Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Pedih Hati


__ADS_3

Jika kemelut di rumah Tante Rani hanya terjadi pagi itu saja ternyata tidak. Sebab, siang hari kembali terjadi huru-hara di sana. Kejadian yang membuat Bu Rosa terbuka matanya, bahwa di benar-benar telah salah menilai Giselle selama ini.


Ada kalanya Tuhan membuka hati nurani manusia melalui hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Tidak perlu bencana alam atau sakit penyakit untuk menyadarkan manusia dari jalan yang salah. Begitu juga, dengan kejadian kali ini yang akan benar-benar membuat mata hati Bu Rosa terbuka.


"Ma, kenapa kemejaku bisa kena warna lain kayak gini sih, Ma?"


Teriak Amel terdengar memenuhi rumah ini. Membuat Tante Rani segera keluar dari kamarnya dan menuju ke arah sumber suara. Ternyata, Amel ada di belakang rumah, tepatnya di tempat jemuran.


Wanita itu terlihat marah, ketika kemeja warna putih miliknya terkena noda biru dari pakaian yang lain. Padahal kemeja putih itu akan dia kenakan besok untuk bekerja. Sehingga Amel benar-benar kesal jadinya.


"Kenapa, Mel?" tanya Tante Rani.


"Kenapa apa maksud Mama! Lihat nih, kemeja Amel jadi kena noda kayak gini. Mama itu kenapa sih? Mama gak becus banget ngurus kerjaan rumah. Nyuci kemeja putih aja jadi kena noda semua seperti ini."


Amel benar-benar meluapkan amarahnya. Dia mengatakan bahwa Mama mertuanya itu sudah tidak becus. Jika tadi pagi karena tidak ada Sup Ayam, dan kali ini karena kemeja kerjanya yang terkena noda. Itu benar-benar membuat Amel menjadi kesal.


"Maaf, Mel itu tadi mungkin kena celana jeans kamu. Jeans yang baru saja kamu beli," balas Tante Rani.


"Itu karena Mama gak becus. Ngurus cucian aja, baju putih bisa kena noda. Mama ini sengaja atau apa sih? Ha!"


Tante Rani menundukkan wajahnya. Selama hidupnya baru kali ini, ada orang yang membentaknya. Dulu, almarhum suaminya saja tidak pernah membentaknya. Memperlakukan dia dengan sangat baik. Akan tetapi, sekarang menantunya justru membentaknya seperti ini. Walau bukan anak kandung, tapi semua orang tua akan sakit hati ketika anak atau mereka yang jauh lebih muda membentaknya. Terlebih, Tante Rani sayang kepada Amel. Tidak membedakan antara anak dan menantu. Baik Shandy dan Amel diperlakukan sama.


"Maaf, Mel ... biar Mama cuci lagi sampai bersih yah," balas Tante Rani.

__ADS_1


"Mama kalau memang gak bisa kerja bilang aja, Ma? Tadi pagi karena Sup Ayam, sekarang merusak kemeja Amel. Atau Mama sebenarnya benci sama Amel? Gak suka sama Amel?"


Ya Tuhan, begitu pedasnya mulut menantunya Tante Rani itu. Sampai menuduh mertuanya sendiri yang bukan-bukan. Dengan teriakan keras, dengan mata yang melotot, Amel bak kehilangan sopan santun kala berhadapan dengan Mama mertuanya.


"Astaghfirullah, Amel. Jangan menuduh yang bukan-bukan. Mama itu sayang kamu dan Shandy sama. Tidak membedakan antara anak dan menantu sendiri," balas Tante Rani.


"Jangan hanya berdalih, Ma. Selama ini, Amel tahu kalau Mama gak suka sama Amel. Yang dimasakkan hanya Aa Shandy. Sekarang merusak kemeja kerja Amel. Mama tahu enggak berapa harga kemeja ini? Satu setengah juta, Ma. Janda seperti Mama mana punya uang satu setengah juta," bentak Amel.


Tante Rani kian pedih hatinya, manakala menantunya sendiri mengatakan dia hanya janda yang tidak memiliki uang sebesar satu setengah juta untuk membeli kemeja berwarna putih itu. Sebagai ibu, hatinya teriris pedih dengan ucapan menantunya itu.


