Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Gantian Berjaga


__ADS_3

Keesokan Harinya ....


Pagi hari Giselle bangun. Wanita itu segera melihat bahan apa yang ada di lemari es dan segera memasak. Giselle berpikir untuk mengambil cuti hari ini, supaya suaminya bisa bekerja, sementara dia yang akan menjaga ibu mertuanya.


Namun, Giselle tak ingin datang dengan tangan kosong. Dia ingin membawa masakan untuk suaminya atau mungkin ibu mertuanya. Kebetulan sekali di dalam lemari es ada wortel, bunga kol, kentang, dan ayam. Seketika, Giselle berpikir untuk membuat Sup Ayam, tinggal membuat tempe goreng juga supaya sarapan lebih lengkap.


Mentari belum menyapa, tapi Giselle sudah bangun dan membuat masakan. Setelahnya, Giselle juga menaruhnya di wadah, membawa nasi, dan tempe goreng sekaligus. Usai itu, Giselle memilih untuk mandi dan membawa mobilnya sendiri ke Rumah Sakit.


Sejak Gibran memilih untuk mengantar jemput Giselle, memang Giselle tidak lagi mengemudikan mobilnya sendiri. Sekarang, Giselle berniat untuk membawa mobil sendiri saja. Asalkan pelan-pelan, pasti juga akan sampai di Rumah Sakit dengan selamat.


Selain itu, Giselle juga sekaligus membawa pakaian bekerja berupa kemeja dan celana panjang bahan untuk suaminya. Siapa tahu, suaminya hendak berangkat kerja dari rumah sakit. Sehingga, bisa langsung bekerja. Tidak perlu bolak-balik ke rumah dan tentunya juga menghemat waktu.


Setelah selesai, Giselle segera bergegas ke Rumah Sakit dengan membawa semua barang yang memang dibutuhkan. Mengemudikan mobilnya sendiri pelan-pelan, dan kemudian tiba di Rumah Sakit dalam waktu kurang lebih setengah jam.


Lantaran belum jam besuk, Giselle meminta izin untuk menuju ke kamar rawat inap ibu mertuanya. Penjaga pun meminta Giselle untuk meninggalkan KTP. Usai itu, Giselle diperbolehkan untuk menuju ke kamar rawat inap.


"Assalamualaikum," sapa Giselle dengan mengetuk pintu kamar rawat inap ibu mertuanya.


"Waalaikumsalam," sahut Gibran dengan membukakan pintu.


Tentu Gibran terkejut karena sepagi ini, Giselle sudah tiba di Rumah Sakit. Begitu bertemu Gibran, Giselle pun menyapa dengan mencium punggung tangan suaminya itu.


"Mas," sapanya dengan suara lembut.


"Kok sudah sampai di sini, Sayang?" tanya Gibran yang masih bingung. Sebab, sekarang pun belum waktunya waktu menjenguk pasien.


"Iya, izin khusus, Mas. Ninggalin KTP tadi," balas Giselle.


Usai itu, Giselle menyapa ibu mertuanya memberikan salam takzim juga. "Sudah baikan, Bu?" tanya Giselle.

__ADS_1


Namun, Bu Rosa tampak tidak bersahabat. Tidak ramah kepada menantunya sendiri.


"Hm," jawabnya begitu singkat.


Tidak ingin terlalu mengambil hati, Giselle segera duduk di sofa. Membawakan sarapan untuk suaminya. Melayani suaminya untuk makan. Jujur, Gibran terharu. Istrinya itu benar-benar permata. Melakukan semua tanpa diminta, ketulusannya dalam melakukan sesuatu bisa Gibran rasakan.


"Aku bawakan baju ganti dan sarapan, Mas. Kalau Mas Gibran ingin berangkat ke kantor. Aku bawakan setelan kemeja dan sepatu. Sebab, sepatu yang kemarin pasti sedikit basah. Kaus kaki juga aku bawakan," balas Giselle.


Gibran menganggukkan kepalanya. "Yang jaga Ibu siapa, Sayang?" tanya Gibran.


"Aku yang jaga Ibu tidak apa-apa kok, Mas. Aku cuti hari ini. Cuma nanti malam Mas Gibran yang menjaga Ibu lagi," balas Giselle.


Semua pembicaraan itu tentu saja diketahui Bu Rosa. Namun, Bu Rosa memilih diam. Tidak tertarik dengan perbincangan Giselle dan Gibran. Hingga, beberapa menit kemudian Bu Rosa merasa ingin buang urine di kamar mandi. Wanita paruh baya itu pun segera memanggil putranya, Gibran.


