
Usai menelpon Mamanya, Giselle pun membagikan kabar untuk Mbak Kanaya dan Mas Bisma. Selain itu bertanya kepada Mas Bisma, Dokter Kandungan yang bagus di Bandung. Rupanya yang disarankan adalah Dokter Nuri. Oleh karena itu, Giselle akan kembali periksa ke Dokter Nuri.
"Jadi kapan mau periksa ke Dokter, Sayang?" tanya Gibran.
"Besok aja, Mas. Pulang dari bekerja, langsung ke Dokter," balas Giselle.
"Yakin, enggak pengen sekarang aja? Aku kasihan melihat kamu lemes dan mual muntah, Sayang," ucap Gibran.
Memang Gibran merasa kasihan dengan istrinya yang mual dan muntah, bahkan istrinya itu sekarang begitu lemas. Hanya berbaring di tempat tidur saja. Kalau segera periksa bisa mendapatkan obat pereda mual.
"Iya, besok ya Mas. Aku lemes banget, sehari beberapa kali muntah," balas Giselle.
Mendengar keluhan dari Giselle, Gibran juga tidak akan memaksa. Bagaimana istrinya juga membutuhkan istirahat untuk memulihkan tenaganya. Namun, esok mereka akan meminta obat pereda mual yang mungkin saja bisa mengurangi rasa mual yang dialami Giselle.
"Ya sudah, istirahat dulu, Sayangku. Hamil itu berat ya, Yang?" tanyanya.
"Enggak apa-apa, Mas. Aku ikhlas menjalaninya. Sudah hampir tiga tahun kita menunggu. Asal kamu selalu mendampinginya aku, aku bisa kuat kok, Mas," balas Giselle.
Ya, menurutnya jika hanya sekadar mual dan muntah tidak menjadi masalah. Hampir tiga tahun mereka menunggu, sehingga sekarang ketika hamil dan harus merasakan mual dan muntah, Giselle sama sekali tidak keberatan. Yang penting ada suaminya yang mendampinginya.
"Pasti aku akan selalu mendampingi kamu, Sayang. Selalu," balas Gibran.
Giselle tersenyum, dia tidur dan lebih dekat dengan suaminya. Walau mual dan muntah, hingga sekarang menjadi lemas rasanya tidak menjadi masalah. Bawaan hamil emang beda-beda yang penting suaminya selalu disampingnya saja.
***
Keesokan harinya ....
__ADS_1
Dari bekerja, Gibran langsung menjemput Giselle ke kantornya dan mereka akan menuju ke Klinik tempat Dokter Nuri membuka praktik. Gibran juga menanyai apakah istrinya itu mual selama di kantor, tapi katanya Giselle tidak begitu mual. Namun sekarang, Giselle sendiri mengenakan masker dan bau aromaterapi yang ditempel di maskernya.
Gibran pun kemudian mengulurkan tangannya dan mengusap sesaat puncak kepala Giselle. Dia merasa begitu sayang dan juga kasihan dengan Giselle. Namun, Giselle masih berusaha semangat dan bertahan.
Menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, sekarang mereka sudah tiba di Klinik Kandungan. Untung mereka hanya menunggu satu antrian karena Gibran sudah mendaftarkan istrinya sejak kemarin.
"Ibu Giselle, silakan," panggil seorang petugas di klinik itu.
Pertama-tama, Giselle ditimbang berat badannya dan mengukur tekanan darah. Setelah itu, Giselle dipersilakan untuk menemui Dokter Nuri yang sudah menunggunya.
"Selamat sore Dokter Nuri," sapa Giselle dan Gibran.
"Selamat sore. Bagaimana kabarnya Bu Giselle? Setelah rutin pengobatan untuk PCOS. Bagaimana nih kabarnya?" tanya Dokter Nuri.
Giselle tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Bersyukur Dokter. Setelah satu tahun lebih berobat, minum obat setiap hari. Akhirnya, kemarin itu positif Dokter," cerita Giselle.
"Alhamdulillah ... satu tahun lebih ya Bu Giselle. Akhirnya dijabah sama Allah. Duh, saya jadi terharu," balas Dokter Nuri sampai berkaca-kaca sekarang.
"Maaf, Bu Giselle. Sebelumnya apa ada kiat tersendiri sampai berhasil positif?" tanya Dokter Nuri.
