
Hujan pagi itu benar-benar deras, dari dalam mobil itu, rinai hujan yang turun terdengar keras, itu tandanya bahwa hujannya sangat deras. Bahkan Giselle sampai menutup AC yang mengarah kepadanya. Itu juga karena membuat semakin dingin.
"Kelihatannya di daerah kantor juga hujan deh, Yang," suara Gibran yang membuat Giselle menoleh kepadanya.
Wanita itu pun menganggukkan kepalanya. Memang mendung di langit Kota Kembang seakan rata. Sehingga, pastilah di daerah kantor juga hujan. Oleh karena itu, hujan yang turun pun rata.
"Bawa jaket, Sayang?" tanya Gibran kepada Giselle sekarang.
"Bawa, Mas. Jaga-jaga kalau dingin banget. Kayaknya hamil ini, juga aku gak begitu kuat dingin deh," balas Giselle.
Gibran pun menganggukkan kepalanya. Namun, dia tenang ketika istrinya sudah persiapan dengan membawa jaket. Sehingga, jika memang kedinginan bisa segeras digunakan.
"Sudah, sampai. Sebentar, aku antar sampai ke lobby. Jangan sendirian. Memakai payung, bagaimana pun kamu hamil, jangan sampai sakit," ucap Gibran.
Tentu saja sebagai wanita yang diperhatikan Giselle merasa sangat senang. Itu berarti suaminya peduli kepadanya dan kepada bayinya. Giselle pun menurut juga. Memilih untuk taat dengan suaminya, satu payung dengan suaminya. Sampai beberapa karyawan di perusahaan itu menatap Giselle dan Gibran, karena Gibran merangkul pinggang istrinya itu. Terlihat begitu mesra satu sama lain.
"Sudah, sampai sini saja, Mas," ucap Giselle.
"Ya, bekerja yang rajin yah. Nanti sore aku jemput. Sehat-sehat ya, Sayangku," ucap Gibran.
"Iya, Mas Gibran juga hati-hati nyetirnya yah. Nanti sore jangan lupa jemput aku," balas Giselle.
__ADS_1
Akhirnya, Giselle masih menunggu di luar, sampai suaminya itu masuk ke dalam mobilnya dan menuju ke kantornya. Setelah, mobil suaminya berlalu, barulah Giselle masuk ke dalam kantornya. Wanita itu masih setia mengenakan masker yang dia tempelin dengan aromaterapi. Memang berguna membuatnya tidak terlalu mual.
Akhirnya, Giselle mulai bekerja, menyelesaikan satu per satu to do listnya. Hingga akhirnya, menjelang jam makan siang, Terdengar telepon yang masuk ke dalam handphone Giselle. Giselle pun segera melihat handphonenya, dan mengecek siapa yang menelponnya. Sebab, tak biasanya ada orang yang menelponnya siang hari begini. Namun, itu adalah nomor dari rumah mertuanya.
Tidak menunggu lama, Giselle pun segera menggeser ikon telepon berwarna hijau di handphonenya.
"Halo ... Assalamualaikum," sapa Giselle begitu menerima telepon itu dan mendekatkan handphone ke telinganya.
"Halo, ini Neng Giselle. Saya, tetangganya Bu Rosa. Ini Neng ... Bu Rosa jatuh, terpeleset. Kebetulan, saya menelpon Aa Gibran tidak bisa. Sehingga, saya menelpon Neng Giselle," ucapnya.
Mendengar kabar bahwa mertuanya jatuh dan terpeleset, tentu saja membuat Giselle khawatir. Apakah karena hujan, sehingga jalanan licin sehingga ibu mertuanya sampai terpeleset.
"Neng Giselle apa bisa pulang? Bagaimana dengan ibunya," ucap tetangga itu lagi.
Tidak menunggu lama, Giselle kemudian meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Giselle juga memberitahukan bahwa ibu mertuanya jatuh, sementara tidak ada orang di rumah. Oleh karena itu, Giselle tidak berpikir panjang, segera memesan taksi online dan pulang. Selain itu, Giselle juga mengirimkan pesan kepada suaminya bahwa nanti sore tidak perlu menunggunya, karena memang dia sudah pulang karena ibunya jatuh.
Dua puluh perjalanan dengan mobil ditempuh, dan sebelum turun, Giselle bertanya kepada Driver itu.
"Pak, kalau saya minta tolong dianterin ke Rumah Sakit bisa tidak yah? Saya pesan offline saja. Langsung saya bayar," ucap Giselle.
"Boleh Neng," jawab Driver itu.
__ADS_1
Tenang sudah untuk Giselle, kini dia tinggal membawa ibu mertuanya ke Rumah Sakit. Rupanya di ruang tamu ada beberapa tetangga, Giselle pun mempercepat jalannya, melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Assalamualaikum," sapa Giselle.
"Neng Giselle. Ini Ibunya jatuh tadi. Mau mengepel lantai justru terpeleset dan jatuh, gimana ini?" tanya tetangganya yang bernama Bu Siti.
"Apa bisa minta tolong menapah Ibu ke mobil itu? Biar saya bawa ke Rumah Sakit. Supaya Ibu mendapatkan perawatan dan pengobatan saja," balas Giselle.
Bu Rosa yang terduduk di kursi, dengan memegangi tangannya melirik kepada Giselle dan mulai berbicara. "Gak, Ibu gak sudi kamu bawa ke Rumah Sakit."
Dalam sakit saja, Bu Rosa masih menolak Giselle. Padahal niat yang Giselle miliki itu tulus karena ingin menolong mertuanya saja. Tidak ada niat lainnya.
"Bu Rosa, kondisi Ibu parah loh. Itu tangannya mulai bengkak. Bisa saja patah tulang," ucap Bu Siti.
"Saya mau nunggu putraku datang, Gibran," balas Bu Rosa dengan mendesis menahan sakit.
"Bu, Mas Gibran mungkin sedang rapat. Ayo, Ibu ... ke Rumah Sakit sama Giselle," balas Giselle sekarang.
Akhirnya setelah dibujuk oleh beberapa tetangga barulah Bu Rosa mau dipapah ke mobil dan dibawa ke Rumah Sakit. Bu Harti, tetangga mereka yang ada di sana menepuk bahu Giselle.
"Sabar ya, Neng Giselle. Insyaallah, kalau sabar dengan ibu mertua, menganggap seperti ibu sendiri, Allah akan permudah semuanya," ucapnya.
__ADS_1
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Bu Harti, jujur mata Giselle berkaca-kaca. Namun, dia memang harus sabar menghadapi ibu mertuanya. Giselle menitipkan rumah kepada Bu Harti dan Bu Siti, berpamitan untuk menuju ke Rumah Sakit terlebih dahulu. Setelahnya, Giselle segera mengajak ibunya ke Rumah Sakit. Di dalam taksi itu, ibu mertuanya diam seribu bahasa. Itu semua juga karena Bu Rosa sejatinya tidak ingin dibantu oleh Giselle. Yang dia harapkan adalah Gibran, putranya sendiri, tapi yang datang justru adalah menantunya.