Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Tidak Abai Kepada Ibu


__ADS_3

Menjelang kurang lebih jam 15.00, barulah Gibran dan Giselle pulang ke rumah. Begitu pulang, Gibran juga berniat untuk memberikan makanan khas Sunda untuk ibunya. Sekaligus, dia ingin membuktikan bahwa sekalipun tidak satu atap, tapi tidak akan menyurutkan kasih sayang dari Gibran sebagai seorang anak kepada sang Ibu. Sehingga, sekarang Gibran juga ingin mengunjungi ibunya.


Bukan sekadar makanan dan kue, bahkan Giselle menitipkan sejumlah uang di amplop cokelat untuk Ibunya. Giselle memberikan itu karena inisiatifnya sendiri. Setelah diberi uang oleh orang tuanya dalam jumlah besar, Giselle hanya memberikan sedikit saja untuk ibunya. Pikirnya bisa untuk sekadar tambah memasak atau membeli pulsa listrik jika habis.


"Mas, titip untuk Ibu yah," ucap Giselle dengan memberikan amplop coklat kepada suaminya.


"Gak usah, Sayang. Kan awal bulan lalu, aku habis memberikan untuk Ibu," balas Gibran.


"Sedikit saja kok, Mas. Untuk tambah beli sayur saja. Gak begitu banyak kok," balas Giselle.


Oleh karena istrinya sudah berinisiatif, maka Gibran pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau itu yang kamu anggap baik, aku akan memberikannya kepada Ibu," balas Gibran.


"Mas, tapi jangan bilang dari aku yah," pinta Giselle sekarang.


Yang Giselle antisipasi adalah ibu mertuanya bisa marah atau emosi lagi. Selain itu, ketika tangan kanan memberi, jangan biarkan tangan kiri untuk mengetahuinya. Tidak perlu juga memperlihatkan kepada semua orang bahwa kita adalah orang yang dermawan. Biar Allah saja yang mengetahuinya.


Gibran menganggukkan kepalanya, dia juga bertanya berapa kisaran nominal yang diberikan Giselle kepada Ibunya. Kebaikan hati Giselle dan juga ketulusannya justru menjadi nilai positif tersendiri.


"Baik, akan aku berikan kepada Ibu," balas Gibran.


Usai itu, Gibran berpamitan kepada Giselle, kemudian Giselle turun mengantar dari luar dan hanya sekadar melihat bahwa tidak ada mobil berwarna kuning di depan ibu mertuanya. Jujur saja, Giselle tidak mau suaminya itu harus bertemu dengan Annisa dan nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Bagi Giselle mungkin memang nasibnya yang tidak bagus ketika ibu mertuanya tak bisa menerima dan menyayanginya. Akan tetapi, jika mengalahkan untuk wanita lain, Giselle tidak akan menerimanya.


Setelah itu, Giselle memilih duduk di dalam rumah sembari menunggu suaminya pulang dari rumah ibunya. Jarak rumah dengan rumah ibunya yang hanya beberapa meter saja, membuat Gibran sekarang sudah tiba di rumah ibunya.


"Assalamualaikum Ibu," sapa Gibran begitu memasuki rumah ibunya.


"Waalaikumsalam," jawab Bu Rosa dengan singkat.


"Baru ngapain Ibu?" tanya Gibran kepada ibunya. Bagaimana pun memang hanya pertanyaan formalitas. Selain itu, baru tiga hari dan Gibran kembali mengunjungi kediaman Ibunya, usai pamit dan juga pelemparan kemoceng waktu itu.


"Santai saja. Di rumah juga sendiri," balas Bu Rosa.


Ketika Bu Rosa menekankan kata di rumah sendiri, Gibran menundukkan wajahnya. Sebenarnya juga merasa bersalah, tapi tiga hari melihat Giselle tidak menangis, itu adalah kebahagiaan sendiri untuk Gibran. Sementara jika di rumah ibunya, bisa saja ucapan pedas itu melukai Giselle di pagi dan malam hari. Gibran juga harus mempedulikan kondisi psikis istrinya.


"Ibu, ini tadi Gibran beli makan ke saung Sunda, dan Gibran belikan makanan kesukaan Ibu," ucapnya.

__ADS_1


Gibran pertama-tama hanya memberikan lauk dan sayuran dulu. Untuk uang barulah akan dia berikan ketika nanti dia hendak pulang. Baru memberikan lauk saja, Bu Rosa sudah berbicara sinis kepada Gibran.


