
Sepeninggal ibunya yang kembali pulang, Gibran segera menggandeng tangan istrinya. Dia menautkan tangannya dengan erat, menggenggam tangan Giselle. Lantas, Gibran mengajak Giselle untuk masuk ke dalam rumah.
"Jangan dimasukkan ke telinga, Sayangku," ucap Gibran kepada istrinya itu.
Ada senyuman pias di sudut bibir Giselle. Sejujurnya, Giselle tadi juga berusaha begitu. Namun, sebagai wanita yang sensitif, terlebih hormon kehamilan yang bisa membuat mood swing membuat Giselle sedikit tersakiti dengan ucapan ibu mertuanya.
"Aku rewel dan merepotkan ya, Mas?" tanya Giselle.
Akan tetapi, Gibran dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tuh, kamu terpengaruh ucapan Ibu kan? Aku tadi kan sudah bilang kalau itu tidak berpengaruh sama sekali. Kehamilan wanita A, tidak bisa disamakan dengan wanita B atau C. Begitu, Sayang. Aku juga merasa direpotkan kamu. Justru aku senang bisa merawat kamu sendiri dengan tanganku sendiri," balas Gibran.
Mendengar apa yang disampaikan suaminya, ada anggukan kepala Giselle. Setidaknya, dia merasa lebih baik sekarang. Namun, Giselle juga sepenuhnya setuju bahwa memang kehamilan wanita satu dengan lainnya itu tidak bisa disamaratakan.
"Ya sudah, aku buang teh nya ke belakang dulu, Mas," balas Giselle.
Gibran tersenyum. Tangan pria itu segera terulur dan mengambil cangkir keramik berisi teh itu, kemudian meminumnya perlahan.
"Biar aku saja yang minum. Dengarkan aku ya, Sayang. Walau teh buatan kamu tidak pekat, tapi enak kok. Aroma melatinya juga enak. Serius," ucap Gibran.
__ADS_1
"Kamu bilang begitu bukan untuk mendinginkan hatiku kan Mas?" tanya Giselle.
"Enggak lah, mana pernah aku begitu. Kalau bersama kamu, aku itu paling jujur, Sayang," balas Gibran.
Sekarang, Giselle bisa tersenyum. Tadi sekadar berucap satu patah kata saja tak bisa. Bibirnya seakan terkunci rapat. Sekarang, bibirnya bisa tersenyum.
"Nah, senyum gitu. Bumil harus bahagia. Yang sekiranya gak perlu didengarkan ya sudah, gak usah didengarkan. Abaikan saja. Yang penting kamu tetap menghormati dan menghargai Ibu," kata Gibran sekarang.
"Pasti, Mas. Aku pasti menaruh hormat kepada wanita yang sudah mengandung, melahirkan, dan membesarkan suamiku. Sangat berdosa jika aku berlaku kurang ajar," balas Giselle.
Giselle pun sangat tahu bahwa dia memang harus menghargai ibu mertuanya. Sedari dulu, Giselle juga tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dalam sujudnya, dia juga selalu memohon kepada Allah untuk membalikkan hati Ibu mertuanya. Membuat ibu mertuanya bisa tahu dan merasakan bahwa hati Giselle selama ini selalu tulus.
"Iya, aku tunggu yah. Nanti gantian."
Giselle kemudian segera masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. Sebenarnya sepanjang hari ini, ada satu hal yang Giselle syukuri yaitu tidak mual dan muntah sejak pagi. Namun, ketika sampai di rumah hatinya kembali perih mendengar suara ibu mertuanya.
Akan tetapi, Giselle memang memilih untuk memfilter sendiri setiap ucapan yang dia dengar. Dengan ucapan yang sekiranya menyakiti hatinya dan juga berdampak kepada kehamilannya, memang lebih baik tidak usah dimasukkan ke dalam telinga. Ibarat kata, biarkan saja masuk melalui telinga kiri, dan keluar dari telinga kanan. Sebab, jika terlalu stress dan tertekan yang akan merasakan dampaknya juga Giselle sendiri.
__ADS_1
Sekarang, setengah jam berlalu, Giselle dan Gibran menikmati makan malam dengan menu nasi Goreng yang mereka beli di dekat perumahannya. Sembari bersantap malam, sembari bercerita.
"Aku sebenarnya bersyukur untuk hari ini loh, Mas. Sejak pagi bangun tidur sampai sekarang aku enggak mual dan muntah. Bagiku itu udah anugrah banget. Padahal sebelumnya kan, aku sampai benar-benar lemas. Tadi di kantor, aku juga bisa makan. Habis malahan bekalku. Belum sempat bercerita itu, justru ada Ibu yang datang dan menganggapku rewel dan manja,"cerita Giselle sekarang kepada suaminya.
"Bagus dong, Sayang. Kamu minum obatnya yah?" tanya Gibran kemudian.
"Minum usai sarapan tadi aja, Mas. Aku cuma bicara sama Dedek Bayinya supaya sehat dan bantu Mamanya bekerja, gitu aja sih. Katanya suruh beri afirmasi positif," cerita Giselle.
Mendengar apa yang diucapkan suaminya. Gibran pun menganggukkan kepalanya. Dia sangat senang ketika Giselle bisa menerapkan apa yang Dokter Nuri sampaikan untuk memberikan ucapan positif kepada baby nya. Hal itu terbukti, Giselle tidak mual dan muntah seharian.
"Nah, sekarang udah bisa memberi afirmasi positif ke diri sendiri dan baby nya. Jadi, ketika Ibu datang dan ucapannya kurang berkenan. Gak usah didengarkan, Sayang. Fokus ke kehamilan kamu dulu," ucap Gibran.
"Kira-kira kapan Ibu bisa menerimaku ya, Mas? Sebenarnya aku salah apa sih sama Ibu, sama Ibu benci banget kepadaku," tanya Giselle sekarang.
Gibran menggelengkan kepalanya. "Manusia tak pernah bisa menerka isi hati dan pikiran orang lain, Sayang. Hanya saja, ya aku tidak tahu kok Ibu terus begitu. Padahal dulu, Ibu dan almarhum Bapak juga memberikan restu saja ketika aku berkata ingin menikahi kamu," balas Gibran.
"Iya, ya Mas. Ya semoga nanti Ibu pelan-pelan bisa menerimaku. Aku akan sangat senang jika akhirnya Ibu bisa menerimaku," balas Giselle.
__ADS_1
"Seorang bayi lahir membawa kebahagian dan bisa merekatkan hubungan. Semoga saja, nanti ketika bayi kita lahir bisa memulihkan hubunganmu dengan Ibu. Kita berdoa dan memohon dulu kepada Allah, Sayang," balas Gibran.
Memang sekarang, mereka dalam tahap berharap dan meminta kepada Allah. Semoga saja, Allah akan membukakan pintu. Mempererat hubungan yang selama ini tidak baik.