Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Terkoyaknya Komitmen Pernikahan


__ADS_3

"Pak Davin, tidak usah ... tidak apa-apa kok, saya pulang saja," kata Amel.


Bagaimana pun ada rasa sungkan dan tidak enak lagi. Di hadapannya adalah seorang Direktur yang dia hormati. Sehingga, tidak perlu bagi Pak Davin untuk bertanggung jawab atasnya.


"Sudah Amelia ... kamu terkena minuman itu juga karena saya. So, saya akan bertanggung jawab atas kamu," balas Pak Davin.


Bahkan kala itu, Pak Davin menggandeng tangan Amel. Ada supir yang sudah menunggunya di luar dan mengemudikan mobil milik Amel. Sementara, Amel memasuki mobil mewah milik Direkturnya itu. Entah kemana Pak Davin membawanya. Namun, Amel yakin itu adalah masih di Bandung Selatan. Namun, Amel menjadi was-was ketika mobil itu bergerak menuju ke Perkebunan Teh Malabar. Letaknya cukup jauh dari kota.


"Kita ke mana, Pak?" tanya Amel yang bingung sekarang.


"Ke tempat saya. Masak saya, mau mengajak kamu ke mana," balas Pak Davin dengan tenang.


Setelah itu, Amel memilih untuk diam. Sudah setengah jam perjalanan dan sekarang, mobil milik Pak Davin itu sudah terhenti di sebuah rumah besar yang didominasi dengan warna putih. Dari rumah besar ini saja, Amel yakin bahwa biasanya para Direktur memang kaya raya. Namun, kenapa lampu di sana seolah redup dan sama sekali tidak terang.


Sementara ada supir yang menyerahkan kunci mobil milik Amel kepada Pak Davin, kemudian supir itu berpamitan untuk pergi. Praktis, di sana hanya ada Amel dan Pak Davin saja.


"Yuk, kita masuk. Di dalam ada banyak baju yang bisa kamu kenakan. Kamu pilih dan pakai saja," ucapnya.


"Sebenarnya ini terlalu berlebihan, Pak Davin. Hanya noda minuman saja, tidak masalah," balasnya.


"Tidak, mana mungkin baju putih kamu menjadi merah karena minuman kayak gitu. Sudah, ayo masuk," ajak Davin.


Membuka pintu utama, Amel sudah takjub dengan rumah mewah itu. Namun, sangat sepi seolah tidak ada yang tinggal di sana. Sayang sekali rumah sebesar dan semewah ini, dan hanya ditinggali seorang diri saja.

__ADS_1


"Pak Davin tinggal sendirian di sini?" tanya Amel.


"Ya, iya ... mau sapa lagi, Mel," balasnya.


"Naik saja ke atas. Ada lemari, dan kamu bisa pilih," ajak Davin lagi.


Tidak mengajak Amel ke ruang tamu. Namun, Davin mengajak Amel langsung ke kamarnya yang ada di lantai dua. Membuka daun pintu di kamarnya, sebuah kamar yang mewah dan didominasi dengan furniture yang klasik dan ranjang besar di dalam sana.


Bukan seorang diri, Davin turut memasuki kamar itu. Dengan sengaja Davin mengunci pintu kamarnya. Pria itu terlihat santai membuka jaket hitam yang dia kenakan. Sementara Amel tidak biasa satu kamar dengan pria lain. Seheboh dan sedahsyat apa percintaannya dengan Shandy, tapi baru kali ini Amel memasuki kamar pria lain. Selain itu, Amel juga tidak tahu apakah Davin sudah menikah atau masih lajang.


Davin membukakan lemari besar yang ada di kamarnya, lalu berbicara kepada Amel. "Kamu pilih sendiri saja, Amelia," ucapnya.


" ..., tapi Pak," balas Amel.


Berusaha tetap tenang, kemudian Amel memilih pakaian di sana. Namun di saat yang bersamaan, justru hujan dengan begitu deras. Listrik pun padam, Amel pun menjerit karenanya.


"Akkh," jeritnya karena dia kaget dengan listrik yang padam.


Davin di sana berdiri. Pria itu menghidupkan senter dari handphonenya. Membuat ada cahaya di dalam kamar. Kemudian dia berjalan mendekat Amel. Tanpa permisi dia berusaha untuk memeluk Amel.


"Tenang, ada saya," kata Davin.


"Saya ... takut, Pak," balas Amel.

__ADS_1


"Husshh, gak usah takut."


Usai itu, Davin dengan hasratnya yang sudah tersulut memeluk Amel. Dalam remang-remang cahaya. Davin memejamkan matanya. Dia merasakan hangatnya tubuh Amel yang ada di hadapannya. Dia hirupi aroma dari parfum Amel yang benar-benar wangi. Dalam keremangan cahaya, gairahnya yang naik tidak akan kelihatan. Oleh karena itu, dengan begitu berani Davin mengambil langkah, dia sibak perlahan untaian rambut Amel, dan dia jatuhkan kecupan di garis lehernya.


Ketika bibir Davin mengenai permukaan kulit lehernya, Amel memekik. Kedua tangannya mendorong samar dada Davin yang menempel dengan dadanya.


"Tidak Pak Davin," tolak Amel.


Davin menghela napas, dan kemudian menatap Amel. "Aku menginginkanmu, Amel. Mungkin kamu mengira, aku ini binatang atau pria tak bermoral. Namun, bagaimana lagi, Amelia. Kamu begitu mempesona."


Jujur, Davin mengatakan bagaimana perasaannya selama ini kepada Amel. Sementara Amel masih berusaha mengendalikan diri. Tidak ingin menyerah begitu saja. Walau sekarang, rumah tangganya membosankan dengan kerjaan rumah menumpuk. Dia tidak akan serta merta jatuh ke pelukan Direkturnya.


Davin dengan pasti mendekat. Dia membawa jari telunjuknya dan menyentuh bahu hingga telapak tangan Amel. Masih berusaha menghela napas, Amel kemudian mundur dan menjauh lagi.


"Saya wanita bersuami, Pak Davin," balasnya.


"Tidak masalah. Tidak ada salahnya," balas Davin.


Hujan yang turun semakin kencang dan juga dengan angin yang semakin kencang, seakan menciptakan atmosfer tersendiri. Tak menyerah, Davin berupaya untuk membuat Amel terperangkap bersamanya.


Ketika, punggung Amel semakin terpojok hingga ke tembok. Dia sana, Davin membawa kedua tangannya untuk mengunci Amel. Dia sambar bibir Amel dengan bibirnya sendiri. Walau Amel menolak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi Davin memiliki kekuatan untuk bisa menahan Amel. Usai penolakan demi penolakan, sekarang Davin berhasil untuk mencium bibir Amel dengan leluasa. Walau terengah-engah dan juga harus berusaha, tapi Davin tak menyerah.


Dia siap membawa Amel terbang. Dalam hubungan yang tidak ada dalam ikatan. Komitmen rumah tangga Amel dan Shandy pun terkoyak. Laksana gelas kaca yang dipecahkan. Komitmen untuk bertahan dalam satu hati, pupus sudah. Malam itu, Amel sudah menjadi milik Davin. Ya, sang direktur yang malam itu mengarungi malam yang sangat panas dan gelora dengan Amel, stafnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2