
Beberapa Jam Sebelumnya ....
Di kediaman Bu Rosa, kala itu hujan yang turun dengan begitu derasnya. Sementara, Bu Rosa justru mengepel lantai yang ada di halaman. Sudah pasti lantai keramik yang terkena air membuatnya menjadi basah. Oleh karena itu, Bu Rosa yang tidak memperhatikan bagian lantai keramik yang basah, akhirnya pun kehilangan keseimbangan. Dia tergelincir dan jatuh.
Saat jatuh, tangan kirinya menebak lantai, dan dia mengaduh kesakitan, dengan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Aduh ... ah, tolong ...."
Sekarang berdiri saja, Bu Rosa tidak bisa karena kakinya seperti mati rasa, dan ada bagian kakinya yang sakit kala jatuh. Oleh karena itu, Bu Rosa pun berteriak meminta tolong. Siapa tahu ada tetangga di sekitar rumah yang akan menolongnya.
"Tolong ... Tolong!"
Beberapa menit meminta tolong, akhirnya ada Bu Siti yang lewat. Wanita berusia 40an tahun itu baru saja dari warung terdekat dengan membawa payung. Dia juga bingung melihat Bu Rosa yang jatuh.
"Astagfirullah, Bu Rosa. Kenapa Bu?" tanya Bu Siti yang bingung.
"Tolong, Jeng ... saya teh jatuh," balasnya dengan suaranya yang bergetar karena menahan untuk tidak menangis.
Lantaran Bu Rosa sedikit gemuk, sementara Bu Siti yang kurus pastilah tidak bisa membantu Bu Rosa berdiri. Oleh karena itu, Bu Siti meminta tolong warga yang lain. Ada Bu Harti dan beberapa tetangga yang datang dan memberikan bantuan.
Akhirnya, ada kurang lebih empat ibu-ibu yang datang dan membantu Bu Rosa untuk berdiri. Bu Harti membersihkan alat pel di depan, dan Bu Siti mengambilkan air minum terlebih dahulu untuk Bu Rosa.
__ADS_1
"Yang sakit mananya Bu?" tanya Bu Siti.
"Tangan, Jeng Siti ... tadi jatuhnya tangan kena lantai," balasnya.
"Mau ke Rumah Sakit?" tawar Bu Harti sekarang.
Bu Rosa menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Bu ... minta tolong teleponkan Gibran," pintanya.
Akhirnya Bu Harti berusaha untuk menelpon Gibran. Sayangnya, handphone Gibran tidak bisa dihubungi. Panggilan telepon yang masuk saja dialihkan ke kotak suara. Akhirnya, Bu Siti yang gantian menelpon berinisiatif untuk menelpon Giselle. Pikirnya, Gibran dan Giselle sama saja. Anak dan mantu memiliki kedudukan yang sama.
Namun, Bu Harti sudah curiga kenapa Bu Rosa sama sekali menyebut nama Giselle. Padahal, Giselle juga adalah anak menantunya yang pasti bisa pulang dan menolongnya. Yang dipanggil Bu Rosa dengan sedikit merengek adalah Gibran saja.
***
Giselle dalam perjalanan ke Rumah Sakit, mengirimkan pesan kepada suaminya. Tentunya supaya nanti sore Gibran tidak perlu menjemputnya ke kantor. Melainkan Gibran bisa langsung menuju ke Rumah Sakit.
[To: Mas Gibran]
[Mas Gibran, nanti tidak usah menjemputku pulang kerja.]
[Aku sudah izin pulang terlebih dahulu, karena Ibu sakit. Tadi jatuh.]
__ADS_1
[Aku pulang dengan memesan taksi online.]
[Nanti kalau Mas Gibran membaca pesan ini, Mas Gibran bisa langsung ke Rumah Sakit saja sore nanti.]
[Tidak usah panik, aku akan menjaga Ibu.]
Begitu sudah tiba di Rumah Sakit, Giselle dibantu driver itu menurunkan Bu Rosa dan segera didudukkan di kursi roda. Tidak lupa Giselle membayar untuk sang Driver yang sudah menolongnya. Tidak hanya itu, Giselle juga memberikan lebih. Tanpa bantuan dari driver, tidak mungkin dia akan tiba di Rumah Sakit lebih cepat.
Giselle sendiri yang mendorong kursi roda Bu Rosa. Kemudian dia menuju ke Gawat Darurat, karena pikirkan sekarang yang dia tuju adalah bagian itu. Setelahnya, Giselle diarahkan ke Dokter Tulang. Bu Rosa diperiksa oleh Dokter Tulang dan juga beberapa perawat, sementara Giselle menunggu di luar.
Di luar, Giselle berinisiatif untuk menghubungi Papanya dan meminta bantuan rekomendasi Dokter Spesialis Tulang terbaik di Bandung. Giselle juga mengatakan bahwa Ibu mertuanya jatuh terpeleset, sekarang tangannya bengkak, dugaan sementara Giselle adalah patah tulang.
Berkat bantuan Papa Jaya, ada Dokter Spesialis Tulang di Rumah Sakit itu yang datang dan membantu memeriksa Bu Rosa. Bu Rosa menerima rontgen di tangannya untuk menganalis apakah bengkak itu sungguh ada tulang yang patah atau bergeser. Beberapa jam berlalu, dan ternyata Bu Rosa memang mengalami patah tulang. Itu yang membuat tangannya membengkak dan tidak bisa digerakkan.
"Ibu Giselle, Anda wali pasien?" tanya Dokter di sana.
"Benar, saya anak menantunya," balas Giselle.
"Dari hasil rontgen, Ibu Anda mengalami patah tulang. Jadi, harus operasi dan dipasang gips," jelas Dokter itu.
Giselle menganggukkan kepalanya. "Baik, Dok ... lakukan yang terbaik untuk Ibu," balasnya.
__ADS_1
Giselle memang mengambil keputusan itu, dan berpikir memberikan perawatan yang terbaik untuk Ibunya. Nanti, ketika suaminya datang, barulah Giselle akan menceritakan semua. Selain itu, Giselle juga berharap suaminya seiya dengannya. Menerima baik keputusan untuk pemasangan pen untuk ibunya.
Yang penting sekarang, ibu mertuanya mendapatkan perawatan yang bagus dulu. Bahkan untuk biaya pengobatan juga Giselle yang menanggung semua. Dia tidak keberatan, karena memang ibu mertua adalah sosok ibu untuknya.