
Keesokan harinya, Giselle merasa sudah lebih baik. Toh, juga sudah tiga hari penuh beristirahat, sehingga sekarang dia memilih untuk bekerja. Walau demikian, Gibran berpesan banyak hal kepada istrinya itu. Sebab, Gibran masih takut jika Giselle tiba-tiba mual dan muntah di kantor.
"Sayang, aku bawakan pouch dan di dalamnya ada beberapa hal yang kamu butuhkan. Masker, aromaterapi yang ditempel di masker, inhaler, sampai minyak angin. Aku bawakan kantong plastik juga, Sayang. Kalau kamu butuh, semuanya ada di sini. Namun, aku berharap kamu sehat selalu yah," ucap Gibran.
Terlihat bagaimana perhatian dan sayangnya Gibran kepada istrinya itu. Sampai dia khawatir jika Giselle mengalami mual dan muntah saat berada di kantor. Sebisa mungkin yang Giselle butuhkan dan mencegah mual dan muntahnya, semuanya disiapkan Gibran dalam satu pouch. Selain itu, obat pereda mual dan muntah dari Dokter Nuri juga dia taruh di pouch itu.
"Kamu khawatir sama aku ya Mas?" tanya Giselle kepada suaminya.
"Iya, khawatir banget. Sebenarnya, pengennya kamu di rumah dulu. Istirahat sampai benar-benar sembuh. Namun, nanti kamu gak mau. Pengennya kerja. Jadi, aku siapkan semua ini untuk kamu," ucap Gibran.
Giselle tersenyum. "Makasih banget ya, Mas. Kamu baik banget. Aku pasti akan baik-baik saja. Aku juga membawa bekal dan air minum dari rumah kok. Aku bisa makan di kubikal tempatku bekerja saja. Tidak banyak keluar, biar enggak mual," balas Giselle.
Setelah itu, Giselle memberikan kotak makan yang berwarna biru untuk Gibran. "Aku bawakan bekal juga untuk Mas Gibran. Dimakan ya Mas. Masakanku memang gak seenak masakan Ibu sih, tapi aku berusaha membuatnya dan berharap rasanya enak."
"Masakan kamu selama ini selalu enak kok, Sayang. Semua yang kamu masak, juga selalu aku makan. Tenang saja. Aku selalu memakan yang kamu buatkan," balas Gibran.
Memang Gibran tidak pemilih terkait makanan. Walau memang masakan Giselle tidak selezat masakan Ibunya, tapi di lidahnya masakan Giselle juga sudah begitu enak. Selain itu, Gibran juga selalu menghabiskan apa pun yang Giselle masak untuknya. Justru Gibran menghargai istrinya yang juga adalah wanita karir, tapi masih mau turun ke dapur.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang yah?" ajak Gibran kepada istrinya.
__ADS_1
Akhirnya, Gibran mengajak Giselle untuk naik ke dalam mobil. Dia mulai melajukan mobilnya perlahan, dia mengantarkan Giselle terlebih dahulu.
"Hati-hati bekerjanya ya, Sayang. Aku sangat berharap bahwa kamu akan benar-benar sembuh. Tidak mual dan muntah berlebih lagi. Jauh-jauh dari aroma bakso, Sayang," pesan Gibran.
"Pasti, Mas. Terima kasih banyak untuk semuanya. Nanti, jangan lupa jemput aku yah," balas Giselle.
Giselle pun memasuki kantornya, dan bersiap untuk membuat analisa saham. Selain itu, Giselle memang memilih untuk tetap mengenakan masker yang dia tampilan dengan aromaterapi beraroma mint, tujuannya adalah supaya tidak mual.
"Tumben kamu kemarin izin, Selle?" sapa Nina, temannya di kantor itu.
"Iya, kemarin aku masih di Rumah Sakit, Nin," balasnya.
Mendengarkan apa yang Giselle katakan, Nina juga bingung. Ternyata temannya yang selalu rajin, dan nyaris tidak pernah izin bekerja itu ternyata berada di rumah sakit. Nina juga melihat plester yang masih ada di punggung tangan Giselle.
Giselle tersenyum, tapi karena mengenakan masker, senyuman itu tidak terlihat. "Teler aku, Nin ... hamil ini, aku mual dan muntah berlebih. Jadi, Sabtu itu aku sampai lemes banget. Untung, suami siaga jadi langsung dibawa ke Rumah Sakit," balasnya.
Nina prihatin mendengarkan cerita dari Giselle itu. Selain itu, Nina juga tidak menyangka bahwa hamil muda saja bisa sampai dilarikan ke Rumah Sakit. Nina tahu sekarang saja wajah Giselle masih pucat.
"Kenapa gak istirahat di rumah dulu? Kan pastikan diri sehat dulu. Trimester pertama katanya begitu sih, nanti kalau sudah trimester kedua bisa lebih santai dan nyaman Bumilnya," balas Nina.
__ADS_1
"Kerjaan banyak, Nin. Biar segera selesai. Lagian di rumah juga cuma rebahan," balasnya.
Nina kemudian menepuk bahu rekannya itu. "Ya, sudah. Yang penting jangan terlalu kecapekan. Sabar yah, semoga usai ini akan selalu sehat," balas Nina.
"Thanks yah," balas Giselle.
Giselle kemudian fokus dengan personal komputer di hadapannya. Menyelesaikan untuk membuat analisa saham, semakin cepat diselesaikan tentu akan semakin baik. Selain itu, jika berada di rumah juga hanya akan membuat Giselle kesepian saja. Belum juga dengan ibu mertuanya yang mungkin saja bisa datang. Pergi bekerja setidaknya bisa menjaga hatinya dari setiap ucapan pedas.
Tidak terasa, setengah hari sudah berlalu, Nina kembali ke kubikal kerja milik Giselle. Dia ingin mengajak Giselle untuk makan siang bersama.
"Selle, kamu gak makan siang?" tanyanya.
"Enggak, aku bawa dari rumah sih. Maklum, belum bisa nyium bau yang aneh-aneh deh, Nin," balasnya.
Lagi Nina tersenyum kepada temannya itu. "Ya sudah, aku duluan yah. Sehat-sehat ya Bumil," balasnya.
Ketika Nina telah pergi, Giselle memakan nasi dengan sayur capjay yang sudah dia buat. Usai itu, Giselle juga meminum obatnya. Dia lega, dan terus berbicara dengan dirinya sendiri, semoga saja tidak akan mual hari ini.
Beberapa jam selanjutnya berlalu, dan waktu bekerja pun sudah selesai. Giselle sangat lega bisa melewati sepanjang hari ini dengan baik. Dia tinggal mematikan personal komputer dan bersiap untuk pulang, menunggu Gibran untuk menjemputnya. Ketika berdiri dan hendak berjalan, Giselle meraba perlahan perutnya yang masih rata, dan berbicara dalam hati dengan janin yang ada di dalam rahimnya.
__ADS_1
"Terima kasih untuk hari ini, Adik Bayi ... Mama bisa bekerja dan tidak mual. Temani Mama bekerja yah. Semoga Mama bisa menjadi lebih sehat setiap harinya," gumamnya dalam hati.
Semoga saja ini akan menjadi awal yang baik untuk Giselle. Tidak mual dan muntah berlebih sehingga tidak mengganggu aktivitasnya. Sungguh, dia berharap bahwa dirinya bisa semakin sehat, bayi di dalam kandungannya juga semakin sehat.