Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Ngidam Belimbing


__ADS_3

Tidak terasa sudah sepekan berlalu, mual dan muntah yang dialami Giselle lebih reda. Hanya saja, jika yang dia cium adalah aroma Bakso, Giselle masih mual. Sehingga, Gibran lah yang memilih untuk mengalah. Ketika Gibran terkadang untuk makan bakso, dia lebih baik beli di luar sendiri, di makan di warung makannya. Begitu sudah sampai rumah pun, Gibran juga memilih segera mandi dan gosok gigi, supaya istrinya tidak mual dengan aroma Bakso.


Sama seperti hari ini, Gibran pamit kepada Giselle untuk beli bakso. Begitu sudah sampai di rumah, juga Gibran segera mandi bersih supaya tidak ada aroma Bakso yang menempel. Semua itu tentu menjaga supaya istrinya tidak mual dan juga muntah.


"Sudah Mas, beli bakso ya?" tanya Giselle kepada suaminya itu.


"Sudah, Sayang. Mungkin aku ngidam kali ya, Yang. Siang-siang begini pengen Bakso yang dikasih saus, sambal, dan kecap. Kamu yang hamil, aku yang ngidam," balas Gibran.


Sebenarnya hari itu memang hari Sabtu. Saatnya liburan. Akan tetapi, justru siang hari, Gibran mendadak kepengen Bakso. Oleh karena itulah, dia pamit kepada Giselle untuk keluar sebentar dan membeli bakso. Giselle juga tahu, sehingga membolehkan saja suaminya membeli Bakso, yang penting enggak dimakan di rumah, karena Giselle mual mencium aroma Bakso.


"Mungkin saja, Mas. Terkadang kan memang ada yang begitu. Istrinya yang hamil, suaminya yang ngidam. Sebenarnya kalau bisa milih, aku yang hamil, terus Mas yang mual dan muntah. Jadi, aku sehat-sehat terus tuh," balas Giselle dengen terkekeh perlahan.


Gibran kemudian tertawa."Kalau bisa ya, Sayang. Jadi, kamu sehat-sehat saja tuh. Aku yang teler."


Giselle pun tertawa, tapi sebenarnya juga dia merasa kasihan jika suaminya sampai teler karena kehamilan simpatik. Sebab, sudah pasti rasanya akan sangat tidak nyaman. Lagipula, Giselle hanya sekadar bercanda sekarang.


"Kasihan sih tapi. Gak enak banget soalnya, tapi dijalani saja. Ada nikmat tersendiri di setiap cerita kehamilan," balas Giselle.


Gibran kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Sayang. Dalam fase kehamilan ada nikmat yang Allah sisipkan. Selain itu, wanita ketika hamil dan melahirkan akan mendapat pahala dari Allah. Luar biasa kan, Yang?"


Dikatakan Rasulullah SAW, seorang ibu hamil akan mendapatkan pahala 70 tahun shalat dan juga puasa. Hal ini terjadi karena ibu hamil selalu membawa amanah Allah berupa janin yang dibawa setiap harinya ke mana-mana. Oleh karena itu, sangatlah wajar apabila ibu hamil mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah.


"Pahala sebanyak 70 tahun shalat dan puasa ya, Mas?" tanya Giselle.


Gibran menganggukkan kepalanya. "Benar banget, Sayang. Jadi, jalani dengan ikhlas yah. Pahala yang Allah sediakan untuk kamu sangat besar."

__ADS_1


Giselle menganggukkan kepalanya, tangannya bergerak dan mengusapi perutnya yang belum kelihatan besar sama sekali. Itu wajar, karena kehamilannya masih di trimester pertama. Gibran juga turut mengusapi perut istrinya itu. Pria itu menundukkan wajahnya dan memberikan kecupan di perut sang istri.


"Dedek bayi sehat-sehat di dalam perut Mama yah. Bantuin Mama biar selalu sehat, dan enggak mual dan muntah. Papa rela kok makan Bakso sendirian di luar, asalkan Mama Giselle selalu sehat, gak mual dan muntah. Tumbuh sehat dan sempurna ya, Nak," ucap Gibran kepada janinnya yang masih berada di rahim istrinya.


Sebagai seorang istri mendengarkan Gibran berbicara kepada janinnya membuatnya terharu. Wanita itu menggerakkan tangannya yang mengusapi kepala suaminya yang masih berada di dekat perutnya. Di dalam hatinya, Giselle yakin bahwa suaminya itu akan menjadi Papa yang baik untuk buah hatinya nanti.


