Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Indah Saat Berjuang Bersama


__ADS_3

Selang beberapa hari berlalu, kota Bandung diguyur hujan. Bahkan sejak pagi hujan sudah turun, itu membuat suasana di kota Kembang itu menjadi kian dingin saja. Sampai akan berangkat ke kantor saja, hujan sudah turun.


"Yah, pagi-pagi sudah turun hujan yah, Mas ... aku suka hujan sih, tapi jangan di pagi hari," keluh Giselle kepada suaminya.


"Ya mau bagaimana lagi, Sayang. Mungkin memang baru musimnya hujan," balas Gibran.


Akan tetapi, Giselle dengan cepat menggelengkan kepalanya. Baginya, sekarang justru baru musim kemarau. Namun, sudah tiga hari ini hujan turun sangat deras dan durasinya lebih lama.


"Kalau hujan deras kayak gini, malas bekerja, Mas. Pengennya di rumah saja. Sayangnya, masih hari kerja," balas Giselle.


Ya, Giselle sendiri merasa bahwa ketika hujan seperti ini rasanya begitu mager. Membuatnya enggan untuk keluar rumah. Suasananya sangat cocok untuk menarik selimut saja, dan bergelung di bawah selimut yang hangat. Akan tetapi, masih hari bekerja. Sehingga, mau tidak mau harus berangkat ke kantor.


"Mau bolos gimana?" tanya Gibran sekarang dengan memeluk istrinya.


Giselle terkekeh perlahan, tapi sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya. Rasanya juga tidak enak jika harus cuti hanya karena hujan. Toh, juga ini sudah hari Jumat, esok sudah hari libur akhir pekan.


"Tinggal masuk hari ini kok, Mas. Besok sudah mulai libur Sabtu dan Minggu. Masak harus bolos gara-gara hujan. Kamu dulu waktu sekolah, suka bolos Mas kalau hujan?" tanya Giselle sekarang kepada suaminya.


"Enggaklah, Sayang. Justru dulu waktu SD dan SMP itu aku sekolah masih naik sepeda kayuh. Kalau pulang sekolah dan waktunya hujan justru senang. Bisa hujan-hujan. Kadang tasnya ditinggal di sekolah aja. Seru banget sambil main-main sama teman," cerita Gibran mengenang masa sekolahnya dulu.


Memang dulu Gibran sekolah SD dan SMP masih menaiki sepeda kayuh. Justru, dulu ketika hujan turun menjadi kesempatan untuk anak-anak bermain. Itu sangat menyenangkan, semoga bisa bermain, hujan-hujan, dan berteriak-teriak. Kenangan di masa kecil itu akan selalu Gibran kenang.


"Aku tidak pernah memiliki kenangan seperti itu. Soalnya aku sekolah selalu diantar supir terus. Bahkan, aku bisa naik sepeda itu sudah agak besar," cerita Giselle.


Itu semua memang latar belakang Giselle yang kaya raya, sehingga dulu sekolah selalu diantar oleh supir keluarga Wardhana. Hujan pun tidak menjadi kendala, karena mereka di dalam mobil dan pastinya tidak akan kehujanan. Sehingga, pengalaman basah-basahan tidak pernah Giselle miliki.

__ADS_1


"Beda cerita, Sayang. Bagaimana pun kan masa kecil kita berbeda, hanya saja kita disatukan oleh cinta," balas Gibran.


Giselle tersenyum, setuju dengan apa yang baru saja dikatakan suaminya barusan. Memang setiap orang memiliki masa kecil yang berbeda-beda. Namun, ketika sudah dewasa, keduanya disatukan oleh cinta. Seperti Giselle dan Gibran sekarang ini. Strata sosial yang berbeda, nyatanya bisa menyatukan keduanya.


"Hujan-hujan enak makan Bakso deh," kata Gibran sekarang.


Namun, Giselle segera menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangannya. Sekadar mendengar kata Bakso saja rasanya sudah begitu eneg. Hingga akhirnya, Giselle berbicara kepada suaminya.


"Mas Gibran, kalau mau makan Bakso boleh, cuma jangan deket-deket aku dulu. Pusing, Mas," keluhnya.


