
Gibran masih berusaha untuk menenangkan Giselle. Sebab, Giselle sangat terluka sekarang. Semua usaha baiknya ibarat menggarami lautan, tidak akan pernah berdampak sama sekali. Justru, ibu mertuanya selalu saja menyalahkannya. Niat baik yang dibalas dengan ucapan keras dan sangat menyakitkan.
"Sayang, tidak perlu mendengarkan ucapan Ibu. Biarkan saja, sekarang fokus untuk kehamilan kamu dulu. Untuk baby kita. Nanti dengan semakin bertambahnya usia kehamilan, usia kandunganmu akan semakin besar dan juga perut kamu semakin membesar. Aku tidak sabar untuk itu," balas Gibran.
Setelah lebih tenang, Giselle bisa merespons dengan lebih baik. Dia sekarang sudah tidak menangis. Bisa mendengarkan dengan lebih baik untuk setiap ucapan suaminya.
"Mas Gibran tidak meragukan aku kan?" tanya Giselle kemudian kepada suaminya.
"Tidak pernah, Sayang ... sama sekali tidak pernah," balas Gibran.
"Mas Gibran tidak ragu kenapa dulu aku pergi tiga hari dan usia janinku sudah sembilan minggu?" tanyanya lagi.
Gibran dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Jauh sebelumnya, aku sudah membaca di artikel, Sayang. Yang menikah sebulan saja, usia kandungannya dihitung sembilan bulan. Kenapa bisa? Usia janin dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), bukan dari kapan berhubungan atau para pengantin baru yang baru saja menikah."
Gibran sama sekali tidak ragu karena dia sudah membaca terlebih dahulu. Toh, dia menerapkan dengan mengganjal dengan bantal dan tidak langsung ke kamar mandi sudah lebih dari sebulan yang lalu. Sehingga, sangat mungkin ada pembuahan yang terjadi. Selebihnya apa yang Gibran jawab juga sesuai dengan sebuah rumus bernama Naegene yang adalah cara untuk menghitung usia kehamilan dengan menentukan tanggal haid terakhir sebelum hamil.
"Aku kira, kamu juga akan ragu, Mas," balas Giselle.
"Tidak. Aku tidak akan pernah ragu. Informasi bisa didapat dari mana saja kan, Yang? Di internet semua sumber terpercaya itu ada. Mungkin baru sekarang gejalanya hamil. Sebelumnya, emosi kamu terlalu diaduk-aduk dengan Ibu. Sekarang, baru kelihatan mual dan muntahnya," balas Gibran.
Ya, Gibran juga tidak mau berburuk sangka. Dia tidak akan pernah ragu kepada Giselle. Justru, Giselle yang mau memaafkannya itu lebih berhati besar. Tidak mudah bagi wanita untuk memberikan maaf, sekalipun itu hanya salah paham. Namun, Gibran akan mengingatnya.
"Makan yah ... aku suapin," ucap Gibran kemudian.
"Enggak mau makan, Mas. Sudah terlalu sedih aku," balasnya.
__ADS_1
"Jangan begitu, Sayang. Jangan mengutamakan hatimu yang sedih. Namun, untuk baby kita. Dia butuh nutrisi dari Mamanya. Inget kan, pesannya Dokter Nuri tadi," balas Gibran.
Giselle terdiam. Benar, hatinya boleh sedih, tapi bayinya membutuhkan nutrisi. Jika dia tidak makan, bisa saja tidak ada nutrisi untuk bayinya. Kemudian Giselle menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kita makan," balas Giselle.
Giselle dan Gibran kemudian keluar ke meja makan, membuka dan menikmati makanan yang tadi mereka beli. Gibran bahkan menawarkan untuk menyuapi Giselle, tapi Giselle menolaknya.
"Aku suapin yah," balas Gibran.
"Tidak usah, Mas. Aku bisa makan sendiri. Juga tidak mual, aku bisa makan," balas Giselle.
Syukurlah, Gibran merasa lega. Memang dia berharap Giselle bisa makan dengan baik dan tidak muntah dan mual. Walau Gibran tetap beberapa kali menyuapi Giselle, dan Giselle mau menerimanya.
"Makan yang banyak, Sayang. Untuk baby kita," balasnya.
