
Sungguh, itu adalah malam yang sempurna untuk Gibran. Hasrat yang selama ini tertahan akhirnya bisa tersalurkan. Terlebih ini adalah pengalaman pertama untuk keduanya melakukan di rumah baru, sehingga pasti akan menjadi kenangan indah untuk keduanya. Bahkan Gibran ingin untuk menempatkan bantal di pinggul istrinya supaya semua benihnya bisa masuk ke dalam.
"Luar biasa, Sayang ... jangan langsung ke kamar mandi dulu. Kita, santai dulu. Mandi junubnya abis ini," ucap Gibran.
Giselle yang terengah-engah, hanya terkulai lemas di dalam pelukan suaminya. Entah, mungkin karena dua minggu tidak berhubungan, dan baru sekarang rasanya benar-benar membuatnya meledak. Pecah dan benar-benar tanpa sisa. Layaknya balon udara yang meletus, dan udara yang semula tersimpan di dalam balon meletus, tidak ada udara yang tersisa.
"Kamu makin pinter sih, Mas," ucap Giselle dengan lirih.
"Apa iya? Aku belajar, Sayang ... lihat video saja. Juga berharap semua benihnya masuk dan bersemi yah. Siapa tahu ada yang menjadi Malika nanti," balas Gibran dengan tertawa.
"Kok Malika? Kedelai hitam pilihan?" tanya Giselle.
"Bukan, kan biji pilihan yang dirawat dengan sepenuh hati. Maksudnya sih itu," balas Gibran.
Mendengarkan apa yang disampaikan suaminya, keduanya pun tertawa. Aneh dan ada-ada saja suaminya itu. Sekarang pun rasanya berbeda. Mereka tidak bercinta pada kegelapan. Lampu di kamar mereka saja masih menyala. Sungguh, sensasinya begitu luar biasa.
"Nanti, kalau sapa tahu ada benih pilihan yang bersemi kan kita bisa membagikan kabar baik kepada Mama dan Papa. Semoga saja anak nanti bisa memberikan kedamaian dan kebaikan untuk semua orang," ucap Gibran sekarang.
"Amin ... aku juga mengharapkan hal yang sama," balas Giselle.
Setelah itu, Giselle sedikit menatap wajah suaminya. "Seneng enggak Mas? Selama ini, kamu puas enggak?" tanya Giselle.
"Retoris banget, Sayang. Tidak perlu dijawab. Selalu, aku selalu puas sama kamu. Kamu juga tahu sendiri bagaimana reaksi dan ekspresiku. Aku selalu puas sejak nikah sama kamu," aku Gibran.
Sebenarnya, Giselle hanya sekadar bertanya. Namun, dia senang ketika suaminya memang terpuaskan. Kemudian Giselle kembali berbicara kepada suaminya.
"Jangan pernah mencari kesenangan di luar rumah ya, Mas ... aku takut saja," balasnya.
Gibran mengeratkan dekapannya dan kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak ... tidak akan pernah Sayang. Kamu jangan pernah berpikir yang macam-macam yah. Aku selalu cinta kamu," balasnya.
"Janji ya Mas ... jujur saja kalau dimarahin Ibu itu sudah menjadi hal yang biasa untukku, tapi kalau kamu mendua hati rasanya aku tidak kuat deh. Aku terlalu takut kalau sampai kamu sampai mencari kesenangan di luar rumah," aku Giselle dengan jujur.
"Janji, bahwa aku gak akan pernah macam-macam. Udah dong, jangan begitu. Aku sudah enak banget loh, Sayang. Luar biasa, mantap, pokoknya," balas Gibran.
Semua itu dia lakukan juga karena mempertahankan suasana bercinta yang hangat dan hanya mereka berdua. Begitu jarang keduanya mendapatkan kesempatan seperti ini. Sehingga, Gibran tentunya tak ingin kehilangan moment.
