Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Saling Mensupport


__ADS_3

"Boleh tidak kalau Rani tinggal di sini untuk sementara waktu?" tanya Tante Rani.


Bu Rosa pun menganggukkan kepalanya. "Tentu saja boleh, Ran. Kamu boleh tinggal di sini. Iya kan, Bran?" balas Bu Rosa.


Maka, Gibran juga menganggukkan kepalanya. "Tentu saja boleh, Tante. Justru, Tante bisa menemani Ibu juga. Maafkan Gibran dan Giselle yang masih harus bekerja dan pulang ke rumah," jawab Gibran.


"Makasih ya, Bran. Kamu adalah sosok yang baik. Ya Allah, Tante bersyukur. Ketika diusir Amel dari rumah Tante sendiri yang Tante pikirkan saat pergi ke rumah Teteh."


Memang itulah yang Tante Rani pikirkan bahwa dia ingin menuju ke rumah Tetehnya saja. Satu-satunya saudara yang dia miliki. Terlebih mengingat Gibran dan Giselle adalah sosok yang baik pastilah mereka mau menampungnya untuk sementara.


"Tidak apa-apa, Tante. Gibran sama sekali tidak masalah. Kalau nanti Shandy mencari gimana Tante?" tanya Gibran.


Tante Rani menghela napas panjang. Dia juga memikirkan hal itu. Sebab, bisa saja Shandy datang dan mengajaknya pulang. Akan tetapi, Tante Rani sekarang menggelengkan kepalanya perlahan.


"Kalau bisa, Tante ingin di sini dulu, Bran. Tante ingin menata hati dulu. Hidup di rumah Tante sendiri membuat Tante merasa tertekan. Selain itu, supaya kaki Tante sembuh dulu," jawab Tante Rani.


Mendengar apa yang disampaikan Tante Rani, Gibran juga kasihan. Sudah pasti bahwa tinggal di rumahnya sendiri justru membuat Tante Rani tertekan. Sementara di saat seperti ini, Bu Rosa melakukan instrospeksi diri. Menyadari dulu seperti itulah Giselle yang memilih pergi dari rumah karena merasa tertekan di rumahnya sendiri.


"Kadang Tante ini berpikir, apa yang Tante lakukan? Dari pagi buta, Tante sudah bangun. Berusaha membuat dapur mengepul, ketika Shandy dan Amel saja masih tidur, Tante sudah bangun. Mesin cuci sudah bekerja. Teh sudah siap. Hingga, akhirnya Tante terus mengurus kerjaan rumah tangga. Mencuci, menjemur, sampai menyetrika, semua Tante lakukan. Sayangnya, menantu Tante justru bertindak semakin keterlaluan," cerita Tante Rani.


Giselle yang mendengar ceritanya saja, hatinya menjadi pilu. Menurut Giselle apa yang dilakukan Tante Rani sangat berjasa. Giselle yakin kegiatan rumah tangga lumpuh, ketika Tante Rani pergi dari rumah.


"Sabar yah, Tante. Sedikit menambahkan kesabaran membuat kita memiliki pengertian dan hati yang lapang," balas Giselle.


Sebenarnya itu yang selalu Giselle tanamkan ke hatinya sendiri. Bahwa dia harus bersabar. Kalau hari ini, kesabaran terkuras maka dia harus menambahkan kesabaran lagi. Sebab, dengan kesabaran itu saja Giselle bisa bertahan dan terus bertahan.


"Tante sudah menjalani semua satu tahun lebih, Selle. Ya Allah, Tante berdosa karena membuka aib menantu sendiri. Harusnya Tante bisa menutupi dosanya," balas Tante Rani dengan terisak dalam tangisannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Tante. Kalau memang tidak bisa lagi ditahan ya sudah, disharingkan saja. Kita semua di sini bisa saling mensupport," balas Giselle.


Itu yang Giselle katakan. Memang ketika benar-benar berbeban berat sebaiknya memang dibagikan. Giselle pernah di posisi menggenggam luka sendiri. Tenggelam dalam konflik batin yang seolah tiada akhir. Namun, dia bisa menceritakan kepada Gibran, dan suaminya hanya memintanya untuk bersabar.


Sekarang, Giselle seolah memetik buah hasil dari kesabarannya. Hubungannya dengan ibu mertuanya juga dipulihkan. Tidak ada salahnya juga menekankan pada diri sendiri untuk sabar.


