
Sepulang dari pemeriksaan di tempat Dokter Nuri, Giselle dan Gibran segera pulang ke rumahnya. Namun, sebelum tiba di rumah, mereka berdua memesan Nasi Goreng, Mie Goreng, dan Ayam Kuluyuk yang akan mereka nikmati. sebagai menu makan malam. Oleh karena itu, sekarang Gibran menghentikan mobilnya untuk membeli makan malam.
"Kamu menunggu di mobil saja, Sayang. Daripada nanti mual mencium aroma yang menyengat. Biar aku saja yang turun," ucap Gibran kepada istrinya.
Giselle menganggukkan kepala. Sungguh, suaminya itu adalah sosok yang pengertian. Bahkan dia mau turun sendiri dan meminta Giselle untuk menunggu saja di dalam mobil karena kasihan jika Giselle harus kembali mual dan muntah.
"Maaf ya, Mas ... merepotkan," balas Giselle.
"Tidak merepotkan sama sekali, Sayang. Justru aku seneng bisa melayani istriku sendiri. Tunggu di dalam mobil yah. Kalau ada yang mau dititip, kirim pesan saja, nanti aku beliin," balas Gibran.
Usai itu Gibran turun dan membeli makan malam untuk mereka. Sementara Giselle memilih untuk menunggu di dalam mobil. Sesekali dia mencium aroma bawang putih yang baunya justru harum di sekitar penjual Bakmi dan Nasi goreng itu.
"Semoga aku gak mual lagi ya, Tuhan. Beri aku kekuatan selama mengandung buah hatiku ini. Beri aku kesabaran juga. Kiranya baby ini bisa semakin merekatkan hubunganku dan Mas Gibran. Bisa diterima juga oleh ibu mertuaku," gumam Giselle dengan dirinya sendiri.
Memang tidak dipungkiri ketika mual dan muntah terus-menerus rasanya sangat tidak enak. Badan benar-benar lemas rasanya. Oleh karena itu, Giselle berharap dirinya bisa lebih sehat. Selain itu, Giselle berharap kehadiran bayinya juga bisa memulihkan hubungannya dengan mertuanya sendiri.
Hampir dua puluh menit berlalu, barulah makanan yang mereka pesan selesai dibuatkan. Kemudian Gibran masuk ke dalam mobil dengan membawa dua buah kantong plastik berwarna putih.
"Kok dua kantong, Mas?" tanya Giselle kepada suaminya.
"Aku belikan Ayam Kuluyuk satu untuk Ibu. Nanti biar aku antar ya, Sayang. Sekalian memberitahu Ibu kabar kehamilanmu," ucap Gibran.
Dari sikap Gibran pun terlihat jelas bahwa Gibran sejatinya adalah anak yang baik dan begitu berbakti. Andai bisa, apa yang dia makan juga akan dimakan ibunya juga. Oleh karena itu, Gibran juga membelikan Ayam Kuluyuk untuk ibunya.
__ADS_1
"Nganternya gimana, Mas?" tanya Giselle kepada suaminya.
"Mampir saja sebentar, Sayang. Kamu gak turun, tidak apa-apa. Aku tidak memaksa kok. Bagaimana pun, aku tahu bagaimana perasaan kamu. Biar aku saja yang turun yah, kamu menunggu di dalam mobil."
Bukannya bertindak tidak sopan, tapi memang Giselle merasa hatinya masih belum siap bertemu ibu mertuanya. Seolah ada trauma tersendiri yang bisa muncul karena selama dua tahun, dan hampir setiap hari selalu dimarahi ibu mertuanya. Sehingga, Giselle seolah masih takut untuk bertemu dengan ibu mertuanya. Walau Giselle juga tahu, sikapnya juga salah. Dia seolah memiliki self defense dan juga tidak bisa mendamaikan dirinya sendiri. Namun, bagaimana pun sebagai manusia biasa, Giselle juga perlu waktu.
"Maaf yah, Mas. Bukannya aku tidak sopan, tapi aku belum siap bertemu Ibu. Aku masih takut kalau dimarahin lagi," balasnya.
"Iya, Sayang. Sama-sama ... aku tahu perasaan kamu kok," balas Gibran.