Namun, sekarang tiba-tiba saja Giselle seakan mengingatkan sesuatu. Ada satu buah yang ingin sekali dia makan. Oleh karena itu, dia meminta kepada suaminya.


"Mas, aku kok tiba-tiba pengen belimbing ya, Mas," ucap Giselle sekarang.


Gibran menegakkan kepalanya dan melirik istrinya itu. Tumben, istrinya itu merasa mengidam. Padahal sejak positif hamil sampai sekarang malahan Giselle seakan tak pernah mengidam. Baru kali ini, istrinya itu menginginkan sesuatu.


"Mau beli? Kita cari ke super market yuk," ajak Gibran.


Akan tetapi, Giselle justru menggelengkan kepalanya. "Enggak, bukan belimbing yang dijual di market, Mas. Belimbing tetangga itu, Mas. Yang dari pohonnya. Minta satu aja yuk, Mas," ajak Giselle.


"Serius? Milik Bu Harti?" tanya Gibran.


Kemudian Giselle pun menganggukkan kepalanya. "Benar, minta satu yuk, Mas. Biar aku yang minta," ajak Giselle lagi.


Namanya juga sedang ngidam dan kadang memang ada permintaan yang terdengar aneh. Akan tetapi, memang itu yang Giselle inginkan sekarang. Sampai-sampai dia mau untuk meminta kepada tetangganya.


"Ya, sudah yuk. Biar aku yang minta. Temenin yah," balas Gibran.


Akhirnya keduanya keluar dari rumah. Giselle hanya mengenakan piyama rumahan saja karena jarak rumah Bu Harti dengan rumahnya hanya selisih dua rumah. Siang itu, keduanya semangat ingin meminta buah belimbing dari tetangganya.

__ADS_1


Tiba di depan rumah Bu Harti, Giselle sudah begitu ingin, sampai dia menelan salivanya sendiri melihat buah belimbing yang begitu ranum dari pohonnya langsung.


"Yakin, Yang?" tanya Gibran.


"Iya, pengen, Mas. Satu aja," balas Giselle dengan mengangkat jari telunjuknya membentuk angka satu.


Akhirnya, Gibran menganggukkan kepalanya. Dia mengetuk pintu gerbang tetangganya itu dan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, Bu Harti," suara Gibran yang hendak meminta buah belimbing itu.


Tidak berselang lama Bu Harti keluar dari dalam rumahnya, membukakan pintu gerbang untuk Gibran. "Loh, tumben. Ada apa Aa Gibran dan Neng Giselle?" tanya Bu Harti.


"Begini, Bu. Istri saya kan baru hamil, apa saya boleh meminta satu buah belimbingnya Bu? Satu saja," tanya Gibran.


Mendengar Gibran yang tidak pernah meminta sebelumnya, sekarang Bu Harti tertawa. "Ambil saja, Aa Gibran. Itu ada tongkatnya. Sok, mangga. Ambil aja," balas Bu Harti mempersilakan.


Giselle juga menyapa dan berkata memang baru ngidam dan pengen buah belimbing itu. Bu Harti memaklumi, memang kadang ibu hamil bisa ngidam sesuatu yang aneh. Yang biasanya gak pernah pengen, ketika hamil bisa jadi pengen.


Namun, justru tetangganya itu sangat baik. Bukan hanya satu buah, tapi Gibran dan Giselle diberikan satu kantong plastik buah berisi buah belimbing dan buah jambu air dari halaman rumahnya.


"Ini buat Neng Giselle yang baru hamil. Semoga sehat selalu ya, Neng. Nanti kalau kurang Neng dan Aa ke sini saja, pasti Ibu kasih lagi," ucap Bu Harti.


"Hatur nuhun, Bu. Kami malahan merepotkan," balas Gibran dan Giselle bersamaan.


"Tidak repot. Tetangga itu sudah kayak saudara, Aa. Tidak apa-apa."

__ADS_1


Sekarang, Giselle dan Gibran pulang dengan membawa satu kantong buah belimbing dan Jambu air. Bersyukur ada orang baik yang mau memberikannya buah. Berjalan kaki menuju ke rumah, Giselle sangat bersyukur karena yang dia idamkan, akhirnya terpenuhi juga.


__ADS_2