Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Dua Perahu Karam


__ADS_3

Plak ....


Plak ....


Suara tepukan tangan dari dua telapak tangan yang saling beradu tampak terdengar di sana. Mengalihkan seluruh atensi semua orang yang ada di sana. Sungguh, ini bukan hanya sebuah ******* dari sebuah pertunjukan drama. Namun, akan terlihat tabir yang benar-benar akan terungkap.


"Papi."


Suara gadis kecil itu kembali terdengar dan juga tangannya memeluk kaki sang pria yang disebut sebagai Papi itu dengan begitu kencang. Di satu sisi, wanita cantik yang semula mengapit tangan sang pria, tangannya pun luruh seketika. Si Wanita pun ingin sembunyi rasanya juga sia-sia karena tidak bisa lagi untuk bersmbunyi.


"Mas," suara Alana yang bergetar dengan wajah yang berlinang.


Itu bukan hanya sebatas halunisasi bocah kecil yang berusia 3 tahun, melainkan ada kenyataan. Ya, yang ada di hadapannya itu adalah Papanya Disha, dan suami dari Alana. Di lain, Tante Rani juga nyaris kehilangan keseimbangannya. Kaki-kakinya terasa lemah.


"Amel," ucap Tante Rani dengan lirih.


Ya, dua sosok di sana adalah Amel dan Davin. Pasangan selingkuhan itu memang tengah berjalan-jalan ke Mall. Rencananya, Davin ingin memberikan Amel tas keluaran terbaru. Anggap saja sebagai kompensasi karena sudah menikmati tubuh Amel dan Amel sendiri selalu memberikan servis yang sangat memuaskan. Rasanya, Davin tidak keberatan terus mengucurkan rupiah demi rupiah untuk Amel. Sebab, menurutnya itu sebanding dengan apa yang dia dapatkan.


Giselle dan Bu Rosa pun segera memegangi Tante Rani. Sangat panik jika sampai Tante Rani bisa terjatuh karena kakinya lemas. Akhirnya, Gibran menengahi. Gibran mengajak mereka semua menepi, supaya tidak menjadi tontonan banyak pengunjung di Malla.


Si kecil Disha menangis, rupanya dia takut untuk berpisah dari Papinya lagi. Hal itu wajar saja, karena dalam satu bulan lebih, Disha tidak bertemu dengan Papinya. Papinya yang bekerja di hotel berbintang di Bandung mengakui sibuk dan juga tidak bisa pulang ke Singapura.


Tanpa banyak berbicara, Alana pun menggendong Disha. Sebagai seorang Mami, dia tidak akan membiarkan Disha menangis. Wanita yang masih terbilang muda itu, menggendong Disha sembari mengusapi punggung putrinya yang menangis dan terus menyebut sang Papi.


"Cup, Sayang ... ada Mami di sini," ucap Alana.


"Papi, Mi ... Papi!"


Disha menjawab dan sedih ketika dia memeluk sang Papi, tapi pelukannya tak terbalas. Yang ada Papinya itu justru bersama wanita lain yang bukan Maminya. Walau kadang anak kecil tidak bisa berbicara dan mengungkapkan kata hatinya, tapi tangisan pun menjadi media untuk mengungkapkan perasaan. Ada kalanya anak kecil tidak bisa berkata-kata, tapi air matanya seakan cukup untuk mengungkapkan isi hati dan perasaannya.


Di sana Amel menatap tajam Davin yang ada di siinya. Masih tak percaya bahwa pasangan selingkuhannya itu adalah pria yang beranak dan beristri. Dia pikir selama ini Davin adalah seorang pria lajang, tidak terikat dengan pernikahan. Rupanya, Amel salah. Pria yang memberikannya kehangatan dan rupiah berlimpah itu adalah seorang suami dan seorang Papi.


"Apa ini Mas Davin?" tanya Amel.


Yang Amel pikirkan bukan keberadaan mertua dan suaminya di sana. Amel justru bingung ketika mengetahui bahwa pasangan haram dan direkturnya itu adalah pria yang sudah bersuami dan memiliki anak.

__ADS_1


"Kenapa, kamu kecewa?" tanya Shandy.