"Maaf, Mel," balas Tante Rani.


"Maaf, maaf ... udah basi, Ma."


Wanita paruh baya yang hanya selisih dua tahun dari Bu Rosa itu menangis dengan memukul dadanya yang terasa sesak. Entah, dosa apa di masa lalu sampai menantunya memperlakukannya seperti ini.


"Ya Allah, berikan hamba kesabaran. Berikan hamba hati yang lapang."


Tante Rani hanya bisa bergumam dengan bibirnya yang bergetar. Sungguh, menantunya itu benar-benar durhaka, kehilangan adab kesopanan. Sampai seperti itu kepada mertua sendiri.


Dari jarak beberapa meter, rupanya ada sepasang mata yang melihat Tante Rani dan Amel dari jauh. Ya, tentunya dia adalah Bu Rosa. Bu Rosa saja sampai menangis. Adiknya yang dikatai kasar oleh menantunya sendiri, tapi hatinya yang merasa sakit. Bu Rosa terdiam dengan air mata yang terus berderai.


"Ya Tuhan, Rani adalah orang yang baik. Mertua yang baik, tapi kenapa justru mendapatkan menantu seperti itu. Sakit hatiku, Ran ... adikku diperlakukan seperti ini oleh menantunya sendiri," gumam Bu Rosa dengan tergugu pilu.

__ADS_1


Melihat tingkah Amel yang seperti ini, membuat Bu Rosa sadar bahwa menantunya jauh lebih baik daripada Amel. Menantunya tidak pernah berkata kasar kepada mertuanya. Bahkan ketika dia bermulut pedas sekalipun, menantunya hanya bisa menangis dan tidak menjawab apa pun.


"Jauh lebih baik Giselle, Ya Allah. Giselle mana pernah membentakku. Dia yang memberi uang bulanan setiap bulan, tidak pernah berbicara kasar, tidak pernah melempar mertuanya dengan cucian."


Bu Rosa benar-benar tergugu pilu. Allah menunjukkan hal yang berbanding terbalik dengan kehidupan sendiri. Ketika dia sering kali merasa bahwa menantunya tak sempurna, di luar sana, tidak bahkan sekarang dia melihat sendiri menantu yang tidak menaruh rasa hormat kepada mertuanya. Menantu yang benar-benar memperlakukan ibu mertuanya justru sebagai seorang pembantu.


Pelan-pelan Bu Rosa berjalan dan menghampiri adiknya yang menangis dengan memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Bu Rosa menepuk bahu Rani perlahan dan memeluknya.


"Rani ...."


Pasangan kakak beradik yang sudah berusia paruh baya itu saling menangis dan berpelukan bersama. Begitu juga Tante Rani yang benar-benar menangis di pelukan kakaknya.


"Teteh ...."


Seluruh air mata tumpah. Kemelut dalam rumah tangga yang asapnya terlanjur mengepul ke atas dan tidak bisa disembunyikan lagi. Tangisan bercampur isakan yang terasa menyayat hati.


"Kalau di sini, tidak ada tempat untuk kamu, tinggallah bersamaku, Rani. Sebagai Tetehmu, hatiku sangat pedih melihatmu diperlakukan seperti ini," kata Bu Rosa yang juga menangis.


"Memang inilah rumahku, Teh. Inilah diriku yang sebenarnya. Mertua yang disia-siakan oleh menantunya. Entah, apa dosaku di masa lalu, sampai aku menerima semua ini," balas Tante Rani masih dengan menangis.


"Sabar, Ran. Kuat yah. Tinggallah dengan Teteh saja, Ran. Biar dia merasakan bagaimana jauh dari mertuanya. Ya Allah, pedih hatiku," balas Bu Rosa.


"Yang aku miliki hanya anakku, Teh. Hartaku yang berharga. Anak bisa meninggalkan orang tuanya. Namun, seorang ibu tidak akan pernah bisa meninggalkan anaknya," balas Tante Rani.

__ADS_1


Walau sudah disakiti dan diperlakukan layaknya seorang pembantu. Tante Rani tetap mau tinggal dan juga menemani anaknya. Dia merasa yang dia punya hanya anak. Hidup dan matinya hanya untuk anaknya.


__ADS_2