
Gibran tetap bersikeras untuk bisa bermalam dengan Giselle. Walau Giselle sudah memberitahukan bahwa dia hanya tinggal di kost putri dan belum tentu diperbolehkan membawa pria atau tidak, tapi Gibran tak mau berpisah dari Giselle. Bahkan Gibran berkata akan meminta izin langsung kepada ibu kost nanti.
"Ayo, kita ke kost-an kamu," ajak Gibran kepada istrinya.
Giselle belum bereaksi. Dia bimbang. Sebenarnya dia juga menganggap masalahnya dengan suaminya telah usai. Namun, Gibran memaksa untuk menginap di tempatnya.
"Kita berpisah di sini saja, Mas ... Ibu pasti sudah menunggumu," balas Giselle.
Sebagai seorang menantu, Giselle tahu bahwa ibu mertuanya anti ketika keluarganya pulang malam. Sekarang saja sudah jam 21.00 malam, sudah pasti ibu mertuanya bisa marah kalau Gibran memilih untuk tidak pulang. Tidak pernah sebelumnya sampai Gibran tidak pulang.
"Aku tidak akan pulang, Sayang. Aku akan tidur di tempatmu," balas Gibran.
Sudah disuruh pulang tidak mau. Namun, jika tidak yang Giselle takutkan hanyalah Gibran yang bisa datang dan memintanya untuk pulang ke rumah Ibunya. Jujur, kembali ke pondok mertuanya membuat Giselle tidak mau.
"Sudah jangan terlalu banyak berpikiran. Aku tidak meminta yang aneh-aneh dan macam-macam. Cukup akan menginap di tempatmu saja," balas Gibran.
"Terserah Mas Gibran saja," jawab Giselle.
Akhirnya pasangan itu mengambil mobilnya sendiri-sendiri. Seperti biasanya, Gibran akan mengikuti mobil Giselle dari belakang. Sepanjang jalanan yang dia tuju, Gibran juga terkejut karena jalan yang dituju Giselle ini adalah jalan yang familiar untuknya. Ini adalah jalan menuju ke perusahaan tempat Giselle bekerja. Jadi, dalam tiga hari ini apakah Giselle memang tinggal di sekitar kantornya? Kenapa Gibran tidak memikirkannya sebelumnya.
Dari kantor, kemudian dia mengambil jalan kecil, dan ada kost wanita di sana. Giselle memarkirkan mobilnya dulu, dan juga Gibran juga mencari tempat parkir. Setelah itu, Giselle turun dari mobilnya dan menunggu Gibran.
"Ini, kost putri. Jadi, aku tidak yakin kalau Ibu kost akan memberikan izin," ucapnya.
Tepat di saat yang bersamaan, Ibu kost di tempat itu baru saja keluar. Kemudian, dia bertanya kepada Giselle.
"Neng, mau kemana?" tanya Ibu kost itu.
"Baru saja kembali dari luar, Bu. Oh, iya, Bu ... kenalkan dia suami saya," ucap Giselle.
Gibran memberikan salam dengan berjabat tangan dengan Ibu kost itu. Sebatas memberitahu kalau namanya adalah Gibran. Ibu kost pun mengamati Gibran, sembari menelisik benarkah dia adalah suami dari wanita yang baru tiga hari meng-kost di tempatnya.
"Begini, Bu ... saya ingin menginap di sini apa boleh, Bu?" tanya Gibran secara langsung kepada Bu Kost itu.
Tidak langsung menjawab, tapi ibu kost itu menelisik keduanya. Sebagai ibu kost, juga tidak boleh langsung percaya begitu saja. Sebab, tidak dipungkiri banyak pasangan yang menggunakan kost untuk tindakan asusila bgai pasangan yang belum menikah.
"Ini KTP saya, Bu ... dan ini surat nikah kami," tunjuk Gibran di layar handphonenya yang memang ada scan buku nikah.
Namun, melihat itu, Bu kost justru terkejut. Giselle di sana sangat gemuk. Sama-sama bernama Giselle, tapi lebih gemuk. Kemudian Bu Kost menatap ke Giselle.
"Dulu, Neng segemuk ini yah? Sama kayak anak saya, Neng. Gemuk banget, akhirnya diet. Untung suaminya cinta dan pengertian. Sekarang, sudah dikarunia anak," ucap Bu Kost.
__ADS_1
"Iya, dulu memang sangat gemuk, Bu. Maaf," balas Giselle.
"Tidak perlu meminta maaf. Tidak apa-apa. Neng sekarang sudah langsing. Sudah sangat cantik," balasnya. "Dijaga istrinya, A ... secantik ini dibiarkan tinggal sendiri. Nanti ada yang ambil, Aa bakal terluka seumur hidup," balas Bu Kost.
