
Hari-hari baby moon benar-benar sudah berakhir untuk Giselle dan Gibran. Sekarang, dia berada di dalam bandara untuk bergegas pulang ke Bandung. Jika ada satu yang mereka sukai selama baby moon adalah banyaknya waktu yang bisa mereka habiskan untuk memupuk cinta dan bersiap menjadi orang tua.
Keduanya menyadari bahwa menjadi orang tua juga membutuhkan persiapan. Oleh karena itu, mereka pun bersiap dan juga banyak berbicara akan masa depan. Rencana untuk menjadi seorang Mama dan Papa untuk buah hati mereka nanti.
"Sudah akan kembali ke Bandung, Sayang. Back to our routine," ucap Gibran.
"Iya, Mas. Udah selesai liburannya. Kalau liburan begini, gak ada capeknya, Mas. Namun, nanti di rumah pasti deh capek," balas Giselle.
Mendengar perkataan istrinya, Gibran pun tertawa. "Abis, aku menawarkan untuk memijat kamu, tapi kamunya gak mau. Ya sudah. Nanti kalau sudah di rumah kita, mandi air hangat aja, Sayang. Biar capeknya hilang," balas Gibran.
"Boleh, Mas. Aku juga mungkin mandi air hangat dan bobok dulu," balas Giselle.
"Bobok saja, Sayangku. Di istirahatkan badannya terlebih dahulu."
Perjalanan dari Lombok menuju ke Bandung berjalan tanpa kendala. Giselle pun justru menikmati perjalanan melalui udara itu. Ada kalanya dia justru mengamati awan-awan putih yang bergerombol berpadu dengan angkasa biru. Terlihat juga lautan biru di bawah yang indah.
"Gak tidur?" tanya Gibran.
"Enggak, aku mau melihat pemandangan dulu. Kapan lagi bisa melihat pemandangan dari udara seperti ini," balas Giselle.
Mengingat memang sangat jarang bagi Giselle terbang dengan pesawat, sehingga memang Giselle sering mengabadikan momen melalui kaca jendela pesawat. Dalam hatinya, belum tentu satu tahun lagi Giselle bisa terbang dengan pesawat lagi.
"Ya nanti bisa terbang membawa Baby Girl, Sayang," balas Gibran.
__ADS_1
"Iya, Papa. Santai saja. Eh, tapi nanti bisa liburan ke Jakarta saja, Papa. Sekalian nengokin Oma, Opa, dan keluarga Mbak Naya. Bisa ajak mereka liburan bareng-bareng. Biar ramai," balas Giselle.
Gibran juga memiliki impian bahwa nanti dia bisa terbang dengan mengajak Baby Girlnya. Jika sekarang baby moon adalah hadiah dari mertuanya, nanti Gibran akan mengalokasikan anggaran khusus untuk liburan bersama dengan keluarga kecilnya.
"Liburan tipis-tipis ke Jakarta juga tidak apa-apa, Mas. Dulu, waktu kecil aku seneng banget tuh, kalau diajakin Papa ke Dufan," cerita Giselle.
Ya, dulu sering kali Papa Jaya akan mengajak Giselle dan kakaknya Darren untuk mengunjungi Dufan. Di taman kreasi itu, Giselle dan Darren bebas bermain wahana apa pun. Selain itu, Giselle tidak pernah melewatkan untuk membeli souvenir dari taman kreasi yang hits di Jakarta itu.
"Masak kamu liburannya di Dufan, Sayang? Enggak ke Universal Studio, Singapura?" tanya Gibran.
"Ya kan kalau dekat ke Dufan saja. Kalau liburan sekolah baru deh ke Universal Studio atau Disney Land Hongkong," jawab Giselle.
"Enak yah ... aku ke luar negeri, itu pun karena beasiswa yang aku terima. Bisa ke Singapura dan Malaysia karena keduanya berdekatan. Kalau ke Hongkong belum pernah," balas Gibran.
