
Gibran terluka dengan respons ibunya terhadap Giselle. Gibran kira dengan memberikan kabar baik, ibunya akan bisa bahagia, hubungan mertua dan menantu juga membaik. Ternyata tidak. Giselle tetap saja tidak diterima keberadaannya. Tidak diterima kehamilannya sekarang.
Lebih menyakitkan karena ibunya mendakwa Giselle yang bersalah dan Gibran sendiri yang bodoh. Sungguh, berbicara dan menghadapi ibunya harus benar-benar ekstra sabar.
"Kamu jadi pria jangan terlalu bodoh, Bran. Dulu dia pergi dari rumah berapa hari. Iya, kalau dia anakmu kalau bukan?"
Jika Giselle mendengar secara langsung ucapan ibu mertuanya, pastilah Giselle akan sakit hati. Pun dengan Gibran, dia sakit hati ketika istrinya diragukan kesetiaannya. Gibran sangat mengenal Giselle, tidak mungkin juga Giselle akan berbuat seperti itu.
"Ibu, ya ampun Ibu ... kenapa Ibu sampai berbicara seperti itu?"
Gibran sampai tak habis kenapa Ibunya bisa berpikiran seperti itu. Padahal waktu itu, Gisselle pergi karena ibunya yang mengusir Giselle. Wanita lain pun pasti juga akan pergi jika diperlakukan seperti Giselle.
"Ibu tidak yakin jika itu adalah darah dagingmu. Bisa saja, tiga hari dia pergi dan bermain serong dengan pria lain. Jangan terlalu bodoh menjadi pria," balas Bu Rosa.
Sungguh, Gibran sebenarnya tidak pernah memiliki pemikiran yang macam-macam. Dia sangat yakin bahwa Giselle selalu setia dengannya. Sama seperti Giselle yang selalu berpikiran bahwa Gibran tidak akan tergoda, begitu juga sebaliknya Gibran juga tidak pernah berpikiran yang macam-macam.
Entah karena apa, Bu Rosa berjalan menuju mobilnya Gibran dan kemudian dia mengetuk jendela kaca meminta Giselle untuk keluar.
__ADS_1
"Selle, keluar, Selle!"
Di dalam mobil, Giselle sudah begitu takut. Terlebih raut wajah ibu mertuanya yang benar-benar penuh amarah. Giselle mematikan mesin mobil terlebih dahulu, dan kemudian dia keluar.
"Ya, Ibu ...."
Giselle menyahut dengan lirih. Sebenarnya Giselle sudah capek karena tidak istirahat sejak bekerja di pagi hari. Masih lanjut untuk periksa kehamilan. Bahkan sampai jam segini Giselle pun belum makan.
Bu Rosa heran melihat Giselle yang turun mengenakan masker. Wanita paruh baya itu kemudian menarik paksa masker yang dikenakan Giselle. Sampai tali masker yang berada di telinganya terlepas. Giselle sudha begitu ketakutan, keringat dingin seakan keluar dengan sendirinya dari badannya.
"Ibu, jangan seperti itu, Bu," pekik Gibran.
"Gibran bilang kamu hamil? Wah, hebat sekali. Dua bulan keluar dari rumah ini terus hamil. Kamu yakin enggak itu benihnya Gibran? Darah dagingnya Gibran?" tanya Bu Rosa.
Ya Tuhan, Giselle benar-benar tak mengerti. Kondisi badannya sudah lemah, dan sekarang mertuanya itu berkata yang bukan-bukan. Mertuanya itu meragukan kesetiaannya kepada suaminya sendiri. Sakitnya hati Giselle kembali tersakiti dengan mulut pedas ibu mertuanya sendiri.
"Jangan diam, jawab! Ibu sama sekali gak yakin kalau kamu mandul. Wanita mandul selamanya juga mandul. Ibu juga yakin itu bukan anaknya Gibran!"
__ADS_1
Sungguh, itu adalah ucapan yang sangat pedas. Giselle saja yang mendengarkannya berusaha keras untuk mengenakan perisai akan suara itu tidak masuk ke telinganya, tidak menyakiti hatinya. Namun, ucapan yang sangat pedas dan tajam itu sudah menembus hatinya.
"Ibu, tolong jangan seperti itu, Ibu. Gibran tahu sendiri Giselle selalu setia. Ketika Ibu membawa Nisa saja, Giselle sangat setia, Bu. Jangan memperlakukan menantu Ibu seperti ini," balas Gibran.
"Gak, dia bukan menantu Ibu. Dia tidak pernah layak menjadi menantu Ibu. Lantas, sekarang hamil? Hamil apaan. Dia main sama pria lain, kamu juga tidak tahu," balas Bu Rosa.
Sekarang Giselle merasakan begitu mual. Namun, Giselle hanya menunduk dan menahan agar tidak mual di hadapan ibu mertuanya itu. Perutnya sangat sakit. Hidungnya sudah memerah. Daripada mual di depan mertua dinilai tidak sopan, Giselle memilih berlari ke rumahnya. Sungguh, tidak lagi untuk menahan mualnya.
"Bu, maaf ... bukannya Giselle tidak sopan, tapi Giselle sudah tidak tahan," balasnya dengan menutup mulutnya.
Usai itu, Giselle berjalan dengan langkah yang cepat untuk menuju ke rumahnya. Dia harus segera memuntahkan seluruh isi perutnya, daripada Giselle kian tersiksa menahan rasa mual yang sangat menyeruak itu.
"Selle, dasar menantu tidak sopan. Tidak ada akhlak," balas Bu Rosa.
"Bu, Giselle memang mual dan muntah parah. Dia sudah mau mual. Giselle mengenakan masker juga karena menahan supaya tidak mual," balas Gibran.
"Manja. Gitu saja, sampai memakai masker. Merasa orang di sekitarnya penyakitan," balas Bu Rosa.
__ADS_1
"Kebanyakan Ibu hamil juga begitu, Ibu. Ya sudah, Gibran pamit juga, Bu. Giselle membutuhkan Gibran sekarang," balasnya.
Bu Rosa sudah tidak bisa mempengaruhi Gibran lagi. Bahkan ketika dia meragukan Giselle, Gibran tidak goyah sama sekali. Pria itu memilih segera masuk ke dalam mobil dan kemudian menuju ke rumahnya. Gibran tidak pernah ragu dengan kesetiaan istrinya. Tidak akan terpengaruh dengan ucapan ibunya sendiri.