
Setelah semalam berada di Rumah Sakit. Hari ini Giselle sudah diperbolehkan untuk pulang. Selain itu, babynya Gina juga sangat sehat. Sejak kemarin siang bahkan Gina sudah dikeluarkan dari ruang inkubator dan boleh satu tempat dengan Giselle.
"Sudah siap untuk pulang?" tanya Gibran kepada istrinya itu.
"Iya, sudah Mas. Aku juga sudah berkemas. Gina masih bobok," balas Giselle.
Kala itu, memang Baby Gina terlelap dengan begitu pulasnya di dalam box bayi yang ada di sisi brankarnya. Jarum infus di tangan Giselle juga sudah dilepaskan. Sebelumnya, Giselle mengeluh sakit kala jarum infus menusuk tangannya. Namun, begitu jarum itu sudah dilepaskan, yang ada justru Giselle sangat bersemangat untuk menggendong Gina.
"Sebentar, aku cek lagi barang-barang kita supaya tidak ada yang ketinggalan. Tadi administrasi dan obat kamu juga aku ambil," balas Gibran.
"Makasih Mas Gibran," balas Giselle.
"Makasih untuk apa? Justru, aku yang berterima kasih kepada kamu. Kamu begitu hebat melahirkan Gina. Perjuangan yang luar biasa," balas Gibran.
Akan tetapi, Giselle justru menggelengkan kepalanya. "Enggak, kemarin itu kita berjuang bersama-sama. Aku, kamu, dan Gina juga berjuang. Masing-masing dari kita berjuang dengan cara dan menurut porsi kita sendiri," balas Giselle.
Sejatinya memang begitu. Kala melahirkan seorang ibu akan berjuang melahirkan bayinya. Seorang suami berjuang untuk mendampingi istrinya, menguatkan hatinya, walau takut tetap berusaha tegar kala mendampingi sang istri bersalin. Sementara, si baby juga berjuang mencari jalan supaya bisa dilahirkan. Oleh karena itu, baik Giselle, Gibran, dan Gina memang sama-sama berjuang.
"Yah, perjuanganku gak seberapa, Sayang. Aku cuma mendampingi kamu aja," balas Gibran.
"Didampingi kamu juga sudah bahagia banget. Sekarang, kamu juga memenuhi janji untuk mengcover biaya persalinanku," balas Giselle.
"Iya, dong. Ini kewajiban seorang suami, Sayang," balas Gibran.
Di dalam hatinya Gibran pun senang. Dia mewujudkan keinginannya untuk membiayai seluruh biaya persalinan Giselle. Tidak hanya itu, Giselle sebelumnya yang sangat dermawan sekarang juga seolah memberikan kesempatan kepada Gibran. Giselle sama sekali tak menawarkan uangnya.
__ADS_1
"Aku senang bisa membiayai seluruh persalinan kamu," kata Gibran sekarang.
"Terima kasih banyak Papa Gibran," balas Giselle.
"Makasih kamu yang memberikan aku kesempatan ini. Sebentar lagi kita akan pulang yah?" ajak Gibran.
"Iya, aku juga sudah kangen dengan kamar kita," balasnya.
Akhirnya sekarang Giselle yang menggendong baby Gina. Sementara Gibran membawa koper-koper mereka. Sebenarnya, Gibran menawarkan untuk supaya Giselle duduk di kursi roda. Akan tetapi, Giselle menolak. Katanya dia sudah kuat berjalan. Walau Gibran yang melihatnya saja merasa ngilu.
"Kemarin melahirkan dan sekarang udah jalan, gak sakit emangnya, Sayang?" tanya Gibran.
"Sakit, Mas. Ya, ngilu-ngilu gitu. Gak apa-apa kok," balas Giselle.
Masih bisa Gibran ingat bagaimana sedih dan menangisnya Giselle kemarin. Masih bisa Gibran ingat ejanan demi ejanan yang sangat luar biasa. Akan tetapi, justru sekarang Giselle mengatakan tidak apa-apa. Walau ngilu tetap berjalan.
Begitu sudah tiba di parkiran, kemudian mulailah Gibran memasukkan koper ke dalam bagasi mobil terlebih dahulu. Kemudian, barulah dia membukakan pintu mobilnya untuk Giselle yang menggendong Gina.
"Kita pulang yah ...."
"Iya, Papa. Baby Gina, kita pulang ke rumah kita yah?" Giselle berkata demikian kepada babynya dan tersenyum melihat Baby Gina yang masih bobok.
Lantaran sekarang sudah membawa baby, Gibran mengemudikan mobilnya dengan lebih pelan. Kemudian, mereka tiba di rumahnya. Betapa kagetnya Giselle dan Gibran karena melihat mobil keluarga Wardhana yang sudah terparkir di depan rumah.
"Welcome Home Baby Gina!"
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana pun meneriakkan itu. Menyambut kepulangan Baby Gina ke rumah.
"Makasih Mama, Papa, Ibu," ucap Giselle yang terharu.
"Kamu sengaja menunggu kamu di rumah, Selle. Sebenarnya Mama dan Papa ingin ke Rumah Sakit, tapi katanya kamu akan segera pulang. Jadi, kamu menunggu di sini," kata Mama Diana.
"Tidak apa-apa, Ma. Terima kasih sudah datang dari Jakarta," balasnya.
"Ibu juga tidak bisa menemani kamu di Rumah Sakit, Selle. Maafkan Ibu yah. Biar Babynya digendong Nenek atau Omanya dulu. Kamu makan dulu yah, Ibu masakkan sup," ucap Bu Rosa.
"Makasih loh, Bu. Sudah mau memasak. Merepotkan yah, Bu," balas Giselle.
Dengan cepat Bu Rosa menggelengkan kepalanya. "Tidak repot sama sekali, Giselle. Selamat yah. Ibu turut berbahagia," ucap Bu Rosa.
Ya, itu Bu Rosa benar-benar bahagia. Sebenarnya dia ingin menyusul ke rumah sakit semalam. Namun, saat dia bertanya kepada Gibran, katanya Gibran bisa sendiri. Oleh karena itu, Bu Rosa memgurungkan niatnya.
"Cantiknya cucunya Oma, Opa, dan Nenek. Seperti Papa Gibran yah," ucap Mama Diana.
Di dalam penglihatan para orang tua, memang Baby Gina lebih banyak mirip dengan Gibran. Sementara Gibran pun turut tersenyum menatap wajah putrinya itu. Ya, bayi kecil itu dominan mirip dengan dirinya. Walau ada mata dan bibir Giselle di sana.
"Dominan Mas Gibran ya Ma?" tanya Giselle.
"Iya, dominan Papanya. Gibran kecil ini, cuma cewek aja," balas Mama Diana.
Semua yang ada di sana pun tertawa. Sebab, memang Gina kecil seperti Gibran. Namun, lebih dari semuanya mereka merasa sangat bahagia. Akhirnya, ada bayi kecil yang menyemarakkan kehidupan rumah tangga Giselle dan Gibran.
__ADS_1