Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Sudah Boleh Pulang


__ADS_3

Setelah kurang lebih dua malam tiga hari berada di Rumah Sakit akhirnya, Bu Rosa sudah diperbolehkan untuk pulang. Hanya saja, nanti pasien masih harus ke Rumah Sakit untuk melepas gips di tangannya. Dalam tiga hari ini, Giselle dan Gibran juga bergantian untuk menjaga ibunya.


Benar-benar melakukan semua tanpa keluhan karena memang mereka berpikirnya karena bakti anak kepada ibunya. Selain itu, Giselle juga membuktikan ucapannya kepada sang suami untuk melunasi semua biaya ibunya, termasuk tambahan naik kelas dari jatah asuransi yang harusnya hanya Kelas 2 menjadi Kelas VIP.


"Permisi, Giselle putrinya Bapak Jaya Wardhana yah?" tanya seorang Dokter paruh baya di sana.


Giselle pun menoleh, mencari arah sumber suara kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, saya putrinya beliau," balasnya.


"Oh, Halo ... saya Dokter Teddy, temannya Papanya Giselle. Saya yang diminta langsung menangani operasi ibu mertuanya yah?" tanya Dokter Teddy.


Rupanya Dokter Teddy adalah rekannya Papa Jaya. Dokter di ahli tulang terbaik di sini. "Nanti kalau pelepasan gips bisa saya bantu lagi. Saya praktik di sini dan di Rumah Sakit Orthopedi," jelasnya.


"Terima kasih banyak untuk bantuannya ya, Dokter," balas Giselle.


"Iya, sama-sama. Sampaikan salam saya untuk Jaya yah. Kalau ke Bandung, bolehlah ngopi-ngopi darat," balasnya.


Giselle kemudian menganggukkan kepalanya. "Pasti nanti saya sampaikan. Terima kasih banyak, Dokter," balas Giselle.


Usai itu, Giselle kembali ke ruang perawatan ibu mertuanya dengan membawa hasil rontgen yang diberikan pihak Rumah Sakit dan juga obat yang masih harus diminum. Memasuki kamar ibu mertuanya, Gibran sudah berusaha membantu berkemas.


"Sudah Sayang?" Tanya Gibran.


"Iya sudah. Ini hasil rontgen kemarin dan obat yang masih harus diminum tujuh hari," jawab Giselle.


Melihat interaksi anak dan menantunya Bu Rosa hanya melihat sesaat dan menghela napas panjang. Namun, wanita paruh baya itu sama sekali tak berkomentar. Memang dalam beberapa hari ini, Bu Rosa lebih banyak diam. Giselle juga sudah menceritakan ibu mertuanya yang lebih banyak diam, respons Gibran pun meminta kepada Giselle untuk bersikap sewajarnya saja. Tidak perlu memasukkan dalam hati yang penting Giselle memang hanya ingin merawat ibu mertuanya.


"Kita pulang ya, Bu. Ibu, nanti mau tinggal di rumah atau di rumahnya Gibran?" tanya Gibran sekarang kepada Ibunya.

__ADS_1


"Bran, antarkan Ibu ke rumah Tante kamu di Bandung Selatan saja. Ibu akan di sana sampai nanti melepas gips ini," pinta ibunya.


Gibran menatap ibunya. Bertanya-tanya juga kepada Ibunya memilih untuk tinggal di rumah adik kandungnya, Tante Rani yang tinggal di Bandung Selatan. Padahal, untuk merawat ibunya, Gibran dan Giselle juga tidak keberatan.


"Ibu, rencana dari kami berdua akan menyewa satu perawat untuk membantu Ibu mulai dari ke toilet hingga memandikan Ibu. Kalau siang kami bisa bekerja juga, jadi bisa membagi waktu, Bu," balas Gibran.


Sebelumnya memang Giselle dan Gibran sudah berbicara, bahwa memang akan menyewa perawat saja. Supaya ada orang yang expert untuk membantu Bu Rosa, termasuk untuk memandikan Ibunya juga dengan satu tangan yang digips.


Namun, Bu Rosa menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Ibu mau ke rumah Tante kamu dulu saja. Ibu sudah berkirim pesan dan Tante tidak keberatan. Lagipula, Tantemu adalah perawat, yang bisa merawat Ibu," balasnya.