"Tuh, aku udah enggak gigit leher kamu, loh. Udah tobat jadi vampire," ucap Gibran kali ini dengan menyentuh leher jenjang Giselle.
Giselle yang semula diam pun sekarang tersenyum. Dia lebih dalam lagi mencerukkan kepalanya di dada suaminya. "Iya jangan gigit leher, Mas. Biar lebih Safety," balasnya.
"Bercinta pun harus safety ya, Sayang. Iya, aku ingat ... gak akan gigit leher lagi. Walau sebenarnya enak kan Sayang?"
"Perih loh, Mas," jawab Giselle.
Mendengar jawaban istrinya, kemudian Gibran tertawa. Menyenangkan sekali bisa melakukan after care seperti ini. Terlebih untuk wanita yang memang butuh after care usai bercinta. Biasanya ada pasangan yang langsung tidur, atau justru bermain hp. Padahal atmosfer intimitas itu masih ada. Wanita juga ingin disayang, diperhatikan, bahkan seorang pakar pernah mengatakan after care sangat baik untuk mengelola stress, memperbaiki kondisi mental agar lebih sehat.
"Maaf yah. Kamu ingat enggak gak, Sayang ... selain di hotel waktu itu, kapan kita punya waktu after care kayak gini?" tanya Gibran sekarang kepada istrinya.
__ADS_1
Rupanya Giselle menggelengkan kepalanya. Tidak mengingat kapan terakhir kali bisa mengobrol bersama, memberikan pelukan hangat seperti sekarang ini. Saking lamanya, Giselle sendiri sampai lupa.
"Seingatku, kalau di rumah kamu sih hampir tidak pernah. Kita langsung mandi dan tidur. Seingatku sih. Bahkan pernah belum tentu kita tiga pekan sekali bercinta. Terlalu banyak air mata di rumahmu, Mas," jawab Giselle.
"Benar, padahal aku baca after care dengan cuddling time saling memeluk gini bisa menjaga keharmonisan suami istri, Sayang. Lebih fleksibel di atap sendiri ya. Banyak yang bisa kita lakukan bersama," balas Gibran.
Bahkan sekarang pun Gibran baru bisa mengakui bahwa lebih enak berada di atap sendiri. Lebih fleksibel. Tidak terkungkung dalam aturan yang sifatanya konservatif atau kuno. Namun, bagaimanapun hidup adalah pembelajaran. Dua tahun yang telah terlewati jadikan untuk pembelajaran. Jadikan untuk semakin baik ke depannya. Hanya dengan cara itulah rumah tangga akan terus berjalan. Tidak lagi dibayangi dengan masa lalu, tapi berusaha menciptakan banyak kenangan indah bersama.
"Sudah hampir setengah jam, Mas. Mandi yuk," ajak Giselle kepada suaminya.
"Mau mandi barengan?" tanya Gibran.
Sungguh Gibran tidak menyangka karena sekarang Giselle menganggukkan kepalanya. Dia mau untuk mandi bersama dengan suaminya. Namun karena kamar mandi mereka hanya ada bak mandi dan gayung, keduanya saling mengguyur satu sama lain. Terasa lucu. Bergantian menggugurkan air, berusaha menyabuni dengan shower puff, dengan kamar mandi yang hanya seadanya. Namun ini juga pengalaman seru untuk keduanya. Tidak pernah sebelumnya mandi bersama dengan bak mandi dan juga gayung.
Tidak perlu lama, yang penting mandi besar dan keramas. Setelah itu, Giselle duduk di depan meja rias, mengaplikasikan beberapa serum dan krim perawatan wajah di wajahnya. Sementara Gibran kemudian berdiri di belakang Giselle.
"Sini, biar aku yang keringkan rambut kamu," balasnya.
Gibran pun mengambil hair dryer kecil dari dalam laci dan mulai mengeringkan rambut istrinya sebisanya. Dari cermin di depannya, sesekali Giselle melirik suaminya itu. Sungguh, perlakuan Gibran kepadanya begitu manis. Sebagai wanita dan diperlakukan dengan manis tentunya juga pasti senang.
