
Tiba di Rumah Sakit, kondisi Giselle segera ditangani oleh seorang bidan. Itu semua juga karena Dokter Nuri sedang dalam perjalanan. Bidan itulah yang melakukan pengecekan dalam, dan memberikan penjelasan bahwa ternyata sudah terjadi pembukaan lima.
Ketika bersalin, pembukaan lima adalah pembukaan aktif sehingga, pasien biasanya sudah diminta untuk tinggal rumah sakit. Selain itu, jarum infus atau intravena juga mulai dipasang di tangan Giselle.
Gibran jujur saja tidak tega. Akan tetapi, dia menguatkan hatinya sendiri dan akan terus menemani Giselle. Tidak meninggalkan Giselle sendirian di brankar kesakitan.
***
Selang satu jam, rupanya Dokter Nuri datang dan mulai mengecek kembali kondisi Medhina. Kali ini, Dokter Nuri juga akan melakukan cek dalam untuk Giselle. Walau, Giselle menolak, tetapi harus melaksanakan prosedur medis.
"Sekarang mohon dengarkan instruksi saya ya Bu Giselle. Buka kakinya, ya ... di bagian paha, tarik napas panjang dan jangan berpikiran yang aneh-aneh. Saya akan melakukan cek dalam, dan jangan mengejan ya Bu. Tunggu. Satu ... dua ... tarik nafas ... tahan!"
Mulailah tiga jari Dokter Nuri masuk untuk melakukan pemeriksaan dalam, begitu tangan itu keluar memang terlihat darah dari serviks di sana.
"Sudah pembukaan tujuh ternyata Bu Giselle ... dan air ketubannya juga sudah rembes yah. Jadi ini sudah setengah jalan Bu Giselle, sekarang juga Bu Giselle bisa bersiap. Kita akan menunggu sampai pembukaan telah lengkap, dan si baby siap untuk dilahirkan," ucap Dokter Nuri.
"Nah, pembukaan tujuh ini sudah fase pembukaan aktif jadi rasa kontraksi yang datang akan lebih sering dan lebih sakit. Ibu bisa berbaring nanti miring ke kiri ya Bu. Memang disarankan untuk miring ke kiri untuk mempercepat bukaan jalan lahir. Namun, jika kecapekan, bisa mengubah posisi," jelas Dokter Nuri lagi.
Baik Giselle dan Gibran sama-sama menganggukkan kepalanya. Keduanya pun tidak menyangka bahwa pembukaan yang dialami Giselle sudah sampai ke pembukaan tujuh. Semoga saja tidak membutuhkan waktu lama dan baby mereka akan segera lahir.
"Nah, karena ini persalinan normal maka Bu Giselle masih bisa makan dan minum. Tidak diharuskan untuk berpuasa. Jika masih kuat jalan-jalan juga tidak masalah. Sekarang Bu Giselle akan tetap berada kamar rawat inap dulu, dan nanti jika interval kontraksinya kian rutin, bisa menekan tombol di atas kepala dan perawat yang berjaga akan bertindak," jelas Dokter Nuri.
Kemudian Gibran sendiri yang mengikuti perawat yang akan membawa Giselle untuk menempati kamar rawat inapnya. Di dalam hatinya, Gibran pun bingung, tetapi dia berketetapan akan terus mendampingi istrinya itu.
"Sakit Sayang?" tanya Gibran dengan menghela nafasnya.
"Sakit ... cuma masih bisa tahan kok," balasnya.
Memang rasanya sakit. Sakit karena kontraksi dan sekarang sakit karena jarum suntik. Jika bisa, sebenarnya Giselle tidak ingin dipasangi jarum infus saja. Sebab rasa sakitnya seolah ganda. Sakit karena kontraksi dan sakit karena nyeri akibat jarum intravena. Namun, prosedur dari Rumah Sakit begini adanya, sehingga mereka harus mengikuti prosedur itu.
"Kuat ya Shayang ... aku temenin. Kamu ingin melahirkan dan ditemani aku kan? Sekarang aku temenin. Sudah lebih dari setengah jalan Sayang ... semoga si adik bayi makin pinter cari jalan lahirnya yah ... dia juga sudah tidak sabar pengen ketemu sama Mama dan Papanya," ucap Gibran.
Giselle yang sekarang berbaring ke kiri, beberapa kali menahan rasa sakit yang datang saat gelombang cinta dari bayinya yang mereka ketahui jenis kelaminnya perempuan itu datang. Rasa perih, berubah menjadi rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara tangan Gibran selalu menggenggam tangan Medhina. Tidak akan membiarkan istrinya itu seorang diri. Berharap dengan menggenggam tangan Giselle merasa bisa berbagi rasa sakit.
"Adik bayi pinter yah ... Mama sudah menangis nih Sayang. Jangan lama-lama ya Sayang ... kasihan Mama kamu," ucap Gibran.
Sebab, Gibran juga tidak sampai hati melihat Giselle yang beberapa kali mendesis dan menahan rasa sakit. Gibran tahu bahwa melahirkan itu sangat sakit, karena itu dia berharap Giselle akan selalu kuat.