Ya, Giselle yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Giselle yang sekarang sangatlah cantik. Langsing, dan tubuhnya proporsional. Image gadis gendut itu sudah hilang. Layaknya dongeng anak-anak, Giselle sudah berubah menjadi angsa putih yang cantik dan mempesona.
"Iya, Bu ... jadi, boleh saya tinggal dengan istri saya?" tanyanya.
"Boleh. Kalau pasangan suami istri asli, bukan bohongan, boleh A ... tapi kost ini adalah kost wanita, bukan untuk pasangan suami istri, jadi Neng maaf banget. Mungkin hanya boleh kost satu bulan saja yah," ucap Bu Kost.
Giselle pun menganggukkan kepalanya. "Baik, Ibu. Nuhun," balasnya.
Setelahnya Gibran mengikuti Giselle untuk naik ke lantai atas. Menuju ke kamar milik Giselle. Kamar yang kecil, kasur di sana pun hanya single bed. Sungguh, Gibran terenyuh melihatnya. Dengan kamar di rumahnya saja tentu lebih bagus kamar di dalam rumah Gibran.
"Kamar kamu seperti ini, Sayang?" tanya Gibran perlahan.
"Hmm, iya," jawab Giselle singkat.
Kamar kost itu memang sederhana dan juga kecil. Sementara kamar di dalam rumah Gibran tentu jauh lebih luas. Namun, bagi Giselle di kamar yang sempit ini justru membuatnya lebih tenang. Mendamaikan hatinya dari berbagai ujaran kebencian dari ibu mertuanya.
"Kamu bisa tidur di tempat ini?" tanya Gibran lagi.
Gibran menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya. "Padahal di rumah, aku tidak bisa tidur tanpa kamu," akunya.
Apa yang disampaikan Gibran memang benar adanya. Selama tiga malam, Gibran seperti terkena insomnia parah. Hanya rebahan di tempat tidur. Namun, matanya sangat sulit untuk terpejam. Setiap kali memejamkan mata justru wajah Giselle yang hadir di benaknya.
"Sayang, aku pertama-tama ingin meminta maaf. Maafkan aku. Hidup bersamaku tidak mudah bukan? Terlebih dengan ucapan kasar Ibuku. Namun, aku sudah menetapkan hati, aku akan keluar dari rumah Ibuku dan memilih tinggal bersama kamu," balas Gibran.
Giselle kian bertanya-tanya, apakah benar dengan keputusan Gibran itu? Benarkah suaminya sanggup untuk meninggalkan ibunya dan kemudian tinggal bersamanya? Sementara, anak yang dimiliki Bu Rosa juga hanya Gibran saja.
"Aku tidak mengharuskan kamu untuk tinggal bersamaku, Mas. Bahkan aku mau mengalah kok demi Ibu," balas Giselle.
Bukan bertindak egois, tapi memang Giselle rela untuk melepaskan Gibran. Dia mengingat bahwa pria adalah hak ibunya. Selama bersama Gibran, Giselle pun rela jika Gibran lebih memprioritaskan ibunya dibanding dirinya sendiri. Sebab, pikirnya Giselle, jika bukan seorang anak yang akan merawat dan mengasuh ibunya, siapa lagi?
"Tidak begitu, Sayang ... aku pernah berusaha mempertahankan keduanya. Namun, tetap saja ada salah satu pihak yang terluka. Bahkan, dalam dua tahun ini aku lebih memilih untuk memilih Ibuku. Yang terjadi, justru kamu hidup dalam kesedihan setiap hari," balas Gibran.
"Aku tidak yakin, Mas Gibran bisa tinggal bersamaku di luar rumah Ibu," balas Giselle.
Gibran menggelengkan kepalanya perlahan. Kemudian memberanikan diri untuk menggenggam tangan Giselle. "Kita akan memulai dunia kita bersama, Sayang. Dunia yang di dalamnya hanya ada aku dan kamu. Jadi, aku sudah berada pada keyakinanku untuk bisa membina rumah tangga bersama kamu."
"Mas Gibran yakin untuk itu?" tanya Giselle.
__ADS_1
"Iya, sebenarnya aku mengambil Kredit Perumahan Rakyat yang difasilitasi perusahaan. Rumah yang berbeda tiga blok saja dari rumahnya Ibu. Jadi, kita bisa tinggal bersama. Yang penting tidak seatap dengan Ibu. Letaknya yang dekat juga bisa membuatku menjaga Ibu," balas Gibran.
Sebenarnya, memang Gibran sudah mengambil KPR yang berada tiga blok saja dari rumah Ibunya. Pernah Gibran berpikir mengambil timah benar-benar di sisi rumah ibunya. Namun, jika terlalu dekat yang ada Ibunya dan Giselle yang masih belum akur bisa terus-menerus melakukan konfrontasi dan juga perang dingin. Jika hanya tiga blok, itu masih terbilang dekat, selain itu Giselle bisa lebih aman.
