Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Pendamping yang Sepadan


__ADS_3

Gibran memilih membersihkan dirinya dulu, mandi di dalam kamar mandi yang ada di kamar VIP di rumah sakit itu. Mengganti pakaiannya dengan pakaian yang Giselle kirimkan. Sementara ibunya masih berbaring di atas brankar melihat putranya beraktivitas dan melihat tas juga yang dikirimkan oleh istrinya.


"Ibu mau makan malam? Biar Gibran suapin," tanya Gibran kepada ibunya.


"Ibu tidak bisa makan. Tangan Ibu sakit dan tidak bisa digerakkan," sahutnya.


Gibran kemudian mendekat mengatur brankar yang ditempati oleh ibunya, kemudian mulai duduk di samping brankar dan hendak menyuapi sang ibu dengan menu makan malam yang sudah diberikan oleh petugas rumah sakit. Tentu itu adalah makanan sehat, dengan sedikit garam dan rempah-rempah, sehingga sering kali orang berkata makanan itu terasa hambar.


"Ibu gak suka makanan rumah sakit," ucap Bu Rosa lagi.


Kini Gibran yang harus menghadapi bagaimana ibunya itu. Banyak yang dikeluhkan dan direngekan. Akan tetapi, Gibran adalah anak yang sabar dan sangat berbakti, sehingga dia akan berusaha untuk memahami kondisi ibunya yang sedang sakit.


"Makan, Bu. Ibu masih harus meminum obat. Kalau Ibu tidak mau makanan ini, apa Ibu mau Gibran belikan makanan? Kita bekerja sama Ibu. Supaya Ibu bisa segera sembuh dan pulang ke rumah," balas Gibran.


Setelah dibujuk Gibran barulah Bu Rosa mau makan. Walau terlihat seperti enggan untuk mengunyah dan menelan makanannya. Di satu sisi, Gibran masih menyuapi ibunya. Sebagai anak tunggal dan tidak memiliki saudara kandung, ketika ada hal seperti ini Gibran hanya bisa mengurusnya sendiri. Suka duka menjadi anak tunggal. Akan tetapi, memang bentuk pengabdian anak kepada orang tuanya itu terlihat ketika orang tua sedang sakit. Apakah anak mau menjenguk, merawat, ketika orang tua sakit dan dalam keterbatasan.


Akhirnya, dari makanan itu hanya separuh saja yang dihabiskan. Selebihnya juga Bu Rosa selalu mengeluh makanan itu tidak enak dan juga tidak lezat. Rasanya benar-benar hambar. Usai makan, Gibran mengambilkan obat untuk Ibunya. Ada tiga jenis obat yang harus diminum. Usai itu, Gibran berpindah duduk di sofa dan membuka kotak bekal dan thumbler dari Giselle.


Gibran tersenyum karena istrinya peduli dengannya. Membuka kotak bekal itu saja, Gibran tahu bahwa di dalamnya adalah nasi goreng. Tanpa Gibran meminta ternyata Giselle bisa tahu biasanya ketika malam turun hujan seperti ini Gibran suka membuat nasi goreng. Sekarang, di hadapannya ada nasi goreng dengan telor ceplok, ya walaupun sudah tidak hangat karena sudah berselang hampir satu jam.

__ADS_1


"Kamu makan apa, Bran?" tanya Bu Rosa.


"Nasi Goreng, Bu. Tadi dibuatkan Giselle," balasnya.


Tampak Bu Rosa menghela napas panjang. "Punya istri hampir tiga tahun bisanya cuma masak nasi goreng," balasnya.


"Walau Giselle tidak bisa memasak, tapi dia berusaha untuk memasak sendiri, Bu. Hamil dan mual-mual, tapi Giselle mau berkutat di dapur. Bagi Gibran itu sudah begitu istimewa. Gibran makin sayang sama dia, karena mengakui bahwa pasangan yang sepadan untuk Gibran memang hanya Giselle,"balasnya.


