Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Mendengarkan Kejujuran Anak dan Menantu


__ADS_3

Gibran dan Giselle hanya diam dan saling pandang. Keduanya memiliki pemikiran dan ketakutan masing-masing sebenarnya. Selain itu, yang mereka hadapi bukan pelakor atau pebikor, tapi yang mereka hadapi adalah mertua sendiri. Rasanya tabu dan malu mengungkap bagaimana prahara rumah tangganya selama tinggal bersama mertuanya.


"Jangan diam. Kami sebagai orang tua juga berhak tahu bukan atas semua yang terjadi kepada kalian berdua?"


Papa Jaya memberikan penjelasan dengan pelan-pelan. Dia juga berharap bahwa Giselle dan Gibran bisa terbuka kepadanya. Tidak perlu takut.


"Terbukalah ... tidak perlu merasa takut, karena Mama dan Papa tidak ingin kalian takuti. Hormati kami sebagai orang tua, dan jadikan kami teman untuk bertukar pikiran," ucap Papa Jaya.


Giselle diam karena dia memberi waktu kepada suaminya untuk bisa menjelaskan semuanya. Bagaimana pun, Gibran memiliki wewenang untuk menjelaskan semua kepada mertuanya. Lagipula, Papa Jaya sudah berbicara bahwa dia hanya ingin bertukar pikiran dengan anak-anaknya saja.


"Begini, Papa ... sebenarnya memang ada masalah di dalam rumah tangga kami berdua. Bukan karena pihak ketiga, sekali-kali bukan karena Gibran sangat mencintai Giselle. Namun, masalah dalam rumah tangga kami disebabkan oleh Ibu Gibran sendiri. Maaf, Gibran tidak bisa menjelaskan secara gamblang. Bagaimana pun, beliau adalah wanita mulia yang sudah mengandung Gibran selama sembilan bulan, melahirkan, dan membesarkan Gibran. Yang pasti, kami tinggal di sini karena Gibran ingin mencari jalan tengah. Gibran ingin mencintai Giselle, dan merawat Ibu. Hanya itu," cerita Gibran kepada mertuanya.


Bagaimana detailnya masalahnya, Gibran tidak bisa menjelaskan dengan detail. Yang pasti adalah dia ingin mempedulikan istri dan ibunya. Meski tidak adil, karena keadilan juga bersifat relatif, tapi Gibran berusaha untuk bisa menyeimbangkan keduanya.


"Kenapa sejak dulu tidak pernah bercerita?" tanya Papa Jaya.


Giselle sekarang yang menggelengkan kepalanya. "Kami ingin menyelesaikannya sendiri, Papa. Bagaimana pun, menjaga hubungan kedua keluarga itu tidak mudah. Oleh karena itu, Giselle tak pernah bercerita kepada Mama dan Papa."


Mama Diana yang tampak terluka menatap iba kepada putri bungsunya itu. "Mama dan Papamu memiliki kehidupan yang bahagia, tapi pernikahan anak-anak kami penuh luka. Kakakmu yang sekarang berada di penjara, hingga kamu yang dibenci oleh ibu mertuanya. Mama sedih, Selle. Kami ingin anak-anak kami juga memiliki pernikahan yang bahagia. Jangan terlalu menutup diri, Giselle. Jika, kamu tidak bercerita bagaimana kami tahu tentang keadaan kalian berdua," ucap Mama Diana.


"Giselle mengira dengan bertambah hari Ibu bisa sayang dan menerima Giselle, Ma. Bagaimana pun ibu mertua sama dengan seorang Mama kan? Giselle juga rindu seperti Mama dan Papa yang sayang kepada Mbak Kanaya. Giselle juga merindukan kehidupan pernikahan seperti Mbak Kanaya dan Mas Bisma sekarang. Bahagia bersama, disayang Mama dan Papa, dan juga disayang keluarga Mas Bisma. Apa semua itu mustahil, Ma?"


Ya, Giselle juga merindukanmu kehidupan pernikahan bahagia seperti Kanaya dan Bisma. Kanaya mendapat kasih sayang dari keluarga Wardhana dan dari keluarga suaminya. Mengharapkan hal demikian apakah hal yang mustahil untuk Giselle?


"Tidak salah, Nak ... kita mengharapkan hal yang benar dan baik bukan sebuah kesalahan. Yang salah adalah kita mengharap yang tidak baik untuk orang lain. Namun, sejauh ini Papa bangga kepada kalian. Tidak mudah bukan seatap dengan mertua? Namun, kalian tidak membalas, tidak mengucapkan sumpah serapah, tetap menghargai ibu. Seorang ibu bagaimana pun tabiatnya adalah tetap seorang ibu. Langkah selanjutnya yang ingin kalian ambil apa?" tanya Papa Jaya sekarang.


