran berusaha mengemudikan mobilnya agar segera tiba di rumah. Selain itu, Giselle yang di rumah juga menghubungi ibu mertuanya meminta tolong kepada ibu mertuanya untuk bisa menemaninya.
"Gimana Selle? Perutnya sakit?" tanya Bu Rosa.
"Sakit, Bu. Di pinggang juga sakit. Pangkal paha seperti panas. Tadi keluar darah. Apa mungkin pembukaan ya, Bu?" tanya Giselle.
Jujur, Giselle tak berpengalaman sama sekali. Sehingga dia menanyakan itu kepada ibu mertuanya. Bu Rosa mengambilkan air minum untuk menantunya itu.
__ADS_1
"Diminum dulu yah. Jangan panik. Tahan kan sampai Gibran datang?" tanya Bu Rosa.
Akhirnya Giselle menganggukkan kepala, "Iya, bisa, Bu. Sakit banget ya, Bu," ucap Giselle sekarang dengan berlinangan air mata.
"Dinikmati ya, Selle. Ada berkah dan nikmat dari Allah untuk setiap rasa sakit bersalin. Kuat yah," balas Bu Rosa dengan mengusapi punggung Giselle.
20 menit kemudian adalah waktu tempuh dari perusahaan ke rumah Gibran, begitu di depan pintu gerbang, Gibran berlari dan memasuki rumahnya yang dia cari tentu adalah Giselle.
"Sayang ... Sayang," panggil Gibran sembari memasuki kamar, mengambil langkah beberapa meter, di mana kamarnya berada.
"Mas, perutku sakit," jawab Giselle dengan mendesis dan wajahnya memerah di sana.
"Astaga Sayang ... tiba-tiba banget sih. Yuk, ke Rumah Sakit. Koper mana koper?"
"Itu Mas, koper silver itu," balas Giselle.
"Bisa jalan?" tanya Gibran lagi.
"Bisa."
Giselle mencoba berdiri dan menahan pinggangnya yang terasa sakit. Gibran benar-benar tidak tega melihatnya, "hati-hati Sayang ... mau aku gendong?" tawarnya.
"Tidak aku bisa Mas," jawab Giselle dengan masih berusaha untuk menahan tangisnya.
"Tenang, Bran ... sertakan Allah, Bran. Tenang," kata Bu Rosa supaya putranya itu tenang.
"Iya, Bu. Apa Gibran bisa minta tolong Bu? Gibran titip rumah ya, Bu. Selain itu, doakan Giselle kalau memang hendak bersalin semoga persalinannya lancar. Doa dan restui ya, Bu," ucap Gibran.
__ADS_1
"Pasti, Bran. Doa Ibu selalu untuk kalian. Jangan lupa beri kabar Ibu juga yah. Hati-hati di jalan."
Gibran pun berpamitan dan kemudian menuju ke rumah sakit. Minimnya pengalaman membuat Gibran juga tidak tahu jarak pembukaan ke persalinan itu berapa, yang pasti Gibran hanya ingin mendampingi Giselle. Mereka akan menyambut buah hatinya bersama-sama.