
Dari kostnya, Giselle mengemudikan mobilnya menuju ke area Jalan Braga. Bagi masyarakat Bandung, Jalan Braga adalah tempat yang ikonik dan juga seolah membawa kita menyusuri Paris Van Java di masa Kolonial. Bangunan khas Eropa yang berdiri di kanan dan kiri jalan memberikan kesan tersendiri.
Giselle memarkirkan mobilnya di area parkir di sekitar Jalan Braga, kemudian dia berjalan sendirian. Di antara banyaknya orang-orang yang berjalan di Jalan Braga, hanya Giselle yang berjalan seorang diri. Banyak yang menyusuri jalanan itu dengan bersama teman-temannya, ada pula yang berpasang-pasangan. Sementara dari banyaknya orang-orang di sana, hanya Giselle yang berjalan seorang diri.
Seketika Giselle teringat dengan kenangan 1,5 tahun yang lalu ketika bersama dengan Gibran berjalan-jalan di jalanan yang ikonik ini. Ada sang suami yang menggandeng tangannya dengan mesra.
***
Satu Setengah Tahun yang Lalu ....
De Vreis, nama Jalan Braga di masa kolonial Belanda adalah Jalan ikonik di kota Bandung. Bagaimana tidak? Deretan gedung bercorak Eropa besar diri dengan kokohnya di jalan ini. Pun banyaknya kafe, restoran, hingga bar yang membuat khalayak ramai menyelami kembali Paris Van Java yang memukau dan elok.
Kala rintik hujan membasahi kawasan Braga, sepasang anak manusia tengah bergandengan tangan bersama. Menikmati sisi romantis kota Bandung di area jalanan yang disebut Braga.
"Jalannya indah banget ... gak perlu untuk ke Amsterdam atau ke Paris, karena di sini saja sudah kental dengan nuansa Eropa," ucap Giselle yang kala itu masih begitu gemuk. Wanita itu masih berbobot 90 kilogram, pipinya begitu chubby. Sementara di sisinya berjalan pria tampan dengan hidungnya yang mancung dan memiliki kulitan yang bersih, khas orang Sunda yang kasep pisan.
"Dahulu, ini memang tempat berkumpulnya para seniman dari Belanda. Nama jalan ini saja diambil dari salah satu Seniman drama Belanda bernama Theotila Braga. Jadi, karena itu bangunan di sini indah, mengandung unsur seni. Juga banyaknya Seniman Belanda yang tinggal, seolah membuat kita menyusuri jalan-jalan kecil di kota Amsterdam," jelas Gibran kepada Giselle waktu itu.
__ADS_1
Giselle tersenyum mendengarkan penjelasan dari suaminya itu. Sebagai orang Bandung asli, pastilah Gibran tahu sejarah beberapa tempat-tempat yang hits di Bandung. Beruntung juga ketika mendatangi suatu tempat dan bukan hanya sekadar berjalan-jalan, tapi tahu bagaimana sejarahnya dulu.
"Kamu mau foto enggak, Sayang? Katanya anak-anak muda Bandung, gak afdol ke Braga kalau enggak mengambil foto di setiap sudut jalanan ini, dengan bangunan khas kolonial yang berciri Eropa," ucap Gibran kepada Giselle.
Giselle dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku gak suka foto, Mas. Lagipula, dengan badanku yang sebesar ini, dari semua sisi badanku tetap saja semuanya mengembang," balasnya.
"Jangan insecure dengan dirimu sendiri. Sebab, di mataku ... kamu selalu cantik. Biarlah orang berkata apa, yang pasti di mataku, kamu selalu cantik," balas Gibran.
Jujur saja, untuk wanita yang merasakan insecure karena berat badannya yang begitu besar kadang merasa cantik. Seluruh lemak sudah menyembunyikan kecantikannya. Namun, ucapan Gibran itu mengembalikan kepercayaan diri Giselle. Masih ada pria yang mau menerimanya tanpa harus memandang bagaimana gemuknya badannya.
"Kita ke Canary yuk, Sayang ... ada kue-kue yang enak di sana," ajak Gibran kemudian kepada Giselle.
"Lain kali, kayaknya aku mau deh, Mas ... kesini lagi. Kalau aku berhasil menguruskan badanku, fotoin aku di sini yah, Mas," pinta Giselle dengan terkekeh geli.
Kurus, bagi Giselle kala itu hanya sekadar angan. Tidak mungkin wanita dengan berat 90 kilogram sepertinya akan memiliki tubuh yang ideal dan proporsional.
"Gak perlu nunggu kurus, kalau mau difotoin sekarang, aku sih juga bersedia. Kan aku sudah menawari tadi," balas Gibran.
__ADS_1
"Besok-besok aja, nunggu kurus lagi. Nanti kita ke tempat ini dan beli menu kayak gini lagi yah, untuk bernostalgia," ucap Giselle.
"Tentu, Sayang. Walau gajiku tidak terlalu tinggi, untuk membelikan semua ini, aku masih mampu," balas Gibran.
Lantas keduanya tertawa bersama. Kadang memang pasangan suami istri perlu mengulang lagi memori dan kenangan yang sebelumnya pernah tercipta. Membangkitkan lagi cinta mula-mula, dan pada akhirnya merasa bahwa di dalam setiap kisah dengan segala tawa dan air matanya, mereka sudah berhasil untuk menjalaninya berdua.
***
Sekarang ....
Tepat di depan Canary, salah satu kafe dengan corak khas Eropa itu Giselle berdiri dengan tatapan wajah yang sendu. Seakan-akan kenangan bersama suaminya kembali menyapanya. Canda dan obrolan mereka yang hangat. Cinta yang tidak memandang rupa membuat rindu di hati kian menjadi-jadi. Akan tetapi, sudah tidak hari ini keduanya benar-benar tanpa sua.
"Kenapa hatiku membawaku ke sini? Sudah satu setengah tahun berlalu sejak kita mengunjungi tempat ini dulu, Mas Gibran."
Kata yang hanya bisa didengar oleh telinga dan hati sendiri. Tak pernah ada insan lain yang mendengarkannya. Semuanya sunyi. Bahkan sekarang, hujan perlahan-lahan turun. Gerimis. Persis dengan kenangan malam itu.
"Kalau aku tidak merindukanmu itu bohong, Mas ... tapi, semuanya sudah berlalu bukan? Menyisakan cinta yang akan segera usai antara kau dan aku," gumam Giselle dengan hatinya yang terasa sangat perih dan pilu.
__ADS_1
Giselle yang hanya berdiri di depan Canary, sempat dilihat aneh oleh beberapa orang yang keluar dan masuk dari kafe itu. Namun, Giselle membiarkannya saja. Jalan Braga dan kafe ini pernah memiliki memori yang indah untuknya. Hasrat untuk kembali mengunjungi tempat indah ini dan memesan lagi apa yang dulu pernah mereka pesan dan makan, semuanya benar-benar hanya tinggal kenangan.