Ya, pria yang bertepuk tangan dan mengenai kacamata hitam serta topi itu adalah Shandy. Diam-diam dari rumah, Shandy mengikuti Amel, rupanya Amel bertemu dengan selingkuhannya. Shandy memang sudah berniat untuk membongkar semuanya. Namun, sekarang fakta yang dia dapati pun di luar sepengetahuannya. Shandy memang menyelidiki jejak Davin, tapi Shandy pun tidak tahu bahwa Davin sudah memiliki istri dan anak.


"Diam kamu, Aa," balas Amel.


Shandy kembali tersenyum miring, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa? Diam? Sebaiknya kamu yang diam. Wanita murahan. Tega-teganya kamu menjadi pemuas nafsu pria yang sudah bersuami dan memiliki anak satu," balas Shandy.


Jujur, setelah tahu perubahan Amel dan perselingkuhan istrinya, Cinta di dalam hati Shandy sepenuhnya sirna. Ya, cinta itu berubah menjadi benci. Bahkan, Shandy tak pernah meminta lagi pemenuhan haknya. Yang ada dia jijik melihat Amel. Ada kalanya setiap kali memejamkan mata, justru Shandy terbayang perselingkuhan dan hubungan panas Amel dan pria itu di dalam mobil. Hasrat di hatinya pun sirna begitu saja. Bahkan, Shandy memilih pisah ranjang dengan Amel. Dia tidur di kamar tamu, dan jarang berinteraksi dengan Amel.


"Mas Davin ... jadi, ini alasan kamu tidak pulang ke Singapura? Semua itu karena kamu sudah memiliki wanita selingkuhan?" tanya Alana yang masih berderai air mata.


"Tunggu, Sayang ... aku bisa menjelaskan," balas Davin.


Alana menggelengkan kepalanya perlahan. "Apa lagi yang perlu dijelaskan Mas?" tanya Alana.


Lantas, Shandy mengeluarkan beberapa foto yang sengaja dia cetak dari saku jaketnya. Shandy berjalan ke arah Alana dan menyerahkan foto-foto yang sudah dia cetak itu.


"Semua itu fakta," kata Shandy.


"Dia siapa kamu?" tanya Alana.


Walau sudah pisah ranjang, Shandy pun masih menjaga kehormatan Amel dengan mengatakan bahwa Amel adalah istrinya. Sekalipun Shandy tahu bahwa hubungannya dengan Amel tidak memiliki harapan dan masa depan.


"Dia, sepupu iparnya Mas Gibran," kata Giselle lirih kepada Alana.


Ya Tuhan, kenapa semua ini begitu pelik. Alana sampai tidak bisa berkata-kata jadinya. Melihat perselingkuhan suaminya sendiri saja sangat menyesakkan. Terlebih fakta yang lainnya. Sungguh, Alana kira bahwa suaminya itu benar-benar bekerja. Namun, semua itu menjadi tidak wajar ketika banyaknya laporan uang keluar dari rekening suaminya.


"Oh, jadi ... rekening kamu yang membengkak ini karena memelihara wanita ini ya Mas? Astaga, Mas ... kala memulai perselingkuhan ini apa kamu tidak tahu bagaimana di Singapura, Disha kangen Papinya. Dia sering menyebut namamu dalam tidurnya lantaran kangen dengan Papinya. Ternyata, Disha merindukan sosok yang salah."


Ya, bagi Alana adalah kesalahan ketika putrinya sangat rindu dengan Papinya. Sementara di Bandung, Papinya mengarungi malam panjang dan membara dengan wanita lain. Dengan mempertahankan Disha dalam gendongannya, Alana menangis. Ada Giselle yang merangkul Alana di sana, memberi kekuatan untuk sahabatnya.


"Disha ... kangen Papi yah? Mau ikut Papi? Sini, Sayang ...."


Kedua tangan Davin terbuka dan hendak menggendong Disha. Akan tetapi, Disha menolaknya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya yang berurai air mata di dada Maminya. Begitu juga dengan Alana yang mengambil langkah ke belakang, mundur dari sosok Davin.

__ADS_1


"Disha ...."


Suara Davin tampak bergetar. Selama tiga tahun, bisa dibilang baru kali ini Disha menolak untuk bersama dengannya. Sebagai Papi, hatinya sakit.


"Mas Davin ... jadi kamu sudah menikah dan punya anak? Kenapa tidak pernah bercerita?" tanya Amel dengan menyentak tangan Davin.


