Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Ingin Bayi Laki-laki atau Perempuan?


__ADS_3

Selang beberapa hari berlalu, kondisi psikis Giselle lebih membaik. Rasanya setiap kali tidak bertemu ibu mertuanya, tidak pernah ada kesedihan di wajah Giselle. Bahkan wanita itu juga lebih banyak tersenyum.


Jujur saja, bisa melihat senyuman di wajah Giselle membuat Gibran bahagia dan juga lega. Bahkan Gibran rela tidak mempertemukan Giselle dengan ibu mertuanya asalkan Giselle bisa terus-menerus bahagia seperti ini. Bahkan ketika mual dan muntah, Giselle juga tidak menangis-nangis. Tidak seperti beberapa hari yang lalu saat ibunya berbicara begitu pedas.


"Masih mual-mual ya, Sayang?" tanya Gibran yang menyusul Giselle ke dalam kamar mandi. Pria itu kini memijat tengkuk Giselle perlahan, sembari memegangi rambut Giselle yang memang begitu panjang. Memeganginya supaya rambutnya tidak kotor.


Giselle yang masih muntah hanya bisa menganggukkan kepalanya. Perut hingga kerongkongannya sangat sakit. Mulutnya juga terasa begitu pahit sekarang.


Selesai muntah, Gibran membantu untuk membersihkan bibir Giselle. Bahkan Gibran juga mengambil tissue untuk menyeka bibir istrinya itu. Setelah itu, Gibran memapah Giselle untuk berjalan menuju ke dalam kamar mereka. Usai itu, Gibran juga mengambilkan air putih untuk Giselle, membantu Giselle untuk minum.


"Makasih, Mas ... balasnya usai minum," ucap Giselle dengan suara yang lirih.


"Sama-sama. Obat pereda mualnya belum diminum ya, Sayang? Kok masih mual dan muntah?" tanya Gibran lagi.


"Sebenarnya udah diminum itu, Mas." Padahal dia sudah meminum obat pereda mual, tapi masih saja muntah dan mual. Selain itu, Giselle juga sampai bertanya kepada Mbak Kanaya kenapa dirinya masih muntah dan mual juga. Menurut Kanaya juga mungkin bawaan bayi, sehingga sudah meminum pereda mual, tapi masih saja mual dan muntah. Kanaya sampai mengajari Giselle untuk menanamkan afirmasi positif kepada dirinya sendiri dan juga mengajak bicara bayinya, siapa tahu mual dan muntah nanti akan berkurang.


"Yang sabar ya, Sayang ... semoga nanti setelah trimester pertama, menjadi lebih baik yah," balas Gibran.


"Semoga saja ya, Mas ... katanya juga ada yang mual dan muntah sampai lahiran loh, Mas. Tergantung dengan bayinya juga," balas Giselle.


"Masa iya, bisa mual dan muntah sampai lahiran sih, Sayang?" tanya Gibran lagi.

__ADS_1


"Aku baca-baca juga ada yang begitu sih, Mas. Semoga saja aku enggak yah," balas Giselle lagi.


Gibran sangat iba dengan istrinya. Ketika Giselle mual dan muntah seperti ini, dia tidak bisa berbuat banyak untuk istrinya. Selain itu, juga Gibran hanya bisa menolong semampu dan sebisanya saja. Namun, Gibran sangat yakin bahwa muntah dan mual itu menimbulkan rasa sakit dan juga rasa tidak enak di saluran pencernaan.


"Aku olesin perutnya pakai minyak kayu putih yah," ucap Gibran sekarang.


Pria itu kemudian meminta Giselle untuk pindah ke atas ranjang, berbaring di sana. Kemudian Gibran menyingkapi piyama yang dikenakan Giselle, di bagian perutnya, kemudian dia menuangkan minyak kayu putih ke tangannya, dan mengusapkannya ke perut Giselle. Aroma minyak kayu putih yang segar dan perut Giselle pun menjadi lebih hangat. Semoga saja, itu bisa sedikit mengurangi rasa mual yang diderita Giselle.


"Enak enggak? Mau bagian mana lagi yang diberi minyak kayu putih?" tanya Gibran kepada istrinya itu.


Ada gelengan samar dari kepala Giselle. "Sudah, perut saja, Mas. Ini sudah jauh lebih enak. Minta tolong inhaler ya Mas?"


Gibran segera mengambilkan inhaler yang ada di atas nakas dan memberikannya kepada istrinya. Sungguh, Gibran juga tidak menyangka bahwa Giselle sampai lemah seperti ini. Kasihan juga, ternyata wanita hamil memiliki cerita dan pengalaman sendiri. Ada yang hamil sehat-sehat, ada juga yang kandungannya lemah dan harus bedrest, sementara juga ada yang mual dan muntah begitu hebat.