"Tidak apa-apa, Mas. Bagaimana pun, kita punya masa kecil yang berharga bukan? Kamu dengan masa kecilmu, dan aku dengan masa kecilku. Nanti kita akan mewarnai masa kecil baby girl kita bersama-sama. Semoga nanti baby girl bisa menjadi sosok pekerja keras dan tekun kepada Papanya," balas Giselle.
Masa kecil sangat berharga. Apa pun ceritanya, bagaimana pun kisahnya. Masa kecil akan membingkai kisah tersendiri dan menyisakan kenangan untuk seseorang sampai mereka dewasa nanti. Sama seperti Giselle yang menghargai masa kecilnya dan suaminya tentu berbeda. Namun, selalu berkesan, dan nanti mereka akan bersama-sama mewarnai masa kecil putri mereka yang akan segera lahir tidak lama lagi.
Perjalanan udara itu akhirnya segera berakhir. Awak kabin pesawat sudah memberikan pengumuman bahwa pesawat akan segera landing di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung. Jika ketika terbang dari Lombok, pemandangan didonimasi dengan pemandangan lautan yang indah. Sekarang, dari pesawat sudah terlihat bumi Bandung yang hijau. Kota Bandung dan segala aktivitasnya siap menyambut mereka berdua kembali.
Di udara, pesawat mulai mengurangi ketinggiannya. Perlahan-lahan berputar dan menukik, hingga akhirnya roda-roda pesawat mulai berjejak di tanah dan kecepatannya begitu kencang. Saat itu, Giselle mengusapi perutnya. Sebab, ketika landing seperti ini pasti ada guncangan dan itu terasa tidak enak di perutnya. Oleh karena itu, Giselle memberikan usapan di perutnya.
"Guncangan, Yang ... sakit enggak perutnya?" tanya Gibran yang turut mengusapi perut istrinya itu.
__ADS_1
"Tidak Mas ... aku usapin karena berjaga-jaga kok. Aku memberitahu Adek Bayi bahwa sudah landing," balas Giselle.
Mendengar istrinya, Gibran kemudian tertawa. Rupanya diam-diam istrinya tengah melakukan sounding kepada bayinya. Sementara, Gibran tadi khawatir jika terjadi guncangan yang membuat perut atau pinggang istrinya menjadi tidak enak atau sakit.
"Turun belakangan saja, Sayang. Biar semua penumpang turun terlebih dahulu," ucap Gibran.
"Siap Mas ... iya, pada pengen duluan turunnya," balas Giselle.
***
Beberapa jam kemudian ....
Sekarang, Giselle dan Gibran sudah tiba di rumah. Sebagaimana ucapan Gibran, sekarang pria itu memasak air panas supaya istrinya bisa segera mandi. Selain itu, juga supaya capeknya hilang. Walau dia segera juga capek, tapi Gibran mengutamakan istrinya terlebih dahulu.
"Mandi yah ... air hangatnya sudah siap," ucap Gibran.
"Makasih, Mas. Repot-repot. Padahal yah, aku mandi pake air dingin tidak apa-apa kok," balas Giselle.
"Jangan ... Bumil biar lebih rileks, Sayang. Kan sebagai ganti karena aku tidak bisa mijitin kamu. Jadinya, ya aku masakin air hangat saja," balas Gibran.
"Kita ganti kamar mandi dengan memasang air hangat saja, Mas. Dulu kan masih ada tabungan dari Papa. Biar enggak capek-capek. Lalu membuat shower box saja, gimana?" tanya Giselle kepada suaminya.
"Boleh ... biar kamu nyaman. Toh, nanti kalau punya baby kan mandinya dengan air hangat juga, aku setuju, Yang," balas Gibran.
__ADS_1
Giselle tersenyum sembari memasuki kamar mandi. Begitu senang dan haru ketika suaminya itu selalu memprioritaskan dirinya terlebih dahulu. Sebagai wanita, dia sangat bahagia.
Sekarang mereka sudah tiba di rumah. Rutinitas hari demi hari sudah menunggu mereka, tapi seperti yang Gibran katakan bahwa Romansa itu tidak akan berlalu begitu saja. Justru, mereka akan semakin memupuk cinta, dan selalu bersiap untuk menyambut Baby girl mereka saat hari persalinan tiba nanti.