
Selang beberapa jam kemudian, Giselle bertanya kepada suaminya perihal dia ingin membagikan kabar baik kepada Mama dan Papanya terlebih dahulu. Selain itu, Giselle juga ingin memberitahukan kepada Mbak Kanaya dan Mas Bisma, sekaligus dia ingin bertanya apakah Mas Bisma memiliki teman atau kenalan sebagai Dokter Kandungan yang bagus di Bandung.
Selama periksa PCOS dulu memang Giselle sudah periksa dan melakukan konsultasi dengan Dokter Nuri. Namun, jika Mas Bisma memiliki advice yang lebih baik tentu saja Giselle akan memilih itu. Sebab, dia ingin bayinya diperiksa dengan baik. Bisa mengetahui tumbuh kembang janinnya setiap bulan.
"Mas, aku mau telepon Mama boleh? Mau berbagi kabar aja," tanyanya sekarang kepada suaminya.
"Boleh saja, Sayang. Iya, justru harus memberitahu Mama dan Papa. Sebagaimana janji kita dulu, ketika ada kabar baik segera memberitahu kepada Mama dan Papa," balas Gibran.
Merasa suaminya sudah memberikan izin, Giselle pun segera mengambil handphonenya. Dia sudah ingin membagi kabar baik ini. Selain itu, Giselle berpikir pasti Mama dan Papanya akan sangat bahagia mendengarkan kabar baik ini.
"Halo, Assalamualaikum, Mama ...."
Giselle menyapa sang Mama melalui panggilan telepon itu. Sekadar menelpon dan menyapa secara seluler saja membuat Giselle sudah begitu bahagia.
"Halo, waalaikumsalam, Selle ... kamu dan Gibran bagaimana kabarnya?" tanya Mama Diana.
"Giselle dan Mas Gibran baik, Ma. Giselle juga berharap bahwa Mama dan Papa juga dalam keadaan baik," balasnya.
Terdengar tawa dari sang Mama. Kondisi ini tentu sangat kontras dengan waktu bertemu, Mamanya menangis waktu itu. Secara pribadi Giselle tahu bahwa mungkin Mamanya sedih mendengar anaknya yang tidak mendapatkan hati dan kasih sayang dari ibu mertuanya. Namun, Giselle tak ingin membuka semua penderitaan selama dua tahun tinggal di pondok mertuanya. Itu semua Giselle lakukan karena tak ingin Mamanya akan bertambah sedih. Setiap ucapan dan perlakuan buruk, Giselle telan sendiri. Mungkin hanya Allah dan suaminya saja yang tahu.
__ADS_1
"Alhamdulillah ..., Mama itu selalu berdoa semoga kalian berdua selalu sehat dan bahagia. Itu saja Mama dan Papa di sini sudah sangat bahagia," balas Mama Diana.
Setelahnya, Giselle kemudian menyampaikan kepada Mamanya berita utama tentunya adalah berita bahagia kepada Mamanya. Dia juga deg-degan sebenarnya. Akan tetapi, memang harus memberikan kabar baik untuk orang tuanya.
"Mama, ini Giselle memberikan kabar kepada Mama dan Papa. Sebelumnya, Giselle dan Mas Gibran mengucapkan terima kasih untuk doa Mama dan Papa selama ini. Setelah lebih dari dua tahun, akhirnya Allah percayakan hal yang indah untuk kami berdua. Ma, sekarang Giselle sedang hamil," ceritanya.
Di Jakarta sana, seketika Mama Diana menitikkan air matanya. Bukan kesedihan, sama sekali bukan. Namun, itu adalah air mata bahagia. Setelah begitu lama, lebih dari dua tahun barulah Giselle dan Gibran dikarunia untuk memiliki buah hati. Kabar baik ini tentu juga menjadi kabar yang sangat dinantikan oleh keluarga Wardhana.
"Alhamdulillah ya Allah ... akhirnya Allah bukakan jalan. Mama dan Papa bahagia, Selle. Sudah periksa atau belum? Jalan lupa segera diperiksakan supaya tahu sudah berapa minggu, selain itu segera mendapatkan vitamin untuk baby nya," balas Mama Diana.