"Apa yah, Mas ... cewek saja. Mungkin lucu kali yah. Cantik dan lucu gitu," balas Giselle.


Gibran kemudian tersenyum. "Aku justru pengennya anak cowok. Biar dia bisa melindungi Mamanya. Kalau Papanya bekerja, kan si baby bisa jagain Mamanya," balas Gibran.


Terlihat jelas bahwa pasangan itu berbeda keinginan mengenai jenis kelamin babynya. Namun, bagaimana pun Giselle dan Gibran kemudian sama-sama tersenyum.


"Cewek atau cowok tidak masalah, Sayang. Jangan terbebani dengan jenis kelamin babynya nanti. Jadi, lebih baik untuk kamu menjalani kehamilan ini dengan dinikmati dan bahagia. Semoga mual dan muntahnya sudah hilang nanti," ucap Gibran setelahnya.

__ADS_1


Gibran hanya tidak ingin nanti Giselle menjadi kepikiran dengan jenis kelamin babynya. Lebih baik fokus menjalani kehamilan dan banyak berdoa bahwa masa sembilan bulan ini akan benar-benar dilancarkan oleh Allah. Berharap selama kehamilan ini, Giselle selalu sehat.


"Iya, Mas ... aku juga biasa saja, kok. Cowok atau cewek tidak masalah. Kan anak pertama juga. Yang penting punya anak dulu. Sebenarnya, aku sangat senang hamil ini. Istilahnya, aku hamil kala sudah pisah rumah dengan Ibu mertuanya. Bukannya aku menjelekkan, tapi ketika aku mual dan muntah, terus lemes seperti ini nanti Ibu bisa marahin aku. Aku gak kebayang rasanya kalau baru lemes kayak gini, masih juga dimarahin Ibu. Kedua, aku hamil itu jadi bukti bahwa aku tidak mandul. Aku wanita yang sehat dan secara reproduksi aku juga sehat. Cuma dalam menjalaninya, Allah berikan semua rasa ini. Jadi, aku akan menguatkan diriku sendiri. Asalkan nanti saat bersalin bisa sehat dan selamat," cerita Giselle.


Memang Giselle tidak bermaksud untuk menjelekkan Ibu mertuanya. Hanya saja memang dia membayangkan jika mual dan muntah di rumah mertuanya, dan badannya lemes bisa saja dia justru mendapatkan ucapan pedas dari ibu mertuanya. Dikiranya malas atau pun manja. Padahal itu benar-benar reaksi dari kehamilannya. Bukan dibuat-buat juga.


"Iya, aku tahu, Sayang. Lebih santai di bawah atap sendiri yah," balas Gibran.


"Benar, Mas ... lebih santai di rumah sendiri. Setidaknya telingaku lebih bersahabat dan hatiku lebih damai," balas Giselle.


Kemudian Gibran menganggukkan kepalanya. Itu bukan karena Giselle yang benci kepadanya Ibunya. Namun, itu karena Giselle sekadar curhat saja kepada dirinya. Gibran bisa memilah mana kebencian dan mana yang tidak.


"Iya, Bumil harus lebih santai dan rileks, Sayang. Tidak apa-apa. Intinya sih kamu selalu sehat. Kerjaan rumah kita bisa kerjakan bersama-sama. Kalau kamu lemes ya istirahat saja. Selow, aja, Sayang," balas Gibran.


Giselle pun tersenyum kepada suaminya. "Makasih ya, Mas. Maaf kalau hamil ini justru banyak merepotkan kamu. Aku juga masih mual dan muntah," balasnya.


"Tidak merepotkan sama sekali, Sayangku. Jangan berpikiran yang berat-berat. Kondisi psikis seorang ibu juga berdampak ke bayinya. Jadi, santai saja. Tidak usah berpikiran berat. Selain itu, jangan kepikiran dengan jenis kelamin juga. Cewek atau cowok tidak masalah," ucap Gibran lagi.


"Iya, Mas ... aku tahu. Tidak akan kepikiran. Tenang saja," balasnya.


Giselle sudah memberitahukan kepada suaminya untuk tenang. Dia sendiri juga tidak akan berpikiran terlalu berat. Fokus untuk kehamilan, dan berharap sampai sembilan bulan nanti bayinya juga akan lahir dengan sehat, sempurna, dan selamat. Aku juga bingung kenapa masih mual dan muntah. Apa mungkin bawaan bayinya yah?" tanya Giselle kepada suaminya itu.

__ADS_1


Giselle juga sempat merasa bingung.


__ADS_2