Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Memilih Jalan Masing-Masing


__ADS_3

Apa yang terjadi kala itu benar-benar membuat dua perahu karam di saat yang bersamaan. Shandy yang memilih menalak Amel dan juga Alana yang memilih untuk menceraikan Davin. Keduanya bersikukuh tidak akan memberi maaf kepada pasangannya masing-masing.


"Jangan seperti ini, Ana ... pikirkan Disha putri kita," kata Davin.


Sungguh, dia tak terima ketika istrinya Alana, yang biasa dia panggil Ana itu nyatanya memilih untuk menyudahi pernikahan mereka yang sudah berjalan empat tahun. Davin berkata supaya Alana bisa mempertimbangkan keputusannya. Terlebih mempertimbangkan Disha yang masih kecil.


Air mata bercampur senyuman itu terlihat jelas di wajah Alana. Wanita cantik itu menggeleng perlahan. "Ketika kamu mulai berselingkuh dan menikmati tubuh wanita itu, apa kamu memikirkan Disha? Tidak kan Mas?" tanya Alana.


Ya, itu fakta mutlak yang coba Alana sampaikan. Dia juga berkata bahwa suaminya saja ketika berselingkuh dan menikmati tubuh Amel sama sekali tidak memikirkan putri semata wayang mereka. Jika, suaminya memikirkan Disha, pastilah perselingkuhan itu tidak akan pernah terjadi.


"Jangan begitu, Ana Sayang," balas Davin.


"Menceraikanmu memang membuatku berdosa. Namun, ini lebih baik adanya. Sukar mengobati kebiasaan dan habit berselingkuh. Pria yang tidak bisa memenuhi janji suci pernikahan di altar kudus, dia bukan pendamping yang sepadan. Jadi, sebaiknya bersiaplah. Kita akan bertemu di pengadilan agama," balas Alana.


Usai itu, Alana menatap Giselle yang berdiri di hadapannya."Tujuanku datang ke Bandung sudah terjawab, Giselle. Aku bukan hanya membuat suamiku menjadi Bebek Peking. Justru, aku akan menjadikannya Sate bukan?"


Alana berusaha tersenyum di hadapan Giselle. Dia berurai air mata setelahnya. Giselle yang ada di sana pun begitu sedih. Tidak mengira bahwa inilah jalan yang dipilih sahabatnya.


"Alana," balas Giselle dengan menangis dan memeluk sahabatnya itu.


"Jangan menangis. Aku tidak apa-apa, Giselle," balas Alana.


"Maafkan kami juga ya, Lana," balas Giselle.


"No, kamu tidak bersalah. Yang salah di sini adalah mereka yang tidak bisa menjaga komitmen pernikahan. Mereka yang justru mendua hati dari pasangannya. Merekalah yang salah," jawab Alana dengan tegas.

__ADS_1


Lantas, Giselle kembali menangis. Pilu sekali hatinya melihat kenyataan ini. Tidak tahu lagi kenapa dua perahu bisa karam di waktu yang bersamaan. Selain itu, hal buruk ini justru terjadi kepada sahabatnya yang berniat ke Bandung untuk mencari suaminya. Pertemuan tak disengaja yang benar-benar mengoyak tirai rumah tangga.


"Aku pamit ya, Giselle. Aku akan terbang ke Singapore hari ini juga. Kalau kamu melahirkan nanti, beritahu aku yah ... Bye, Giselle, aku pamit."


Dua sahabat itu saling memeluk dan menangis bersama. Tetap saja rasanya pilu melepas kepergian Alana dengan hati yang penuh luka. Rasanya Giselle tidak bisa membayangkan jika berdiri di posisi Alana.


Sementara Amel juga berusaha meminta maaf kepada Shandy. Wanita itu meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Namun, Shandy sudah menutup pintu maaf.


"Apa tidak ada maaf untukku, A?" tanya Amel.


"Sayangnya tidak ada. Aku sudah menalakmu, Amel. Aku menyadari hidup bersamamu tidak membuatku menjadi pria yang baik. Aku hanya mengedepankan hasrat dan emosiku. Aku hanya menjadi anak yang durhaka kepada Mamaku. Sama seperti pria selingkuhanmu itu, kita akan bertemu di Pengadilan Agama juga, Amel," balas Shandy.


Mama Rani menangis. Dia tak mengira akan melihat pernikahan putranya terkoyak seperti ini. Sebagai seorang Mama, walau disakiti anak dan menantunya, tidak pernah sekali pun Mama Rani mendoakan keburukan untuk Shandy dan Amel. Justru, Mama Rani akan mendoakan kebahagiaan dan kelanggengan pernikahan anaknya. Namun, siapa sangka bahwa pernikahan Shandy juga akan kandas.