"Makasih banyak, Neng Giselle," balas Tante Rani.


"Sama-sama, Tante. Maaf, Tante sudah makan belum? Mau dibelikan makan, Tante?" tanya Giselle.


Tante Rani menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Tante tidak berniat makan. Masih sedih, Selle," balas Tante Rani.


Sebenarnya hati Tante Rani terasa begitu pedih. Sampai perut sudah tidak lagi merasakan lapar. Terlanjur sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh Menantunya sendiri.


"Jangan begitu, Ran. Harus makan. Apalagi kamu harus makan karena ada obat yang harus diminum setelah makan," jawab Bu Rosa.


Setelah dibujuk akhirnya Tante Rani mau untuk makan. Hanya sedikit saja karena sebenarnya Tante Rani juga masih terasa sesak. Usai itu, Giselle juga mengambilkan segelas air putih dan membantunya untuk meminum obat. Air mata Tante Rani kembali berlinang jadinya.


"Makasih Neng Giselle, mana pernah Amel memperlakukan Mama mertuanya seperti ini," balasnya dengan menekan dadanya yang terasa sesak.


Giselle yang lembut pun mengusapi punggung Tante Rani perlahan. "Sabar yah, Tante. Dalam setiap cobaan, Allah memberikan hikmahnya. Ada Giselle, Ibu, dan Mas Gibran di sini. Kita bisa saling mensupport," ucapnya.


Tante Rani merespons dengan menganggukkan kepalanya. Dia merasakan sosok Giselle adalah sosok yang hangat dan lembut. Selain itu benar yang tebakannya bahwa Giselle adalah orang yang baik dan lembut.


"Terima kasih banyak ya Neng Giselle," ucap Tante Rani.


Bu Rosa juga terharu melihat Giselle yang bisa begitu baiknya dengan orang lain. Sungguh, dulu kebaikan Giselle seperti ini tidak pernah dia lihat karena dia memilih untuk menutup mata dan hatinya, memilih untuk membenci Giselle. Bahkan Bu Rosa bisa membenci Giselle tanpa alasan.

__ADS_1


"Baiklah, Ibu dan Tante istirahat di rumah yah. Giselle dan Mas Gibran berpamitan pulang apa boleh?" tanya Giselle.


Keduanya menganggukkan kepalanya. Terlebih Bu Rosa juga tahu Giselle dan Gibran dari pulang kerja langsung ke rumahnya dan belum beristirahat sama sekali.


"Istirahat saja, Selle. Kamu juga baru hamil, jangan kecapekan. Terima kasih banyak yah," ucap Bu Rosa.


"Iya, Bu. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan menelpon kami berdua ya, Bu," balas Giselle.


"Iya, istirahat. Kasihan baby kamu. Sekali lagi, Ibu makasih yah," balas Bu Rosa.


Sekarang Giselle dan Gibran pulang ke rumahnya sendiri. Begitu sudah di rumah, Giselle dengan refleks memeluk suaminya itu.


"Kangen," ucap Giselle.


"Sama, tapi kamu kecapekan pasti. Dari pagi bekerja dan sekarang baru di rumah. Aku masakkan air hangat, mandi pake air hangat yah," balas Gibran sembari memeluk Giselle.


"Peluk dulu lima menit, Mas. Aku sedih melihat Tante Rani seperti itu. Kurang baik apa, kok menantunya bisa seperti itu," balas Giselle.


"Benar, Sayang. Kamu dulu juga baik, Ibuku yang tidak baik. Namun, aku sangat bersyukur bahwa hubungan kamu dan Ibu sudah mulai membaik perlahan-lahan. Makasih Sayang, kamu sosok yang pemaaf," balas Gibran.


Giselle terdiam, dia masih memeluk Gibran. Jujur, rasanya sedih ketika orang tua yang baik, justru diperlakukan anak menantu seperti itu. Giselle merasa yang dilakukan Amel sudah sangat kelewatan batas.


"Udah mandi dulu. Yang penting Tante Rani aman di rumah," balas Gibran.


"Benar, Mas. Kalau bisa sampai sembuh dulu. Luka di kakinya biar sembuh dulu," balas Giselle.


Mereka tak ragu untuk mensupport Tante Rani. Setidaknya sampai kakinya sembuh dulu. Bertolong-tolonglah menanggung beban, itu yang akan dilakukan Giselle dan Gibran.

__ADS_1


__ADS_2