Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Kebaikan yang Tulus


__ADS_3

Sebagai pria, kadang Gibran juga tidak enak hati dengan istrinya. Seperti sekarang ini, di mana Giselle sudah melunasi biaya pengobatan ibu mertuanya. Bahkan untuk rawat inap dan tindakan selanjutnya, Giselle bersedia untuk membayar seluruh pengobatan ibu mertuanya.


"Kamu terlalu baik, Sayang," ucap Gibran kepada istrinya itu.


"Tidak mungkin aku berbuat jahat kepada ibu mertuaku sendiri, Mas. Yang harus Mas Gibran tahu bahwa aku selalu sayang Ibu," balas Giselle.


Hampir tiga tahun bersama Gibran, hubungannya dengan ibu mertuanya memang tidak baik. Justru, dia lebih banyak mendapatkan luka. Konflik batin pun, Giselle alami setiap harinya. Namun, Giselle pun jujur bahwa dia selalu sayang kepada ibu mertuanya. Tidak pernah mengharapkan yang jahat kepada ibu mertuanya sendiri.


"Andai Ibu bisa melihat semuanya itu, Sayang," balas Gibran.


Akan tetapi, Giselle menggelengkan kepalanya. "Untuk apa yang kita lakukan untuk orang lain, tidak perlu mendapat perhatian dan pengakuan, Mas. Aku tulus dengan ibu. Beliau adalah Ibu kamu, wanita mulia yang melahirkan suamiku. Jadi, aku tidak akan membenci beliau atau mendoakan satu keburukan. Allah adalah hakimku. Dia sangat tahu isi hatiku."


Giselle pun berkata kebenarannya bahwa dia sangat tulus dengan ibu mertuanya. Sekalipun ibu mertuanya masih membencinya dan juga sering menyakiti hatinya, untuk semua yang sudah Giselle lakukan tidak akan menuntut balik. Tidak akan meminta sang ibu mertua untuk mengerti dan memahami. Biarkanlah Allah saja yang akan mengetahui semuanya.


Gibran menganggukkan kepalanya. Yang dia nikahi sekarang benar-benar wanita berhati malaikat. Sangat jarang ada wanita seperti Giselle. Doa Gibran, ibunya nanti ketika sadar bisa merasakan betapa baiknya Giselle. Selain itu, ibunya akan dilembutkan hatinya dan juga bisa menyayangi Giselle.


"Sayang, mungkin ibu harus menginap di Rumah Sakit. Kamu bagaimana? Mau aku anterin pulang dulu?" tanya Gibran sekarang.


Menurut Gibran, biar dia saja yang menunggu ibunya di Rumah Sakit. Giselle yang sedang mengandung sebaiknya berada di rumah saja. Menikmati istirahat yang nyaman. Oleh karena itu, Gibran menawarkan kepada Giselle untuk mengantarkannya pulang ke rumah terlebih dahulu.


"Tidak usah, Mas. Aku naik taksi dulu saja tidak apa-apa. Mas Gibran merawat Ibu di sini saja," balas Giselle.


Sebenarnya Gibran khawatir. Itu juga karena Giselle sedang hamil. Dia takut kalau Giselle pulang sendiri dan ada apa-apa dengannya.


"Jangan begitu, Sayang. Kalau naik taksi online dan drivernya nyupirnya ugal-ugalan bagaimana coba?" tanya Gibran.

__ADS_1


Di satu sisi, Giselle menggelengkan kepalanya. "Tadi aku pulang dari kantor dan ke Rumah Sakit sendirian tidak apa-apa kok. Aku naik taksi saja, Mas. Nanti aku kirimkan pakaian ganti dan makan malam untuk Mas Gibran yah," balas Giselle.


Lantaran Giselle memilih pulang sendiri, Gibran menganggukkan kepalanya. Namun, dia mengantar Giselle sampai ke luar rumah sakit. Sebab, merasa tidak bisa berbuat lebih untuk istrinya sekarang.


"Yakin, pulang sendiri?" tanyanya.


"Iya, yakin. Aku pulang sendiri saja," balas Giselle.


"Ya sudah ... Sayang, nanti tolong sertakan juga sajadah untukku yah," pinta Gibran.


Giselle menganggukkan kepalanya. Sudah pasti suaminya itu akan berdoa di sepertiga malam. Memohon kepada Allah untuk menyembuhkan ibunya.