"Belum periksa, Ma. Giselle baru melakukan test tadi pagi kok, Ma. Itupun setelah Mas Gibran menyuruh Giselle melakukan test. Soalnya Giselle mager, Ma. Maunya di atas tempat tidur terus. Selain itu, mencium bau yang menyengat juga mual dan muntah. Semakin parah, masak nyium bau bakso saja mual, Ma. Kasihan sama Mas Gibran," cerita Giselle dengan jujur.
"Tidak apa-apa. Gibran pasti pengertian kok sama kamu. Kadang kan memang wanita hamil mengalami mual dan muntah. Mama yakin suami kamu itu adalah pria yang sabar," balas Mama Diana.
Giselle merespons dengan menganggukkan kepalanya. Benar suaminya itu adalah pria yang sabar. Sangat sabar. Sampai dulu, setiap kali ibunya memarahi Giselle juga Gibran hanya bisa berkata untuk sabar.
"Berikan teleponnya ke Gibran yah, Mama pengen ngobrol sebentar sama Gibran," ucap Mama Diana.
Mendengar instruksi dari Mamanya, Giselle kemudian menyerahkan handphonenya kepada suaminya. Sembari berkata bahwa Mamanya ingin berbicara. Gibran menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya Mama ... assalamu'alaikum," sapa Gibran dengan santun kepada Mama mertuanya.
"Waalaikumsalam, Gibran. Mama ucapkan selamat yah. Akhirnya, setelah lebih dari dua tahun," ucap Mama Diana.
"Benar, Ma. Ketika kami sudah pasrah kepada Allah. Justru sekarang pintu seakan dibukakan," balas Gibran.
Memang Giselle dan Gibran memilih pasrah. Walau begitu obat milik. Giselle masih rutin diminum, selain itu ya mereka berikhtiar. Namun, benar-benar tulus. Mereka memilih percaya jika waktunya Allah sudah tiba, pastilah nanti semua doa akan dijawab oleh Allah.
"Ada kalanya memang begitu, Bran. Selamat yah ... maaf juga karena Giselle mual dan muntah parah yah? Sampai mencium aroma bakso saja mual. Memang wanita hamil seperti itu, Gibran. Mama berharap kamu sabar yah. Mengingat panjangnya menanti buah hati, tentu ini adalah pengalaman berharga bukan?" tanyanya.
"Tentu, Mama. Sudah pasti Gibran akan sabar. Tidak apa-apa, Ma. Kan berarti kalau Gibran pengen makan Bakso lebih baik makan di luar saja, tidak dekat-dekat sama Giselle," balasnya.
"Benar. Tolong lebih sabar yah, ketika wanita tengah hamil, wanita butuh pengertian dan dimengerti oleh suaminya. Mama harap kamu bisa menjadi seperti itu. Sabar ... bahkan nanti kalau sudah punya baby juga dituntut lebih sabar. Dijaga baik-baik ya, Bran. Mama bahagia, Mama juga doakan kalian berdua selalu sehat, bahagia, dan selalu bisa memecahkan masalah rumah tangga bersama yah," ucap Mama Diana.
Gibran menerima dengan baik setiap nasihat dan pesan dari Mama mertuanya itu. Selain itu, sudah tentu bahwa Giselle akan bersabar.Benar apa yang baru saja Mama mertuanya sampaikan, bawaan hamil bisa macam-macam termasuk mual dan muntah. Gibran juga setuju ketika bayinya nanti sudah lahir, juga harus lebih bersabar lagi.
"Baik, Ma. Terima kasih untuk pesan dan nasihatnya," balas Gibran.
Sementara itu, handphone kemudian Gibran berikan lagi kepada Giselle. Masih Giselle berbicara lama dengan Mamanya. Gibran yang duduk di samping istrinya memilih mengusapi kepala istrinya, membelai rambutnya yang panjang. Rasanya sekarang perasaan cinta dan kasih sayang itu semakin bertumbuh dan bertumbuh. Gibran berjanji dia akan bersabar dan selalu pengertian kepada istrinya. Terlebih kehamilan ini sudah dia tunggu dengan lama. Gibran berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa menjaga Giselle.
__ADS_1