
Cukup malam ketika Giselle dan Gibran pulang dari Klinik Dokter Nuri. Setibanya di rumah, Giselle memilih mandi dan kemudian rebahan di ranjangnya. Dia merasa bagian pinggang dan lututnya terasa capek. Oleh karena itu, Giselle memilih untuk rebahan dulu.
"Sudah ngantuk?" tanya Gibran kepada istrinya itu.
"Belum sih, Mas. Cuma kecapekan aja," balas Giselle.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Giselle, Gibran berniat untuk memijat istrinya itu. Akan tetapi, Giselle buru-buru menolaknya.
"Gak usah dipijat, Mas. Nanti juga sembuh sendiri kok. Lagipula, Ibu hamil gak boleh sembarangan dipijat, berbahaya," balas Giselle.
Apa yang Giselle sampaikan benar adanya. Ibu hamil tidak boleh sembarangan dipijat, apalagi di bagian dada, perut, pinggang, dan pinggul. Padahal, ketika hamil bagian pinggang dan pinggul sering kali begitu pegal, dan rassanya ingin dipijat. Namun, memijat area itu bisa membahayakan janin dan meningkatkan risiko keguguran.
"Begitu ya, Sayang ... kalau yang pijat khusus Ibu hamil itu gimana?" tanya Gibran.
"Ya, kan ada terapis khusus, Mas. Namun, memang area dada, perut, pinggang, dan pinggul tidak boleh dipijat," balas Giselle.
Setelah itu, Gibran tiduran dengan menggunakan paha Giselle sebagai alasnya. Kepalanya menghadap ke perut istrinya, menciumi perut itu. Gibran sejujurnya merasa sangat senang ketika Dokter mengatakan bahwa bayinya berjenis kelamin perempuan. Itu juga supaya Gibran memiliki bayi perempuan yang lucu dan secantik Giselle.
"Aku kok seneng banget setelah tahu kalau baby kita cewek ya, Sayang," ucap Gibran sekarang.
"Hmm, kenapa emangnya Mas?" tanya Giselle.
"Ya, sapa tahu baby nya secantik kamu ini. Cantik, baik hati, dan penyabar. Aku sungguh berharap, baby girl kita kayak kamu," balas Gibran.
__ADS_1
Tangan Giselle menyambut dan mengusapi helai demi helai rambut suaminya itu. Hingga akhirnya, Giselle tersenyum perlahan.
"Aku tidak pernah merasa diriku cantik, Mas. Dari kecil, masa kecilku tidak bagus. Aku menjadi korban bully di sekolah karena aku begitu gemuk. Bahkan kala SMA, banyak bullyan datang. Mereka menganggapku anak orang kaya yang buruk rupa. Badanku sama sekali tidak menarik. Bahkan Mama dan Papaku tidak tahu kalau aku menjadi korban bully di sekolah. Tanpa sepengetahuan Papa dan Mama, aku mendatangi psikiater untuk menyembuhkan luka batin dalam diriku. Aku tentu juga masih ingat, Giselle yang kamu temui untuk kali pertama bertubuh jumbo," ceritanya.
Sekarang, Giselle bercerita kepada suaminya bahwa masa kecilnya tidak indah. Dia terbiasa menjadi korban bully di sekolah. Anak-anak sekelasnya memanggilnya Gendut, Ndut, dan sebagainya. Lebih mengenaskan saat SMA, banyak remaja putri mulai mempertahankan bentuk tubuh mereka, mengenal make up, tapi Giselle justru sebaliknya. Sembari sekolah, Giselle mengunjungi psikiater untuk menyembuhkan luka di dalam batinnya.
Sebenarnya penderitaan Giselle tidak hanya itu. Akan tetapi, usai menikah pun dia harus bergelut dengan luka batin ketika satu pondok dengan ibu mertuanya. Dinilai tidak cantik, tidak bisa hamil, dan sebagainya. Sampai rasanya semua yang Giselle lakukan di rumah mertuanya selalu saja salah.
"Walau, tubuh kamu kala itu tidak kecil, kamu tetap cantik, Sayang. Benar tebakanku bahwa kamu sangat cantik, hati kamu juga sangat baik. Kamu juga sangat sabar. Terhadap Ibu saja, kamu bisa sabar," balas Gibran.
"Kamu enggak gimana gitu sama aku?" tanya Giselle dengan masih mengusapi rambut suaminya itu.
"Gimana apa maksudnya coba?" tanya Gibran.
Dengan cepat Gibran menggelengkan kepalanya. "Enggak. Malam pertama kita pun sangat sempurna, Sayang. Aku membuka diriku untuk kali pertama, dan kamu menyerahkan dirimu kepadaku. Kita menjadi sama-sama yang pertama untuk satu sama lain. Bagiku itu sangat luar biasa," balasnya.
"Yang bener?" tanya Giselle.
"Iya, aku tidak pernah berbohong kok, Sayang. Bener, aku akan selalu mengingatnya," jawab Gibran.
Senyuman pun terbit di wajah Giselle. Entah, rasanya lega ketika dia melihat kejujuran Gibran. Walau, kala itu Giselle sangat tahu bahwa dirinya sangat tidak sempurna. Banyak lipatan lemak di tubuhnya. Jauh berbeda dengan sekarang, di mana tubuhnya sudah kurus. Lemak yang bersarang di tubuhnya juga luruh semua.
"Nanti untuk nama baby kita, kita beri nama berawalan G juga ya, Sayang," kata Gibran sekarang.
__ADS_1
"Hmm, G? We are Three G family?" tanya Giselle.
Gibran terkekeh dan menganggukkan kepalanya. "Yap, 3G family. Nanti kalau memiliki anak kedua, kita beri nama G juga awalannya. 4G, atau 5G. Tidak masalah," balas Gibran.
Giselle sekarang yang tertawa. Geli saja dengan seluruh keluarganya berawalan huruf G. Dia Giselle, suaminya Gibran, dan anaknya nanti juga akan berawal dengan huruf G juga.
"Aneh enggak sih, Mas?" tanya Giselle.
"Tidak lah ... lucu malahan. Nanti aku yang carikan saja nama depannya yah," balas Gibran.
"Kamu excited banget sih, Mas. Oh, yah ... akhir pekan nanti sudah menjemput Ibu loh, Mas. Ibu tidak menghubungi kamu?" tanya Giselle kepada suaminya.
"Tidak itu, Sayang. Ibu sama sekali tidak memberiku kabar. Ya sudah, besok aku coba telepon Tante Rani yah," balas Gibran.
Giselle menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Nanti dikira kita enggak perhatian. Bagaimana pun kita juga perlu tahu kondisinya Ibu," balas Giselle.
"Hm, iya. Besok aku akan menelpon Tante Rani saja. Semoga sih, Ibu baik-baik saja di sana. Nanti kalau Ibu sudah mau pulang ke rumah, kita bersihkan rumahnya Ibu lagi ya, Sayang?" ajak Gibran.
"Iya, Mas. Biar lebih bersih. Aku juga memikirkannya," balas Giselle.
Usai itu Gibran beringsut. Kemudian dia segera memeluk Giselle di sana. "Makasih Sayang ... kamu selalu perhatian kepada Ibu. Semoga nanti Ibu bisa memahami bahwa menantunya ini sangat baik," balas Gibran.
Di tengah sukacita di hatinya yang akan memiliki anak perempuan, Gibran juga berharap hubungan ibunya dan istrinya akan semakin baik. Tidak ada lagi pertikaian dan perang dingin. Selain itu, Allah benar-benar akan melembutkan hati Ibunya untuk bisa menerima dan menyayangi Giselle.
__ADS_1