"Pasti, Mas. Nanti yang kamu butuhkan apa saja, kirim pesan saja yah. Aku akan kirim go-send yah," balas Giselle.


"Iya, Sayang. Terima kasih banyak yah. Jangan lupa menghubungi aku ketika sudah sampai di rumah," balas Gibran.


Dalam perjalanan, Giselle juga melihat jalanan yang tergenang air. Kota Bandung pun masih hujan rintik-rintik petang itu. Giselle teringat dengan permintaan suaminya tadi pagi, yang menginginkan dirinya ketika malam tiba. Sayang sekali, sekarang mereka harus berpisah sementara karena suaminya harus menunggu ibunya di rumah sakit.


Hampir dua puluh menit, Giselle tiba di rumah dan langsung menyiapkan pakaian ganti, peralatan mandi, sajadah dan baju koko untuk suaminya. Tidak lupa menyertakan sandal juga untuk suaminya. Tidak hanya itu, Giselle membuatkan Nasi Goreng dan Kopi panas yang dia taruh dalam sebuah tumbler sehingga panasnya bisa bertahan lama. Setidaknya ada bekal untuk suaminya.


Setelahnya Giselle mengirimkannya dengan ojek online. Tidak lupa, dia memberitahu suaminya untuk menunggu di luar Rumah Sakit nanti.


Di Rumah Sakit sana, Gibran tersenyum membaca setiap pesan dari istrinya. Bukan hanya menantu yang baik, Giselle pun juga adalah istri yang sangat baik. Seorang pendamping yang sangat bisa mengerti dirinya. Sangat bisa memahami kekurangannya.


Hampir setengah jam, Gibran kembali turun dan mengambil tas yang sudah Giselle kirimkan melalui tukang ojek. Kemudian, dia kembali ke kamar rawat ibunya.

__ADS_1


Tepat ketika Gibran melangkahkan kakinya, Ibunya sudah sadar. Nama pertama yang Ibunya sebut adalah nama Gibran.


"Gibran ... Gibran ...."


Terkesiap. Gibran mendekat ke brankar ibunya dan menanyai sang ibu yang baru sadar.


"Ya, Ibu ... Gibran ada di sini," balasnya.


"Ibu sakit, Gibran. Ibu jatuh," rengeknya kini.


Ya, mungkin itu adalah memori yang tersisa bagaimana ibunya sakit karena jatuh. Gibran pun merespons dengan menganggukkan kepalanya. Dia tahu kesakitan ibunya sekarang.


"Ibu sudah di rumah sakit sekarang. Ibu akan baik-baik saja," balasnya.


"Tangan Ibu tidak bisa digerakkan," rengeknya lagi.


Sudah pasti tangan yang sedang digips dan usai dipasang pen itu tidak akan bisa digerakkan. Perlu waktu juga untuk menggerakkannya.


"Tangan Ibu usai dipasangi pen, karena ada tulang yang patah. Nanti akan sembuh pelan-pelan," balas Gibran.


"Ibu itu tidak mau dioperasi, istrimu yang ngotot untuk mengoperasi Ibu. Bahagia kalau tangan Ibu gak bisa digerakkan kayak gini," balas Bu Rosa.


"Ibu, yang dilakukan Giselle itu benar. Tulang Ibu patah, memang harus dipasang pen. Supaya tidak terjadi hal yang lebih parah," ucap Gibran berusaha memberikan penjelasan kepada Ibunya.


Namun, Bu Rosa masih menunjukkan tidak sukanya. Dia justru menganggap Giselle lah yang membuat tangannya kini tidak bisa digerakkan.

__ADS_1


"Jika ada sosok orang yang tulus dan sangat baik itu adalah Giselle, Bu. Dia yang rela hujan-hujan meninggalkan pekerjaannya dan membawa Ibu ke rumah sakit. Bahkan Dokter Spesialis Tulang terbaik juga yang menangani operasi Ibu. Fokus untuk sembuh dulu, Bu. Kalau Ibu ikhlas, menjadikan ini sebagai pelajaran. Insyaallah, ibu akan segera sembuh," balas Gibran.


Ada kalanya hal seperti ini yang membuat Gibran menjadi sedih. Istrinya sudah berupaya keras untuk ibunya. Akan tetapi, sering kali kebaikan tidak diterima sebagai kebaikan.


__ADS_2