"Enggak apa-apa. Dulu kamu pernah ndut dan aku tidak komplain sama sekali. Di mataku, kamu selalu cantik. Selalu," balas Gibran.
Giselle tersenyum kecil, dan dia menatap Gibran. "Mas, kayaknya aku lebih baik di sini. Maaf, bukannya aku tidak hormat kepada ibu mertuaku sendiri, tapi selama hamil aku ingin lebih damai. Suasana yang tenang dan tidak menguras air mata. Jadi, lebih baik Mas Gibran sendiri dulu kalau menemui Ibu yah," ucapnya.
"Iya, Sayang ... tidak apa-apa. Tenang saja, aku akan mengurus semuanya. Intinya kamu fokus ke kehamilan dulu. Dua tahun lebih kita menanti, Sayang. Jadi, sekarang kita jaga dengan baik-baik," balas Gibran.
Bagi pasangan yang sudah menunggu lama, tentu kehamilan itu sangat berharga. Begitu juga yang Gibran rasakan. Sudah begitu lama menunggu, akhirnya Giselle bisa hamil sehingga dia ingin menjaganya dengan baik.
"Iya, Mas," balas Giselle.
__ADS_1
Kurang lebih lima belas menit Giselle dan Gibran menikmati makan malam mereka. Kemudian Giselle sekaligus mencuci peralatan makan yang usai dipakai. Gibran juga membantu untuk mencucinya.
"Sini, kubantuin," balasnya.
"Mas, jangan ... aku saja. Nanti dimarahin Ibu kalau kamu berada di dapur," balas Giselle dengan tersenyum. Dia hanya mencoba bercanda dengan suaminya. Mengingat aturan di rumah mertuanya dulu yang tidak memperbolehkan pria berada di dapur.
Gibran tertawa. "Ini kan rumah kita. Sekarang saja, semua kerjaan rumah tangga kita kerjakan bersama-sama. Kita bisa lebih toleransi, Sayang," balasnya.
"Iya, tidak begitu terkekang dengan aturan," balas Giselle.
"Ya, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Berbeda aturan di segala tempat kan? Penting kan mau menyesuaikan diri. Jika memang tak bisa, kita bisa mencari ladang yang lain," balas Gibran.
Mendengar apa yang disampaikan Gibran, Giselle menganggukkan kepalanya. "Aku termasuk yang tidak bisa bertahan. Hanya mampu dua tahun saja," balasnya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku kan sudah bilang, tidak mudah menjadi kamu. Ada masa di mana kamu harus pergi dan menyelamatkan diri kamu sendiri," balas Gibran.
"Alasan utama Ibu tidak suka kepadaku apa sih Mas? Aku yang anak orang kaya, atau aku yang bekerja, atau aku yang tidak bisa memberikan anak?" tanya Giselle sekarang kepada suaminya.
Gibran menggelengkan kepalanya. Sebab, dia sendiri juga tidak tahu apa yang menjadi alasan utama Ibunya tidak menyukai Giselle. Gibran juga benar-benar tidak tahu.
"Aku tidak tahu, Sayang," balasnya.
"Kalau tidak suka kenapa dulu memberikan restu kepada kita untuk menikah? Kadang aku itu mencari-cari, apa yang sebenarnya terjadi. Apa karena aku tidak cakap dengan kerjaan rumah tangga atau apa. Tidak mungkin gak suka tanpa alasan," balas Giselle.
Mendengarkan apa yang disampaikan Giselle jujur Gibran juga kasihan kepada istrinya itu. Masak iya, ibunya membencinya tanpa alasan. Giselle pun benar pasti ada alasan utama dan kuat untuk ibu mertuanya membencinya.
__ADS_1
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Didoakan saja Ibu segera mendapatkan hidayah dari Allah," balas Gibran.
Sekarang Giselle menganggukkan kepalanya. Dia tentu menyebut nama ibu mertuanya dalam sujudnya. Berharap Allah tunjukkan hidayah. Jika ada yang bisa mengubah hati manusia itu adalah Allah semata. Oleh karena itu, Giselle selalu berdoa dan mengharapkan perubahan hati mertuanya. Hati yang mau menerima dan menyayanginya. Itu saja yang Giselle minta kepada Allah Swt.