
Selang Dua Hari Kemudian ....
Sore hari ketika mendung gelap melingkupi kota Bandung. Seakan hujan akan segera turun. Akan tetapi, hujan tak kunjung turun. Angin pun bertiup lebih kencang daripada biasanya.
Sementara Giselle dan Gibran yang baru saja pulang dari kantor pun kepikiran dengan keadaan ibunya di rumah. "Mampir ke rumah Ibu dulu deh, Mas. Kasihan Ibu, di rumah sendiri loh," balasnya.
Gibran tersenyum. Memang begitulah Giselle. Cara Giselle menyayangi adalah dengan menunjukkan perhatiannya. Sama seperti sekarang, Giselle yang kepikiran dengan ibunya yang ada di rumah sendiri.
"Iya, setelah baikan sama Ibu. Jadi sering nengokin Ibu nih," goda Gibran.
"Kan sebenarnya aku sayang sama Ibu, Mas. Dulu kan aku enggak ke sana, bukan karena benci. Namun, untuk menjaga hati saja," jawab Giselle.
"Aku tahu, Sayang. Ya sudah, kita mampir dulu. Semoga saja, Ibu tidak kenapa-napa," balas Gibran.
Setelah itu, Gibran melajukan mobilnya. Menuju ke rumahnya, tapi kali ini dia menghentikan mobilnya di rumah ibunya. Sesuai permintaan dari Giselle yang ingin pulang ke rumah mertuanya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum Ibu," sapa keduanya bersama-sama.
"Waalaikumsalam," sapa Bu Rosa.
"Gimana, Bu ... seharian ini kesusahan apa?" tanya Giselle.
"Gak kenapa-napa, Selle. Bisa kok. Tenang saja," balas Bu Rosa.
Gibran tersenyum dan berbicara kepada istrinya itu. "Bu, tadi menantunya ini khawatir. Langitnya mendung gelap dan Ibu sendirian di rumah, jadinya pengen nengokin Ibu dulu sebelum bekerja."
Bu Rosa tersenyum. Wajah ketus sudah hilang. Dia justru senang dan terharu kala Giselle memperhatikannya. Dulu karena benci, sampai dia tertutup mata hatinya dan juga hanya terus benci dengan Giselle. Menganggap menantunya selalu salah dan tidak sempurna. Sekarang, ketika Gibran mengatakan demikian, hati Bu Rosa menjadi benar-benar menghangat.
"Makasih ya, Selle. Sudah perhatian sama Ibu," balasnya.
__ADS_1
"Iya, Bu. Takut Ibu kenapa-napa," balas Giselle.
Wajah mereka bertiga berurai dengan senyuman. Sang ibu terharu ketika ada yang memperhatikan. Giselle merasa senang karena niat baiknya diterima dan direspons dengan baik. Sementara, Gibran juga senang karena hubungan Bu Rosa dan Giselle sudah benar-benar membaik.
Ketika Gibran hendak berbicara, rupanya terdengar suara sapa dan ketukan dari pintu depan rumah. Maka, ketiganya sama-sama beranjak dari sofa dan melihat siapa yang datang.
"Waalaikumsalam," balas Gibran dengan membuka pintu.
Ya Allah, begitu terenyuhnya hati Gibran melihat siapa yang datang sekarang. Rupanya adalah Tante Rani yang datang dengan membawa tas jinjing. Baju yang dikenakan Tante Rani pun hanya berupa baju rumah, dan hanya memakai sandal jepit saja. Tidak hanya itu, satu kaki Tante Rani memerah, agak melempuh.
"Astaghfirullah, Tante Rani ...."
"Astaghfirullah, Rani ...."
Ketiganya sama-sama bersuara. Benar-benar tidak menyangka dengan kondisi Tante Rani sekarang. Hingga akhirnya, Gibran meminta tas jinjing Tante Rani. Sementara, Giselle mengajak Tante Rani untuk masuk ke dalam rumah mertuanya.
Bu Rosa benar-benar berlinangan air matanya melihat adiknya tiba dengan kondisi seperti ini. Sudah pasti ada pertengkaran di rumah adiknya itu. Pertengkaran yang membuat adiknya pergi ke rumahnya dengan kondisi seperti ini.
Sebelum Tante Rani menjawab, Giselle melihat kaki Tante Rani yang melepuh dan merah, lantas Giselle memotong pembicaraan terlebih dahulu. "Maaf, sebaiknya Tante diantar Mas Gibran ke Dokter dulu yah. Itu kakinya Tante merah dan melepuh gitu. Harus segera diobati dan mungkin mendapatkan salep," balas Giselle.
