Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Ingin Kembali Pulang


__ADS_3

Menjelang Petang ....


Huru-hara di rumah Tante Amel ternyata belum usai. Menjelang petang ketika Shandy baru saja tiba dari tempat kerjanya, Amel rupanya mengadu kepada suaminya. Yang dia adukan adalah perkara kemeja putih yang terkena noda biru.


"Kamu kenapa sih, Yang. Suami pulang kok pasang wajah cemberut?"


Shandy menanyai masih berdiri di depan pintu. Apa sebenarnya yang membuat istrinya itu cemberut ketika dia baru saja datang. Sebenarnya, suami ketika pulang ke rumah inginnya disambut istrinya, mendapatkan senyuman terbaik dari istrinya. Namun, Shandy sekarang justru mendapatkan wajah cemberut istrinya. Walau Amel belum bercerita, tapi Shandy sudah menduga bahwa itu adalah karena perselisihan dengan Mamanya sendiri.


"Biasa, siapa lagi yang nyebelin di rumah ini," balas Amel.


Shandy sebenarnya tidak kaget juga dengan situasi di dalam rumahnya. Hanya saja, rasanya Shandy juga capek seolah berdiri di dua kubu. Menjadi sosok Shandy pun sangat tidak mudah. Yang pertama adalah Mamanya sendiri, sementara di satu sisi ada istrinya.


"Ya, sudah yang sabar aja. Nanti gak jadi geulis loh," balas Shandy berusaha menenangkan Amel.


Akan tetapi, wajah Amel masih masam. Dia masih kesal dengan kelakuan mertuanya yang merusak kemeja putih dan mahal miliknya. Andai mertuanya lebih berhati-hati, pastilah kemejanya tak akan kena warna biru dari jeans. Amel pun tidak bisa melihat dari sisi yang lain. Jika dia mau, ketika libur bisa dipakai untuk mengurus pakaian kotor miliknya. Tidak bergantung kepada Mama mertuanya. Namun, dalam sudut pandang Amel, Mama mertuanya lah yang salah.


Akhirnya Amel dan Shandy masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar itu, entah apa yang keduanya lakukan. Yang pasti Bu Rosa memilih keluar dari kamar. Telinganya terasa panas dan malu sendiri dengan suara-suara erotis yang terdengar dari kamarnya.


"Kenapa di luar Teh?" tanya Tante Rani kepada Kakaknya.


"Terlalu berisik di dalam kamar, Ran. Apa sebaiknya aku pulang ke rumah saja ya, Ran? Aku takut menggangu pengantin baru yang butuh waktu berdua," balas Bu Rosa.


Tante Rani tersenyum malu dan menatap kakaknya itu. "Emang Gibran dan Giselle tidak seperti itu ya, Teh?" tanyanya.


"Tidak pernah. Rumah kami dua lantai, tapi aku tidak pernah mendengar suara-suara aneh dari kamar mereka. Yah, lain Gibran, lain juga Shandy," balas Bu Rosa.


Sekarang Bu Rosa seolah bisa berpikir dan juga tidak menghakimi. Bagaimana pun Gibran dan Shandy berbeda. Sifat dan karakter keduanya juga berbeda. Oleh karena itu, Bu Rosa tidak menyamakan keduanya. Namun, Bu Rosa memberikan jawaban yang jujur bahwa tidak pernah dia mendengar Gibran dan Giselle bercinta hingga seperti itu.


"Benar, Teh. Duh, Rani jadi pengen tinggal sama Teteh," balasnya.

__ADS_1


Bu Rosa tersenyum dan menatap adiknya itu. "Sekarang Gibran sudah beli rumah sendiri, hanya beberapa meter saja dari rumah. Yah, aku yang salah. Aku galak sama Giselle. Situasi di rumahku tidak jauh beda dengan di sini. Namun, di sana aku pemeran antagonisnya," aku Bu Rosa.


Tante Rani benar-benar tak menyangka bahwa kakaknya adalah ibu mertua yang tidak baik. Padahal melihat Giselle yang santun dan baik, seharusnya Giselle mendapatkan mertua yang baik. Makanya, Tante Rani melihat seolah ada ketakutan di sorot mata Giselle.


"Astagfirullah, Teh. Padahal, Neng Giselle baik banget," balasnya.