"Gibran sih dengan mengambil rumah di sini, bisa sembari merawat Ibu, Papa. Bagaimana pun putranya Ibu hanya Gibran. Sementara Ibu juga tinggal sendiri. Gibran beruntung Giselle begitu pengertian, Pa. Gibran bisa bolak-balik ke rumah. Walau tidak seatap, bukan berarti Gibran tidak sayang kepada Ibu kan?"

__ADS_1


Gibran menjawab. Jujur saja untuk Gibran yang sebenarnya adalah pria yang introvert dan berusaha untuk menjelaskan isi hatinya seperti ini sangat tidak muda. Akan tetapi, Gibran pun berusaha untuk jujur. Walau masalah mereka bertiga tidak perlu dijelaskan dengan detail.


Papa Jaya dan Mama Diana menganggukkan kepalanya. Tahu dengan kondisi Gibran sekarang. Mereka juga paham pastilah Gibran juga tertekan. Hanya saja, karakter Gibran yang diam, mungkin juga tidak bisa menceritakan semuanya kepada orang lain.


"Ya, dekati baik-baik. Tunjukkan saja bahwa kamu selalu menyayangi dan juga peduli dengan ibu. Menantu bukan saingan untuk mertuanya. Begitu pula sebaliknya. Jadi, pelan-pelan saja Gibran ... sabar," balas Papa Jaya.


Ada hal yang Papa Jaya tunjukkan bahwa baik mertua dan menantu bukanlah saingan. Justru keduanya bisa saling menyayangi layaknya orang tua dan anak kandung. Bahkan menantu yang baik dan peduli adalah berkah untuk mertua. Tak jarang mertua dikarunia menantu yang sangat baik melebihi sikap anak kandungnya sendiri.


"Iya, Pa ... biarkan Giselle di sini, setidaknya Giselle memerlukan ketenangan. Gibran saja yang akan bolak-balik ke rumahnya Ibu," balas Gibran.


"Kalau komitmen kalian berdua dengan pernikahan bagaimana?" tanya Papa Jaya kepada Gibran dan Giselle.


"Gibran sangat mencintai Giselle, Pa. Walau Gibran belum bisa memberikan yang terbaik. Gibran percaya pelan-pelan dengan kerja keras nanti bisa kami gapai. Maafkan Gibran, Pa ... dalam dua tahun ini, belum banyak yang Gibran lakukan untuk Giselle," jawabnya.


Komitmen untuk mencintai dan selalu bersama itu tentu ada. Namun, Gibran menyadari dalam dua tahun ini belum bisa memberikan hidup yang mewah untuk Giselle. Ada rasa malu karena mertuanya itu begitu kaya raya. Sementara GIbran sendiri hanya pekerja di perusahaan biasa saja. Terlebih sekarang, pastilah rumah sederhana ini sangat tidak sebanding dengan mansion mewah keluarga Wardhana.


"Giselle juga mencintai Mas Gibran, Pa. Yang Giselle cari bukan kemewahan. Yang Giselle cari adalah kehidupan pernikahan yang bahagia. Sering kali harta dunia tak bisa memberikan kebahagiaan, Pa. Giselle juga tidak keberatan hidup seperti ini. Asalkan ada Mas Gibran, ikatan hati kami kuat, Insyaallah ... kami berdua akan bahagia," balas Giselle.


"Gibran, Ibu kamu bilang rumah ini kamu beli dengan kredit perumahan rakyat selama 15 tahun yah? Apa itu benar?" tanya Papa Jaya.


Rupanya di rumahnya Ibunya sudah berbicara yang tidak-tidak sampai mengatakan juga kepada mertuanya perihal rumah ini yang dibeli dengan sistem kredit perumahan rakayat. Namun, Gibran juga memilih jujur saja.


"Iya, Pa ... Gibran mengambil KPR. Maaf, Pa ... terlihat memalukan yah?" tanya Gibran dengan menundukkan wajahnya.


"Tidak, Gibran. Tidak ada yang salah. Tidak memalukan juga. Justru itu adalah keseriusan kamu untuk melindungi dan memberikan rasa aman untuk putri Papa. Bahkan, kamu tidak meminta bantuan dari Papa sama sekali. Itu berarti kamu adalah pria yang bertanggung jawab. Papa justru bangga sama kamu," balas Papa Jaya.