"Tumben makan enak ingat Ibu," jawabnya.


"Kami setiap hari juga selalu mengingat Ibu kok," balas Gibran.


Usai mengatakan semua itu, kemudian Bu Rosa menatap putranya sesaat. Sebenarnya ada rindu yang melingkupi hati. Terbiasa setiap hari bertemu, dan sekarang tidak bisa bertemu dengan Gibran. Sayangnya, amarah dan juga kesal yang lebih mendominasi sampai Bu Rosa lebih mengikuti amarahnya daripada rasa sayang dan rindunya kepada putra tunggalnya.


"Tadi mertuamu yang kaya raya baru saja datang kan? Dapat uang segunung dong?" tanya Bu Rosa dengan nada suara yang begitu kepo.


"Tidak Bu ... kami hanya dibantu sedikit untuk beli perabotan rumah," balas Gibran.


Usai itu Bu Rosa berdecak kesal. "Ck, katanya kaya raya, cuma bisa bantu beli perabotan. Lebih memilih melihat menantunya kejerat lehernya untuk melunasi hutang KPR 15 tahun. Kikir sekali," ucap Bu Rosa.


Di sana Gibran memilih diam. Sebab, bagaimana pun dia tahu dengan apa yang disampaikan oleh Papa mertuanya. Bahkan andaikan dibantu pun Gibran tidak ingin. Gibran hanya mau melunasi sendiri rumahnya. Selain itu, Papa mertuanya juga menganggap baik hal itu dan juga menganggap Gibran justru pria yang bertanggung jawab.


"Gibran yang tidak mau, Bu," balas Gibran dengan tegas.


Memang dia yang tidak mau dibantu. Walau sekarang diberikan uang dalam nominal yang hampir bisa melunasi rumah. Namun, Gibran memberikan itu semua kepada Giselle. Tidak ingin turut mengambilnya. Sebagai suami memang Gibran ingin memberikan penghidupan yang layak untuk Giselle dengan hal keringatnya sendiri.


"Ya, kami yang tidak mau bergantung kepada Mama dan Papa. Lebih suka berproses dan bekerja keras. Ayah dulu juga seperti itu kan, Ibu ... membangun rumah ini dengan hasil keringatnya sendiri. Pelan-pelan. Gibran ingin seperti Ayah," balas Gibran.


"Kamu tidak akan bisa seperti Ayahmu. Kamu terlalu lemah dan lebih memilih untuk mengikuti istrimu daripada Ibu," balas Bu Rosa lagi.


Sekarang kembali Gibran diingatkan pada dua kubu. Diingatkan dengan pilihannya yang pada akhirnya memilih keluar dari rumah dan meninggalkan ibunya. Padahal, untuk Gibran itu hanya solusi saja. Tidak akan membuat istrinya makan hati setiap hari. Namun, kadang niat yang baik, untuk orang tua sendiri juga belum tentu baik.


Hingga akhirnya, Gibran berbicara kepada Ibunya. "Tidak apa-apa, Bu. Yang penting yang baik dari Ayah itu yang akan Gibran lakukan dan terus berusaha menjadi yang terbaik. Walau memang usaha Gibran tidak sempurna," balasnya.


Usai itu, untuk beberapa saat Gibran dan ibunya masih sama-sama diam. Menyelami pikiran masing-masing. Terkadang Gibran juga rindu bisa memiliki hubungan yang harmonis dengan ibunya. Namun, sekarang agaknya sekarang susah. Selalu berbenturan pendapat, selalu berbeda dalam sudut pandang. Tak jarang, Ibunya yang selalu menganggap Gibran begitu lemah dan juga tidak bisa menjadi suami dan anak yang baik. Namun, bagaimana lagi, semuanya terlanjur terjadi.


"Itu Gibran belikan kue Bolu Pandan kesukaan Ibu juga. Nanti dimakan yah, Bu," ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Hmm," balas Bu Rosa.


Setelahnya, Gibran bertanya kepada ibunya lagi. Hanya sekadar hal yang tidak penting sebenarnya. "Bu, itu Gibran belikan Ikan Pindang juga loh. Ibu suka kan ikan pindang?" tanyanya.