"Melihat Amel, aku menyadari bahwa aku yang tidak bersyukur. Aku tidak bisa melihat permata di dalam tumpukan jerami. Aku justru sering berbicara kasar kepada Giselle. Aku mengatai dia mandul, padahal dia terkena PCOS," balasnya.


Sekarang barulah Bu Rosa bisa introspeksi diri. Menyadari salahnya. Itu juga dalam sepekan terakhir sering mengobrol dengan Rani. Melihat sendiri figur menantu yang kurang ajar. Bu Rosa juga ditunjukkan fakta oleh adiknya yang dulu adalah seorang perawat bahwa PCOS itu memang ada.


"Belum terlambat untuk meminta maaf, Teh," balas Tante Rani.


"Apa mungkin Giselle mau memaafkan aku yang banyak salah ini?"


"Pasti. Neng Giselle mah baik. Tidak akan berani dan kasar kepada Teteh. Banyak bersyukur, Teh. Memiliki menantu yang baik, mau merawat kita kala sakit itu luar biasa," balas Tante Rani.


"Baiklah, aku akan meminta Gibran untuk menjemputku saja. Aku mau di rumah saja, Rani. Maaf dalam sepekan ini, aku merepotkan kamu," balasnya.


"Tidak repot sama sekali, Teteh. Rani seneng bisa merawat Teteh."


Sekarang Bu Rosa sudah sampai pada keputusannya. Ingin pulang. Oleh karena itu, dia malam itu menelpon Gibran dan meminta Gibran untuk menjemputnya esok hari.


***


Keesokan harinya ....


Tepat di akhir pekan, Gibran dan Giselle sudah bersama-sama menuju ke rumah Tante Rani. Tidak hanya dengan tangan kosong, tapi mereka membelikan buah dan kue kering untuk Tante Rani sebagai ucapan terima kasih keduanya yang sudah mau merawat Bu Rosa.


"Assalamualaikum," sapa Giselle dan Gibran bersamaan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, silakan masuk," balas Tante Rani.


Gibran dan Giselle pun masuk ke dalam rumah Tante Rani, mereka dipersilakan duduk di ruang tamu. Tidak berselang lama Bu Rosa juga keluar dari kamarnya.


"Ibu," sapa Gibran dan Giselle.


"Iya, pagi sekali?" tanya Bu Rosa.


Begitu ajaib, tidak ada sikap judes. Tidak ada ucapan kasar. Tutur katanya sudah lebih halus, daripada biasanya. Giselle yang merupakan orang sensitif, bisa merasakan ada yang berbeda dari ibu mertuanya itu.


"Iya, Bu ... supaya nanti tiba di rumah, Ibu bisa istirahat," balas Gibran.


"Nanti di rumah, Ibu sama siapa?" tanya Bu Rosa kemudian.


"Giselle sudah menyewa perawat, Bu. Akan menemani Ibu dan merawat Ibu sampai gips nya dilepas," balas Giselle.


Bu Rosa akhirnya menganggukkan kepalanya. Tidak banyak berkomentar. Dia menyadari keputusan itu diambil Giselle juga karena Gibran dan Giselle sama-sama bekerja. Keduanya terlalu khawatir jika meninggalkannya di rumah sendirian.


"Apa perlu Tante ikut, Neng Giselle?" tanya Tante Rani dengan tertawa.


"Kalau Tante ikut, sebenarnya Giselle seneng banget, Tante. Ada teman mengobrol untuk Ibu," jawab Giselle.


Itu adalah jawaban yang jujur dan tulus. Jika Tante Rani ikut, ibu mertuanya pasti akan senang dan tidak akan kesepian. Ada teman mengobrol di rumah.


"Nanti lain kali giliran Tante yang menginap di sana yah," balas Tante Rani.


"Boleh banget, Tante. Kalau Tante minta dijemput nanti Gibran juga akan menjemput Tante," balas Gibran.


Hampir setengah jam Gibran dan Giselle berada di rumah Tante Rani. Usai itu, mereka berpamitan dan mengucapkan terima kasih banyak. Tidak lupa Gibran berkata bahwa Tante Rani bisa kapan saja ke rumahnya. Gibran akan bersedia menjemput Tantenya itu.

__ADS_1


__ADS_2