"Saya dikasih tahu Kakak saya sih, Dokter. Katanya kalau berhubungan diganjal dengan bantal supaya tidak tumpah keluar. Selain itu, tidak buru-buru ke kamar mandi. Ya, berusaha dan berikhtiar, Dokter. Cara berikhtiar kan macam-macam," cerita Giselle.
Dokter Nuri menganggukkan kepalanya." Benar sekali, Bu. Memang biarkan milik suami itu berenang-renang dulu. Kalau langsung ke kamar mandi, maaf bisa keluar lagi," balas Dokter Nuri.
Usai berbincang-bincang kemudian Giselle dipersilakan untuk menaiki brangkar dan mengingat usia kandungan yang masih muda, Dokter Nuri menyarankan untuk melakukan pemeriksaan USG Transvaginal yang bisa melihat hingga ke dalam rahim.
"Sakit tidak Dokter?" tanya Giselle yang takut sebenarnya.
__ADS_1
"Tidak sakit kok, Bu."
Mulailah dengan memasukkan stik probe yang berukuran 5. – 7.5 cm ke dalam jalan lahir. Stik probe ini nantinya akan memancarkan suara frekuensi tinggi sehingga memunculkan gambar organ dalam tubuh pada layar monitor. Dokter Nuri juga memberikan instruksi.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh ya, Bu ... baik silakan melihat di layar monitor."
Sekarang Gibran dan Giselle pun mulai memerhatikan monitor. "Ya, benar positif ya, Bu. Walau masih kecil sekali. Janinnya berusia sembilan minggu. Terlihat sudah berbentuk embrio atau bakal janin," jelas Dokter Nuri.
Ketika memerhatikan, Giselle dan Gibran juga melihat benda kecil sudah berbentuk seperti bayi yang terlihat di monitor. Takjub juga dengan benda kecil yang adalah embrio yang perlahan-lahan akan tumbuh menjadi bayi mereka.
Setelah itu Dokter Nuri memperdengarkan detak jantung bayi mereka. Sekarang, Gibran merekamnya. Gibran sampai menitikkan air mata. Tidak menyangka juga, kehidupan baru sudah bersemi di dalam rahim istrinya. Begitu juga dengan Giselle yang benar-benar menangis.
Dulu, ibu mertuanya mengatakan dirinya hamil hingga suaminya diminta untuk menikah lagi, selain itu Giselle tak mendapat kasih sayang dari ibu mertuanya. Kehadiran buah hati yang menghapus duka dan laranya.
"Sembilan minggu ini nanti janinnya akan terus menerus berkembang ya, Bu. Janinnya sangat sehat. Bisa terlihat sendiri bagaimana janinnya sudah berputar-putar di dalam rahimnya Bu Giselle," jelas Dokter Nuri.
Setelah itu, mulailah stik probe dikeluarkan dan Giselle pun dibersihkan. Dokter Nuri kemudian mengeprint hasil USG. Kemudian Giselle duduk di samping suaminya. Melanjutkan untuk konsultasi dengan Dokter Nuri.
"Ada keluhan enggak, Bu Giselle?" tanya Dokter Nuri.
"Saya mual dan muntah parah, Dokter. Bisa diberi pereda nyeri enggak Dokter?" tanya Giselle.
Dokter Nuri pun menganggukkan kepalanya. "Nanti biasanya trimester pertama akan adaptasi ya, Bu. Saya akan berikan obat pereda mual. Selain itu memang bisa menghindari bau yang menyengat dulu," balas Dokter Nuri.
"Nyium aroma bakso saja mual, Dokter," sahut Gibran.
"Yang menyengat untuk Bumil dan kita beda ya, Pak. Jadi lebih baik untuk dijaga dulu. Bapak juga yang sabar," jawab Dokter Nuri.
__ADS_1
"Pasti sabar kok Dokter, kan ya yang ditunggu bertahun-tahun adalah buah hati," balas Gibran.
Hampir setengah jam mereka memeriksa kandungan dan konsultasi, setelahnya mereka menyudahinya dan kemudian menunggu untuk mengambil obat dan membayar administrasi. Hari yang tadi sore, sekarang pun sudah menjadi malam. Namun, keduanya bersyukur untuk kabar baik hari ini.