Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Positif atau Negatif?


__ADS_3

Giselle hanya mengangguk pasrah saat suaminya itu menyarankan untuk melakukan test pack. Walau di dalam hatinya Giselle merasa tidak mungkin saja dengan pemikiran dari suaminya. Setahunya, awal hamil itu akan mengalami telat haid. Namun, sekarang masa palang merahnya saja belum datang. Namun, Giselle memilih untuk mengikuti saja saran dari suaminya itu.


Ketika istrinya terlihat lebih tenang, Gibran pun menawarkan diri untuk kembali menggendong Giselle, tetapi wanita itu menolaknya, merasa tidak enak dengan suaminya yang harus menggendongnya.


“Bantu aku berjalan saja Mas … aku masih kuat berjalan kok,” ucapnya sembari perlahan bangkit berdiri.


Tanpa menunggu waktu lama, Gibran pun merangkul bahu istrinya itu, kemudian memapahnya untuk berjalan. “Pelan-pelan saja Sayang …,” ucapnya.


Kemudian Gibran menyingkirkan gelas cup berisi es cendol durian itu, hanya ada piring berisi makanan yang belum tersentuh sama sekali karena Giselle lebih dahulu muntah dan berlari ke kamar mandi. “Aku suapin lagi ya … makan dikit-dikit aja. Porsi kecil, tetapi lebih sering itu lebih baik. Karena semua isi perutmu sudah kamu muntahkan, sekarang perut kamu kosong,” ucap pria itu menjelaskan kepada Giselle.


“Kamunya sudah makan Mas?” tanya Giselle yang sudah mengunyah suapan pertama dari suaminya itu.


Gibran pun menggeleng, “Belum … kamu dulu aja. Habis ini aku baru makan.”


Mengetahui bahwa suaminya belum makan, Giselle merasa sedih. Tangannya bergerak untuk mengambil sendok dan mengisinya dengan nasi dan sayuran, lalu mengangkat sendok itu ke hadapan mulut suaminya. “Buka mulutnya yuk Mas … aakk … kamu sampai belum makan,” ucapnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


Dengan tersenyum, Gibran pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Giselle. Sepiring nasi beserta sayur dan lauknya pun tandas, mereka saling menyuapi satu sama lain. Hingga perutnya benar-benar kenyang.


Usai menyelesaikan makan siang, Gibran berpamitan untuk ke apotek sebentar, sudah jelas tujuannya adalah membelikan test pack untuk istrinya itu. Di apotek, pria itu membeli beberapa test pack untuk mengetahui kehamilan dari yang mulai berharga murah hingga yang berharga mahal, tidak lupa dia membeli gelas takar yang akan digunakan untuk menampung urine dan melakukan test kehamilan.


Begitu dirasa sudah mendapatkan semua yang dia mau, pria itu kembali ke rumah dan segera menemui istrinya.


“Gimana mual lagi enggak, pas aku keluar tadi?” tanyanya dengan khawatir.


Dengan cepat Giselle pun menggeleng, “Enggak. Aku baik-baik saja kok. Sudah beli semuanya?” tanyanya.


Satu kantong plastik berukuran sedang di tangan suaminya sudah menjadi bukti bahwa yang dicari suaminya itu sudah didapatkan. Pria itu mengangkat sedikit kantong plastik itu, “Sudah dong … besok pagi dicek yah, aku temenin,” ucapnya dengan penuh semangat.


Di dalam hatinya, Gibran merasakan memiliki perasaan yang positif kali ini. Oleh karena itu, dia berharap mungkin ini menjadi berkah menempati rumah baru. Di kala pikiran menjadi tenang, semoga saja banyak berkah dari Allah untuk mereka berdua.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, seperti ucapannya kemarin, Gibran bangun terlebih dahulu. Dengan tenang dia memandangi wajah istrinya yang masih terlelap. Lantaran hari ini pun masih hari libur, maka Gibran membiarkan Giselle untuk tidur lebih lama. Memandangi wajah Giselle yang masih terlelap menjadi pemandangan yang indah buat Gibran.


Hingga beberapa saat, Giselle pun bergerak dan perlahan-lahan mulai membuka matanya. Wanita itu tersenyum, saat memandang Gibran yang sudah bersandar di head board yang memandanginya.


“Morning Mas …,” sapanya kepada suaminya itu dengan suara serak khas bangun tidur.


“Morning Sayang …” sapanya sembari mengusap puncak kepala Giselle.


Membiarkan sejenak Giselle untuk mengumpulkan kesadaran, kemudian Gibran berdiri dan mengulurkan satu tangannya kepada Giselle. “Ayo Sayang …” ucap pria itu sembari tersenyum.


“Hmm, kenapa Mas?” tanya Giselle yang justru tampak bingung kali ini.


Gibran pun tersenyum, “Ke kamar mandi, ayo cek urine. Aku temenin. Pagi ini kan?”. Seolah Gibran juga ingin mengingatkan istrinya untuk melakukan tes urine terlebih dahulu.


Barulah Giselle teringat dengan ucapan suaminya kemarin, wanita itu pun mengangguk, merapikan sejenak rambutnya yang berantakan lantaran habis bangun tidur dan juga menyibak selimutnya. Giselle lantas berdiri dan menerima uluran tangan suaminya itu, berjalan menuju kamar mandi.


Gibran pun tertawa, “Padahal aku juga sudah lihat semuanya. Masih malu-malu aja sih.” sahutnya dengan mengusap puncak kepala istrinya itu.


