
"Pulang kerja ingin mampir ke suatu tempat enggak, Sayang?" tawar Gibran kepada istrinya.
Pikir Gibran, mumpung mereka dalam perjalanan pulang sehingga bisa mampir ke suatu tempat yang Giselle mau. Sekalian jalan, sebelum nanti tiba di rumah. Sebab, Gibran memang suka ketika sudah berada di rumah lebih baik hanya di rumah saja. Full untuk istirahat.
"Langsung pulang aja, Mas. Masakan tadi pagi masih ada bisa dihangatkan. Kalau Mas Gibran mau beli nasi goreng atau apa juga boleh," balas Giselle.
Gibran kemudian menggelengkan kepalanya. "Ya sudah, kita pulang saja. Kamu juga pasti capek. Nanti aku beli Nasi Goreng dekat perumahan saja ya, Sayang."
"Iya Mas. Aku pengen mandi deh, Mas. Mandi keramas gitu enak deh. Menghilangkan capek," balas Giselle.
"Mandi bareng yah," sahut Gibran dengan cepat.
Giselle tersenyum melihat suaminya itu. Sekarang, ketika sudah rumah sendiri. Terkadang memang keduanya bisa mandi bersama. Dulu, saat masih di rumah mertua, untuk mandi seringkali mengantri satu-satu. Termasuk untuk mandi junub pun harus antri. Takut ketahuan dengan ibu mertuanya kalau sedang aneh-aneh. Dulu, sekadar ada tanda merah di leher saja, keduanya mendapatkan ucapan pedas dari ibu mertuanya. Sekarang, memang keduanya mereka lebih bebas. Banyak hal yang bisa dilakukan berdua.
"Lihat situasi dan kondisinya dulu ya, Mas," balas Giselle.
Gibran kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, aku juga tidak memaksa kok. Yang penting kamu sehat dulu, untuk kebutuhanku bisa lain kali," balas Gibran.
Terlihat jelas bahwa Gibran pun juga bukan sosok pria yang egois. Dia bisa bersabar dan juga bisa menunggu untuk Giselle. Yang penting istrinya itu bisa segera sembuh terlebih dahulu.
Beberapa menit berkendara, sekarang mereka sudah tiba di rumahnya. Rupanya di depan pintu gerbang rumah ada Bu Rosa yang sudah menunggu. Melihat ada ibu mertuanya, Giselle kemudian segera turun dari mobil dan menyapa ibunya itu.
"Ibu, apakah sudah lama?" sapanya.
"Lumayan," balas Bu Rosa.
"Mari silakan masuk, Bu," ucap Giselle lagi mengajak ibu mertuanya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Tidak ada dendam di hati Giselle. Bagaimana pun, dia menghargai dan menghormati ibu mertuanya. Walau Giselle tahu bahwa ibu mertuanya membencinya, tapi dia tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan. Sabar dan terus ikhlas. Insyaallah, nanti semua akan mendapatkan jalannya.
__ADS_1
Akhirnya, Bu Rosa masuk ke dalam rumah Gibran. Dia mengamati rumah lantai satu yang rapi dan bersih itu. Sekaligus dia menatap Giselle sekilas. Namun, karena Giselle mengenakan masker, sehingga tidak bisa jelas melihat wajah menantunya itu. Akan tetapi dari plester di punggung tangan Giselle terlihat jelas bahwa memang ada bekas jarum infus di sana.
"Assalamualaikum, Ibu," sapa Gibran begitu memasuki rumahnya dan menyapa ibunya.
Giselle pergi ke dapur dan segera menyeduhkan teh dulu untuk Ibu mertuanya. Sementara Gibran duduk di ruang tamu, menyapa ibu kandungnya yang datang.
"Apa benar, istrimu usai dirawat di rumah sakit?" tanya Bu Rosa.
"Ya, memang benar, Bu. Seperti yang Ibu menelpon dulu," balas Gibran.
Sebenarnya memang dua hari lalu, Ibunya juga sudah bertanya. Kala itu Gibran mendapatkan ucapan kasar dari Ibunya. Sekarang, Gibran menjadi was-was jika saja, ibunya kembali berbicara kasar dan akhirnya melukai perasaan hati Giselle. Andai saja ibunya tidak bermulut pedas, tentu saja tidak ada yang Gibran khawatirkan.
