Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Komitmen Satu Istri


__ADS_3

Begitu sudah memasuki kamar mereka, Gibran menghela nafas. Beberapa kali pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Setelahnya, Gibran segera memeluk Giselle.


Dia tahu sejak tadi Giselle hanya diam. Namun, diamnya Giselle tentu adalah diam dalam kesedihan. Memang sebagai menantu, Giselle lebih memilih sering kali diam ketika mertuanya itu menyudutkannya. Akan tetapi, ketika tadi dengan terang-terangan dibanding-bandingkan dengan Annisa, jujur hati Giselle terasa sakit.


Giselle hanya wanita biasa. Ada kalanya dia berharap semua usahanya untuk rumah mertuanya dihargai. Bukan malah dibanding-bandingkan seperti ini. Ketika dibandingkan dengan orang yang notabene baru, tentu Giselle sedih.


"Maafkan Ibu ya, Sayang ...."


Gibran berbicara seolah mewakili ibunya. Dia tahu, ibunya sering kali menyakiti hati Giselle. Oleh karena itulah, dia meminta maaf untuk ibunya kepada istrinya.


Dipelukan Gibran, semua air mata tumpah dengan sendirinya. Ingin merespons apa pun yang pasti sekarang hatinya merasa begitu sakit. Hampir dua tahun, selalu memberikan bagian dari gajinya untuk Ibu mertuanya, tapi tidak pernah terlihat. Sementara, wanita yang baru datang dan mengajaknya ke salon untuk creambath justru dipuji-puji.


"Pasti sangat sakit bukan dibanding-bandingkan? Maaf yah," ucap Gibran lagi.


Giselle menyeka air matanya, dan perlahan mengurai pelukan Gibran di tubuhnya. "Mas, untuk beberapa hari, bolehkah aku pulang ke rumah Mama dan Papa?" tanya Giselle kemudian.


Giselle merasa dia membutuhkan waktu untuk tenang. Waktu untuk instropeksi diri. Waktu untuk memikirkan rumah tangganya apakah akan selalu seperti ini. Titik jenuh yang mulai dia rasakan, membuat Giselle ingin menepi untuk beberapa hari.


"Tidak, Sayang. Tempatmu di sini, di sisiku," balas Gibran.

__ADS_1


Walau dia tahu tujuan Giselle pulang sementara ke rumah Mamanya untuk menenangkan diri. Namun, Gibran berusaha untuk mempertahankan Giselle. Gibran ingin Giselle bisa selalu ada di sisinya.


"Bagaimana dengan rumah tangga kita, Mas? Kemungkinan besar, selamanya aku tidak akan bisa mendapatkan hatinya Ibu. Beliau sudah memiliki calon menantu idaman yang lebih cantik, yang baik hati. Tidak seperti diriku yang penuh dengan kekurangan," ucap Giselle dengan terisak.


Puncak dari luapan emosi yang Giselle rasakan. Bagaimana pun, rasanya tidak akan mudah mendapatkan hati ibu mertuanya sendiri. Pernikahan bukan tentang dengan orang yang kita cintai, tapi juga dengan keluarganya. Sementara, Giselle seolah tidak pernah bisa diterima oleh mertuanya sendiri.


"Nanti akan tiba saatnya, hati Ibu akan berbalik kepadamu," balas Gibran.


Hanya ada harapan bahwa suatu hari nanti ibunya akan menaruh hati kepada Giselle. Bisa menyayangi Giselle, dan juga memulihkan hubungan mertua dan menantu yang selama ini tidak akur.


"Bahkan Ibu sudah menyukai Annisa, yang baru beberapa kali ditemuinya," balas Giselle.


Kali ini dada Giselle rasanya begitu sesak. Tertolak oleh mertua sendiri. Selain itu, mertuanya lebih menyukai wanita lain yang dulu pernah menjadi pacar Gibran. Wanita mana pun tentu akan sakit hatinya. Tidak ingin berhadapan lagi dengan masa lalu suaminya. Akan tetapi, sekarang Giselle harus merasakan semua rasa pahit itu.


