Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Sepanjang pagi itu benar-benar dihabiskan keluarga dengan saling mengobrol, sembari menikmati sarapan. Selain itu, banyak doa yang disematkan oleh Mama Diana, Papa Jaya, Kanaya, dan juga Bisma. Suasana seperti ini menjadi masa istirahat untuk Giselle. Sejenak menepi dari mertuanya.


Setelah sarapan, Giselle dan Gibran kembali ke kamarnya. Beristirahat sejenak sebelum nanti kembali untuk pulang ke rumah. Namun, setidaknya Gibran sangat senang karena sejak semalam Giselle tidak menangis. Justru senyuman cerah senantiasa menghiasi wajahnya.


"Kamu kelihatan senang banget, Sayang?" tanya Gibran kepada istrinya itu.


"Hmm, apa iya Mas?" tanya Gibran.


"Iya, sejak tadi wajah kamu penuh senyuman. Bahagia yah?" tanya Gibran lagi.


"Bahagia, Mas ... bisa ketemu Mama, Papa, Mbak Naya, dan Mas Bisma. Ketika dikelilingi oleh orang-orang yang positif itu membuat kita sendiri bawaannya juga menjadi positif. Juga, untuk dua kali pengalaman luar biasa kita. Terima kasih, Mas," ucapnya.


Ya, bagaimana pun Giselle merasa bahagia mana kala dikelilingi orang-orang yang positif. Selain itu dua kali pengalaman bercinta dengan suaminya menjadi pengalaman paling berharga untuk Giselle. Sebelumnya mana pernah dalam durasi beberapa jam, dan mereka bercinta hingga dua kali. Dalam dua tahun pernikahan pun, tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.


Gibran pun segera memeluk Giselle. Dia tahu bagaimana perasaan istrinya itu. Andai saja, Gibran bisa lebih banyak memberikan kebahagiaan untuk Giselle seperti ini, pasti dia sangat senang. Daripada melihat Giselle menangis, Gibran sangat senang melihat Giselle yang bahagia seperti ini.


"Ya, sudah ... istirahat dulu. Siang kita pulang ke rumah yah," balas Gibran.


"Hmm, iya," balas Giselle.

__ADS_1


Waktu yang tersisa benar-benar dimanfaatkan untuk beristirahat terlebih dahulu. Sebelum siang nanti akan cek out dan kembali ke pondok mertua mereka. Giselle hanya berharap, kebahagiaan sebagai pasangan suami istri seperti ini bisa sering-sering dia rasakan. Walau hidup kadang berjalan tak selaras, tapi suami yang mau membersamai dan memberi rasa aman itu sudah cukup untuk Giselle.


***


Beberapa jam kemudian ....


Sekarang Giselle dan Gibran sudah dalam perjalanan untuk pulang ke rumah. Wajah yang bahagia dari pasangan itu tak bisa disembunyikan. Bahkan rasanya justru seperti pengantin baru.


Setelah beberapa saat berkendara kini mereka sudah sampai di rumah. Giselle sudah menghela napas panjang manakala mendapati mobil dengan warna cat kuning yang tidak lain milik Annisa ternyata ada di halaman rumahnya. Namun, Gibran segera menggandeng tangan Giselle.


"Ada aku," ucap Gibran.


"Assalamualaikum," sapa Gibran dan Giselle begitu memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," balas Bu Rosa dan Annisa di sana.


Baru sampai rumah, mata Bu Rosa sudah menatap ke area tubuh Giselle. Kemudian, wanita paruh baya itu rupanya kembali berbicara nyinyir ketika melihat gigitan merah di leher Giselle.


"Gak pulang semalam aja, lehernya merah-merah," ucap Bu Rosa.

__ADS_1


Seketika Giselle teringat dengan ulah suaminya yang tadi pagi menggigit lehernya dan membuat jejak merah di sana. Berarti sekarang yang menjadi masalah adalah tanda merah itu. Seketika Giselle menunduk. Padahal itu jejak merah yang membuat juga suaminya sendiri.


"Ibu apaan sih, Bu," balas Gibran.


"Keterlaluan ... anak zaman sekarang kalau bercinta harus menunjukkan ke orang lain. Bercinta itu tabu, tidak usah diumbar-umbar. Kayak udah kehilangan urat malu saja," balas Bu Rosa.


Annisa yang berada di sana tersenyum ketika Bu Rosa memarahi Giselle dan Gibran layaknya seorang anak kecil. Bahkan reaksi Giselle yang hanya menundukkan wajahnya persis seperti anak kecil yang dimarahi Ibunya. Menggelikan untuk Annisa yang melihatnya.


"Kami bercinta juga dalam ikatan pernikahan loh, Bu. Bukan pasangan bukan mahramnya yang berbuat zina," balas Gibran lagi.


Dalam pikiran Gibran sekarang adalah dia bercinta pun juga dengan istrinya sendiri. Bukan dengan pasangan yang bukan mahramnya, sehingga tindakan yang dilakukan pun adalah zina. Keduanya adalah pasangan halal, dalam ikatan pernikahan.


"Lama-lama kamu tidak tahu adab ketimuran, Gibran. Yang kalian lakukan itu sangat memalukan," pekik keras Bu Rosa.


Ketika Gibran hendak membalas lagi, Giselle mengapit lengan suaminya itu dengan tangannya. Memberikan instruksi untuk tidak usah membalas.


"Maaf, Ibu," balas Giselle kemudian.


"Memalukan. Pasangan yang kehilangan urat malu," balas Bu Rosa.

__ADS_1


Rupanya kembali pulang ke rumah, disambut dengan pekikan keras dari Ibunya. Sekarang yang dipermasalahkan adalah tanda merah, gigitan Gibran di leher Giselle. Kembali ke rumah mertua, lagi-lagi membuat Giselle harus mengelus dada.


__ADS_2