Setelahnya pria itu memberikan dua test pack dan sebuah gelas takar. “Tahu caranya kan? Gelas ini untuk urine, lalu masukkan test packnya. Tunggu sampai hasilnya keluar.” penjelasannya kepada istrinya itu.


"Kok kamu tahu banget sih Mas?" tanya Giselle.


Gibran menunjukkan handphonenya, "Aku baca tadi. Aku kan bangun lebih dahulu daripada kamu. Jadi, aku belajar dulu. Kan pengalaman baru," balas Gibran.


Sebelum Giselle melangkahkan kakinya ke kamar mandi, Gibran pun mencegahnya sejenak, “Apa pun hasilnya jangan bersedih. Mau negatif atau positif tidak masalah. Kalau positif bersyukur, kalau negatif juga bersyukur berarti kita harus lebih giat ikhtiarnya,” ucapnya dengan tenang.


Dengan mengangguk samar, kemudian Giselle masuk ke dalam kamar mandi. Mulailah kali ini Giselle melakukan uji reaksi kimia layaknya masa SMA dulu sendirian di kamar mandi itu. Wanita beberapa kali terlihat cemas saat mulai membuka kemasan test pack dan memasukkannya ke dalam gelas takar yang sudah terisi urine itu.

__ADS_1


“Ya Tuhan, apa pun hasilnya semoga Mas Gibran tidak kecewa. Aku takut kalau ternyata hasilnya negatif, Mas Gibran yang akan kecewa,” gumamnya sembari menggigit bibir bagian dalamnya.


Detik-detik menunggu hasil pergerakan di test pack itu membuat Giselle berjalan mondar-mandir, rasanya ada hal yang harus dia pertaruhkan saat menunggu hasil test pack itu. Perlahan test itu berakhir, satu garis merah. Giselle menghela napasnya, “Satu garis merah artinya negatif, mungkin saja negatif,” batinnya dalam hati.


Namun beberapa saat kemudian, satu garis merah perlahan naik. Satu garis lagi berwarna agak pink, tidak sepenuhnya merah tebal. Dua garis. Wanita itu membelalak dan menutup wajahnya.


Merasa tidak yakin, mulailah dia mengetes dengan alat test pack yang lebih mahal, memasukkannya ke dalam gelas takar. Tidak perlu waktu lama, keluarlah bunyi layaknya sebuah jam weker.


Tttiiittt ….


Giselle lantas mengerjap, dan memfokuskan pandangannya pada apa yang tertera di layar pada test pack digital itu. Semoga saja apa yang dia kali ini benar, dan dia tidak salah lihat.


“Gimana Sayang hasilnya? Ini sudah lebih dari 5 menit.” tampak tidak sabar, Gibran pun mengetuk pintu kamar mandi itu.


Sementara di dalam Giselle sudah mulai menangis, dia membilas terlebih dahulu test packnya dan memegang test pack yang digital itu. Perlahan dia keluar dari kamar mandi, dan yang langsung dia lakukan adalah memeluk suaminya itu dengan begitu eratnya. Membenamkan wajahnya ke dalam dada suaminya.


Merasa aneh dengan sikap istrinya, Gibran pun mengusap punggung istrinya itu, “Udah jangan sedih … kalau negatif tidak apa-apa kok. Kan bisa usaha lagi, penting kamu jangan sedih, aku gak apa-apa kok,” ucap pria itu.


Merasa istrinya justru masih sesegukkan, kembali Gibran bersuara untuk menenangkan istrinya itu, “Gagal enggak apa-apa, kan kita bisa coba lagi …” ucapnya kali ini kepada istrinya.


Sudah dua tahun dan tidak pernah merasakan seperti ini. Sehingga, Gibran bisa menjadi lebih ikhlas. Tidak apa-apa dengan kegagalan. Hanya saja, berharap suatu hari nanti Allah benar-benar mempercayakan kepadanya untuk memiliki buah hati.


Hingga akhirnya, Giselle dengan bibirnya yang bergetar sedikit berjinjit dan berbicara dengan lirih di sisi telinga suaminya itu, “Kamu akan menjadi Ayah, Mas … aku akan menjadi Ibu. Positif, Mas. Hasilnya positif.” ucap Giselle dan kembali menangis dalam pelukan suaminya.


Tangisan bahagia tentunya, menyadari bahwa Tuhan sudah menjawab doa dan harapan mereka berdua. Air mata bahagia.


Mengurai pelukannya, Giselle lantas memberikan test pack digital itu dari saku celananya, “Positif!” ucapnya dengan tersenyum di tengah derai tangisannya.


Wajah Gibran pun terlihat merah, bahkan pria itu menitikkan air matanya, tak kuasa menahan haru. “Alhamdulillah … akhirnya doa kita didengarkan Allah. Ya Allah, dua tahun yang penuh penantian. Sekarang, Allah berikan berkahnya. Alhamdulillah ya Allah,” ucap pria itu begitu melihat hasil dari test pack tersebut, lantas dia kembali memeluk istrinya dengan begitu eratnya.

__ADS_1


Ya, hati Gibran melimpah dengan ucapan syukur. Sangat bersyukur karena Allah akhirnya mengaruniakan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangganya. Tidak ada PCOS atau tudingan mandul. Yang ada justru sekarang keduanya dipercaya oleh Allah untuk segera mendapatkan buah hati. Mereka menangis karena bahagia. Kehidupan pernikahan yang penuh lembah air mata, siapa sangka akan Allah ubahkan menjadi padang berbunga. Luar biasa. Syukur Alhamdulillah.


__ADS_2