
Sungguh luar biasa peraduan malam ini. Entah itu karena rindu yang membuncah, atau karena sudah lama tidak mereguk puncak asmara seperti ini. Walau percintaan begitu menggelora, tapi Gibran berusaha pelan-pelan dan tidak menyakiti sang istri. Tidak menekan perut Giselle.
Usai itu, Gibran berguling di sisi Giselle, supaya tidak menindih Giselle terlalu lama dan tidak menekan bagian perutnya. Pria itu terengah-engah dengan senyuman di wajahnya.
"Ini sungguh luar biasa, Sayang."
Bagi Gibran apa yang sudah mereka lakukan berdua sangat luar biasa. Terlebih kejutan yang Giselle berikan. Sekadar mengenakan baju tidur silk satin saja membuat Gibran benar-benar bahagia. Lebih sering diberi kejutan seperti ini membuat Gibran bahagia.
"Sering-sering, Sayang. Aku senang banget jadinya," ucap Gibran.
"Aku cuma punya satu, Mas," balas Giselle masih dengan memejamkan matanya.
"Aku beliin lagi, Sayang. Besok," balas Gibran dengan begitu bersemangat.
Giselle tersenyum, wanita itu membawa wajahnya kian mendekat ke dada suaminya. "Kamu semangat banget sih," balas Giselle.
"Sedikit kejutan seperti ini menambah variasi dalam kehidupan percintaan kita, Sayang. Apalagi usai rindu banget sama kamu. Fisik lelah, Sayang ..., tapi kalau mendapatkan kejutan seperti ini jadi semangat lagi. Lelahku seketika sirna," balas Gibran.
"Ya sudah, kapan-kapan aku beli lagi. Membahagiakan suami kan tidak ada salahnya. Ya sudah, mandi yuk, Mas," ajak Giselle sekarang.
Gibran menganggukkan kepalanya, dia beringsut terlebih dahulu, kemudian melangkahkan kaki bersama istrinya memasuki kamar mandi. Saling mengguyur dengan gayung, walau airnya cukup dingin karena hujan, tapi keduanya tetap mandi keramas. Gibran pun juga sering mengguyur badan istrinya itu sembari tersenyum masih mengingat percintaan mereka berdua yang begitu menggelora.
Usai mandi, sekarang keduanya duduk bersama di sofa yang ada di kamarnya. Sementara, Gibran yang memunguti baju mereka sebelumnya. Ketika mengambil silk satin milik Giselle, pria itu kembali tersenyum dan menunjukkannya kepada istrinya.
"Next time dipakai lagi ya, Sayang ... besok aku beliin. Aku suka," balas Gibran.
"Ah, kamu itu, Mas ... bikin malu," balas Giselle.
"Tidak perlu malu sama suami sendiri. Kan kehidupan rumah tangga kita juga sudah lama, Sayang. Sudah mengenal satu sama lain. Kamu sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupku," kata Gibran sekarang dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Sebegitu besarnya arti Giselle untuk Gibran. Istrinya itu adalah bagian terpenting dalam hidupnya. Tidak sempurna ketika tanpa Giselle. Merasa ada kurang. Gibran berkata jujur karena memang dia sangat mencintai istrinya itu.
"Mas, sampai lupa. Kita belum makan malam loh ini," kata Giselle.
"Aku pesankan makanan saja ya, Sayang. Hujan juga. Aku baru mager, Sayangku. Jadi, pesan saja yah."
Setengah jam selanjutnya sudah datang pesanan Gibran berupa Pecel Lele dengan Nasi Uduk. Menu itu dia pilih, usai bertanya juga kepada istrinya ingin makan apa. Ternyata Giselle ingin makan Pecel Lele dengan Nasi Uduk. Oleh karena itu, Gibran juga memesan makanan itu.
Di meja makan, Gibran dan Giselle sama-sama menyiapkan makanan, dan juga Giselle menyeduh teh yang beraroma melati untuk mereka berdua. Berbicara mengenai teh, memang teh yang biasa Giselle beli memiliki warna yang tidak terlalu pekat, tapi memiliki rasa sepat dan aroma melati yang harum. Gibran dan Giselle saja cocok dengan teh yang selama ini mereka konsumsi. Berbeda dengan Bu Rosa yang lebih menyukai teh yang lebih kental.
"Makan dulu, Sayang ... takutnya kamu lemes nanti," kata Gibran.