"Bran, bisa bantu Ibu ke kamar mandi?" pintanya.


Giselle membangunkan ibu mertuanya dulu, kemudian dia menaruh infus ke tiang penyangga berjalan dulu. Kemudian membantu ibunya berjalan ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Giselle juga menaruh tiang penyangga itu ke posisi yang tepat dulu. Barulah, dia membantu ibunya, mendudukkan di kloset duduk itu.


"Mau Giselle tungguin tidak, Bu?" tanyanya.


"Keluar saja," balas Bu Rosa.


Akhirnya Giselle menunggu di luar pintu kamar mandi. Siaga ketika ibu mertuanya sudah selesai. Kemudian barulah, Giselle kembali masuk ketika Ibu mertuanya sudah memanggilnya. Giselle juga membenarkan pakaian yang dipakai ibunya, barulah membantu ibu mertuanya berjalan ke brankar lagi.


"Rambutnya Ibu mau Giselle sisir dan rapikan tidak, Bu?" tawar Giselle sekarang.


Akhirnya Bu Rosa menganggukkan kepalanya. Untuk merapikan rambut sudah pasti Gibran tidak bisa. Sehingga sekarang Bu Rosa mau. Walau tidak banyak berbicara, tapi memang mau ketika Giselle menawarkan bantuan.


Giselle pun kemudian duduk di belakang ibu mertuanya, dan mengambil sisir. "Permisi, ya Bu," ucapanya.

__ADS_1


Meminta permisi terlebih dahulu, barulah kemudian Giselle menyisiri rambut ibu mertuanya. Merapikannya dengan hati-hati. Kemudian menguncirnya. Sekarang rambut Bu Rosa menjadi lebih rapi.


Setelahnya, Giselle membantu suaminya sarapannya. Menyempatkan waktu yang terbatas ini untuk melayani sang suami. Sebab, bakti seorang istri memang saat melayani suami. Sedia dengan apa yang suami butuhkan.


"Apa Ibu mau sarapan juga? Giselle membuat Sup Ayam," tawarnya kepada ibu mertuanya.


Namun, Bu Rosa hanya menggelengkan kepalanya. "Enggak, Ibu nunggu katering rumah sakit saja," jawabnya.


Gibran mengalihkan pembicaraan dengan mengajak istrinya berbicara. "Sup Ayam bikinan kamu enak sekali, Sayang. Makasih juga untuk Teh yang kamu bikin. MasyaAllah, kamu istri yang baik. Urusan perut dan pakaian suami saja, kamu perhatikan," sanjung Gibran.


"Sama-sama Mas Gibran," sahut Giselle dengan tersenyum.


Usai sarapan, Giselle merapikan alat makan. Sementara, Gibran mandi dan bersiap ke kantor. Sungguh, beruntung karena Gibran memang belum mengambil cuti. Syukurlah, Giselle mau bergantian untuk menjaga Ibunya.


Kurang lebih dua puluh menit, Gibran bersiap berangkat ke kantor. Pria itu berpamitan dengan ibunya terlebih dahulu, kemudian memeluk Giselle.


"Aku titip Ibu ya, Sayang," ucapnya.


"Iya, Mas. Biar aku yang menjaga Ibu," balas Giselle.


Setelahnya Giselle mengantar sampai ke depan pintu kamar ibu mertuanya. Di sana Gibran berpesan lirih kepada istrinya.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu yah. Kamu yakin bisa menjaga Ibu? Mohon maaf kalau nanti Ibu bisa melukai perasaan kamu. Sabar ya, Sayangku. Jangan dimasukkan ke dalam hati yah," pesan Gibran.


Sekadar untuk berjaga-jaga jika Giselle akan mendengarkan ucapan pedas dari Ibunya. Yang Gibran pikirkan juga karena Giselle sedang hamil, supaya istrinya tidak mengalami mood swing juga.


"Iya, Mas. Tidak apa-apa. Semoga ini jalan bagi Ibu untuk bisa menerimaku," balas Giselle.


Masih ada harapan yang tersemat supaya ibu mertuanya bisa menerimanya. Kiranya saja kali ini menjadi jalan baginya untuk diterima ibu mertuanya. Ironis memang, ketika pernikahan sudah berlangsung hampir tiga tahun, tapi hubungan mertua dan menantu tetap tidak membaik.

__ADS_1


__ADS_2