"Rambut kamu panjang banget, Sayang. Halus gini rambutnya," ucap Gibran.
"Sejak kecil rambutku selalu panjang kok, Mas. Dulu bahkan dikira Rapunzel loh saking panjangnya," balas Giselle.
"Asli lurus begini?"
Setelah itu Gibran mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Giselle dengan hati-hati. Merapikannya perlahan dari puncak kepala hingga ke ujungnya. Pria itu benar-benar mengulangi sampai rapi.
"Sudah, Mas. Tinggal aku semprot dengan parfum rambut saja biar wangi," ucap Giselle.
Kemudian dia mulai menyemprotkan parfum rambut ke rambutnya. Aroma cherry blossom yang wangi dan lembut. Gibran saja kembali tersenyum sembari mengamati istrinya. Perawatan wanita begitu banyak dan sekarang dia tahu bahwa istrinya juga merawat diri dengan sangat baik, semata-mata hanya untuk dirinya.
"Aku dibuatkan minum enggak?" tawar Gibran sekarang.
Giselle terlebih dahulu berdiri. "Aku buatin minum, Mas. Mau minum apa? Aku mau minum Susu stroberi kemasan di kulkas saja, Mas."
"Ya sudah, aku teh kemasan saja, Sayang. Minta tolong diambilkan yah."
Giselle segera menuju ke dapur dan mengambil minuman dari dalam Kulkas untuk mereka berdua. Sedangkan Gibran di kamar memilih merapikan tempat tidur dan membawa pakaian kotor mereka dan menempatkannya di keranjang baju kotor. Dia tahu bahwa Giselle adalah wanita yang suka bersih sehingga Gibran pun segera bersih-bersih.
Selain itu Gibran juga memasang pengharum ruangan yang tadi mereka beli, supaya kamar mereka lebih wangi. Begitu masuk lagi ke dalam kamar, Giselle sudah tersenyum. Mencium aroma Ocean Escape di dalam kamarnya yang benar-benar harum.
"Wangi banget," kata Giselle kepada suaminya.
"Iya, ini parfum pengharum ruangan kesukaan kamu. Kan tadi kita beli waktu keluar. Seneng kan punya kamar uang harum dan wangi?" tanya Gibran kepada istrinya.
Dengan cepat Giselle menganggukkan kepalanya. "Suka banget, Mas. Ini aroma kesukaan aku sih. Ocean Escape. Segar gitu aromanya," balas Giselle.
__ADS_1
Gibran tersenyum. "Semoga kamar ini sesuai dengan kamar impian kamu ya, Sayang. Aku akan menjadi orang yang sangat senang bisa melakukan apa yang kamu suka," balasnya.
"Iya, Mas. Kamar sebagus dan semewah apa pun kalau tidak ada kamu rasanya juga akan sama saja. Jadi, aku lebih senang dan bahagia, jika ada kamu menghuni kamar ini bersamaku," balas Giselle.
Apa yang diucapkan Giselle adalah hal yang jujur. Kamar impian bisa diwujudkan, tapi apalah arti semuanya itu jika ada Gibran yang bersamanya dan menghuni kamar itu. Sejalan dengan prinsip seorang Giselle bahwa rumah seorang istri sesungguhnya adalah suaminya.
"Tuh, kamu sweet banget sih, Sayang. Tentu saja dong, Sayang ... aku akan menyempurnakan kamar impianmu. Memberikanmu pelukan yang hangat. Aku janji, kita akan selalu bersama," balasnya.
Giselle pun menganggukkan kepalanya. "Makasih Mas ... makasih juga sudah dibersihkan dan kamarnya jadi harum banget," balasnya.
Usai itu, keduanya memilih duduk di sofa yang ada di dalam kamar. Menikmati minuman yang manis dan dingin. Sembari Giselle bersandar di bahu suaminya. Justru sekarang, keduanya kembali menjadi pasangan yang baru saja menikah. Menikmati masa bulan madu yang rasanya manis.
