Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Rumah Kita!


__ADS_3

"Ini rumah kita, Sayang ...."


Gibran berbicara dan menunjukkan rumah satu lantai yang dicat warna cokelat itu. Rumah itu yang akan menjadi atap baru untuk Gibran dan Giselle. Semoga di rumah ini penuh berkah untuk mereka.


"Iya, Mas ... terima kasih banyak," jawab Giselle.


Gibran kemudian menggandeng tangan istrinya, mengajaknya untuk memasuki rumah itu. Benar-benar sederhana. Tidak ada kemewahan di sana. Yang Gibran pikirkan yang penting di kamar mereka berdua terpasang AC, karena mereka berdua sama-sama tidak tahan dengan panas. Sehingga, cukup kamar saja yang dipasangi AC.


"Sangat sederhana, Sayang," ucap Gibran lagi.


"Tidak apa-apa, Mas. Rumah seorang istri yang sebenarnya adalah suaminya. Walau sederhana, berjanjilah penuhilah rumah ini dengan cinta. Kita bisa menikmati masa pernikahan, kehidupan berumahtangga di sini," balas Giselle.


Betapa beruntungnya Gibran karena Giselle sangat pengertian kepadanya. Gibran sepenuhnya tahu bahwa rumah itu sangat sederhana. Tidak sebanding dengan rumah keluarga Wardhana yang berupa mansion mewah. Namun, istrinya itu benar-benar bisa meninggalkan kemewahan ketika hidup bersamanya. Bahkan, Gibran sangat yakin bahwa Giselle tak pernah menceritakan kehidupan rumah tangganya dengan Mama dan Papanya. Kepada Mbak Kanaya yang sudah dianggap seperti kakak sendiri pun, Giselle juga tidak pernah bercerita. Cukup untuk menyimpan semuanya di dalam hati.


"Insyaallah, aku akan berusaha mewujudkannya. CInta, kepedulian, perhatian, dan kesetiaan. Aku ingat dengan apa yang pernah kamu ucapkan dulu. Ah, betapa bersyukurnya aku memiliki istri sepertimu," balas Gibran.


Istri yang sabar, tidak banyak menuntut, dan juga pengertian. Selain Giselle kini sudah menjadi wanita yang sangat cnatik. Oleh karena itu, Gibran sangat bersyukur memiliki Giselle sebagai istrinya.


"Kamu mandi dulu saja, Sayang ... aku akan turunkan barang-barang kita. Mobilmu, kita ambil besok yah," ucap Gibran kemudian kepada Giselle.


"Baiklah, aku akan mandi dulu," balas Giselle.


Wanita itu mengambil handuk dan baju ganti dari kopernya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang hanya ada di kamar utama. Selain itu, masih ada satu kamar mandi di dekat dapur. Hanya ada Bak Mandi dan gayung, untuk toiletnya sudah closet duduk. Kendati demikian, Giselle juga mensyukuri semua usaha suaminya untuk mencari dan mengambil jalan tengah.


Ketika Giselle mandi, Gibran menurunkan koper-koper miliknya dari dalam mobil. Selain itu, dia juga menutup gerbang dari teralis itu. Kemudian masuk ke rumah. Beberapa koper di taruh di kamar kosong dulu, bukan di kamar pribadi mereka berdua. Gibran bernapas lega sekarang. Di dalam rumah yang masih harus dicicil selama 15 tahun ini, dia berharap ada kedamaian bersama istrinya. Siapa tahu, di rumah ini juga keduanya akan mendapatkan keturunan dari Allah.


Gibran berjalan hingga ke belakang dan melihat rumahnya yang sudah bersih. Walau untuk perabotan pastilah juga kurang, tidak begitu lengkap. Namun, nanti bisa dilengkapi pelan-pelan sambil jalan.


Hanya lima belas menit, Giselle keluar dari kamarnya. Dia melihat suaminya yang sekarang berdiri di dapur.

__ADS_1


"Hei, Mas ... kok malahan di sini?" tanya Giselle.


"Iya, banyak perabotan dapur yang belum kita miliki, Sayang. Akhir pekan nanti mau belanja bersama?" tanyanya.


"Gampang, Mas," balas Giselle.


"Bagian rumah ini sangat kosong. Maaf yah, nanti untuk perabotan kita beli satu per satu sambil jalan yah," ucap Gibran dengan jujur dan terbuka.


Giselle menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, Mas ... kita bisa mengisinya bersama-sama kok," balas Giselle. "Ya, sudah ... mandi dulu, Mas. Aku tunggu yah," balas Giselle.


Gibran bergantian untuk mandi terlebih dahulu. Menyegarkan tubuhnya. Namun, pelipisnya terasa perih ketika terkena guyuran air. Mungkin itu adalah luka karena lemparan kemoceng dari Ibunya tadi. Namun, Gibran hanya bisa sedikit meringis dan menahan rasa sakit itu.


Usai mandi, Gibran melihat Giselle yang memasak mie instan dan telor di dapur. "Buat apa?" tanya Gibran.


