Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Pamit


__ADS_3

Gibran dengan membesarkan hatinya sendiri, berusaha untuk berkemas. Hanya membawa pakaiannya dan barang berharga. Selain itu, barang yang lain nanti bisa Gibran ambil di lain waktu.


Usai pagi yang dilingkupi amarah dan ucapan penuh amarah dari ibunya. Gibran memilih bekerja, pulang dari kerja, dia menjemput sekalian Giselle. Sehingga, sekarang Giselle juga kembali ke rumah mertuanya. Akan tetapi, Giselle memilih menunggu di luar. Bukannya tidak sopan, tapi hatinya yang belum siap mendengarkan ujaran penuh kebencian dari Ibu mertua. Sehingga sekarang, hanya Gibran saja yang masuk ke dalam rumah.


"Mas, maaf ... bukannya aku tidak sopan. Namun, aku belum siap untuk berhadap-hadapan dengan Ibu. Jadi, aku menunggu di luar ya, Mas," ucap Giselle.


"Baik, Sayang ... tunggulah di sini, sampai aku keluar," balas Gibran.


Dengan menguatkan hatinya dan juga meneguhkan hatinya, Gibran memasuki rumahnya. Masih mengenakan pakaiannya kerja dan masih mengenakan sepatu. Sebelumnya Gibran tak banyak berbicara, hingga akhirnya Gibran mengeluarkan lebih dari empat koper besar dari dalam kamarnya.


Setelah itu, dia menemui Ibunya yang sebenarnya sejak tadi sudah mengamati apa yang dilakukan Gibran. Namun, kedua belah pihak masih sama-sama diam.


"Ibu, Gibran ingin pamit, Ibu ... sama seperti yang Gibran sampaikan tadi pagi. Gibran ingin membina rumah tangga dengan wanita pilihan hati Gibran yaitu Giselle. Rumah yang kami tempati juga tidak jauh dari sini. Gibran berharap bahwa Ibu akan memberikan restu untuk kami berdua dalam membina rumah tangga," pamit Gibran dengan suara yang lembut, walau terkadang suaranya bergetar.


Sebab, tidak dipungkiri hati pun diselimuti dengan kesedihan. Andai saja bisa berjalan selaras dan harmonis, sudah pasti Giselle sebagai seorang menantu juga tidak akan keberatan untuk tinggal satu atap dengan mertuanya. Namun, semakin hari atmosfer di dalam pondok mertuanya kian panas. Sudah saatnya untuk keluar dan menyelamatkan diri.


"Ibu, keluarnya Gibran dari rumah ... bukan karena Gibran membangkang atau tidak hormat kepada Ibu. Justru, jika ada satu-satunya sosok yang akan selalu Gibran hormati itu adalah Ibu. Gibran pamit ya, Bu ...."


Bu Rosa yang semula diam, barulah sekarang membuka mulutnya dan bersuara. "Sia-sia Ibu memiliki seorang putra. Ibu pikir, dia akan memiliki hati untuk menyayangi ibunya. Mau merawat ibunya yang sudah tua. Seorang ibu bisa merawat anaknya seorang diri, tapi kebalikannya anak tidak akan pernah bisa merawat ibunya."


Gibran merasa bersalah. Lagi-lagi dia tertuduh karena tidak mau merawat ibunya. Namun, dia juga memikirkan rumah tangganya. Ada istri yang menunggunya, mengharapkan kehidupan rumah tangga yang harmonis.


"Gibran akan selalu merawat Ibu," balasnya.

__ADS_1


"Omong kosong. Buktinya sekarang saja, kamu lebih memilih tinggal bersama istrimu dan menikmati tubuhnya bukan? Sudah tidak mau merawat ibumu yang lanjut usia ini. Ibu masih sehat, tidak ada anaknya yang mau merawatnya. Bagaimana jika nanti Ibu sakit. Pastilah tidak ada yang menunjukkan wajahnya kepada Ibu," balas Bu Rosa.


Gibran dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Demi Allah, itu tidak akan terjadi. Baik sehat atau sakit, Gibran akan merawat Ibu. Hanya caranya saja yang berbeda. Merawat tidak harus tinggal seatap bukan, Bu? Gibran akan membuktikan itu kepada Ibu," balasnya.


Mendengarkan jawaban putranya, Bu Rosa berdecak kesal. Baginya, setiap ucapan Gibran hanya omong kosong belaka.


"Ck, tak mungkin, Gibran. Tak mungkin. Yang pasti istrimu akan menguasaimu. Istrimu akan melarangmu untuk ke rumah Ibunya. Ibu sudah tahu, sudah pengalaman. Semua tetangga juga mengalaminya bahwa menantu wanita akan menguasai suaminya," balas Bu Rosa.


