
Lombok, Nusa Tenggara Barat ....
Sejenak meninggalkan konflik rumah tangga Amel dan Shandy. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, nyatanya Giselle dan Gibran sedang memadu kasih berdua. Benar-benar menikmati baby moon kali ini.
"Suka, Sayang?" tanya Gibran kepada istrinya itu.
"Suka, Mas ... kapan lagi bisa liburan berdua kayak gini. Kan nanti kalau Dedek Bayi sudah lahir, akan susah untuk jalan-jalan, Mas," jawab Giselle.
"Ya, nanti kalau sudah ada Dedek bayi, liburan tipis-tipis bisa, Sayang. Jajan makanan via drivethru juga bisa. Apa pun, kita lakukan berdua. Penting kamu bahagia. Semampuku dan sebisaku, aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu," ucap Gibran.
Itulah Gibran, dengan kerja keras dan juga niat hatinya yang tulus, dia ingin bisa membahagiakan Giselle. Bukan dengan harta kekayaan yang bergelimang, tapi dengan cinta dan hatinya yang tulus. Begitu juga nanti ketika Baby Girl sudah lahir, Gibran juga berjanji akan selalu membahagiakan Giselle.
"Sayangnya kalau liburan begini, seolah kemarin baru tiba. Eh, tiba-tiba besok sudah harus kembali ke Bandung ya, Mas," balas Giselle.
"Hanya liburannya yang usai, tapi romantisme terus berlanjut sampai ke Bandung, Sayangku," balas Gibran.
Begitulah Gibran, hanya liburan dan melihat pemandangan alam saja yang usai. Namun, romantisme akan terus mereka jaga sampai ke rumah nanti. Api cinta itulah yang tidak boleh padam.
"Di sini saja, romantisme gak pernah absen, Mas. Apalagi kemarin, sampai dua kali," aku Giselle.
__ADS_1
Kemarin memang menjadi hari yang luar biasa untuk Gibran dan Giselle ketika sampai dua kali mereka bercinta. Pertama di pagi hari, dan dilanjutkan saat malam hari. Sungguh luar biasa rasanya, sampai Giselle setelahnya tidur lebih cepat.
"Ya kan, baby moon itu seperti bulan madu, Sayang. Bedanya kan ada baby di perut kamu. Dedek bayi juga pasti seneng kok ditengokin Papa," balas Gibran.
"Bukannya kebalik, yang senang Papanya?" tanya Giselle.
"Oh, kalau itu hukumnya mutlak, Sayang. Papanya sih bukan hanya seneng, tapi seneng banget," jawab Gibran.
Setelahnya keduanya tertawa bersama. Giselle sampai geli rasanya mendengar suaminya yang terang-terangan mengakui perasaannya yang senang sekali dengan kegiatan mereka. Sebab, tidak ada yang indah selain menikmati pantai yang indah dan begitu tenang, Resort yang mewah, dan juga kebersamaan yang seolah menyulut keduanya untuk melakukan lagi, lagi, dan lagi.
"Toh, kita halal untuk satu sama lain, Sayang. Tidak salah kok. Aku bukan sekadar menyentuh kamu. Namun, aku meluapkan seluruh perasaan yang aku punya untuk kamu. Bukan sekadar hasrat dan gairah semata, ku harap kamu juga merasakan cintaku," ucap Gibran sekarang dengan sungguh-sungguh.
"Tidak apa-apa, Mas. Biar kehidupan rumah tangga kita harmonis. Aku tidak masalah juga kok, Mas. Yang penting sih pelan-pelan, kan ada baby kita di dalam sini. Papanya yang harus pelan-pelan dan biar babynya enggak pusing," jawab Giselle.
"Pasti, Sayang. Aku juga memperhitungkan semuanya kok. Aku juga tidak begitu kuat, takut menyakiti Dedek Bayi. Makasih, Sayang ... sejak menikah denganmu, kamu tidak pernah memberi penolakan ketika aku meminta. Walau kamu capek, dan dulu hatimu sering sakit karena ibuku, tapi kamu adalah istri yang baik. Tidak menolak suaminya. Makasih banyak, Sayang."
Itulah Giselle. Dia tidak pernah menolak ketika suaminya menginginkannya. Bahkan dulu, kala tinggal bersama mertuanya di malam hari sering lembur dan perasaan Giselle yang tersakiti karena Ibu mertuanya. Namun, untuk tugas seorang istri, Giselle tak pernah memberikan penolakan.
"Kalau aku tidak salah, menolak suami itu kan berdosa. Seorang istri itu ladang pahala kan untuk suaminya. Jadi, yah aku mau aja jadi ladang pahala untuk kamu. Penting, tidak akan pernah ada yang lain, Mas," jawab Giselle.
__ADS_1
"Pasti itu, Sayang. Tidak akan pernah ada. Memiliki kamu dalam hidupku saja sudah membuatku cukup dan penuh. Tidak ada lagi yang ku inginkan," tegas Gibran.
"Kan kalau di dalam ikatan pernikahan yang sah, kayak gitu gak berdosa kan Mas?" tanya Giselle.
"Enggak, gak dosa. Ya, itu yang kamu bilang justru mendatangkan pahala. Apalagi, kalau kamu yang mulai duluan. Wah, pahala untuk kamu doubel itu, Sayang," balas Gibran.
Mendengar apa yang Gibran sampaikan Giselle tertawa. Yang ada justru Giselle akan merasa malu jika harus memulai terlebih dahulu. Namun, Giselle tetap tidak akan menolak ketika suaminya membutuhkannya. Selama Giselle bisa, pastilah jatah untuk suaminya selalu aman.
"Luar biasanya pernikahan ya, Mas. Justru diperhitungkan sebagai pahala. Hmm, jadi ngantuk deh," kata Giselle dengan terus mendusel di dada suaminya. Bermanja-manja dengan suaminya itu.
"Ngantuk ya bobok aja, Sayang. Istirahatkan diri dulu. Nanti malam lagi yah, Sayang. Sebelum kita pulang ke Bandung," ucap Gibran.
Senyuman di wajah Giselle terbit begitu saja. Benar-benar lima hari penuh cinta. Lima hari penuh gairah yang seolah seperti api yang sulut-menyulut. Namun, indahnya baby moon dan pernikahan memang seperti itu. Bukan hal yang tabu dan berdosa, tapi justru diganjar dengan pahala oleh Allah.
"Boleh, Mas. Untukmu, aku juga tidak pernah menolak kok. Papa Gibran semangat sekali yah, lima hari ini," balas Giselle.
"Lebih bersemangat aku, Sayang. Terlebih di Bandung kadang waktu yang kita miliki hanya di malam hari. Ya sudah, aku ingin menikmati waktu ini. Pagi, siang, sore, dan malam sama kamu. Sungguh indah. Terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja," balas Gibran.
"Ya sudah, kita istirahat dulu aja, Mas. Nanti malam lagi," balas Giselle.
__ADS_1
Mendengar istrinya, Gibran segera menganggukkan kepalanya. Dia senang karena bisa menikmati baby moon rasa bulan madu ini. Menikmati momen indah penuh cinta bersama istri tercinta.