"Sssttss, sakit lagi Mas ... perut dan pinggangku," ucapnya.
Mendengarkan keluhan sakit dari istrinya, tangan Gibran pun bergerak dan memberikan usapan naik dan turun di punggung hingga pinggang Giselle.
__ADS_1
"Diusapin yah ... biar sakitnya berkurang. Bagi sakitnya sama aku Sayang ... bahkan kalau bisa aku saja yang sakit, kamunya sehat-sehat," balas Gibran.
Giselle memejamkan matanya. Sungguh luar biasa rasa sakit kali ini. Rasa sakit yang melebihi sakitnya saat melakukan pemeriksaan dalam. Rasa sakit yang membuat seluruh tubuhnya sakit. Giselle sampai menyatukan gigi-giginya dan berupaya terus bertahan saat badai kontraksi itu datang.
Sudah beberapa jam berlalu, dan Giselle masih berusaha menahan. Sementara Gibran sangat tahu karena rintihan Giselle yang terdengar hingga menyayat hatinya. Namun, di sisi lain Gibran pun tidak bisa berbuat apa-apa.
“Mau minum dulu?” tawar Gibran kepada istrinya.
“Boleh … minum dikit saja Mas,” balasnya.
Dengan cekatan Gibran membukakan botol air mineral itu, membuka sealnya. Kemudian Gibran menaruhkan sedotan plastik dan memegangi botol itu, membantu Giselle untuk minum. Pria itu terlihat gesit dan cekatan untuk menolong istrinya.
Usai Giselle selesai minum, Gibran menyeka buliran air mata di wajah Medhina, “Beberapa hari lalu, kamu bilang mau merasakan gelombang cinta dari adik bayi. Sekarang waktunya, semoga … tidak lama lagi ya Sayangku. Lihatlah, suamimu ini akan selalu mendampingi kamu. I Love U So Much!”
Walau jantung Gibran sendiri berdebar-debar. Walau perutnya juga merasa begitu mulas, tetapi Gibran akan melawan semua itu. Dia akan menjadi suami siaga yang menjaga istrinya, tidak akan melewatkan momen yang paling berharga dalam hidupnya itu.
"Aku baru tahu kalau mau melahirkan sesakit ini?" ucap Giselle. Di sela-sela tangisannya, wanita itu sedikit tertawa. Ya, tawa yang bercampur dengan tangisan. Sungguh luar biasa rasanya.
"Benar Sayang ... aku membaca di sebuah artikel kalau melahirkan itu seluruh tulang rasanya seperti diremukkan. Sakit yang benar-benar dahsyat. Hanya saja, aku yakin pasti kamu bisa melampaui semuanya ini," balas Gibran.
Setidaknya itu adalah seri pengetahuan yang dia baca, melahirkan memang sesakit itu. Namun, rasa sakit yang menghantam akan berubah menjadi kebahagiaan yang tak terperi begitu bayi kecilnya nanti lahir.
Gibran sungguh iba, hatinya hancur menatap istrinya yang kesakitan seperti ini. Pria itu mengikis jaraknya dengan sang istri, satu tangan Gibran bergerak untuk menyusuri garis mata Giselle, kemudian ibu jarinya menyentuh dua kelopak mata di sana dengan begitu lembut.
"Makasih Mas, padahal di rumah tadi aku sudah pengen menangis. Cuma, aku tahan-tahan. Temani aku yah," balas Giselle .
Air mata kembali menitik membasahi wajah ayunya. Rasanya rasa sakit yang datang benar-benar lebih sering intervalnya, dan juga daya tahan tubuhnya sendiri juga mulai menipis. Tanpa Giselle sadari ada sesuatu yang basah keluar dari bawah sana dengan begitu deras, disertai rasa sakit yang amat sangat.
"Basah Mas ... ini basah, mungkin ketubannya," ucap Giselle.
Guguplah Ravendra, tanpa pikir panjang Gibran menekan tombol yang ada di atas kepala Giselle. Sebagai pria yang tidak memiliki pengalaman menemani persalinan tentu saja Gibran merasa gugup, panik, dan takut menjadi satu.
Hanya sekian menit waktu berlalu, seorang perawat datang dan lagi-lagi melakukan cek dalam. Giselle menangis saat perawat melakukan cek dalam lagi. Wanita itu benar-benar terisak kali ini, mendesis sakit.
"Sudah pembukaan 9 Bu ... sekarang kami akan pindahkan ke ruang tindakan yah. Perawat dan Dokter Nuri juga sudah bersiap," ucap perawat itu.
Mendengar nama Dokter Nuri disebut, rasanya Giselle merasa lega karena ada Dokter yang sudah dikenalnya dan begitu baik padanya. Beberapa perawat masuk dan mulai menggeledek brankar Giselle menuju ruang tindakan persalinan. Sementara Gibran juga berjalan mengikuti para perawat itu. Sedetik pun Gibran tidak melepaskan tangannya untuk terus menggenggam tangan Giselle.