Bu Rosa hanya melirik Gibran dengan mata tajamnya. Dia kadang jengah juga dengan Gibran. Ingin memarahi putranya itu habis-habisan. Namun, juga nyatanya itu tak bisa mengubah kenyataan bahwa Gibran sudah keluar dari rumah. Ingin memukul Gibran, tapi anaknya itu sudah dewasa, tidak mungkin juga diperlakukan layaknya anak kecil.

__ADS_1


"Kalau sudah, lebih baik kamu pulang sana, daripada nanti dicari istrimu," usir Bu Rosa.


Gibran kemudian menegakkan punggungnya. Memang lebih baik dia segera pulang. Sebab, pembicaraan dengan ibunya juga menemui jalan buntu. Bahkan sekarang, mereka mendapatkan sinyal supaya lebih baik pulang saja.


"Baiklah, Ibu ... Gibran pamit," ucapnya.


Sembari pamit, Gibran barulah memberikan amplop coklat kepada Ibunya. Uang yang tadi Giselle berikan kepada dirinya sudah dia berikan kepada Ibunya. Selain itu, juga tidak mengatakan bahwa uang itu bukan dari Giselle.


"Ini buat Ibu, untuk tambah memasak, Bu," ucapnya.


Bu Rosa hanya menatap sinis amplop coklat yang pastinya di dalamnya berisikan uang itu. Namun, dari amplopnya saja, Bu Rosa sudah tahu bahwa itu bukan dari Gibran. Sebab, hanya Giselle yang selalu memberikan uang dengan menggunakan amplop coklat. Sekarang, Bu Rosa pun sudah hafal. Sebab, awal bulan lalu, Gibran memberikan uang bulanan dengan menggunakan amplop putih, bukan coklat.


"Bukan dari kamu kan?" tanya Bu Rosa.


Gibran terdiam, kemudian dia memberikan jawaban kepada Ibunya. "Sama saja kan, Bu ... tidak berbeda," balasnya.


"Usai diberi uang banyak sama keluarganya, terus bersedekah kepada Ibu?" tanyanya dengan suara yang pedas dan tajam.


Gibran menggelengkan kepalanya. "Tidak Bu ... kenapa Ibu menganggapnya sedekah?"


"Biasanya keluarganya tidak pernah memberikan untuk Giselle dan akan diberikan kepada Ibu kan? Sekarang, hanya segitu," balas Bu Rosa.


Jujur, Gibran berusaha sekali untuk sabar. Sebab, kenapa bisa ibunya itu berpikiran seperti itu. Toh, juga itu karena Giselle saja yang baik dan mau berbagi dengan ibunya. Selain itu, Gibran sangat tahu bahwa itu bukan sedekah. Namun, tanda sayang dari Giselle untuk ibu mertuanya.


"Jangan seperti itu, Bu. Menginginkan apa yang bukan milik kita itu berdosa. Jadi, jangan seperti itu," balas Gibran.


"Khotbah yah sama Ibu?"


"Bukan khotbah, Bu ... Gibran hanya mengingatkan saja. Yang diberikan Mama dan Papa untuk Giselle ya itu haknya Giselle. Gibran menginginkan seribu rupiah saja tidak, Bu. Tidak perlu menginginkan yang memang bukan hak kita, Bu. Kita akan sangat berdosa di hadapan Allah," balasnya.


Sekali lagi, Gibran hanya mengingatkan Ibunya. Supaya tidak terkena dosa dari Allah. Toh, Giselle juga menyimpannya. Membuatnya menjadi tabungan di kemudian hari nanti. Hanya membeli perabotan sebutuhnya saja. Tidak menghambur-hamburkan uang dari ibunya.


Niat hati datang ke rumah untuk menunjukkan kepedulian dan juga untuk memberikan yang terbaik untuk Ibunya. Namun, justru sangat menyakitkan ketika sang ibu menyebut semua itu hanya sedekah. Gibran kemudian menegakkan punggungnya. Lebih baik, dia segera berpamitan untuk pulang kepada Ibunya. Membiarkan saja amplop cokelat yang masih berada di meja. Diambil atau tidak itu terserah ibunya saja.


"Gibran pamit untuk pulang, Bu ... Assalamualaikum."


Usai itu Gibran benar-benar pergi dan tidak menoleh ke belakang. Hatinya terasa sakit, berpikir ulang sejak kapan ibunya menjadi gila uang dan menginginkan apa yang bukan haknya? Jujur, ada rasa malu juga yang menyeruak di dalam hati karena sikap ibunya itu.

__ADS_1


__ADS_2