"Giselle tidak seperti itu, Bu. Jika ada menantu yang sabar dan pengertian itu adalah Giselle," balas Gibran.


Bu Rosa sudah benar-benar geram. Hingga akhirnya, dia melemparkan kemoceng dan mengenai pelipis Gibran. Hingga Gibran sampai memejamkan matanya. Seumur-umur, tak pernah ibunya mengangkat tangan kepadanya. Namun, sekarang terjadi pelemparan kemoceng di mana kayu layaknya penjalin itu mengenai pelipisnya dan sedikit berdarah di sana.


"Ibu ...."


"Istighfar, Ibu ... istighfar. Apa diperkenankan melakukan hal itu kepada anak sendiri, Bu?" tanya Gibran dengan menatap sang Ibu.


"Kamu anak durhaka, Gibran!"


Amarah dan emosi ibunya kian meletup-letup. Hingga akhirnya, Gibran melangkahkan kakinya. Mendekat kepada ibunya. Gibran benar-benar menurunkan egonya dan kemudian pria itu bersujud di kaki ibunya.


"Ibu, maafkan Gibran jika keputusan Gibran ini membuat Ibu marah atau bahkan murka. Namun, Gibran hanya mencari jalan tengah, Ibu. Gibran ingin menyelamatkan rumah tangga Gibran, memenuhi kewajiban Gibran untuk memberikan perlindungan dan rasa aman untuk istri Gibran sendiri. Sembari, mencintai istri, Gibran akan selalu menyayangi Ibu."


Mengucapkan semuanya itu dari lubuk hatinya yang terdalam. Sampai air mata Gibran menitik dengan sendirinya di kaki sang Ibu. Seolah air mata itu membasuh kaki ibunya, di mana surga itu berada.

__ADS_1


Sekarang, Bu Rosa tak mampu lagi berbicara. Jujur, hatinya hancur melihat Gibran yang sampai bersimpuh di kakinya. Kening putranya itu nyaris menyentuh kakinya sendiri. Apa yang dilakukan Gibran sudah pasti begitu jarang dilakukan anak pria di zaman sekarang. Namun, Gibran benar-benar menurunkan egonya.


"Jika ada tutur kata dan perilaku Gibran yang kurang berkenan, mohon maafkan Gibran. Gibran yakin memiliki hati yang pemaaf seluas samudra. Gibran pamit Ibu ...."


Pamit yang mengharu biru. Penuh dengan air mata. Namun, bagaimana lagi jika itu benar adanya. Dengan menyeka air matanya sendiri, Gibran undur diri dan keluar dari rumah ibunya. Sedih? Sudah pasti sedih. Akan tetapi, beginilah jalannya.


Langkah yang Gibran ambil pun terasa gontai. Namun, seorang pria harus bertanggung jawab dengan pilihannya. Berkomitmen untuk melakukan apa yang sudah dia pilih sebelumnya. Pun, demikian juga Gibran sekarang. Siap untuk menanggung risiko. Hatinya pedih, tapi pria itu berusaha menyembunyikannya dan tersenyum melihat Giselle yang berdiri beberapa meter di hadapannya.


"Mas Gibran," suara Giselle pun terdengar nyeri. Dia sangat tahu bahwa kondisi di dalam rumah tidak baik-baik saja. Terlebih, dia tahu bahwa ada keributan mulut antara Ibunya dan Gibran, karena dari luar saja dia mendengar teriakan Ibu mertuanya.


Gibran berjalan, terus mengambil langkah dengan menganggukkan kepalanya. Hingga kini, Gibran sudah berdiri di hadapan Giselle.


"Sayang," ucap Gibran.


Itu adalah suara yang bergetar. Penuh luka di dalam suara pria itu. Walau sekarang Gibran tak mengatakan apa pun, tapi Giselle sangat tahu bahwa apa yang terjadi sekarang tidak baik-baik saja.


"Mas," balas Giselle dengan suaranya yang lirih.


"Kita pergi dari sini yah ... ke rumah kita," ajak Gibran.


Giselle menganggukkan kepalanya. Dia kemudian dibimbing Gibran untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian Gibran memasukan koper-koper miliknya dan kemudian mengemudikan mobil itu. Hanya berjarak beberapa meter saja dan sekarang mereka sudah tiba di rumah mereka.


Gibran berharap di rumah ini akan banyak kebahagiaan. Giselle bisa merasakan kehidupan rumah tangga impiannya. Sementara, Gibran tetap akan berusaha merawat dan mempedulikan Ibunya. Berusaha menyeimbangkan hidup dengan berusaha adil. Semoga jalan tengah ini bisa berjalan baik. Walau pamit tak bersambut baik, tapi di dalam hati Gibran sepenuhnya akan selalu menyayangi Ibunya. Gibran akan berkomitmen untuk merawat Ibunya.

__ADS_1


__ADS_2