Ketika sudah berada di ruang tindakan, Gibran beberapa kali memberikan usapan di kening dan puncak kepala istrinya, masih berusaha untuk menenangkan istrinya itu. Dia memenuhi janjinya untuk terus menemani Giselle. Berada di sisi Giselle.
Tekanan di perineum, usus, dan juga kandung kemih membuat perut Giselle seakan diremas tanpa ampun. Tak jarang rasa sakit itu menghadirkan rasa pegal, tubuh yang merasa panas, dan sakit hingga area pangkal paha. Hingga akhirnya Giselle mendesis, bagian perutnya terasa begitu kencang dan merasakan ada sesuatu yang rasanya ingin keluar.
__ADS_1
"Ssstttss, sakit Mas ... Mas, sakiittt," desisnya lirih dengan berurai air mata.
Kemudian Dokter Nuri mulai memeriksa lagi, dan ternyata pembukaan sudah lengkap. Ya, sudah pembukaan sepuluh. Itu artinya waktu melahirkan akan segera tiba.
"Sudah lengkap pembukaannya, Bu Giselle ... jika perut terasa kencang, dan ada rasa ingin mengejan, langsung ambil napas dalam-dalam dan keluarkan ya Bu. Jika tidak terasa kontraksi, jangan mengejan karena akan merobek jalan lahir," jelas Dokter Nuri.
Giselle langsung mempersiapkan diri dan memegang kuat lengan suaminya. Gibran pun juga mempersiapkan diri dan hatinya, menemani proses yang sungguh luar biasa itu. Gibran terlihat begitu kuat menemani Giselle mengejan satu per satu seolah nafasnya nyaris putus di telinganya. Teriakan dan isakan tangis bercampur menjadi satu.
"Ayo Sayangku ... pasti bisa. Kita ulangi lagi yah," ucap Gibran.
"Aku ... aku sakit banget, Mas," ucap Giselle.
Kemudian Giselle menatap ke Dokter Nuri yang berada di dekat pinggulnya. "Dokter, sakit," keluhnya dengan berurai air mata.
"Ayo Bu Giselle, sedikit lagi. Kepala babynya sudah kelihatan, dorongan lagi yang kuat di panggul, sudah pasti si baby akan keluar," ucap Dokter Nuri.
Tidak berselang lama Giselle kembali merasakan perutnya mengencang, wanita itu menangis sembari mengambil nafas dalam-dalam. Sementara Gibran turut menangis melihat Giselle yang begitu kesakitannya.
"Yuk Sayangku ... aku temani, aku dampingi," ucapnya berbisik lirih di telinga Giselle.
"Kalau aku enggak kuat," balas Giselle dengan mata yang seakan meredup. Wanita itu rasanya tak lagi kuasa merasakan sakit yang menghantamnya berjam-jam lamanya.
"Sssttts, jangan berbicara sembarangan Sayang ... yuk, aku dampingi, kamu pasti bisa. Kamu enggak pengen ketemu baby kita? Buah cinta kita berdua?" Gibran menyahut dan menggenggam tangan Giselle dengan begitu eratnya.
Giselle menangis sesegukan. Wajahnya memeras, matanya sembab dan pedih, ditambah rambutnya yang sudah tidak rapi lagi. Sungguh sakit rasanya, air mata yang kian berderai hingga membuat wajahnya basah.
"Ayo Bu Giselle, beberapa ejanan lagi. Yuk, tinggal menunggu Ibu mengejan, ini perutnya sudah kencang kan? Sekarang tarik nafas dalam-dalam ... kemudian keluarkan!"
Mendengar instruksi yang diberikan Dokter Nuri, Giselle kian membuka pahanya, wanita itu kembali memegangi lengan Gibran, mencengkeramnya. Begitu perutnya terasa kencang Giselle mengambil nafas dalam-dalam, mengejan sekuat tenaga, mendorong tubuhnya ke depan. Beberapa ejanan ...
"Eekkk ... ahhh ... Mas!"
Teriakannya disertai air mata yang begitu derasnya.
Semua daya dan upaya benar-benar Giselle kerahkan, hingga terdengar tangisan suara bayinya yang membuat Gibran dan Giselle sama-sama menangis.
"Kamu hebat, Sayangku. Kamu Mama yang hebat!" Gibran mengatakan semua itu dan mengecup kening istrinya.
Di bawah sana, di antara darah yang keluar, ada seorang bayi yang baru saja melihat dunia dengan kedua matanya yang belum sepenuhnya bisa menangkap objek di depannya. Tangisan bayi yang begitu kencang, hingga menggetarkan dada Giselle dan Gibran. Bayi kecil mereka sudah lahir sekarang.
"Selamat ya Bu Giselle dan Pak Gibran... bayinya ... Perempuan yah. It's a baby girl," ucap Dokter Nuri dengan mengangkat bayi laki-laki yang kulitnya merah dan mengenakan lampin saat mengangkatnya.
__ADS_1
Oh Tuhan, ini sungguh amazing momen. Momen yang akan selalu diingat dan dikenang oleh Giselle dan Gibran. Momen penuh air mata dan kebahagiaan saat menyambut bayi mereka.
Welcome Baby Girl!