"Mie instan dan telor. Ambil yang ada di dalam lemari es saja sih. Bisa untuk mengganjal perut dulu," balas Giselle.


Ya, sudah waktunya untuk makan malam juga, tapi mereka belum makan. Oleh karena itu, Giselle berinisiatif membuat Mie instan dan telor saja yang ada di kulkas.


"Ayam Bawang, Soto Lamongan, sampai Bakso Sapi semuanya ada, tapi dalam bentuk mie ya, Sayang," balas Gibran.


Pasangan itu terkekeh bersama. Tentu ini juga kehangatan dan candaan yang tidak pernah terjadi ketika di rumah mertuanya. Sebab, hanya Giselle yang menuju ke dapur. Di rumah mertuanya, pria tidak boleh menginjakkan kakinya di dapur. Wanita yang boleh ke dapur untuk memasak, mencuci piring, dan sebagainya. Pria akan duduk manis di depan meja makan dan menunggu untuk dilayani.


"Yuk, makan dulu ya, Mas," ajak Giselle kepada suaminya.


Gibran membawa dua mangkuk mie instan dan telor itu ke meja makan dan makan bersama. Pria itu kembali tersenyum, sembari mencoba mengambil mie dengan sumpitnya.


"Sederhana banget yah," ucap Gibran.


Namun, Giselle dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Enggak kok ... ini istimewa. Kalau mau berjuang bersama-sama, itu lebih bagus kan Mas?" tanya Giselle.

__ADS_1


"Iya, selamat makan, Sayang. Makan malam pertama di rumah kita," balas Gibran.


Duduk saling berhadap-hadapan, semangkuk mie rasa ayam bawang, dan secangkir air putih cukup untuk mengisi perut mereka malam itu. Obrolan hangat, dan mata yang berbinar kebahagiaan. Walau, Giselle tahu di balik senyuman suaminya itu tetaplah ada duka dan kesedihan.


Usai makan malam, mereka memilih masuk ke kamar. Urusan menata, bisa esok hari. Bersantai dan istirahat sejenak. Kemudian Giselle mengambil alkohol dan plester. Dia tahu ada luka di pelipis suaminya.


"Aku bersihin luka kamu ya, Mas ...."


Gibran menoleh ke arah Giselle dan menatap istrinya. "Kamu tahu?" tanyanya singkat.


"Iya, aku tahu ... berdarah kok tadi. Cuma, aku memilih diam dulu. Memberi waktu untuk cooling down," balasnya.


Gibran kemudian tersenyum kecil, sebelum akhirnya dia mengaduh karena rasa perih ketika lukanya terkena alkohol. "Duh, sakit," rengeknya dengan menunjukkan ekspresi layaknya anak kecil yang jatuh kesakitan.


"Tahan, Mas ... biar bersih lukanya dan tidak ada kuman. Nah, kalau udah diplester. Biar cepat sembuh," balas Giselle yang sekarang mulai menempel plester berwarna cokelat di pelipis suaminya.


Giselle kemudian menitikkan air matanya. "Pasti sakit yah?" tanyanya dengan nyaris terisak.


Dengan cepat Gibran menggelengkan kepalanya. "Tidak ... tidak apa-apa," balasnya.


Sekarang, tangisan Giselle tak bisa dibendung lagi. "Kalau memang sakit bilang saja, Mas," balasnya.


Gibran akhirnya menghela napas panjang, memejamkan matanya, dalam seketika wajahnya menjadi merah, dan menganggukkan kepalanya. "Ya, sakit ... sakit banget. Namun, itu tak seberapa dengan ucapan demi ucapan yang beliau ucapkan. Ya Allah, semoga saja aku tidak terhitung di antara anak yang durhaka. Aku jalan berusaha mengambil jalan tengah. Seorang suami juga berdosa bukan jika menelantarkan istrinya?"


Giselle pada akhirnya memeluk Gibran, mengusap perlahan kepala suaminya, helai demi helai rambutnya di usap perlahan dengan telapak tangannya. Kemudian Giselle memejamkan matanya. Dia tahu perasaan suaminya sekarang ini.


"Mas, dengarkan aku ... aku tidak akan menghalangi kamu untuk ke rumah itu. Syaratnya hanya satu, kalau mantanmu ke sana, ku mohon jangan ke sana. Setidaknya jagalah juga hatiku. Selain itu, kamu boleh ke sana, kapan pun. Kita berdoa yah, semoga semua membaik. Hubungan kamu dan ibu," ucap Giselle.


"Iya, Sayang ... semoga saja," balas Gibran.

__ADS_1


"Kalau memang sakit, jangan ditahan dan dipendam sendiri, Mas. Kita bisa saling berbagi rasa sakit bukan?"


Ah, begitu beruntungnya Gibran. Istrinya sangat pengertian kepadanya. Sosok wanita yang mau untuk saling berbagi rasa sakit. Sungguh, Allah berikan pendamping yang sangat baik untuknya. Dengan Giselle di sampingnya, Gibran yakin nanti pelan-pelan ibunya akan mendapatkan hidayah dan juga mendapatkan hati yang lebih lembut untuk bisa menerima menantunya.


__ADS_2