Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Sekadar Menikmati Akhir Pekan


__ADS_3

Walau dikatakan bahwa Papa Jaya yang memberikan sedikit saja untuk membelikan perabotan rumah. Namun, tetap saja nominal yang diberikan Papa Jaya kepada Gibran dan Giselle begitu besar. Hampir seharga rumah yang mereka tempati sekarang.


Uang bernilau ratusan juta, bisa terbilang jumlah yang kecil untuk pengusaha kaya raya seperti Papa Jaya Wardhana. Giselle sampai menolak karena nominal itu terlalu besar.


"Papa, ini terlalu banyak ... tidak perlu sebanyak ini," ucapnya.


Papa Jaya menggelengkan kepalanya. "Tidak banyak. Pergunakanlah dengan bijak. Baiklah Giselle dan Gibran, Mama dan Papa pamit yah. Tetaplah menjadi anak-anak yang baik. Papa doakan kalian selalu bahagia yah. Di lain waktu jangan sungkan untuk bercerita kepada kami," ucapnya.


Giselle dan Gibran menganggukkan kepalanya. "Baik, Papa," balasnya.


Mama Diana pun segera memeluk Giselle dengan begitu erat. Wanita paruh baya itu masih menitikkan air matanya. "Yang sabar dan kuat ya, Selle. Mama yakin kalau kita tulus, melakukannya semua dengan hati, itu akan tersalurkan dengan baik. Selalu sayangi ibu mertuamu. Mama doakan hubungan kalian bertiga akan segera membaik. Selain itu, kalian berdua juga akan dikaruniai momongan yah," ucap Mama Diana.


"Amin ... doakan ya, Ma," balas Giselle.


"Pasti, Selle. Di rumah baru yang lebih tenang, hati juga lebih tenang, semoga nanti bayi mungil segera bersemi di sini yah," balas Mama Diana dengan menyentuh perut Giselle.


Giselle tersenyum, berusaha keras untuk menahan air matanya. "Amin ... kalau sudah ada debay di sini pasti Giselle akan memberitahukannya kepada Mama," balasnya.


Usai itu Mama Diana menyatukan tangan Gibran dan Giselle. Saling bertaut satu sama lain. "Yang kuat yah. Orang bilang masalah dalam rumah tangga itu akan menguatkan pasangan suami dan istri. Jadi, usai semua ini kalian berdua memiliki ikatan yang semakin kuat. Mengisi satu sama lain. Menemukan masalah berdua untuk setiap permasalahan kalian. Mama doakan kalian akan saling memiliki satu sama lain," ucap Mama Diana.


Gibran dan Giselle sama-sama menganggukkan kepalanya. "Amin ... terima kasih, Mama," jawab mereka berdua bersamaan.


Setelahnya, Mama Diana dan Papa Jaya benar-benar berpamitan. Setelahnya, Giselle dan Gibran masuk ke dalam rumahnya. Giselle membereskan cangkir yang usai dipakai untuk membuatkan minuman untuk Mama dan Papanya. Sementara Gibran memilih duduk di ruang tamu. Pria itu menyandarkan bahu dan kepalanya di sandaran sofa.


"Kenapa, Mas? Mau dibuatkan minum?" tawar Giselle ketika dia menuju ke ruang tamu.


Gibran menegakkan punggungnya, kemudian dia menggelengkan kepalanya. Tidak menginginkan apa-apa. Namun, jujur Gibran memiliki rasa lega sekarang.


"Lega, Sayang ... walau tidak menceritakan semuanya secara detail, tapi bersyukur Mama dan Papa bisa memahami kita berdua. Sebelumnya, aku sudah takut jika berkata jujur dan Mama serta Papa akan meminta kita untuk berpisah. Jujur, aku takut," cerita Gibran kemudian.