Sedikit senyuman tercetak di wajah Giselle. Sekarang, suaminya itu juga lebih banyak berbicara. Kadang absurd juga. Padahal dulu kala masih tinggal di rumah mertuanya saja, Gibran tergolong pria yang diam dan irit berbicara.
"Kamu dulu itu bicaranya jarang-jarang loh, Mas. Irit banget bicaranya. Sekarang, banyak bicara. Kadang nakal juga," balas Giselle.
Memang tidak dipungkiri bahwa dulu atmosfer di rumah panas. Tensi selalu tinggi di sana. Selain itu, Gibran seperti tak punya daya untuk memilih ibunya atau istrinya. Malam pun lebih banyak dihabiskan untuk menenangkan Giselle yang menangis. Jika, Giselle merasa tidak puas, dia hanya akan tidur dan memunggungi suaminya.
Banyak malam yang mereka lalui seperti itu. Kehidupan percintaan pun tidak membara. Melakukan semua dalam gelap, tanpa suara, mungkin tanpa ekspresi juga. Sebab, untuk bercinta membutuhkan mood yang baik. Sementara jika sepanjang hari selalu uring-uringan, kehidupan percintaan hanya akan menjadi rutinitas semata, tanpa terasa debaran, hasrat, dan sulutannya.
"Maaf untuk yang dulu. Aku tahu banyak ketidakpuasan dalam dirimu, tapi kamu hanya diam dan tidur memunggungi aku. Sekarang, tidak boleh beradu punggung. Kalau kamu memunggungi aku, bakalan aku balas," balas Gibran sekarang.
"Balas apa, Mas?" tanya Giselle.
"Aku balas dengan meminta hakku lagi," balas Gibran dengan tersenyum tipis di sana.
Seketika, Giselle memilih memanyunkan bibirnya. Terlihat jelas bahwa suaminya itu kian nakal jadinya. Hasratnya juga meningkat dengan begitu drastis.
"Nakal deh, aku hamil loh, Mas. Jangan dinakalin terus," balas Giselle.
__ADS_1
"Papanya Dedek bayi baru bersemangat ini, Sayang. Sekali lagi, ya Sayang. Nanti," ajak Gibran.
Ya Tuhan, belum ada satu jam berlalu dan suaminya sudah meminta lagi. Apakah memang seorang pria bisa begitu bersemangatnya? Padahal belum terlalu lama, percintaan mereka usai.
"Mas, kalau aku kecapekan gimana?" tanya Giselle.
"Kamu menerima saja. Malam ini, aku yang handle semuanya. Aman, Sayang," balas Gibran.
Seakan Gibran tidak akan memberikan celah. Dia akan memberi Giselle kesempatan untuk menerima dan menikmati, sementara dia yang akan memegang kendali secara penuh.
"Kebanyakan kena itunya kamu, tembakan senjata, adik bayi bisa pusing loh, Mas," balas Giselle lagi.
Semua itu terkait dengan kandungan hormon prostalglandin di dalam benih pria yang membuat janin merasakan pusing. Kandungan dalam hormon itu baru terasa dampaknya ketika kehamilan sudah menjelang masa persalinan, yang bisa memicu terjadinya kontraksi.
"Aman, Sayangku. Aku tahu. Maaf, aku masih rindu kamu. Beberapa malam ku habiskan di Rumah Sakit. Makanya, masih rindu," balas Gibran.
***
Keesokan Harinya ....
Hampir jam setengah sembilan pagi, Giselle dan Gibran baru saja bangun. Itu juga pergulatan menjelang tengah malam hingga dini hari. Memang Gibran memenuhi ucapannya, dia yang memegang penuh kendali. Namun, ketika atmosfer kembali panas. Rasanya keduanya benar-benar tersulut.
Lebih dari itu, dini hari juga mereka juga mandi berdua. Tidak melewatkan mandi junub.
"Mas, bangun, Mas ... sudah siang banget loh, Mas," suara Giselle membangunkan suaminya.
"Aku sudah bangun kok, Yang. Malam yang indah. Pagi yang indah juga. Pagi, Istriku Sayang ...."
Gibran menyapa dengan senyuman mengembang di wajahnya. Mungkin untuk kali pertama juga, keduanya terbangun hingga lebih siang dari biasanya. Namun, itu justru membuat perasaan hati kian bahagia.
__ADS_1