Melajukan mobilnya perlahan-lahan, kemudian Gibran sekarang sudah tiba di rumah ibunya. Dari luar, sebenarnya Gibran juga merasa kasihan ibunya itu tinggal sendirian. Namun, Gibran rasanya tidak bisa kembali ke rumah ibunya, hubungan ibunya dan istrinya sudah begitu memburuk. Sukar untuk mendamaikan keduanya.
"Kamu tunggu di sini dulu yah ... aku menemui Ibu dulu," pamit Gibran kepada istrinya.
"Assalamualaikum, Ibu," sapa Gibran dengan mengetuk pintu rumah Ibunya.
Tidak berselang lama pun, pintu terbuka. Ada ibunya yang membukakan pintu untuk Gibran. Menatap Gibran kepada kedua sorot matanya yang tajam. Namun, di saat bersamaan BU Rosa meriksa tidak suka melihat Giselle yang menunggu di dalam mobilnya.
"Kenapa istrimu itu tidak tidur? Gak suka, gak selevel menginjakkan kaki di rumah mertuanya?" tanya Bu Rosa.
"Enggak, Bu. Giselle baru kelelahan dan kurang enak badan," jawab Gibran.
Sekarang Bu Rosa berdecak dan merasa tidak percaya bahwa Giselle memang sedang tidak enak badan. Baginya itu hanya alasan saja jika Giselle tidak mau turun dan menginjakkan kakinya di rumahnya.
__ADS_1
"Ck, Ibu gak pernah percaya sama dia," balasnya.
Gibran menghela napas panjang. Harus berusaha untuk bersabar. Sebab, memang karakter ibunya seperti itu. Jika sampai dia ikut-ikutan tersulut, justru itu akan membuat lebih berbahaya nanti.
"Bu, Gibran cuma mampir sebentar untuk memberikan Ayam Kuluyuk kesukaan Ibu," ucapnya yang sembari mengalihkan pembicaraan.
"Kalian baru pulang kerja jam segini? Kamu makin enggak tahu aturan ya, Bran. Dulu, tinggal di rumah Ibu, setiap jam lima sore sudah pulang. Sekarang, jam segini baru pulang. Kamu betul-betul, Bran," balas Bu Rosa yang sungguh merasa Gibran
"Ibu, tolong dengarkan Gibran dulu. Gibran pulang jam segini juga karena memiliki alasan sendiri. Gibran dan Giselle usai dari klinik, Bu. Alhamdulillah, doa kami dijawab oleh Tuhan. Giselle sedang hamil sekarang. Gibran akan menjadi Ayah, dan Ibu akan menjadi Nenek. Ibu tentu senang kan Bu? Akhirnya setelah hampir tiga tahun berlalu, akhirnya hari bahagia akan tiba," ucapnya.
Perasaan Gibran tentunya bahagia bisa memberikan kabar baik kepada Ibunya. Selain itu, di dalam hati Gibran berharap bahwa Ibunya akan bisa menerimanya. Memperbaiki hubungan dan sikapnya kepada Giselle selama ini.
"Ibu tidak bahagia?" tanya Gibran setelah mengamati raut wajah ibunya. Gibran pikir ibunya akan bahagia karena akhirnya akan menjadi seorang Nenek. Namun, Gibran salah karena ibunya itu bersikap biasa saja.
"Senang saja, biasa saja. Apa bagusnya? Tetangga kita sebulan nikah juga sudah hamil, gak perlu nunggu sampai lebih dari dua tahun," balas Bu Rosa.
"Ibu, kami berdua kan kasus khusus. Jadi, memang waktu terbaik dari Allah adalah sekarang," balas Gibran.
Namun, Bu Rosa menggeleng, disertai dengan bibirnya yang melengkung. Tidak setuju dengan Gibran. "Bukan kalian berdua, yang kasus khusus istrimu itu saja yang tak bisa hamil. Anaknya Ibu mah sehat-sehat," balasnya.
"Ibu," balas Gibran.
"Mau bicara apa lagi, Gibran? Kalau istrimu lebih sehat, gak akan nunggu selama ini. Kamu saja yang bodoh," balas Bu Rosa.
__ADS_1
Dengan berat hati, Gibran harus memupus semua rasa di hatinya. Semua angan di benaknya. Dia kira ibunya akan bahagia mendengar kabar kehamilan Giselle, ternyata tidak. Gibran salah. Sekarang pun Gibran justru kembali kecewa.