Giselle tersenyum tipis dan menatap wajah suaminya itu. "Mama dan Papa tidak akan seperti itu, Mas. Kecuali dulu karena Kak Darren itu jahat banget ke Mbak Kanaya, jadinya justru didukung tuh Mbak Kanaya waktu menggugat cerai Kak Darren. Bayangkan Mas ... pernikahan Mbak Kanaya dan Kak Darren dulu hanya berlangsung 20 hari. Itu karena Kakakku yang udah kebangetan sih. Kalau untuk yang lain, justru Mama dan Papa itu memberikan toleransi asal anak-anak saling cinta. Makanya, tadi Papa tanya tentang komitmen kita berdua," balas Giselle.


"Kalau soal komitmen sih, seumur hidup aku berkomitmen denganmu, Sayang. Tidak akan pernah ada cinta yang lain. Aku sendiri saja jadi suami belum benar. Masih banyak salahnya. Bersyukur banget aku. Tadi, aku takut kalau Papa dan Mama tahu pasti aku disuruh ninggalin anaknya. Mana bisa, Sayang. Tiga hari saja aku sudah kayak orang gila. Aku benaran gak bisa," balas Gibran.

__ADS_1


Giselle tersenyum dan menatap suaminya. "Iya, mau makan siang apa Mas? Kita keluar saja yuk ... mumpung akhir pekan," ajaknya.


"Boleh, sembari nanti beli perabotan rumah yah. Nanti yang kita beli, difoto dan ditunjukkan ke Mama atau Papa. Biar tahu kalau pemberiannya memang dipertanggung jawabkan," balas Gibran.


"Iya, Mas," balas Giselle.


Akhirnya, keduanya memilih untuk berganti baju dan kemudian keluar untuk membeli makan terlebih dahulu. Makan siang di luar. Sesekali ketika akhir pekan. Nanti, mereka juga akan membeli beberapa perabotan rumah tangga. Hanya membeli yang dibutuhkan saja.


"Mau makan apa Mas?" tanya Giselle kemudian kepada suaminya.


"Makanan khas Sunda kayak urapan dan sebagainya itu kelihatannya enak, Sayang. Gimana, mau enggak?" tanyanya.


"Boleh, yuk ... ke saung Sunda saja ya Mas," ajak Giselle kepada suaminya.


Akhirnya mereka menuju ke Saung Sunda dan membeli makanan khas Sunda seperti Urapan dan beberapa lauk. Menikmati makan siang dengan suasana berbeda. Keduanya lahap untuk makan.


"Kita belikan untuk Ibu, nanti Mas yang antar mau?" tanya Giselle kemudian kepada suaminya.


"Kamu makan Sayur Urap saja inget Ibu ya, Yang?" tanya Gibran.


Gibran menganggukkan kepalanya. "Tentu."


Untuk Gibran apa yang dilakukan Giselle sudah benar. Dia menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya. Walau ibunya membenci Giselle, tapi Giselle sendiri selalu bersikap baik. Gibran yakin suatu saat nanti kebaikan hati Giselle bisa menyentuh hati Ibunya. Sekarang memang belum, tapi tidak menutup kemungkinan nanti juga akan terwujud.


"Biar aku yang bayar dulu, Sayang," ucap Gibran.


Giselle menganggukkan kepalanya. Dia menunggu suaminya untuk membayar makanan mereka. Setelah itu, keduanya memilih untuk mengunjungi toko furniture dan elektronik yang ada di salah satu mall. Melihat-lihat perabotan murah.


"Mau beli apa Mas?" tanya Giselle kepada suaminya.


"Televisi, Yang ... kita belum ada televisi di rumah. Sama lampu emergency," jawab Gibran.


Giselle menganggukkan kepalanya, tentu nanti dia akan membeli televisi dan juga lampu emergency. Jaga-jaga juga jika mati listrik. Setelah itu, Giselle juga melihat lemari dan juga vas bunga yang akan mempercantik sudut rumah.

__ADS_1


"Beli lemari baju boleh, Mas?" tanyanya.


Walau uang pemberian dari orang tuanya, tapi untuk apa yang dibeli Giselle tetap bertanya kepada suaminya. Kalau Gibran setuju, barulah Giselle membelinya.


"Boleh, kan itu juga uang dari Papa dan Mama. Diberi berapa Sayang?" tanya Gibran kemudian.