"Kamu yang bermain api terlebih dahulu, Mel. Jadi, kamu harus merasakan bagaimana rasanya terbakar oleh api yang kamu sulut sendiri."


Itu adalah perkataan Shandy. Usai itu, semua yang ada di sana memilih pergi. Praktis, hanya Amel yang masih berdiri di sana. Masing-masing pihak telah memilih jalannya sendiri-sendiri. Layaknya kaca yang retak, tidak bisa diperbaiki kembali. Oleh karena itu, baik Shandy dan Alana sudah mengambil keputusan tak akan menyatukan pecahan kata itu. Justru akan mengambilnya, mengumpulkannya, dan memilih membuangnya ke tempat sampah.


Shandy dengan mobilnya ditemani Mama Rani menuju ke rumah Bu Rosa terlebih dahulu. Di sana Shandy kembali meminta maaf kepada Mamanya.


"Mama, maafkan Shandy. Shandy benar-benar menyesal. Jika Shandy meminta maaf, maukah Mama tinggal bersama lagi dengan Shandy?" pintanya.


Belum Mama Rani memberikan jawaban, Bu Rosa sebagai orang tua, dan sekaligus kakaknya Mama Rani berbicara terlebih dahulu dengan Shandy.


"Shandy, mungkin bagimu Tante ini adalah orang luar. Namun, Tante berkata bahwa yang kamu lakukan itu tidak benar. Di mana bakti seorang anak ketika menantu berkata kasar kepada mamanya sendiri? Tante di sana melihat kamu tidak berdiri sebagai sosok anak, Shandy. Juga, kehidupan seksual kamu dengan Amel itu tidak sehat. Tolong, kamu membawa Mama kamu pulang, hormati dan hargai dia. Jangan sia-siakan wanita yang dari rahimnya kamu dilahirkan," ucap Bu Rosa.

__ADS_1


Dia hanya berusaha mengatakan dari sudut pandangnya saja. Dia mau Shandy menghormati dan menghargai mamanya sendiri. Sebab, Bu Rosa pun adalah saksi mata bagaimana menderitanya adiknya di rumahnya sendiri.


"Iya, Tante ... maafkan, Shandy," balasnya.


"Jika kamu tidak bisa menaruh hormat kepada ibumu, kamu gak akan bisa menghormati pasangan kamu. Jadi hormati ibumu terlebih dahulu. Jangan kecewakan dia," imbuh Bu Rosa.


"Baik Tante. Shandy akan selalu mengingat pesan Tante," balasnya.


Tante Rani menitikkan air matanya. Tidak mengira ada orang yang memperhatikan dia. Ada Shandy yang meminta maaf juga. Semoga saja usai semuanya ini Shandy menjadi berubah. Bisa menaruh hormat kepada ibunya sendiri.


Hari itu juga, Tante Rani berpamitan dengan Bu Rosa, Giselle, dan Gibran. Tidak lupa Tante Rani berterima kasih karena keluarga kakaknya sudah menampungnya dan memperlakukannya dengan sangat baik. Selain itu, Tante Rani juga mendoakan Giselle agar kandungannya sehat selalu. Tuhan beri kelancaran sampai persalinan nanti.


Kini semua seolah kembali ke tempatnya masing-masing. Mereka yang berdosa, dengan pedih harus berpisah dari pasangan mereka dan dari buah hatinya. Sementara hubungan ibu dan anak kembali dipulihkan.


"Ibu apa tidak apa-apa tinggal sendiri?" tanya Giselle.


"Tidak apa-apa, Selle. Anak Ibu juga tidak jauh kan dari rumahnya Ibu, jadi tenang saja," balas Bu Rosa.


Sebenarnya kalau ada Tante Rani, Giselle lebih senang dan tenang. Ibunya ada teman mengobrol. Oleh karena itu, Giselle juga kepikiran dengan ibunya.


"Yakin Ibu?" tanya Giselle.


"Iya, tenang saja, Selle. Asal mendapatkan kasih sayang dari kalian berdua, itu sudah cukup untuk Ibu."


Masih ada yang perlu beradaptasi, tapi perlahan semua akan terbiasa dengan habit yang baru. Selain itu, Giselle dan Gibran juga bersiap untuk menata hati dan bersiap menjadi orang tua baru untuk babynya nanti. Gerbang perselingkuhan bisa mengintip, tapi manusia punya kendali untuk menahan diri. Manusia memiliki kendali untuk mencoba setia atau sebaliknya. Banyak jalan yang lurus, tapi ujungnya berliku. Oleh karena itu, ambillah jalan yang benar. Jangan pernah memberi jalan bagi orang ketiga masuk. Jaga dan pupuk kehidupan berumahtangga dengan cinta dan kesetiaan.

__ADS_1


__ADS_2