"Silakan diminum tehnya, Bu," ucap Giselle sekarang.
Dia hanya berusaha bersikap sopan dan membuatkan teh untuk ibunya. Namun, melihat teh yang tidak begitu pekat itu, Bu Rosa memelengkungkan bibirnya. Walau sudah tinggal berpisah, menurut Bu Rosa tetap saja Giselle tidak berubah. Teh yang dia buat pun tetap tidak pekat. Terlihat cokelat muda saja.
"Diminum, Bu ... Giselle sudah membuatkannya untuk Ibu," balas Gibran.
"Jadi, sakit apa?" tanya Bu Rosa kemudian.
"Mual dan muntah berlebih, Bu. Jadinya sampai dehidrasi," balas Gibran.
Lagi, Bu Rosa menatap Giselle. Pandangan matanya saja seakan begitu mengintimidasi Giselle. Begitu juga dengan Giselle yang merasa tak nyaman dengan ibu mertuanya. Ada rasa takut jika ibu mertuanya itu akan kembali memarahinya dan mengatakan yang macam-macam.
"Hamil saja rewel ... manja."
Ternyata tetap sama saja. Tidak berubah. Ucapan wanita paruh baya itu tetap saja pedas. Seketika Gibran menghela napas. Mati-matian dia berusaha menjaga agar Giselle tidak terlalu berpikiran berat, tapi ibunya tidak bisa merubah sikap. Tidak bisa mengekang mulutnya untuk berbicara yang macam-macam.
"Memang ada yang begitu, Bu. Banyak juga kok yang dirawat karena sampai dehidrasi," balas Gibran.
__ADS_1
"Dulu Ibu hamil kamu tidak kenapa-napa. Justru sehat, gak nyusahin Bapak kamu," balas Bu Rosa.
Giselle masih diem. Dia berusaha tidak memasukkan ucapan pedas itu ke dalam hatinya. Mendamaikan hatinya sendiri. Walau memang berat.
"Ya kan orang hamil sendiri-sendiri, Bu. Tergantung bawaan bayinya juga," balas Gibran.
Seharusnya memang tidak boleh dipukul rata. Ada yang memang selama kehamilan selalu sehat dan tidak mengalami mual dan muntah sama sekali. Namun, ada juga yang sampai mual dan muntah seperti Giselle hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit.
"Mungkin istrimu aja yang manja," sahut Bu Rosa.
Gibran menghela napas panjang. Dia meminta untuk sabar. Bisa Allah berikan panjang sabar. Jika bukan Allah yang memberikan kesabaran, rasanya mustahil untuk bisa menghadapi seseorang seperti Bu Rosa.
"Ya, tidak apa-apa, Bu. Bawaannya baby nya juga bisa."
Usai mendengar jawaban Gibran, Bu Rosa menggelengkan kepalanya. Kemudian dia berdiri. Jengah dengan Gibran dan balasannya. Sebab, menurut Bu Rosa, Giselle hanya terlalu manja saja.
"Dahlah, Ibu mau pulang," ucapnya.
"Tehnya, tidak diminum dulu Bu?" tanya Gibran.
Bu Rosa menggelengkan kepalanya. "Gak, buat teh saja gak pekat kayak gitu. Walau keluar dari rumah mertua, tetap saja gak bisa bikin teh," balas Bu Rosa.
Giselle menundukkannya. Pandangannya ke cangkir teh yang masih berisi teh dan sama sekali tak tersentuh itu. Padahal, dia sudah berusaha menyeduhkan teh untuk Ibu mertuanya. Namun, sama sekali tak diminum.
"Maaf, Bu," balas Giselle.
Usai itu, Bu Rosa keluar begitu saja dari rumah mereka. Masih merasa tidak senang dengan kehidupan Giselle dan Gibran. Tanpa mengurangi rasa hormat, keduanya juga mengantar Bu Rosa sampai ke depan rumah.
"Hati-hati, Bu," ucap Gibran kepada ibunya.
__ADS_1
"Gak usah khawatir. Ibumu bukan tipe yang rewel dan manja," balasnya.
Perlahan-lahan, wanita paruh baya itu berjalan menuju ke rumahnya. Sementara Gibran segera menggandeng tangan istrinya. Sudah pasti Giselle kembali tersakiti, tapi Gibran akan berusaha untuk tetap bisa menenangkan istrinya itu.