Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Pagi dalam Keheningan


__ADS_3

Giselle cukup takut ketika harus kembali ke rumah mertuanya. Namun, Gibran meminta kepada Giselle untuk tenang. Menurut Gibran, Giselle tidak perlu takut kepada ibu mertuanya. Yang penting Giselle tetap menaruh hormat kepada ibu mertuanya.


Menghormati tidak sama dengan takut. Selama ini, orang cenderung takut dengan orang lain. Seperti Giselle yang takut jika ibu mertuanya marah kepaadanya. Padahal, dia bisa menghormati ibu mertuanya. Sebab, menghormati ada rasa tanggung jawab dan juga segan. Sementara takut itu akan bersifat lebih mengintimidasi.


"Mas Gibran tidak mencoba minta maaf ke Ibu?" tanya Giselle sekarang.


Hari sudah sore menjelang petang, tapi Giselle masih berada di kamar. Sejak datang hingga sekarang, Giselle memilih untuk tidak turun dari kamarnya. Sebab, juga dia menyingkir sesaat dari setiap ucapan pedas ibunya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Biar Ibu tenang dulu," balas Gibran.


Ya, menurut Gibran jika menenangkan Ibunya sekarang rasanya akan sama saja. Sehingga, lebih baik memberikan waktu kepada ibunya itu untuk tenang, dan memgurai semua amarah dan kekesalannya terlebih dahulu. Barulah nanti atau besok Gibran akan meminta maaf kepada Ibunya. Gibran toh juga tidak membentak Ibunya sama sekali. Yang dia bentak adalah Annisa. Sehingga, memang Gibran merasa tidak menyakiti ibunya. Justru, Gibran berusaha memberikan pengertian agar Ibunya bisa lebih menyayangi Giselle dibandingkan dengan Annisa.


"Besok aku juga akan minta maaf kepada Ibu, Mas," ucap Giselle.


"Kenapa? Bukannya kamu yang selalu disakiti Ibu. Selama aku membawamu ke sini, berkali-kali kamu meminta maaf ke Ibu. Untuk kesalahan yang tidak kamu lakukan pun, kamu mau meminta maaf," ucap Gibran.


Walau kadang diam dan seakan tidak memiliki daya, tapi Gibran memperhatikan Giselle. Istrinya itu begitu sering meminta maaf kepada Ibunya. Ketika dia di salah-salahkan saja, Giselle justru yang minta maaf. Justru, ketika Ibunya yang usai memarahin dan berbicara pedas kepada Giselle, Ibunya yang tidak pernah berusaha untuk meminta maaf.


"Dia ibumu, Mas ... menantu akan menghormati mertuanya. Mau bagaimana pun, aku akan meminta maaf kepada Ibu. Bentuk penghormatanku kepada suamiku juga, apa artinya semuanya jika aku tidak bisa menaruh rasa hormat kepada ibu mertuaku," balas Giselle.


Sesungguhnya Giselle adalah wanita yang santun. Walau dari keluarga kaya raya, tapi dia menaruh rasa hormat kepada ibu mertuanya. Dia sangat tahu bahwa kasih sayang harus disertai dengan rasa hormat. Pengabdian kepada suaminya juga dibarengi dengan rasa hormat kepada mertua. Dalam dua tahun ini, Giselle sudah melakukannya. Akan tetapi, agaknya ibu mertuanya sendiri selalu melihat Giselle dari sisi buruknya. Ketidakcakapannya di dapur, dan juga dirinya yang belum bisa memberikan keturunan.


Padahal jika hanya melihat cela, selamanya juga hanya terlihat celanya saja. Tidak akan bisa melihat sisi lain atau kebaikan Giselle di bidang yang lain, yang bisa menutupi ketidakcakapannya. Namun, jika awalnya sudah tidak suka, sehingga kemungkinan besar Bu Rosa sendiri juga kesusahan untuk bisa menerima Giselle menjadi menantu.

__ADS_1


"Sini dipeluk Mas aja ... tadi Mas hampir gila saat kamu pergi dari rumah. Yang ada dipikiran Mas waktu itu, pokoknya harus kejar kamu. Harus meminta maaf dan membawa kamu pulang ke rumah," ucap Gibran.


Ya, pria itu kini memeluk Giselle. Dia tadi seperti orang gila, berlari naik dan turun anak tangga. Selain itu, Gibran juga memacu mobilnya untuk bisa berjalan lebih cepat karena memang dia tidak mau kehilangan jejak Giselle.


"Aku tuh jatuh cinta kepadamu, Sayang ... tidak ingin kehilangan kamu. Apa pun yang terjadi, kita akan selalu bersama," ucap Gibran sekarang.


"Maaf juga ya, Mas ... tadi sudah kabur-kaburan. Harusnya aku bisa berpikir panjang. Namun, sebulan saja ya, Mas. Kayaknya jika kondisi rumah tidak kondusif seperti ini, juga aku tidak bisa terus-menerus tinggal di sini," aku Giselle.