"Diam dulu, Amelia," sahut Davin dengan mengurai tangannya dengan kasar dari Amel.


"Diam, Mas? Setelah semua ini, kamu memintaku diam?" sahut Amel.


Jika satu-satunya orang yang tersenyum dan tidak terkejut sama sekali adalah Shandy. Dia justru menertawakan kebodohan Amel.


"Jika ladang yang subur dan milik sendiri di rumah, justru tertarik dengan ladang di luar rumah. Sekarang, kamu mendapat malu bukan Amel? Menjadi selingkuhan, oh bukan ... yang benar ... pemuas naf ... su, pria beristri," balas Shandy.


Mendengar kata-kata suaminya yang terdengar menohok itu, Amel pun akhirnya benar-benar malu. Ya, itu adalah salahnya. Tidak menanyakan latar belakang Davin. Terbuai dengan sentuhan dan rupiah yang selalu dikucurkan Davin kepadanya.


"Maafkan aku, Aa Shandy ...."


Amel bersuara sekarang. Dia meminta maaf kepada Shandy. Sungguh, semua adalah sepenuhnya salahnya. Sehingga, dia berharap, Shandy akan memberi maaf kepadanya.


"Maaf? Kamu bilang maaf? Tentu, tidak ... Amel. Aku menalakmu sekarang juga!"


Shandy berbicara sungguh-sungguh. Untuk perselingkuhan istrinya, Shandy tidak akan pernah bisa memberikan maaf. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk menalak Amel. Membebaskan Amel dari hubungan pernikahan yang suci dengannya. Usai itu, Shandy berjalan ke arah Mamanya. Pria itu bersimpuh di kaki sang Mama.


"Ma, Mama ... Shandy selama ini bersalah kepada Mama. Kala dia bersikap kasar kepada Mama dan mengusir Mama dari rumah, Shandy tidak mencari Mama. Maafkan Shandy, Ma," ucapnya.


"Mama selalu memaafkan anaknya, Shandy," balas Tante Rani dengan menaruh kedua tangannya di bahu putranya itu.


Shandy perlahan berdiri dan memeluk Mamanya. Benar pepatah berkata bahwa kasih anak sepanjang galah, tapi kasih ibu sepanjang masa. Tante Rani yang sudah dikecewakan oleh anak dan menantunya memiliki hati yang besar, selapang samudra. Sehingga, Tante Rani bisa memberi maaf untuk putranya itu.


Setelah itu, Davin berjalan lebih mendekat kepada Alana. "Ana ..., aku tahu bahwa yang aku lakukan adalah salah. Apakah kamu mau memaafkanku?" tanya Davin.


Davin meminta maaf. Andai sang istri memberikannya kesempatan kedua, Davin akan berusaha untuk memperbaiki diri. Bukan semata-mata untuk dirinya, tapi untuk Ana istrinya dan Disha putrinya.


Tanpa ragu, Alana menggelengkan kepalanya. "Maaf, Mas. Untuk perselingkuhan ini tidak bisa aku tolerir. Kita sudah mengikat janji di hadapan Tuhan, bahwa kita bukan dua melainkan satu. Namun, kamu yang mengkhianati janji dan pemberkatan nikah kita di altar suci. Jadi, aku akan menggugat cerai atasmu," balas Alana.

__ADS_1


Sangat disayangkan, dalam waktu yang bersamaan. Dua biduk rumah tangga harus karam. Semua karena keberadaan pihak ketiga. Alana tahu, dalam imannya tidak diperkenankan bercerai. Janji pernikahan di altar suci dan diberkati oleh hamba Tuhan nyatanya dilanggar oleh sang suami. Iman kristiani yang dia miliki memang tidak memperbolehkan bercerai, tapi Alana akan berusaha menempuh cara untuk berpisah dengan Davin.


Tidak ada maaf untuk pasangan yang mendua hati dan tidak menaruh hormat terhadap sebuah ikatan yang bukan hanya terjalin dari hati, melainkan ikatan yang terikat di hadapan Allah. Janji yang melebihi janji, tapi adalah ikrar yang sejatinya menyatukan dua insan. Di saat berdua dua kapal harus karam, dua kapal yang menyerah dari hantaman badai dan gelombang.


__ADS_2