"Banyak banget, Mas. 250 juta," balas Giselle.


Gibran membelalakkan matanya. Nominal yang sangat besar dari mertuanya. Hanya perlu ditambah sedikit sudah bisa melunasi rumah tempat tinggal mereka. Tidak menyangka juga bahwa mertuanya akan memberikan uang begitu banyak hanya sekadar untuk perabotan rumah.


"Beli sesuai kebutuhan saja, Sayang. Ditabung saja uangnya. Kita gak pernah tahu kan apa yang terjadi di masa depan. Oleh karena itu, sesuai kebutuhan saja," ucap Gibran.


Giselle menganggukkan kepalanya. Tentu dia menyambut baik dengan setiap usulan dari suaminya. Toh, juga mereka tidak suka berfoya-foya. Berbelanja hanya sesuai kebutuhan bukan keinginan


"Kamu ada lainnya enggak yang mau dibeli?" tanya Gibran kepada istrinya.


"Sudah, ini saja sih, Mas. Gak usah banyak-banyak. Hidup dengan sedikit barang juga lebih baik," balasnya.


Ya, Giselle pun tidak terlalu suka dengan semua yang berlebihan. Lebih memilih untuk membeli sesuai kebutuhan saja. Walau hidup bergelimang harta, tapi dia memilih seadanya. Dari kecil, justru Giselle tidak suka jika terekspos sebagai anak orang kaya. Sebab, dulu sewaktu sekolah, terkadang ada teman-temannya hanya mengambil keuntungan darinya. Tidak benar-benar tulus dalam berteman. Oleh karena itu, Giselle memang lebih memilih bersahaja. Justru dia senang ketika orang-orang mengira dia sebagai anak biasa, bukan anak seorang CEO besar.


Ketika berkenalan dengan Gibran dulu di Singapura, Giselle juga memilih tidak mengatakan asal usul dan latar belakang keluarganya. Barulah ketika Gibran menunjukkan keseriusannya, Giselle mulai membuka diri dan mengatakan siapa keluarganya.


"Makasih, Sayang ... kamu memang tidak pernah berubah sejak dulu. Selalu menjadi sosok yang bersahaja, walaupun kamu punya segalanya. Selain itu, kamu juga menghormati suaminya yang secara finansial kalah jauh darimu," balas Gibran.


"Jangan bawa-bawa finansial, Mas. Kita berdua sama kok. Kamu bilang kan mari kita berjuang bersama. Jadi yah, kita berjuang bersama saja. Semoga semuanya akan lebih baik ke depannya," balas Giselle.


Mendengarkan apa yang disampaikan oleh Giselle, Gibran menganggukkan kepalanya. "Benar, Sayang. Berjuang bersama-sama. Aku mengaminkan ucapan dan doa dari Papa tadi. Semoga semua kerja keras kita berdua, nanti juga akan berbuah manis," balas Gibran.


Tentu Giselle juga mengaminkan hal itu. Juga akan sangat bahagia jika setelah banyak kekacauan di dalam rumah tangga, keduanya bisa merasakan buah yang manis. Giselle juga mengharapkan hal itu.


"Kayaknya semua sudah, Mas. Kita bayar yah," ucap Giselle sekarang.


"Iya, ayo."

__ADS_1


Giselle kemudian mengeluarkan debet card miliknya dan kemudian membayar semua barang yang dia beli. Dari pihak toko akan mengirimkan ke rumah mereka dalam jangka waktu 1 hingga 2 hari kerja. Tidak masalah untuk keduanya karena sekarang untuk tidur dan sebagainya kamar mereka sudah begitu nyaman.


Hanya menambah beberapa perabotan saja untuk mempercantik rumah. Supaya ruangan mereka tidak begitu kosong. Sedangkan sisa uang yang masih sangat banyak, akan Giselle tabung terlebih dahulu. Setidaknya dengan menabung, ketika mereka membutuhkan nanti tidak akan begitu kesusahan karena sudah siap sedia.


__ADS_2