Sekarang semua mata memperhatikan kaki Tante Rani. Memang satu kakinya terlihat melepuh dan warnanya merah. Giselle menyarankan untuk mengobati kakinya terlebih dahulu. Cerita bisa disambung lagi nanti, tapi luka di kaki harus segera diobati.
"Benar, Tante. Ikut Gibran sebentar ke klinik ya Tante. Cuma di depan perumahan," balas Gibran.
Menurut, akhirnya Tante Rani diajak Gibran menuju ke klinik terlebih dahulu. Sementara Giselle dan Bu Rosa menunggu di rumah saja. Di rumah, Giselle menenangkan Ibu mertuanya yang menangis.
"Sudah, Bu. Tante diobatin dulu yah. Kakinya luka. Lebih baik diobati dulu, apalagi usai perjalanan jauh dari Bandung Selatan ke mari," ucap Giselle.
"Kenapa lagi ya, Selle. Adik Ibu satu-satunya. Dulu almarhum suaminya memperlakukan dia dengan sangat baik. Sekarang dia memiliki menantu seperti setan. Menantu yang kejam kepada mertuanya sendiri," balas Bu Rosa.
__ADS_1
Sambil menunggu di rumah, Giselle menyeduh Teh dulu. Walau mertuanya menangis, Giselle tetap bertanya bagaimana takaran menyeduh Teh supaya tidak bening dan warnanya lebih pekat. Giselle ingat bahwa Ibu mertuanya menyukai Teh dengan warna yang pekat.
Hampir lima belas menit berlalu, suaminya sudah pulang bersama Tante Rani. Giselle juga menyajikan Teh untuk mereka berempat. Setelah luka diobati, tinggal mendengarkan cerita.
"Kakinya Tante terkena air mendidih, makanya melepuh seperti ini. Tadi dibersihkan dan disalep saja. Obatnya ada antibiotik juga," jelas Gibran.
Ya Tuhan, tidak bisa membayangkan ketika kaki justru terguyur air yang mendidih. Bu Rosa merasakan hatinya makin pedih jadinya. Apakah Amel yang melakukan itu juga?
"Yang melakukan siapa Ran?" tanya Bu Rosa.
"A ... mel, Teh ...."
Tepat seperti dugaan Bu Rosa sebelumnya bahwa Amel lah yang melakukannya. Melihat sikap kasar dan kurang ajar Amel, Bu Rosa sangat yakin bahwa Amel yang melakukan itu. Di matanya Amel benar-benar menantu durhaka.
"Tadi, Amel meminta dibuatkan Mie rebus dengan telor. Kemudian Rani buatkan. Ternyata Rani salah dengar, dia minta Soto Ayam, yang Rani bikin Kari Ayam. Rani sudah menawarkan membuatkan lagi, justru ketika airnya mendidih, panci itu dijatuhkan dan mengenai kaki Rani. Setelah itu, dia marah-marah dan mengusir Rani dari rumah," ceritanya.
"Astaghfirullah hal adzim," sahut Bu Rosa, Giselle, dan Gibran bersamaan.
Sementara Tante Rani kembali menangis. Malu sebenarnya menceritakan kemelut dalam rumahnya kepada keluarga Kakaknya. Namun, ketika Tante Rani diusir dari rumah, tempat yang dia pikirkan kali pertama untuk dituju adalah rumah kakaknya.
"Shandy tahu tidak, Ran?" tanya Bu Rosa.
"Tidak, Teh. Shandy belum pulang kerja," balas Tante Rani.
Sungguh kasihan Tante Rani yang justru diperlakukan sangat kasar oleh menantunya sendiri. Bahkan semua itu dilakukan tanpa ada Shandy. Andai Shandy ada di rumah, setidaknya ada yang menolong Tante Rani.
"Ya sudah, Tante Rani tinggal di sini saja sama Ibu. Memenangkan hati dan diri dulu, Tante. Apa Tante ingin melaporkan Amel ke pihak yang berwajib? Mengingat apa yang dia lakukan tidak benar," balas Gibran.
Dengan cepat Tante Rani menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin seorang Ibu mertua melaporkan menantunya sendiri, Bran. Tidak pernah ada. Biarkan saja, Gibran. Tidak apa-apa," balas Tante Rani.
__ADS_1
Mereka bertiga yang ada di sana begitu sedih campur haru. Mungkin terdengar tidak etis melaporkan menantu sendiri. Akan tetapi, tindakan Amel pun sudah terlewat batas. Begitu kejamnya kepada Ibu mertua sendiri yang sudah mencurahkan kasih sayang dan tenaga untuk Shandy dan Amel.