Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Welcome Home


__ADS_3

Setibanya di rumah, Gibran membawa Giselle untuk istirahat di dalam kamarnya. Sebagaimana keinginan Giselle untuk pulang ke rumah akhirnya terwujud. Bahkan, Giselle tersenyum lebar ketika menginjakkan kakinya kembali ke rumah.


"Welcome home, Sayang," ucap Gibran kepada istrinya.


"Makasih Mas Gibran," balas Giselle.


Kembali ke rumah rasanya selalu saja nyaman untuk Giselle. Walau rumahnya kecil dan hanya satu lantai, tapi bersama dengan Gibran rasanya begitu nyaman. Terlebih tidak ada ibu mertuanya yang bisa saja berbicara pedas kepadanya.


"Kamu di tempat tidur aja, Sayang. Butuh apa-apa biar aku saja yang mengambilkan kamu," ucap Gibran.


Sikap Gibran yang baik dan pengertian seperti itu seakan menjadi penawar racun bagi Giselle. Ketika ibu mertuanya selalu berkata kasar, pedas, dan menyakiti hati, ada suaminya yang selalu memperhatikannya. Selain itu perhatian dan sikap baik dari Gibran juga membuat Giselle memiliki pegangan hidup.


"Makasih ya, Mas. Kamu baik banget sama aku," balas Giselle.


"Sama-sama, Sayang. Penting kamu rileks, santai, dan juga gak usah berpikiran yang macam-macam yah," balas Gibran.


Giselle tersenyum kecil dan kemudian menganggukkan kepalanya. "Aku akan berusaha, Mas. Setidaknya sudah kembali pulang ke rumah. Tidak bau obat-obatan. Selain itu, bisa tidur satu tempat tidur denganmu," balas Giselle.


Memang ketika berada di Rumah Sakit, ruangannya saja terasa bau obat-obatan. Selain itu, masakannya juga hambar. Satu lagi, yang membuat Giselle tidak betah adalah dia tidak bisa tidur bersama suaminya. Giselle terbaring di brankar, sementara Gibran tidur di sofa.


"Kamu kangen tidur sama aku?" tanya Gibran.

__ADS_1


Giselle pun menganggukkan kepalanya. "Iya, aku juga kasihan kamu bobok di kursi, pastinya sangat tidak nyaman. Dua hari bobok di kursi," balas Giselle.


Jujur, Giselle juga kasihan dengan suaminya yang harus tidur di kursi. Pasti sangat tidak nyaman. Leher dan punggung pun akan terasa pegal dan sakit.


"Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting kamu sehat dulu. Setelah di rumah kan bisa kembali normal. Mau bobok atau apa dulu?" tanya Gibran kemudian.


"Minum obat dulu, Mas. Tadi kan belum minum obat. Setelah itu, kayaknya bobok enak, Mas. Mendung dan gerimis gini," balas Giselle.


Tidak perlu disuruh, Gibran sudah mengambilkan obat dan air putih di dalam gelas untuk Giselle. Bahkan Gibran membaca aturan minumnya berapa kali sehari, setelah itu dia menyuapi obat itu untuk Giselle, selanjutnya memberikan air putih.


Giselle pun berusaha menelan semua obat yang ada empat jenis itu dari Dokter. "Makasih banyak, Mas," ucapnya.


Usai itu, Giselle memilih mengganti pakaiannya di kamar mandi. Kemudian mulai merapikan rambutnya, dan mencuci muka. Sementara, setelah Giselle keluar dari kamar mandi, giliran Gibran yang memilih mandi dulu. Setidaknya supaya dirinya lebih segar.


"Mau bobok sekarang?" tanya Gibran kepada istrinya yang masih menunggunya.


"Iya, Mas. Satu atau dua jam kelihatan cukup deh. Selain itu, cuacanya enak banget untuk bobok," balas Giselle.


Akhirnya keduanya sama-sama menempati ranjang itu. Tak segan untuk berbagi ranjang. Gibran pun langsung menyelusupkan tangannya untuk digunakan sandaran bagi Giselle, memeluk istrinya itu.


"Bisa kembali ke posisi ternyaman setelah dua malam," ucap Gibran.

__ADS_1


"Iya, aku kangen, Mas. Makasih banget sudah menjaga dan merawatku dengan sangat baik di Rumah Sakit," balas Giselle.


Kemudian Gibran mengangguk, pria itu menundukkan wajahnya dan mengecup puncak kepala Giselle. "Pasti, Sayangku. Nanti aku juga akan merawatmu sendiri dengan tanganku. Semuanya aman, Sayang," balas Gibran.


Bahkan Gibran sudah mengatakan bahwa kala Giselle melahirkan nanti, dia juga akan merawat Giselle sendiri dengan tangannya. Akan selalu menjaga dan merawat istrinya itu.


"Bener ya, Mas. Aku akan menunggu," balas Giselle.


"Pasti, Sayang. Aku akan merawatmu juga saat kamu melahirkan bayi kita nanti. Tidak perlu mengharap siapa pun. Yang penting, aku akan merawat kamu," balas Gibran.


Giselle kemudian melirik sekilas kepada suaminya. "Banyak yang kotor dan pendarahan serviks, Mas gak jijik tuh?" tanya Giselle kemudian.


Dengan cepat Gibran menggelengkan kepalanya. "Enggak, ngapain juga aku jijik. Kan kamu juga berjuang melahirkan anakku, anak kita. Aku akan dampingi kamu, Sayang," balas Gibran.


Ada kalanya ucapan Gibran dan kesungguhan hati suaminya membuat Giselle terharu. Sungguh, Giselle bersyukur dengan suami yang begitu mengerti dan memahaminya.


"Dalam hidupku ini, mungkin aku tidak beruntung memiliki ibu mertua yang membuatku serba salah. Namun, ada hal yang aku syukuri karna aku memiliki suami seperti kamu," ucapnya.


"Nanti pelan-pelan, Ibu akan menerima kamu juga. Semangat, Sayangku. Hayo, jangan berpikiran yang macam-macam loh yah. Intinya fokus ke kehamilan. Ingat pesan dariku tadi," balas Gibran.


Giselle menganggukkan kepala. Dia merapat kepada suaminya dan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Untuk suami seperti Gibran, Giselle memang pantas bersyukur. Setidaknya ada kebaikan dalam hidup yang bisa dia cecap.

__ADS_1


__ADS_2