Ya, Papa Jaya adalah seseorang yang menghargai proses. Justru dia merasa bangga dengan Gibran karena sebagai suami, dia sudah berjuang memberikan rasa aman dan perlindungan untuk putrinya. Walau terlambat dua tahun, tapi itu lebih aman daripada tidak melakukannya sama sekali. Selain itu, jika Gibran memang menginginkan harta Wardhana yang berlimpah, Papa Jaya bisa dengan sukarela memberikannya. Namun, Gibran tidak. Dia lebih suka bekerja keras, wujud nyata bahwa pria itu adalah sosok yang mau berproses dan juga mau bekerja keras.

__ADS_1


"Papa ...."


Suara Gibran yang disertai dengan helaan napas yang panjang. Tidak menyangka bahwa mertuanya yang kaya raya justru bangga kepadanya. Padahal, Gibran percaya belum bisa memberikan kemewahan untuk Giselle.


"Teruslah berproses, Gibran. Papa yakin suatu saat nanti semua kerja kerasmu akan berbuah manis. Papa juga tidak menawarkan bantuan. Sebab, Papa yakin kamu juga pasti tidak mau menerimanya bukan?" tanya Papa Jaya sekarang.


Gibran dan Giselle sama-sama tersenyum. Itu juga karena Papanya sudah tahu dengan karakter menantunya. Tidak akan menawarkan bantuan bukan berarti pelit. Namun, itu adalah bentuk menghargai usaha Gibran yang memang mau bekerja keras dan juga berusaha menghadirkan kebahagiaan dengan caranya sendiri untuk Giselle.


"Iya, Papa ... jangan membantu Gibran dengan mengasihani. Gibran tidak mau. Gibran bisa bekerja keras. Yang pasti putri Papa tidak akan kepanasan dan kehujanan. Nafkah juga Gibran bisa berikan walau tidak banyak. Semua cukup," balasnya.


Papa Jaya menganggukkan kepalanya. "Papa sudah tahu karakter kamu. Namun, Papa ingin membantu sedikit belilah perabotan rumah tangga. Kali ini tidak boleh menolak," ucap Papa Jaya kepada Gibran dan Giselle.


"Pa, tidak usah," balas Giselle terlebih dahulu.


"Terima yah ... bukan kasihan. Ini kasih sayang Mama dan Papa untuk kalian. Tagihan rumah kalian, itu urusan Gibran. Papa hanya ingin membelikan perabotan saja. Dulu, Papa juga membelikan untuk Kakak Iparmu Sandra, dan untuk Mbak Kanaya. Sama. Ketiga anak, Papa dan Mama perlakukan sama," balas Papa Jaya.


"Terima kasih, Pa ... terima kasih membiarkan Gibran bekerja keras dan membayar cicilan rumah," balas Gibran.


"Ya, terus bekerja keras, Gibran. Padahal, kalau kamu mau pindah ke Jakarta. Jaya Corp membutuhkan pekerja keras seperti kamu, Gibran. Kamu bisa bekerja sama dengan Mbak Kanaya. Mengembangkan Jaya Corp," balas Papa Jaya.


Gibran tersenyum perlahan. "Maaf, Papa ... kalau kami pindah ke Jakarta, tidak ada yang mengurus Ibu. Suka duka anak tunggal," balasnya.


Papa Jaya merespons dengan menganggukkan kepalanya. Sangat tahu dengan kondisi Gibran sekarang. Memang dia hanya anak tunggal, sekarang waktu dan perhatiannya juga dibagi untuk ibunya dulu.


"Papa juga tahu itu. Jaya Corp akan maju di tangan anak-anak muda yang mau bekerja keras, mau melihat perkembangan zaman, dan mau bergerak maju dengan cepat. Mbak Kanaya saja sudah mulai Papa persiapkan ke arah sana," aku Papa Jaya dengan jujur.


"Menurut Giselle, Mbak Kanaya sosok yang tepat, Pa ... bertahun-tahun di Jaya Corp juga membuahkan hasil yang bagus," balas Giselle.

__ADS_1


Papa Jaya menganggukkan kepalanya. "Iya, dia juga bekerja dengan rapi dan sangat bersih. Itu nilai plus Kanaya. Maaf, untuk Kakakmu, Darren ... Papa tidak yakin untuk memberikan Jaya Corp kepadanya. Sudah dua kali dia merusak citra Jaya Corp," balas Papa Jaya.


Gibran dan Giselle sama-sama menganggukkan kepalanya. Bisa memahami dengan pandangan dan pola pikir Papanya. Namun, Giselle sudah sepakat bahwa memang Kanaya adalah sosok yang tepat untuk memimpin Jaya Corp. Sementara untuk Gibran tetap akan berusaha menyeimbangkan hidup, rumah tangga, dan ibunya.


__ADS_2