
Rumah tangga selalu memiliki cerita sendiri, memiliki konflik tersendiri. Sama seperti kehidupan rumah tangga Giselle dan Gibran dulu, di mana mereka butuh waktu kurang lebih dua tahun untuk bahagia bersama. Pernah ada mantan yang datang, lalu konflik dengan ibu mertua yang seakan tidak berkesudahan. Semua membuat cerita tersendiri di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Namun, ada komitmen yang selalu mereka jaga.
Namun, di satu sisi ada pasangan lain yang mengalami konflik yang lain dan berupaya untuk menyelesaikannya. Akan tetapi, semua jalan yang mereka tempuh serasa buntu. Sama kehidupan rumah tangga Amel dan Shandy.
Amel pikir dengan mengusir mertuanya dari rumahnya sendiri membuat hidupnya lebih enak. Ternyata tidak. Justru, wanita itu sering uring-uringan mana kala harus diperhadapkan dengan kerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Wajahnya semakin masam. Tidak hanya itu, Amel pun mengeluh terus-menerus.
"Bantuin napa sih, Aa ... cucian bajunya banyak loh," ucap Amel yang meminta bantuan suaminya untuk membantunya.
Sebenarnya jika hanya mencuci baju saja tinggal memencet tombol di mesin cuci, dan akan beroperasi dengan sendirinya. Namun, untuk menjemur, melipat baju, dan untuk menyetrika dibutuhkan tenaga manusia. Amel sudah berusaha mengerjakannya, tapi sama masih cucian yang belum dilipat dan disetrika.
"Kan kalau libur juga aku bantuin, Yang. Sekarang, aku baru banyak kerjaan dari perusahaan. Tidak bisa," balas Shandy.
Mendengar jawaban dari suaminya. Wajah Amel menjadi semakin masam. Merasa mengerjakan semuanya seorang diri, dan dia juga kecapekan karena usai bekerja juga dari hotel.
"Keterlaluan banget sih, A ... ini kan juga baju kita berdua loh," balas Amel.
"Salah sendiri, kamu mengusir Mama dari rumah. Sekarang, kamu rasain sendiri kan akibatnya. Rumah kotor dan berantakan, cucian belum disetrika. Makanya, sebelum bertindak, pikirkan risikonya dulu," jawab Shandy.
"Habis, Mama kamu itu bikin aku emosi. Apa-apa gak becus. Nyebelin banget," balas Amel.
Shandy menghela napas panjang. Bukannya dia berpikir macam-macam, tapi juga karena sebenarnya ketika ada Mamanya di rumah, semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan Mamanya. Mereka tak perlu repot melakukan ini dan itu. Di sini, Shandy pun bertindak picik dan benar-benar memperlakukan Mamanya seperti seorang pembantu.
__ADS_1
"Panjang aja Mama balik deh," ucap Amel sekarang dengan masih marah.
"Kalau kamu mau, panggil saja sendiri. Kamu yang bikin Mama keluar dari rumah kok," balas Shandy.
"Kenapa sih, A ... kamu justru nyalahin aku terus. Bosen lama-lama aku tinggal sama kamu. Istri bicara gak ngasih solusi, justru nyalahin. Nyebelin."
Usai mengatakan itu, Amel memilih pergi dari rumah untuk menenangkan hatinya. Rumah yang tidak bersih. Banyak pakaian belum sempat disetrika, dan juga Shandy yang seolah tidak berpihak kepadanya. Wanita itu memilih pergi dan nongkrong di sebuah kafe yang ada di kota dan memesan minuman dingin yang bisa mendinginkan kepalanya yang sekarang panas.
Terlihat menyedihkan, ketika semua pengunjung kafe datang bersama sahabat, kawan, atau pasangannya. Sementara Amel hanya seorang diri. Akan tetapi, lantaran kesal ya sudah, dia berusaha menikmati kesendiriannya. Daripada berada di rumah justru membuat dia kesal.
Hingga dua puluh menit kemudian, ada seorang pria yang mendatangi Amel. Pria yang masih muda dan berperawakan tinggi tegap. Sebenarnya pria itu juga bukan sosok yang asing untuk Amel, mereka sudah saling mengenal satu sama lain.
"Amelia," sapa pria itu dengan duduk di depan Amel.
Ya, pria itu ternyata adalah Davin, Direktur di hotel tempatnya bekerjanya. Memang masih muda. Usianya saja masih di angka 30an, tapi dia sudah menjabat sebagai Direktur di hotel itu.
"Bapak kenapa di sini?" tanya Amel dengan bingung.
"Loh, saya sering ke sini. Justru, kamu itu kenapa di sini, dan ... sendirian," balas Pak Davin.
Amel tersenyum tipis dan kemudian mengaduk minumannya perlahan. "Nyantai dulu, Pak. Sesekali lebih rileks pada hidup," balas Amel.
__ADS_1
Pak Davin tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Jujur, sebagai pria dia tertarik dengan Amel. Salah satu karyawan di hotel itu memiliki wajah yang cantik, tinggi, dan bentuk tubuhnya juga indah. Hanya saja satu, Amel sudah menikah. Itu berarti Amel tidak bisa didekati dong. Namun, sekarang melihat Amel ada di kafe itu sendirian, hasrat seorang Davin seolah menaik begitu saja.
"Sendirian, tanpa suami?" tanyanya.
"Iya, sendiri saja. Kadang perlu waktu sendiri," balas Amel.
"Boleh, saya temanin minum," balas Davin.
Terlihat senyuman tipis Amel, dan wanita itu menganggukkan kepalanya. "Wah, kehormatan bagi saya menemani Pak Direktur," balasnya.
Ketika Amel tidak menolak, maka Davin bersiap untuk trik selanjutnya. Dia pikir akan sukar mendekati karyawannya sendiri dan yang sudah bersuami. Ternyata tidak sesukar yang dia bayangkan. Ah, mungkin saja Amel sedang ada masalah dengan suaminya. Sebab, biasanya wanita yang resah, akan memilih untuk sendirian dan juga butuh teman untuk menemaninya.
Davin memesan minuman, sayangnya ketika waitress menyajikannya. Justru minuman itu mengenai baju Amel, membuat bagian dada wanita itu menjadi basah karenanya. Amel sudah hampir marah, karena wanita itu terkenal dengan emosinya yang meledak-ledak. Akan tetapi, Amel sadar diri siapa yang ada di hadapannya. Sehingga, dia memilih untuk menghela napas panjang dan menundukkan wajahnya menatap kaos yang sekarang dia kenakan.
"Sorry, Kak," ucap Waitress itu.
"Ups, basah, Amelia. Bagaimana ini, kamu ikut saya sebentar. Sorry," ucap Davin.
"Tidak usah, Pak ... tidak perlu, saya bisa pulang saja," balas Amel.
Akan tetapi, Davin menggelengkan kepalanya. "Tidak, kamu ikut saya. Sebentar saya panggil supir yang akan bawa mobil saya, kamu harus ikut saya dulu."
__ADS_1
Kemana Davin akan mengajak Amel? Mungkinkah ini adalah sebuah jebakan? Usai semua ini, apakah pernikahan Shandy dan Amel akan baik-baik saja?