"After care terlama ya, Mas," ucap Giselle lagi dengan tersenyum.
"Iya, ini adalah after care terlama. Senang, Sayang?" tanya Gibran lagi.
"Tentu ... tentu saja seneng banget. Enggak langsung ditinggal kerja atau tidur. Dulu, kamu kan biasanya begitu," balas Giselle.
"Dulu masih terbatas, Sayang. Dalam kegelapan. Jadi, usai mandi rasanya ngantuk berat. Sekarang kan beda. Kita bisa melakukannya dalam terang. Kalau kita baru sama-sama libur, pagi, siang, atau malam pun tidak masalah," balasnya.
Mendengar Gibran bersuara, Giselle justru tertawa. Dia kemudian merespons dengan sebuah kalimat. "Sekarang jadi semangat banget, Pak," balasnya.
"Iya, aku kembali bersemangat, Sayang. Bergairah. Luar biasa banget. Ah, melihat ekspresi wajah kamu. Sangat indah. Gak akan bisa aku lupakan," balasnya.
Sejujurnya Giselle sangat malu mendengarkan ucapan suaminya itu. Namun, bagaimana lagi lebih baik untuk mendengarkan ucapan jujur dari suaminya sendiri.
"Udah dong, Mas. Malu ... tapi jujur, dulu rasanya usai mandi, enaknya tidur. Mungkin remang-remang juga, rasanya jadi ngantuk," balasnya.
Gibran menganggukkan kepalanya. Terkadang suasana juga membuat orang juga lebih cepat mengantuk. Dalam suasana yang tepat, jadi lebih memilih untuk bisa tidur. Mengistirahatkan tubuh, pikiran, dan hati untuk beristirahat.
"Di sini, kita bisa sering-sering after care kayak gini, Sayang. Ya, memperbaiki hubungan pernikahan. Menikmati momen berumahtangga. Nanti sudah ada baby, fokusnya teralihkan ke baby," balas Gibran.
"Benar, Mas. Mbak Kanaya pernah bilang gitu. Dulu, dia juga waktu belum memiliki anak, juga sering pacaran sama suaminya. Pacaran dalam arti ya tahulah, kita sudah dewasa. Nanti kalau sudah hamil saja, waktunya sudah berbeda. Ada perhatian lebih untuk si baby. Cuma, kasihan waktu putranya hilang karena diculik Kakakku. Tiap hari Mbak Kanaya nangis. Ini sudah menjadi tahun ketiga, putranya hilang. Aku berharap sih, dia masih ada dan bisa ditemukan," cerita Giselle.
"Sudah hilang tiga tahun, Sayang? Enggak dicari?" tanyanya.
"Ya, dicari terus sampai sekarang, Mas. Gimana lagi, belum ketemu," balas Giselle.
"Berarti Mbak Naya dan Mas Bisma kuat banget yah? Aku yakin tidak mudah untuk menjalani semuanya," balas Gibran sekarang.
"Iya, bener banget, Mas. Cinta bisa saling menguatkan. Itu aku lihat sendiri dari diri Mbak Naya dan Mas Bisma. Keterpurukan, bahkan nyaris tanpa daya, akhirnya berhasil bangkit dan juga menata hidup lagi. Walau, aku tahu di dalam hatinya pastilah ada luka," balas Giselle.
Gibran menganggukkan kepalanya perlahan. "Kita doakan, Mbak Naya dan Mas Bisma segera dipertemukan dengan putranya ya, Sayang. Allah masih menolong hambanya," balas Gibran.
"Amin ... iya, Mas," balas Giselle.
Ya, itu waktu yang berkualitas untuk Giselle dan Gibran. Menikmati waktu berdua. Banyak bercerita. Memulai lagi kehidupan rumah tangga yang manis dan lebih sehat tentunya.
__ADS_1