Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Berusaha Mengambil Hati


__ADS_3

Selang beberapa hari setelahnya, rupanya Annisa tidak menyerah begitu saja. Wanita cantik itu kembali mendatangi rumah Gibran. Agaknya rumah tangga Gibran dan Giselle yang tidak harmonis bisa memiliki celah untuk dimilikinya.


"Assalamualaikum," sapa dari Annisa ketika mengetuk pintu kediaman Bu Rosa.


"Waalaikumsalam ... eh, Neng Nisa ke sini lagi," balas Bu Rosa.


Bu Rosa pun juga tampak kaget bagaimana bisa Annisa datang ke rumahnya. Namun, kendati demikian Annisa tetap diterima dengan baik oleh Bu Rosa. Terlebih setelah Annisa di mata Bu Rosa lebih layak untuk mendampingi Gibran.


"Kalau Neng Rosa nyariin Gibran, ini hari kerja ... jadi Gibran masih berada di kantornya," ucap Bu Rosa.


"Nisa ke sini mencari Ibu kok, bukan mencari Aa Gibran. Aa sendiri bekerja di mana Bu?" tanya Annisa kemudian.


"Kerjanya Gibran di Siliwangi Crop bekerja sebagai akuntan di sana," balas Bu Rosa.


Annisa menganggukkan kepalanya, rupanya mantan pacarnya dulu bekerja di Siliwangi Corp. Bagi Annisa Siliwangi Corp bukan perusahaan yang asing karena perusahaan dimiliki oleh rekan dari Papanya. Mungkin di lain kali nanti Annisa bisa mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Gibran.


"Kok rumah sepi Bu?" tanya Annisa lagi.


Tampak Bu Rosa menghela napas panjang dan tersenyum kepada Annisa. "Keseharian Ibu di rumah ya begini, Neng ... Gibran bekerja, begitu juga Giselle. Praktis, sehari-hari Ibu hanya berada di rumah saja."


Dari cerita Bu Rosa, sekaligus Annisa bisa tahu bahwa istrinya Gibran adalah wanita karir yang bekerja setiap hari. Setidaknya mungkin itu menjadi alasan utama kenapa Giselle belum hamil. Setahu Annisa, wanita karir lebih memilih karirnya terlebih dahulu. Annisa percaya bahwa ketika sudah hamil dan melahirkan, karir seorang wanita akan habis.

__ADS_1


"Ibu sendiri kan di rumah? Yuk, jalan-jalan sama Nisa, Bu. Refreshing bersama. Daripada Ibu hanya berada di rumah," ajak Annisa.


Sebenarnya Bu Rosa juga enggan bagaimana pun tidak begitu kenal dan tidak dekat dengan Annisa. Namun, apa yang dikatakan oleh Annisa benar bahwa selama ini dirinya hanya menghuni rumah saja. Gibran dan Giselle bekerja, dan dia hanya menunggu rumah.


Melihat Bu Rosa yang tampak berpikir lama dan tidak memberikan jawaban. Annisa kemudian berbicara lagi. "Ayo, Ibu ... yang penting nanti kalau Aa Gibran sudah pulang dari kantor, kita juga pulang."


Lantaran dirayu oleh Annisa, Bu Rosa pun akhirnya luluh. Dia meminta waktu untuk mengganti pakaian dan berias dulu. Sementara Annisa menunggu di ruang tamu. Dia melihat ada foto pengantin Gibran kala itu. Namun, Annisa sangat bingung ketika wanita yang ada di foto itu memiliki badan yang begitu gemuk. Sehingga, Annisa menatap foto itu berlama-lama. Seakan tak percaya dengan selera Gibran.


"Sudah, Neng Annisa," suara dari Bu Rosa yang mengagetkan Annisa.


"Oh, iya, Bu ... ini fotonya siapa Bu?" tanya Annisa yang ingin memastikan. Sebab, dia yakin bahwa itu adalah Gibran.


"Istrinya Aa Gibran segemuk ini ya Bu?" tanya Annisa lagi.


Bu Rosa pun tersenyum. "Iya, dulu memang gemuk. Sekarang, sudah banyak berkurang karena diet."


Jawaban yang diberikan Bu Rosa membuat Annisa juga heran. Bagaimana mungkin pria setampan Gibran mau menikahi Giselle yang kala itu begitu gemuk. Terlebih dengan Wedding Gown berwarna putih itu, Giselle sama sekali tidak menarik. Warna putih yang dikenakan Giselle membuat pengantin itu tampil buruk di hari pernikahannya.


"Jadi enggak, Neng?" tanya Bu Rosa akhirnya kepada Annisa.


Gadis itu menganggukkan kepalanya. Dia kemudian tersenyum kecil. Sekilas Annisa mengamati penampilan Bu Rosa dan kemudian tersenyum lagi kala mendapati Bu Rosa mengenakan tas yang dia belikan dari Kuala Lumpur.

__ADS_1


"Wah, tasnya dipakai ya, Bu. Nisa seneng loh kalau memberi sesuatu itu dan dipakai," ucapnya.


"Pasti dipakai dong, Neng Annisa. Mana ini tasnya bagus. Makasih banyak yah," balas Bu Rosa.


Annisa dan Bu Rosa kemudian keluar dari rumah bersama-sama. Tempat yang dituju Annisa sekarang rupanya di salah satu salon yang ada di mall.


"Kita relaksasi ke salon ya, Ibu ... mau creambath atau warnai rambut tidak masalah. Biar Ibu tampil lebih muda. Jangan pikirkan biayanya, biar Nisa yang urus," ucapnya.


"Baik, Neng ... duh, Neng ini mana baik pisan. Dengan menantu Ibu sendiri, mana pernah Ibu diajak ke tempat seperti ini," balas Bu Rosa.


Annisa tersenyum. Pendekatannya untuk mengambil hati Bu Rosa agaknya akan berjalan lancar. Mungkin di lain waktu Annisa bisa mengajak Bu Rosa keluar dan jalan-jalan yang nanti bisa membuka pintu untuknya supaya bisa mendekati Gibran lagi.


"Masak tidak pernah jalan sama menantunya Ibu?" tanya Annisa.


Itu sebenarnya hanya pertanyaan pancingan saja supaya Bu Rosa bisa bercerita banyak hal dengannya. Jika sudah mengetahui sisi-sisi kelemahan Giselle, barulah nanti Annisa akan menyusup perlahan.


"Yah, mana pernah Neng ... Giselle sibuk bekerja. Kadang juga pulangnya saja malam. Gibran sore sudah di rumah, dia bisa pulang malam," balas Bu Rosa.


Jawaban yang diberikan Bu Rosa pun terlampau jujur. Dia memang tidak pernah diajak pergi oleh Giselle. Hari Sabtu dan Minggu juga biasanya Giselle dan Gibran menghabiskan waktu untuk mencuci baju dan menyetrika. Benar-benar kehidupan rumah tangga yang biasa. Bahkan seolah-olah, Giselle melepaskan identitasnya sebagai anak orang kaya. Bersama Gibran, dia menyesuaikan diri. Hidup seperti yang dijalani oleh suaminya.


Namun, dari semua cerita Bu Rosa setidaknya Annisa tahu bahwa sebenarnya Bu Rosa tidak begitu menyukai menantunya itu. Annisa merasa ini adalah celah yang bisa dia manfaatkan. Bisa perlahan-lahan mengambil hati Bu Rosa terlebih dahulu dan mulai menyusun strategi untuk menyingkirkan Giselle dari hidup Gibran.

__ADS_1


__ADS_2