Sekarang Gibran benar-benar berbicara dengan sungguh-sungguh. Berkomitmen penuh hanya akan memiliki satu istri. Walau Ibunya akan terus mendesaknya, tapi Gibran berketetapan tidak akan membagi biduk rumah tangganya dengan wanita lain.


"Mas, aku sangat tahu ... poligami dalam agama kita diperbolehkan, tapi aku sebagai wanita tidak ingin membagi suamiku. Jika, suatu saat Mas Gibran berubah pikiran. Tolong, beritahu aku, dan aku dengan sukarela melepaskan diri dari ikatan kita dan keluar dari rumah itu," ucap Giselle dengan berderai air mata.


Benar, dalam keyakinan Giselle sebagai seorang muslim, poligami itu dibenarkan. Namun, poligami pun terjadi jika memang istri pertama mau memberikan izin dan ikhlas berbagi suaminya. Akan tetapi, Giselle tidak ingin dimadu. Jika benar, suaminya memilih Annisa nanti, maka Giselle akan bersedia mundur dengan sukarela.

__ADS_1


"Jangan bicara yang macam-macam, Sayang. Aku saja membahagiakan kamu belum bisa. Gajiku saja tidak bisa mencukupi dua keluarga. Aku bukan pria yang stabil secara ekonomi. Selain itu, yang aku cintai hanya kamu. Aku janji untuk selalu membuktikan komitmenku ini. Satu istri, satu cinta untuk selamanya," balas Gibran.


Bukan hanya berkomitmen, tapi terlihat juga bagaimana seorang Gibran yang adalah seorang pria, seorang suami, dan kepala rumah tangga mau menurunkan egonya. Mengakui bahwa dia belum bisa membahagiakan Giselle sepenuhnya. Semua itu terbukti dengan sokongan dana setiap bulannya dari Giselle untuk keluarganya.


"Maafkan aku, aku belum bisa memberikan yang terbaik. Belum bisa membahagiakanmu. Justru tinggal bersamaku, semakin berat deritamu. Namun, tetaplah berada di sisiku, Sayang. Sudah dua tahun kita melewati semua ini. Di tahun-tahun mendatang pasti kita akan lebih kuat," balas Gibran.


Giselle tersedu-sedan. Rasa sakit dan kecewa di dalam hati benar-benar tak terperi. Memang bukan pengkhianatan cinta dari suaminya, tapi memang dia tidak berhasil mendapatkan hati ibu mertuanya.


"Sabarlah bersamaku ya, Sayang ... aku memohon kepadamu," balas Gibran.


Nyaris saja Gibran hendak menundukkan dirinya dan berlutut di hadapan Giselle. Dia memohon kepada Giselle untuk bisa sabar selama menjadi istrinya. Dengan cepat, Giselle menahan suaminya dan menggelengkan kepalanya. Tangisannya kian pecah, walau itu adalah isakan tanpa suara.


"Jangan seperti ini, Mas."


Hiks.


Sangat sakit, sangat perih. Namun, Giselle tak ingin melihat suaminya harus melakukan hal seperti ini. Dia menahan suaminya, dan segera menghambur untuk memeluk suaminya itu.


"Jangan seperti ini," ucap Giselle lagi dengan berderai air mata dan membenamkan wajahnya di dada suaminya.

__ADS_1


"Jalan yang kita lalui bersama masih penuh liku dan juga kita masih berputar-putar di padang belantara. Namun, percayalah di tahun-tahun mendatang, kita akan menemukan sabana hijau yang teduh. Jangan menyerah yah," ucap Gibran sekarang.


Giselle menganggukkan kepalanya. Dia mengiyakan ucapan suaminya. Sembari di dalam hati Giselle mengharap akan menjadi hati dan kasih sayang dari ibu mertuanya.


__ADS_2