Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Merasa Tidak Diberitahu


__ADS_3

Gibran baru tahu bahwa kehamilan saja bisa membuat seorang wanita menjadi lemah, sampai harus dilarikan ke Rumah Sakit. Semua itu juga karena ini adalah pengalaman pertama untuk Gibran. Yang Gibran rasakan sekarang adalah sedih dan tentunya khawatir dengan Giselle.


Sebenarnya, setiap kali Giselle mual dan muntah, Gibran sudah begitu khawatir. Namun, puncak semua kekhawatiran itu adalah ketika sekadar minum air putih saja Giselle sudah muntah. Bagi Gibran itu sudah selayaknya alarm bahwa memang kondisi Giselle benar-benar lemah.


Sekarang melihat obat yang disuntikkan ke saluran infus saja membuat Gibran kasihan dengan istrinya. Untuk hamil saja perjuangan Giselle sudah begitu luar biasa. Selain itu, obat yang harus dia minum lebih selama setahun. Sekarang, Giselle masih harus mengalami mual dan muntah berlebihan sampai dehidrasi.


"Segera sembuh, Sayangku. Sungguh, aku tak kuasa melihatmu berbaring lemah seperti ini. Aku akan selalu menjagamu dan juga berdoa kepada Allah agar kamu segera pulih, Sayang."


Gibran begitu sedih. Menggenggam tangan istrinya dan terus berharap bahwa Giselle sepenuhnya akan membaik. Satu pelajaran juga adalah banyak hal terjadi dalam kehamilan, bersyukur jika selama hamil begitu sehat dan aktivitas tidak terganggu. Namun, banyak juga calon ibu yang mual, muntah, lemas, hingga dehidrasi seperti Giselle. Bahkan ada pula karena kandungan yang lemah, Dokter memberikan advice untuk benar-benar bedrest berbulan-bulan lamanya.


***


Sementara itu di rumah ....


Bu Harti, tetangga Gibran yang tadi melihat dan mengetahui Gibran membawa istrinya ke Rumah Sakit memberitahukan kepada Bu Rosa mengenai kondisi menantunya. Siapa tahu karena Gibran yang terburu-buru sampai belum sempat untuk mengabari Ibunya sendiri. Sehingga, ketika melihat Bu Rosa ada di luar rumah, Bu Harti pun memberitahu Bu Rosa.


"Bu Rosa di rumah yah? Ibu sudah tahu belum, kalau tadi menantunya Ibu, Neng Giselle dibawa ke rumah sakit sama Aa Gibran," katanya.

__ADS_1


Bu Rosa yang tidak tahu apa-apa juga bingung. Gibran tidak pernah memberitahukan apa-apa kepadanya. Kemudian dia menjawab ucapan Bu Harti itu.


"Duh, saya teh enggak diberitahu, Bu. Gibran lebih perhatian ke istrinya sekarang," jawabnya.


Bu Harti yang notabene hanya orang luar tidak pernah tahu konflik yang terjadi pun kembali berbicara. "Maklum, Bu Rosa. Namanya Aa Gibran sudah punya istri sekarang. Terlebih Neng Giselle juga baru hamil. Ibu mah bersyukur, Aa Gibran itu anak yang berbakti. Selalu sayang sama Ibunya," balas Bu Harti.


Jika Bu Rosa merasa sikap Gibran yang sudah berubah dan hanya memperhatikan istrinya saja, Bu Harti justru memiliki pandangan lain. Gibran juga wajar perhatian kepada istrinya apalagi istrinya sedang hamil. Para suami pun tentu akan menaruh perhatian kepada istrinya ketika istrinya tengah hamil.


"Yah, kalau sayang sama Ibunya gak perlu, Bu ... tinggal sendiri dengan istrinya. Apalagi nanti kalau saya sudah meninggal, rumah ini juga untuk Gibran. Sebab, anak saya cuma satu," balas Bu Rosa.


"Tidak apa-apa Bu Rosa. Anak laki-laki yang sudah menikah mencoba hidup mandiri juga lebih baik. Membuktikan dia tanggung jawab sama istrinya. Belajar berumahtangga memang lebih baik belajar mandiri, keluar dari rumah orang tuanya," balas Bu Harti lagi.


"Bu Rosa itu beruntung memiliki putra yang baik, sayang sama Bu Rosa. Memiliki menantu juga baik. Anugerah untuk orang tua yang sudah paruh baya," balas Bu Harti.


Bu Rosa hanya diam. Entah, yang pasti bahwa dia tidak merasa beruntung. Baginya yang sudah dilakukan Gibran adalah tindakan yang keterlaluan. Bisa-bisanya memilih keluar dari rumah. Apa pun alasannya, Bu Rosa tidak setuju. Selain itu, Bu Rosa juga kesal kenapa Gibran tidak memberitahunya.


"Ya sudah, Bu Rosa. Dibantu berdoa, bersujud kepada Allah semoga Neng Giselle baik-baik saja. Kasihan tadi sangat lemas. Saya balik ya, Bu."

__ADS_1


Setelah mengobrol dengan Bu Harti, Bu Rosa masuk ke dalam rumah dan kemudian mulai mengambil handphonenya dan kemudian menelpon Gibran, ingin menanyakan secara langsung. Walau tentu Bu Rosa masih begitu kesal.


"Halo, Gibran ...."


"Assalamualaikum, Ibu ... ada apa, Bu?" balas Gibran dari rumah sakit.


"Bran, kamu ke rumah sakit yah? Ck, bener-bener ya, Bran ... kamu begitu keterlaluan. Istri sakit dibawa ke rumah sakit gak ngasih tahu Ibu. Harus yah Ibu tahu justru dari Bu Harti. Padahal kamu bisa ngasih tahu Ibu," cercanya kepada Gibran.


"Ibu, maaf. Tadi kondisi Giselle lemas. Jadi, Gibran langsung saja membawa Giselle ke rumah sakit," jawabnya.


Memang Gibran sampai tidak bisa berpikir tadi. Giselle sudah begitu lemas. Yang ada di pikiran Gibran adalah bisa menuju ke Rumah Sakit dan Giselle segera ditangani dengan baik. Gibran tahu, kondisi Giselle seperti itu sangat berbahaya untuk Giselle dan janinnya.


"Bilang saja kamu sudah lupa sama Ibu. Di hidupmu, Ibu bukan orang yang penting. Kamu mengalahkan Ibu karena istrimu."


Lagi Bu Rosa mencerca Gibran. Di usianya sekarang, Bu Rosa tidak bisa berpikir bahwa Gibran juga gugup dan panik. Terlebih Giselle sudah lemas. Tidak ada kedewasaan. Yang ada hanya merasa dikalahkan oleh anaknya. Tidak diberitahu sama saja tidak dihargai dan juga tidak diprioritaskan oleh putra tunggalnya.


"Maaf, Ibu. Maaf Gibran memang panik. Tadi hanya pengen segera sampai ke rumah sakit," balas Gibran.

__ADS_1


Sungguh, Gibran juga bingung. Namun, dia tidak tahu bahwa respons ibunya akan seperti ini. Gibran sangat tahu bahwa apa yang dilakukan ibunya, setiap ucapan yang keluar adalah bentuk kekesalan dan amarah. Gibran memang sudah meminta maaf. Namun, melalui handphone ibunya masih saja mencercanya dan mengatainya yang bukan-bukan.


__ADS_2