Tidak ingin berdebat, kemudian Gibran pun menganggukkan kepalanya. Mereka pulang dulu untuk mengambil pakaian ganti Ibunya, kemudian mengantarkan sang ibu ke rumah adik kandungnya. Walau sebenarnya Gibran merasa tidak enak hati karena sebenarnya dia dan Giselle akan mengusahakan yang terbaik untuk ibunya. Menyewa perawat dulu sebenarnya juga menjadi solusi. Selain itu, Giselle dan Gibran yang bekerja juga bisa bekerja. Sebab, bagaimana pun supaya bisa mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya.


Terlebih Gibran merasa tidak enak bergantung dengan istrinya. Untuk perawatan ibunya saja, entah sudah berapa juta sudah Giselle keluarkan untuk membiayai di Rumah Sakit. Sebagai pria, kadang ada rasa tidak enak hati. Untunglah, Giselle adalah sosok yang tulus dan juga tidak pernah berprasangka buruk.


"Di sana apa Tante Rani tidak repot nanti, Bu?" tanya Gibran.


Gibran memilih diam dan terus mengemudikan mobilnya, dia juga mungkin tahu maksud ibunya. Seolah memperbandingkan dirinya dengan sepupunya yang masih tinggal satu atap dengan ibunya. Namun, Gibran mengambil keputusan ini juga setelah dua tahun di rumah ibunya. Tidak serta-merta keluar dari rumah.


"Nanti kalau sudah waktunya melepas gips, Ibu akan kembali pulang ke rumah. Setidaknya nanti Ibu sudah bisa apa-apa sendiri," ucap Bu Rosa lagi.


"Baik Ibu. Gibran nanti akan menjemput Ibu ke rumahnya Tante Rani," balasnya.


Menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, sekarang mereka sudah tiba di kediaman Tante Rani. Giselle membantu ibu mertuanya turun dari mobil, sementara Gibran mengambil dua koper dari bagasi mobilnya.


"Assalamualaikum," sapa Giselle dan Gibran dengan tangan mengetuk pintu kayu itu.


"Ya, Waalaikumsalam," balas Tante Rina yang membukakan pintu.

__ADS_1


Melihat kakak kandungnya datang dengan tangan digips, sebagai seorang adik tentu Tante Rani begitu sedih. Dia segera memeluk kakak kandung yang hanya selisih dua tahun darinya itu.


"Teteh," sapa Tante Rani.


"Ran," balas Bu Rosa.


Keduanya saling memeluk, rasanya haru. Persaudaraan kakak dan adik memang seerat ini, Giselle saja yang melihatnya terharu. Hingga akhirnya mereka dipersilakan untuk masuk.


"Tante, ini Ibu ingin tinggal di sini setidaknya satu minggu. Apakah membebani Tante?" tanya Gibran.


"Tidak keberatan, Bran. Justru Tante seneng. Nanti biar Tante yang merawat sendiri ibu kamu," balasnya.


Sekarang Gibran sedikit lega. Sebab, Tante Rani juga seseorang yang tulus. Semoga saja memilih tinggal dengan adik kandungnya, ibunya juga akan semakin membaik.


"Kalian baik kan? Giselle apa kabar?" tanya Tante Rani.


"Alhamdulillah, Giselle juga baik Tante," balasnya dengan menganggukkan kepalanya.


"Giselle baru hamil, Tante. Sudah tiga bulan," balas Gibran menambahkan.


"Wah, akhirnya. Kamu jadi cantik banget loh, Giselle. Langsing banget. Masyaallah, Tante sampai pangling loh," balas Tante Rani.


"Memang harus diet, Tante ... karena kemarin itu mengalami PCOS yang mengakibatkan indung telor Giselle penuh lemak dan cairan, sehingga susah dibuahi," jelasnya.


Tante Rani menganggukkan kepalanya. "Tante tahu, Giselle ... dulu di Rumah Sakit Tante menemui pasien seperti itu. Kebetulan dulu kost di depan rumah. Sering curhat masih belum bisa memiliki keturunan, dikira ibunya itu mandul. Padahal itu benar-benar gangguan reproduksi."


Kala Tante Rani mengatakan demikian, Bu Rosa menundukkan kepalanya. Kenapa yang disampaikan adik kandungnya itu seperti kisahnya dan Giselle? Sebab, dulu dia berprasangka buruk kepada Giselle bahwa Giselle itu mandul, tidak ada yang namanya PCOS.

__ADS_1


__ADS_2