Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Hati yang Penuh Luka


__ADS_3

Setibanya di rumah, Giselle berlari dan tempat yang dia tuju adalah kamar mandi. Wanita itu benar-benar berdiri di depan wastafel dengan menundukkan wajahnya, dan mengeluarkan cairan perutnya. Sampai mulutnya terasa pahit. Wajah Giselle memerah dan air matanya berderai dengan sendirinya. Bahkan usai mual dan muntah itu kaki Giselle seperti kehilangan tenaganya, hingga usai membasuh mulutnya, Giselle merosot, hingga duduk di lantai kamar mandi.


Sekarang wanita itu benar-benar menangis. Hatinya terasa begitu nyeri kala mendengarkan suara dari ibu mertuanya yang meragukan kesetiaannya kepada suaminya sendiri. Di dalam benak dan hatinya saja Giselle tidak pernah berpikiran seperti itu. Bahkan ketika Gibran datang untuk meminta maaf usai peristiwa di dalam kamar dengan Annisa saja, Giselle bisa memberikan maaf. Namun, sekarang justru dirinya sendiri yang diragukan oleh ibu mertuanya.


"Demi Allah, aku tidak pernah melakukan hal zinah seperti itu. Memikirkannya dalam hati saja tidak pernah. Lantas, kenapa justru ibu mertuaku sendiri menuduhku yang bukan-bukan? Ya, Allah ... Engkau yang maha membolak-balikkan hati manusia. Tolonglah, Engkau membalikkan hati ibu mertua, hamba. Buat Ibu untuk bisa menerima dan menyayangi hamba."


Tangisan Giselle pun sangat pilu sekarang. Kakinya begitu lemas, dan juga hatinya juga terlampau sakit. Di saat seperti itu, Gibran datang dan langsung menuju ke dalam kamar mandi. Pria itu begitu bersedih hati melihat istrinya yang lagi-lagi harus kesakitan karena ucapan pedas ibunya.


"Sayang ...."


Gibran datang dan berjongkok di depan Giselle. Pria itu segera memeluk Giselle. Namun, Giselle menolak. Dia tidak ingin dipeluk oleh Gibran sekarang.


"Jangan peluk aku, Mas," tolaknya sekarang.


"Kenapa, Sayang? Kamu kenapa?" tanya Gibran yang meminta penjelasan.


Giselle menangis dengan berurai air mata. Tangannya sesekali memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. "Tidak usah, Mas ... aku terlalu sakit selalu diragukan. Aku menjaga diriku dan cintaku dengan baik-baik. Namun, ini yang aku terima. Sementara, ketika suamiku berdua dengan mantan pacarnya, sebagai istri aku tidak bisa bersuara?"

__ADS_1


Suara Giselle yang begitu sesegukan. Dia yang tidak pernah melakukan sesuatu yang salah justru dituduh yang bukan-bukan. Sementara ketika suaminya berada di dalam kamar bersama mantan pacarnya, Giselle justru diusir oleh ibu mertuanya saat itu. Sungguh, kondisi yang bertolak belakang dan Giselle selalu disudutkan.


"Maafkan Ibu, Sayang ... maafkan, Ibuku," balas Gibran.


Giselle masih menangis. Jika sudah menyangkut ibu mertuanya, Giselle sampai tidak bisa lagi berkata-kata. Bukannya tidak berani melawan, tapi Giselle tahu harus sejauh apa bertindak dan menghadapi ibu mertuanya. Namun, ketika kesetiaannya sebagai istri diragukan, itu amat sangat menyakiti Giselle.


"Aku menjaga semua dengan baik, Mas. Kalau kamu juga meragukanku sama seperti Ibu, tolong pulangkan saja aku kepada Papaku," balas Giselle sekarang.


"Tidak, Sayang. Aku sama sekali tidak pernah meragukan kamu. Aku sama sekali tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. Sungguh, Sayang," balas Gibran.


"Sudah tenang dulu, Sayang ... jangan berbicara yang aneh-aneh. Jangan berpikiran yang macam-macam. Tenangkan dirimu dulu," balas Gibran.


Usai itu Gibran membantu Giselle untuk berdiri, tapi Giselle menolak. Rasanya terlampau sakit. Namun, Gibran tidak akan membiarkan Giselle begitu saja. Gibran juga tahu sakitnya Giselle juga karena ibunya sendiri.


"Mandi dulu yah ... biar segar. Nanti aku suapin makan. Yuk, jangan aneh-aneh. Kasihan baby kita," balas GIbran.


"Dia anakku, Mas. Itu karena Ibumu tidka menginginkannya," balasnya.

__ADS_1


"Tidak, dia adalah anakku. Darah dagingku," balas Gibran.


Menunggu sampai Giselle lebih tenang, Gibran memilih membantu Giselle bersih-bersih. Dia memandikan Giselle karena istrinya itu sudah begitu kuyu, supaya Giselle lebih segar. Memanfaatkan waktu Gibran juga sekalian mandi, mengguyur tubuh keduanya dengan menggunakan gayung. Walau Giselle sama sekali tidak merespons, Gibran tak masalah. Hormon kehamilan juga bisa membuat wanita menjadi mood swing, dan Gibran paham itu.


Usai mandi, Gibran juga yang mengeringkan badan Giselle dengan handuk, bahkan dia yang membantu Giselle untuk mengenakan pakaiannya. Begitu baiknya Gibran. Tidak ikut marah, tapi justru berusaha maksimal agar istrinya itu tidak lagi marah.


"Tunggu di kamar dulu yah, aku memakai bajuku dulu," pinta Gibran sekarang.


Sebab sekarang pria itu hanya mengenakan handuk mandi yang dililitkan di pinggangnya. Dia memapah Giselle untuk berjalan dan mendudukkannya di sudut sofa. Sementara Gibran masuk ke kamar sebelah dengan memakai connecting door untuk mengambil pakaiannya dari lemari yang ada di dalam kamar sebelah.


Bahkan Gibran pun memilih bergerak cepat dan sekarang sudah menemui Giselle lagi. Sekarang, Gibran langsung memeluk Giselle.


"Jangan bersedih lagi. Kalau kamu mau, kamu bisa tidak usah bertemu dengan ibu dulu. Kamu di rumah saja. Itu lebih bagus untuk mental kamu. Sekali lagi, maafkan Ibu, Sayang," ucap Gibran.


"Aku sudah selalu disakiti, Mas. Entah berapa banyak luka di hatiku ini karena beliau," aku Giselle dengan jujur.


Gibran menganggukkan kepalanya samar. Dia sangat tahu bahwa memang ibunya selalu menyakiti Giselle. Itu sudah terjadi sejak keduanya menikah. Sekarang, sampai rasanya Gibran kasihan dengan istrinya. Dia tahu berada di posisi Giselle selalu tidak mudah.

__ADS_1


__ADS_2