
Berada di tempat yang berbeda ....
Rupanya terjadi kemulut di rumah Tante Rani. Kali ini, ada pertikaian antara Amel dengan ibu mertuanya yang tidak lain adalah Tante Rani. Hal dipicu ketika, Amel yang pulang kerja di pagi hari meminta dimasakkan Sup. Terlebih kota Bandung yang dingin, dan semalam usai hujan. Rasanya semangkok sup yang hangat sangat cocok dinikmati di pagi hari yang dingin itu.
"Ma, kenapa sih, Ma ... sekarang gak pernah masak sup atau yang hangat-hangat gitu," bentak Amel kepada mama mertuanya.
"Tidak sempat, Mel ... kalau Mama sempat, pasti Mama juga memasakkan sup untuk kamu," balas Tante Rani.
Sebenarnya Tante Rani tidak berbohong. Dia benar-benar tidak sempat. Sebab, semalam anaknya, Shandy memang request ingin dimasakkan Semur Ayam, sehingga pagi ini yang terhidang di meja adalah Semur Ayam sesuai dengan permintaan putranya. Nanti kalau sudah sempat, pastilah Tante Rani juga akan memasakkan sup yang Amel suka.
"Alasan klasik, Ma. Alasannya selalu tidak sempat. Padahal, aku susahnya sih memasak sup ayam yang hanya tinggal cemplang-cemplung saja?"
Amel membalas dengan kembali membentak Mama mertuanya. Bu Rosa yang ada di sana, sangat tidak senang. Mennurutnya sikap Amel sekarang benar-benar sudah keterlaluan. Ya, Tuhan ... Bu Rosa merasa menantunya saja tidak pernah bersikap demikian terhadapnya.
Perbandingan yang jelas di mata Bu Rosa sekarang. bahwa Giselle tidak pernah bertingkah seperti itu kepadanya. Dua setengah tahun menjadi istri putranya, mana pernah Giselle berteriak dan juga berbicara dengan begitu tidak sopan kepadanya. Bahkan, ketika dia berbicara pedas, Giselle hanya menundukkan wajahnya dan menangis. Tidak pernah membentaknya.
"Kenapa pagi hari sudah ribut-ribut sih?" tanya Shandy yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ini loh, A ... Mama ini, sudah sejak beberapa hari yang lalu, aku minta dimasakkan sup. Mama bilangnya gak sempat terus. Padahal, apa susahnya sih memasak sup?"
Amel menjawab dan mengatakan demikian kepada Shandy, suaminya. Maka sekarang, Shandy melihat Mamanya dengan menghela napas panjang. Setelahnya, dia berkata kepada Mamanya.
__ADS_1
"Ma, apa susahnya sih memasak sup? tanyanya.
"Tidak susah, Shan ..., hari ini Mama memasak untuk kamu. Semalam kamu meminta untuk dimasakin Semur Ayam kan? Jadi sekarang, Mama memasakkan Semur Ayam permintaan kamu dulu. Besok Mama akan masakkan Sup," balas Tante Rani.
Shandy menatap di meja makan, memang ada Semur Ayam. Yang dikatakan Mamanya juga benar bahwa itu adalah masakan yang kemarin dia minta. Akan tetapi, Shandy masih berusaha bertanya kepada Mamanya itu.
"Disempatkan tidak bisa to Ma? Kenapa pagi hari di rumah ini selalu saja ribut," balas Shandy.
"Tadi Mama kesiangan juga, Shan. Tidak bisa. Besok yah ... besok Mama akan masakkan Sup Ayam," balasnya.
Shandy terus menatap kepada Amel yang berdiri di sampingnya. "Besok ya, Sayang. Besok biar Mama masakkan Sup itu untuk kamu. Hari ini kita makan Semur Ayam dulu yah," kata Shandy kepada istrinya.
Saat itulah, Tante Rani menitikkan air matanya. Merasakan apa yang dikatakan oleh Amel sangat melukai hatinya. Dia selama ini selalu menyayangi Amel layaknya anak sendiri. Tidak pernah ikut campur dengan apa yang dilakukan putranya dengan istrinya itu. Bahkan ketika siang hari, putranya dan istrinya itu bergelut panas di kamar, atau kadang berciuman di dapur, Tante Rani memilih untuk pergi ke luar rumah. Berusaha menjaga matanya untuk tidak melihat yang tidak-tidak. Selain itu juga, memberi keleluasaan kepada Shandy dan Amel yang tergolong pasangan pengantin baru.
Bahkan pernah satu kali ketika, Tante Rani diminta menginap satu malam di hotel, itu karena Shandy dan Amel ingin mengeksplor rumah dengan bercinta di mana saja mereka mau. Untuk semua itu, Tante Rani juga diam. Tidak pernah membuka luka hati kepada siapa pun. Sebagai orang tua dia lebih memilih untuk mengalah. Akan tetapi, sekarang rasanya juga sukar untuk mendamaikan hatinya usai mendengar ucapan kasar dari Amel.
"Mama," suara Shandy yang berusaha menahan Mamanya sendiri.
"Sudah, kalian makan saja. Mama ke rumah saja," balas Tante Rani dengan terisak-isak.
Ketika dibentak dan dikatai kasar oleh menantu yang sudah dia sayangi dan anggap sebagai anak perempuan sendiri rasanya sangat sedih. Dada terasa sesak. Sampai berada di satu meja makan dengan Shandy dan Amel saja rasanya tidak bisa.
__ADS_1
"Drama ... drama," balas Amel yang sangat kesal. Wanita itu membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada. Dia melihat mama mertuanya itu hanya sekadar drama.
Tante Rani dengan terisak memilih untuk meninggalkan meja makan. Yang tahu hati dan perasaannya hanya dia sendiri. Hingga Shandy melihat Amel sesaat.
"Sudah, Yang ... kasihan Mama loh," balasnya.
"Kamu apa-apaan sih, A ... belain Mama kamu. Toh, kamu juga dengar sudah berapa kali aku minta dimasakin Sup?" tanya Amel sekarang dengan memelototkan matanya kepada suaminya.
Ya Allah, Bu Rosa yang melihat Amel bahkan bersikap seperti itu dengan suaminya sendiri merasa sangat kesal. Kembali lagi, dia diperhadapkan dengan kenyataan yang ada. Giselle, dengan penghasilannya yang lebih tinggi daripada Gibran, tidak pernah Giselle memelototkan matanya dan juga membentak Gibran. Menantunya justru tunduk dan taat kepada suaminya.
"Jangan gitu, Yang ... hargai Mama juga. Itu juga Mama baru memasakkan aku Semur Ayam, nanti kita bahannya saja, biar aku yang masakkan sup untuk kamu," ucap Shandy.
"Ogah, masakan kamu gak enak ... enakan masakan Mama," balas Amel.
"Ya, sudah ... kalau mau masakan Mama ya sabar. Mama juga capek," balas Shandy.
"Alesannya Mama saja. Aku sudah minta berhari-hari, nyebelin banget," balas Amel.
"Ya, sudah ... sabar. Kasihan Mama juga," balasnya.
Dengan sikap Amel dan Shandy seperti ini, Bu Rosa diam-diam menyusul adiknya ke dalam kamarnya. Terenyuh hatinya melihat adik kandungnya di perlakukan seperti ini, membuatnya seolah ingin pulang ke rumahnya sendiri. Setidaknya tidak ada pelototan menantu dan perintah yang semena-mena dari menantunya.
__ADS_1