"Bercanda, Sayang ... aku juga sudah tahu kok, kalau makan Baksi harus sendirian dan juga langsung mandi begitu sampai di rumah. Nanti bisa jadi, malahan ketika babynya sudah besar, dia malahan suka Bakso loh, Yang," kata Gibran dengan sedikit tertawa.


"Aku juga tidak tahu, Mas. Dulu waktu belum hamil, biasa saja. Makan ya makan saja. Kok sekarang malahan jadi kayak gini. Aku sendiri juga merasa aneh," balas Giselle.


Usai itu, Giselle menganggukkan kepalanya. "Mas, berangkat kerja enggak? Ayo, nanti telat loh. Kamu masih harus mengantarku ke kantor," balas Giselle.


"Ya, sebenarnya pengennya bolos. Kapan lagi, bolos-bolos terus menikmati kehangatan bersama istri sendiri," balas Gibran.


"Malam nanti saja, Mas. Kan besok juga libur," balas Giselle.


"Aman, Sayang ... kapan saja juga tidak masalah kok. Ya sudah, yuk ... aku memakai sepatu dulu sambil manasin mesin mobilnya dulu," balas Gibran.


Akhirnya, Gibran keluar dari kamarnya. Dia memakai sepatunya terlebih dahulu dan setelahnya mulai memanasi mesin mobil terlebih dahulu. Sementara Giselle merapikan rambutnya, dan mengenakan parfum di badannya. Selain itu, Giselle berinisiatif untuk membawa jaket, hanya sekadar berjaga-jaga jika kedinginan saat di kantor nanti.


"Sudah siap?" tanya Gibran kepada istrinya itu.

__ADS_1


"Sudah, Mas ... aku keluar dan mengecek semua dulu," balas Giselle.


Memang Giselle selalu membiasakan untuk mengecek rumah sebelum pergi. Mulai dari kran air, listrik, atau bahkan kompor gas. Berjaga-jaga sendiri itu lebih baik. Setelah semuanya aman, barulah Giselle keluar rumah dan mengunci pintu rumahnya. Setelah itu, dia menyusul suaminya.


"Sudah, Mas. Berangkat yuk, sebelum terlambat. Semoga saja tidak macet yah. Biasanya hujan-hujan macet," ucap Giselle.


"Iya, yuk ... gagal bolos deh, padahal sudah niat bolos sama kamu. Ternyata kamu adalah siswa yang rajin dulu," balas Gibran dengan tertawa sendiri sembari menggelengkan kepalanya.


Di satu sisi, Giselle memilih tersenyum. Arah pandangannya menatap ke kaca mobil, melihat rinai hujan yang turun dengan begitu derasnya. Wanita itu kemudian mengusapi lengannya sendiri.


"Tumben bangat kok sederas ini. Di Jakarta biasanya, kalau hujan sederas ini beberapa ruas jalanan sudah tergenang air, berpotensi banjir," ceritanya.


"Lingkungan rumahnya Papa apa banjir, Sayang?" tanya Gibran.


"Enggak sih, Mas. Cuma kalau mau keluar gitu kan tetap aja ada beberapa jalan yang banjir. Kalau di rumah sih aman," balasnyanya.


Gibran menganggukkan kepalanya. "Kalau rumahnya Mbak Naya dan Mas Bisma?" tanya Gibran sekarang.


"Kelihatannya aman juga, Mas. Rumahnya Mbak Naya yang asli itu sudah menjadi klinik tempat praktiknya Mas Bisma, Mas. Apotek itu juga punya Mas Bisma sendiri. Sementara rumah yang mereka tempati itu adalah dari Mas Bisma untuk Mbak Naya. Sweet yah," cerita Giselle.


Gibran tersenyum, "Aku juga memberi rumah untuk kamu, walau masih nyicil 15 tahun ya, Sayang," balasnya.


"Tidak masalah, Mas. Kan rumah tangga ceritanya berbeda-beda. Justru indah kok, berjuang bersama. Buktinya rumah itu memberi berkah juga, Mas. Baru beberapa bulan di sana, dan sudah ada baby di sini," balas Giselle dengan mengusap perutnya.


Sekarang Gibran menganggukkan kepalanya. Sangat setuju dengan apa yang disampaikan Giselle sekarang bahwa indah ketika suami dan istri mau berjuang bersama. Dalam perjuangan, ada cinta dan harapan yang akan terus bersemi setiap harinya.

__ADS_1


__ADS_2