"Baik, aku akan memikirkannya," balas Gibran.


***


Keesokan harinya ....


Giselle menyetel alarmnya lebih pagi. Itu juga karena dia ingin bangun tidak kesiangan dan bisa memasak terlebih dahulu untuk sarapan keluarganya. Semalam saja saat makan malam, ibu mertuanya tidak turut makan malam. Saat Gibran mengetuk pintu, ibunya hanya menyahut tidak mau makan. Oleh karena itulah, sekarang Giselle berinisiatif untuk bangun lebih pagi dan segera membuat masakan.


Sup ayam dan sayuran sudah tersaji. Teh juga sudah dia seduh. Giselle memilih naik ke atas lagi untuk mandi. Setelah mandi, dia buru-buru untuk turun ke dapur. Menata meja makan. Namun, sampai sekarang ibu mertuanya juga masih belum keluar dari kamar. Padahal biasanya, ibu mertuanya itu yang akan bangun paling pagi di rumah. Jika Giselle belum turun ke dapur, Bu Rosa akan sengaja untuk membuat masakan dengan menumis dengan keras, hingga ada gesekan dari alat tumis dengan wajan atau panci. Jika tidak, pasti ada peralatan yang terjatuh. Seakan menjadi bunyi yang khas agar Giselle bisa segera turun ke dapur. Namun, sekarang rumah itu sangat sepi.


Tepat waktu jam sarapan. Barulah Bu Rosa keluar dari kamar. Dia harus duduk di meja makan. Ada Giselle dan Gibran juga yang sudah duduk di meja makan.


"Pagi Ibu," sapa Giselle mendahului untuk mengucapkan selamat pagi.


Namun, sapaan dari Giselle itu tidak dijawab oleh ibu mertuanya. Memilih diam dan menikmati secangkir teh dengan aroma melati yang sudah tersaji di hadapannya.

__ADS_1


"Pagi, Bu ...."


Giliran Gibran yang menyapa. Namun, Bu Rosa masih diam. Itu tandanya memang Bu Rosa sedang marah. Enggan untuk berbicara dengan Giselle dan Gibran. Di saat yang sama, Giselle memandang suaminya. Seolah ingin berbicara dengan sekadar bersitatap mata saja.


Gibran menganggukkan kepalanya samar. Lebih baik untuk makan sarapan dan kemudian berangkat bekerja. Sebab, juga tidak mungkin hanya menunggu ibunya berbicara. Jika begitu, bisa-bisa keduanya tidak akan berangkat bekerja.


Hanya butuh waktu 15 menit untuk makan. Usai itu, Gibran membantu Giselle untuk mencuci peralatan makan yang usai dipakai. Kemudian keduanya berpamitan kepada Ibunya yang masih marah.


"Kami berangkat dulu, Ibu," pamit Giselle lagi.


Diam. Ya, Bu Rosa masih memilih diam dan membuang muka. Ketika usaha kita untuk berbuat baik, tapi tidak disambut dengan baik jujur saja di dalam hati rasanya tidak enak. Namun, Giselle harus membiasakan diri dengan semuanya. Dia sudah sering diperlakukan seperti ini. Sekarang, harus menenangkan hatinya sendiri.


Begitu keluar rumah, Gibran membukakan pintu untuk Giselle. Biasanya pasangan itu akan berangkat kerja sendiri-sendiri, tapi Gibran sudah meminta Giselle untuk mau berangkat bekerja bersamanya, dan nanti pulangnya Gibran bisa menjemputnya. Di dalam mobil, Giselle bertanya kepada suaminya.


"Ibu marah itu, Mas ... masih diam saja sejak tadi," ucap Giselle.


"Iya, memang kalau marah Ibu akan diam seperti itu. Tidak apa-apa. Nanti kalau sudah ya kembali lagi," balas GIbran.


"Aku merasa bersalah jadinya," balas Giselle.


"Apa kita harus menunggu seharian di rumah, menunggu Ibu berbicara, kan tidak juga, Sayang? Kita juga harus bekerja. Tidak apa-apa. Nanti sore dicoba lagi," ucap Gibran.


"Di rumah Mamaku kalau marah biasanya ngomel-ngomel sih. Palingan satu jam marahnya dan udah. Gak marah lagi. Kalau menghadapi yang diem waktu marah itu malahan bingung," ucap Giselle sekarang.

__ADS_1


"Kan orang juga beda-beda, Sayang. Tidak apa-apa," balas Gibran.


Pagi itu benar-benar hening. Ibunya yang seakan bertapa untuk tidak berbicara. Juga, Giselle dan Gibran juga enggan untuk bersuara. Sebab, juga lebih baik diam terlebih dahulu.


__ADS_2