
Menjelang jam setengah empat sore, barulan Gibran datang. Pria itu berlari begitu keluar dari mobil dan menuju ke ruangan di mana Ibunya dirawat sekarang. Jujur saja, Gibran bingung ketika Giselle mengatakan bahwa ibunya jatuh dan sekarang di bawa ke Rumah Sakit.
"Sayang," suara Gibran menyapa Giselle dengan napasnya yang terengah-engah. Itu juga karena dia seharian mengikuti rapat dengan atasan. Sehingga, handphone sengaja dia non-aktifkan.
Betapa terkejutnya Gibran ketika dia usai rapat, dan beberapa pesan masuk dari istrinya yang mengabarkan bahwa ibunya jatuh dan dibawa ke Rumah Sakit. Sehingga, Gibran pun segera menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas ke Rumah Sakit.
"Mas," sahut Giselle yang masih menunggu di luar.
"Bagaimana Ibu, Yang?" tanya Gibran sekarang kepada istrinya itu.
"Masih operasi pemasangan pen, Mas. Maaf, aku yang mengambil keputusan. Itu karena ada tulang yang patah, sehingga Dokter Spesialis Tulang mengatakan untuk memasang pen. Itu juga setelah tadi dilakukan rontgen dan hasil rontgen dibacakan. Baru masuk untuk operasi setengah jam yang lalu. Maaf Mas, aku lancang," jelas Giselle.
Memang seharusnya yang mengambil keputusan adalah Gibran sebagai anak kandung. Akan tetapi, Giselle yang mengambil keputusan dulu. Walau dia juga tidak tahu apakah Gibran akan seiya dan sepemikiran dengannya. Untuk itulah, dia sekarang meminta maaf kepada suaminya.
Gibran dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Sayang. Yang kamu lakukan sudha tepat. Kamu bahkan rela pulang kerja lebih cepat dan membawa Ibu ke Rumah Sakit. Terima kasih banyak yah," ucap Gibran.
"Mas Gibran gak marah sama aku?" tanya Giselle sekarang.
Dengan cepat Gibran menggelengkan kepalanya. "Tidak ... tidak marah sama sekali. Terima kasih sudah peduli kepada Ibu," balas Gibran dengan menggenggam tangan Giselle.
__ADS_1
Lega rasanya. Tadi Giselle berpikir bahwa mungkin saja suaminya itu sependapat dengannya. Namun, Giselle tidak bisa pikiran lain, yang dia pikirkan bahwa ibu mertuanya harus mendapatkan yang terbaik. Apa pun akan Giselle lakukan untuk membuat ibu mertuanya sembuh.
"Jadi, masih berlangsung operasinya?" tanya Gibran.
"Iya. Nanti juga akan dipasang gips. Ibu terpeleset di rumah, Mas. Katanya Bu Siti dan Bu Harti, waktu hujan deras banget, Ibu itu mengepel lantai. Terus terpeleset, yang jatuh tangannya. Tadi kakinya juga seperti kaku gitu. Ya, kita doakan semoga Ibu tidak kenapa-napa," balas Giselle.
Giselle juga menceritakan kronologi bagaimana ibunya itu bisa jatuh. Setidaknya supaya Gibran juga bisa tahu dan membayangkan. Bahkan Giselle juga mengatakan bahwa tangan ibunya tadi bengkak. Semoga saja setelah dirawat dan mendapatkan pengobatan terbaik, nanti ibu mertuanya bisa sehat dan kembali pulih.
"Iya, Sayang ... terima kasih banyak. Maaf aku terlambat datang. Tadi, aku dua kali mengikuti rapat dengan atasan. Handphonenya aku non-aktifkan. Maaf banget," aku Gibran dengan jujur.
"Tidak apa-apa, Mas. Kan kamu juga sedang bekerja. Tidak apa-apa. Yang penting sih sekarang Ibu sudah dirawat dan mendapatkan pengobatan. Kita tinggal berdoa dan berharap semuanya baik adanya," balas Giselle.
Hampir dua puluh berlalu, akhirnya Dokter pun menyelesaikan operasi. Sembari mengabarkan kepada Giselle kondisi dari Ibu mertuanya.
"Keluarga Bu Rosa," panggil Dokter itu.
Sekarang, Gibran dan Giselle sama-sama berdiri, ingin mendengar apa yang hendak disampaikan oleh Dokter. "Ya, Dokter," balas keduanya bersamaan.
"Pemasangan pen sudah berhasil. Gips juga sudah dipasang. Nah, nanti pen akan dibiarkan dulu kurang lebih tiga bulan yah. Setelah tiga bulan, barulah pen akan dilepas. Sementara pasien harus di gips, kurang lebih dua pekan," jelas Dokter.
__ADS_1
Giselle dan Gibran menganggukkan kepalanya. Memang risikonya harus seperti itu. Semoga saja, nanti tulangnya bisa kembali pulih setelah pen dilepas.
"Nah, usai ini pasien akan dipindahkan ke rawat inap. Pasien ada di kelas 2 yah, sesuai dengan kartu asuransinya."
Giselle kemudian bertanya kepada suaminya dengan sedikit berbisik. "Kita naikkan ke kelas VIP bagaimana Mas?" tanya Giselle.
"Iya, tidak apa-apa," balas Gibran.
Akhirnya, sekarang Giselle dan Gibran mengurus untuk menaikkan ibunya untuk mendapatkan kamar VIP. Nanti mereka hanya membayar selisih kamarnya saja. Giselle juga berkata kepada suaminya tidak usah memikirkan biayanya. Giselle bahkan siap untuk menanggung biaya perawatan ibu mertuanya.
"Makasih, Sayang ... kamu sudah membawa Ibu kemari dan melunasi semuanya," ucap Gibran.
"Tidak apa-apa, Mas. Menantu juga seorang anak kan?" balas Giselle.
Gibran menganggukkan kepalanya. Memang menantu juga adalah seorang anak. Semoga saja kebaikan Giselle ini dipandang baik oleh ibunya juga ketika sadar nanti. Sungguh, Gibran bersyukur. Sebab, untuk urusan menolong orang terlebih keluarga sendiri, Giselle tidak pernah itung-itungan.
"Makasih banyak, Sayang. Walaupun, aku yang melunasinya tidak apa-apa. Ada sedikit tabungan kok," balas Gibran.
"Kamu bayarin kalau aku lahiran aja, Mas. Full, kamu yang bayarin yah," balas Giselle sekarang.
__ADS_1
Akhirnya, Gibran menganggukkan kepalanya. Bersyukur untuk istri yang memiliki hati begitu baik. Bahkan, sangat tulus. Ketika, diperlakukan buruk dan juga selalu mendapatkan ucapan yang kasar, sekarang justru Giselle bak malaikat untuk dia dan ibunya.