Biarkanlah Gibran yang berkorban dengan lebih sering mengunjungi ibunya. Bagaimana pun, putranya hanya dia saja. Tak bermaksud abai, tapi Gibran juga ingin rumah tangganya langgeng bersama Giselle.
"Itu yang bisa aku lakukan terlebih dahulu. Rumahnya tidak dua lantai, hanya satu lantai. Yang penting rumah tangga kita terselamatkan, Sayang," balas Gibran.
Untuk Kredit Perumahan Rakyat memang hanya satu lantai dengan tiga kamar. Tidak bisa memberikan rumah dua lantai untuk Giselle. Namun, yang Gibran prioritaskan adalah mempertahankan rumah tangganya terlebih dahulu. Nanti, seiring dengan berjalannya waktu bisa untuk melakukan renovasi di rumah.
Usai itu, Gibran memeluk Giselle dengan erat. Pria itu memejamkan matanya, merasakan hangatnya tubuh Giselle yang dia peluk, sembari menghirup aroma parfum Giselle yang sangat harum. Gibran sangat merindukan istrinya itu. Walau tangan Giselle hanya terkulai lemas dan tak menyambut pelukan hangat suaminya, tapi bagi Gibran biarkan saja yang penting dia bisa memeluk Giselle.
"Aku akan berusaha mempertahankan kamu dan juga merawat Ibuku. Aku pernah bilang kepadamu bukan, sulit untuk memilih antara Ibu atau kamu. Dua-duanya adalah wanita yang mulia untukku. Dengan rumah yang dekat, aku bisa terus mencintaimu sembari merawat Ibuku."
Seolah sekarang Gibran berusaha untuk mencari jalan tengah. Bisa mencintai istrinya, membina rumah tangga, dan juga merawat ibunya. Semoga jalan tengah yang diambil Gibran ini mendapatkan sambutan yang baik dari Giselle dan ibunya.
"Berbeda rumah, kalau Ibu masih membenciku?" tanya Giselle kepada suaminya.
"Biarkan saja. Berdoa semoga Allah memberikan hidayah untuk Ibu. Jika tidak sering berjumpa dengan Ibu, setidaknya hati kamu tidak disakiti. Selain itu, kita bisa lanjutkan program hamil," balasnya.
Giselle terdiam. Tidak menyangka suaminya bisa memikirkan semua ini. Apakah memang dia harus diam dulu dan bersujud kepada Allah supaya Ibu mertuanya mendapatkan hidayah.
"Lalu, dengan mantan pacarmu itu?" tanya Giselle pada akhirnya.
Gibran sekarang mengurai pelukannya dan kemudian menatap Giselle yang duduk di sampingnya. "Aku tidak ada apa-apa dengan Nisa. Yang kamu lihat itu tidak benar. Dia yang mendadak masuk ke dalam kamarku dan tiba-tiba memelukku. Ketika aku menolak, dia justru semakin memelukku. Sungguh, Sayang ... tidak ada yang terjadi. Aku juga bingung kenapa dia bisa naik ke lantai atas dan menuju kamarku. Kamu juga lihat, aku menolak," balas Gibran.
Namun, Giselle menggelengkan kepalanya samar, "Tidak, kedua tanganmu berada di pinggangnya. Kamu tahu tidak rasanya, Mas? Aku seperti kamu khianati. Aku hanya pamit untuk ke mini market, tapi begitu pulang ada wanita lain di dalam kamar kita," balas Giselle.
"Maafkan aku, Sayang. Itu hanya salah paham. Faktanya, aku selalu menjaga hati dan diriku hanya buat kamu. Kamu mau enggak memaafkan aku?" tanya Gibran sekarang kepada Giselle.
Hingga akhirnya, Giselle menatap wajah suaminya. Dia ingin mencari berapa besar kesungguhan suaminya kepadanya. Sebab, sebagai wanita, dia tidak ingin jika hanya sekadar dikhianati.
Gibran turun dari tempat duduknya, dia bertumpu dengan kakinya dan berlutut di hadapan Giselle.
"Please, maafkan aku, Sayang. Aku tanpa kamu, tidak ada yang bisa kulakukan. Selamanya cintaku hanya kamu," ucap Gibran.
Melihat semua yang Gibran lakukan, air mata berlinang dengan sendirinya. Dia terharu ketika suaminya sampai berlutu di hadapannya. Giselle pun turut turun. Dia menganggukkan kepalanya dengan wajah berlinang air mata.
"Aku maafkan kali ini. Jika sampai terjadi untuk kali kedua, aku tidak mau," balas Giselle.
Gibran bernapas lega sekarang. Dia bisa mendapatkan maaf dari istrinya. Keputusannya untuk bermalam bersama Giselle benar-benar adalah keputusan yang tepat. Oleh karena itu, dia merasa sangat lega. Beban berat uang menghimpit dadanya seakan terangkat.
__ADS_1