Sekarang, Gibran mengakui bahwa memang istrinya tak pandai memasak. Namun, Giselle mau berusaha. Bagi Gibran itu adalah usaha yang baik. Selain itu, Gibran merasa bahwa pasangan yang sepadan baginya hanya Giselle saja. Pasangan yang tahu kelebihan dan kekurangannya. Pasangan yang tidak menuntut pemenuhan materi dan finansial. Namun, Giselle justru beranggapan semua bisa dilakukan bersama. Kepemilikan uang juga walau lebih banyak pendapatan Giselle, tapi sebagai istri, dia tidak pernah meremehkan suaminya yang berpenghasilan lebih kecil. Jauh lebih itu, Giselle tak pernah bercerita kepada Mama dan Papanya perihal ekonomi. Memberi Gibran kesempatan untuk membayar yang sekiranya Gibran mampu.


Di zaman sekarang, agaknya sukar menemukan sosok wanita, istri, dan menantu seperti Giselle. Biasanya, ketika seorang wanita memiliki karir dan penghasilan yang lebih baik, tak jarang suami dianggap remeh, bahkan banyak yang merendahkan. Namun, tidak dengan Giselle yang mau berjuang bersama-sama. Ketika suaminya memilih bekerja mandiri, tidak perlu bergabung dengan Jaya Corp, Giselle juga menghargai keputusan suaminya.


Usai itu, Gibran memakan Nasi Goreng dengan tenang. Sembari sesekali melirik ibunya yang berada di brankar. Satu kotak nasi goreng pun tandas tak tersisa. Setelah itu, Gibran meminum sedikit air putih barulah meminum sedikit kopi yang masih panas dalam thumbler.


"Alhamdulillah," ucap Gibran ketika merasakan perutnya sudah kenyang.


Sejak itu, suara ibunya bak sirna memilih untuk diam. Sementara Gibran duduk di sofa yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari brankar ibunya. Gibran memilih mengecek pekerjaan dan berbalas pesan dengan Giselle.


Setelah beberapa jam berlalu, barulah Bu Rosa mengeluh mengantuk. Mungkin efek dari obat yang diminum juga. Gibran kemudian memposisikan brankar kembali di posisi tidur dan kemudian mematikan lampu utama, menggantinya dengan lampu tidur.

__ADS_1


Sekarang, Gibran baru tahu kenapa Giselle memilih menaikkan kamar rawat inap ibunya dari kelas 2 menjadi kelas VIP. Pasti supaya Ibunya bisa beristirahat dengan nyaman. Sementara, jika di kelas dua, bercampur dengan pasien yang lain pasti akan membuat tidak nyaman. Selain itu, Gibran yang menunggu pun bisa beristirahat walau hanya di sofa. Sementara, jika di kelas dua banyak penjaga yang berjaga dengan tidur di tikar di bawah brankar pasien.


Merasakan kebaikan istrinya, Gibran pun kemudian mengirimkan pesan kepada Giselle. Berterima kasih kepada istrinya itu.


[To: Giselle]


[Sayang, ini Ibu sudah tidur. Aku berterima kasih banyak yah. Kamu sudah menaikkan kamar perawatan Ibu dari kelas 2 ke Kelas VIP.]


[Semua itu karena kamu tidak rela jika Ibu tidak nyaman beristirahat. Juga supaya aku bisa beristirahat bukan?]


[Makasih banget ya, Sayang.]


[Pasti Ibu bisa beristirahat dengan nyaman, aku juga bisa tidur di sofa.]


[Hati-hati di rumah ya, Sayang. Mohon maaf, malam ini kamu harus bobok sendiri dulu yah. Aku masih menjaga Ibu.]


[Sampaikan salam sayangku untuk baby kita. Papanya sudah kangen, biasanya kalau malam mencium dia dari perut Mamanya.]


[I Love U]

__ADS_1


Gibran usai itu melihat Ibunya yang sudah tidur, kemudian Gibran juga beristirahat di sofa. Semoga saja ibunya juga segera sembuh, dan pulang ke rumah. Dengan demikian, Gibran juga bisa bersama Giselle lagi. Sudah kangen juga dengan babynya dan kebiasaannya ketika malam selalu tidur di pangkuan Giselle sembari menciumi perut istrinya, mengajak bicara babynya.


__ADS_2